
...NIGHTMARE 12...
...Behind The Words of The Last Room...
Matahari berganti bulan, terang berganti gelap, dan siang pun berganti malam. Langit yang sudah berhenti menangis pun kembali menangis kecil, seakan-akan turut berduka cita atas hilangnya nyawa seorang Nona Muda yang bernama Novi Rahayu.
Teman atau sahabat yang ditinggalkan hanya dapat menangis dan merenung karenanya.
Sekarang, seorang yang dikasihi dan dicintai mereka telah terkubur seutuhnya di dalam tanah yang lembab dan basah tepat di atas bukit yang hijau di belakang Villa.
Suara tangisan dan rasa penyesalan yang dalam menyelimuti sekelompok orang berpakaian hitam yang berdiri tepat di depan sebuah nisan berbentuk Salib. Masing-masing dari mereka memberikan sekuntum bunga mawar berwarna putih –baik dari pihak teman maupun para pelayan –yang diletakkan di bawah batu nisan Salib tersebut.
Selesai berkabung, mereka beranjak menuruni bukit untuk menuju kembali ke Villa. Turunan yang bisa dibilang cukup curam dengan disertai rerumputan lumayan tinggi menyerupai ilalang yang menghalangi jalan mereka lewati dengan hati-hati.
Lima menit lebih telah mereka tempuh untuk sampai ke area Long Less Dream Forest Village. Rintihan gerimis kecil membasahi sedikit pakaian mereka, bersyukurlah mereka karena hujan yang menerpa hanya gerimis, bukan hujan yang lebat. Jika yang menerpa mereka hujan lebat, dapat dipastikan tanah yang terdapat di bukit belakang Villa pasti sangat licin dan memperlambat perjalanan pulang mereka karena harus ber ekstra hati-hati.
Pada hitungan kesepuluh menit, akhirnya mereka sampai di dalam Villa yang nyaman. Bertepatan dengan sampainya mereka di dalam Villa, hujan pun kembali menjadi hujan yang lebat disertai dengan angin yang bertiup kencang.
Tanpa minat untuk membuka pembicaraan, mereka bertujuh, -ngh, maksudnya berenam duduk terdiam dan membisu di barisan sofa pada ruangan terakhir.
Dapat dilihat tatapan mereka sayu dan redup serta merasa sangat, sangat menyesal karena tidak dapat menjaga satu teman mereka.
Satu saja tidak bisa, apalagi dua atau enam?
Sandi mengepalkan kedua tangannya yang berada di atas pahanya dengan sangat erat hingga tangannya memerah, mengertakkan giginya, dan seketika juga ia...
"ARRRGGGHHHH!"
Kedua tangannya yang mengepal bergerak menuju kepala dan menjambak serta menarik rambutnya kencang-kencang, dan ia berkata dengan suara yang hampir berteriak, "Kenapa? Kenapa melindungi seorang teman saja kau tidak bisa, San? Dasar tolol! Apanya yang genius? Otakmu saja tidak bisa kau gunakan untuk menyelamatkan satu temanmu!"
Seketika suasana di ruangan terkahir semakin memanas.
Melihat Sandi –yang sudah sangat depresi berat tingkat tinggi –berteriak dan berbicara dengan dirinya sendiri seperi orang gila, Sendi yang berada di sebelahnya berusaha untuk menenangkannya.
Sendi memegang kedua pundak Sandi. "Tenangkan dirimu, San! Bukan hanya kau yang merasa menyesal, tapi kami juga!" Ucap Sendi, sangat terlihat jelas disini emosi Sendi keluar tidak terkendali.
"Bukankah sudah kubilang, kita harus pulang!" Kurnia mengingatkan kata-katanya saat mereka masih berada di dalam Hutan.
Sandi melirik Kurnia melewati ekor matanya. "Kita sudah pulang ke Villa sekarang, terus mau apalagi, hah?" Kata-kata yang dilontarkan Sandi berkesan seperti menantang Kurnia.
Kurnia yang mendengar nada bicaranya yang terdengar nyolot, emosinya semakin melonjak naik. "Bicaranya bisa santai sedikit tidak, hah? Lagian, maksud ku untuk pulang waktu itu 'kita semua balik ke rumah kita masing-masing', bukannya balik ke Villa ini!"
"Hah? Balik ke rumah? Kau gila, Kur? Di luar sedang badai, bagaimana kita bisa pulang? Bisa-bisa kita mati di tengah hutan karena tersesat oleh kabut tebal!" Sekarang tatapan Sandi berada seluruhnya pada Kurnia.
Kurnia menatap rendah Sandi. "Heh, gila? Bukankah yang sedang gila saat ini sang Tuan Muda, ya?"
Ucapan Kurnia membuat Sandi geram. "Kurnia! Kau..." teriak Sandi seraya berdiri dari posisi duduknya.
Melihat aksi Sandi membuat emosi Kurnia tambah terpancing. "Apa? Apakah aku salah jika berusaha mengusulkan untuk pulang kepada para sahabatku agar mereka selamat?"
Rizal yang sedari tadi diam –hanya mendengar bacot mereka yang semakin menjadi –akhirnya mulai geram dan tidak sabar. "BISAKAH KALIAN TUTUP MULUT, HAH? PERLAKUAN KALIAN HANYA DAPAT MENAMBAH MASALAH DISINI, TAHU NGGAK?" Nafas Rizal tersenggal-senggal karena telah mengeluarkan seluruh tenaganya untuk berteriak menegur kedua sahabatnya itu.
Sendi, Kurnia, dan Sandi yang mendengar teriakan Rizal dibuat kaget dan tercengang olehnya.
Fitri yang mendengar teriakan Rizal yang menggema di seluruh ruangan terakhir itu hanya bisa ketakutan mendengar teriakannya yang bervolume keras itu.
Sedangkan Jihan yang berada di sebelah Rizal –dan termasuk yang paling kenyang mendapat teriakannya, hanya bisa mengelus lengan kiri atas Rizal mencoba untuk menenangkan emosinya agar normal kembali.
"Bukannya bersikap dewasa, malah bersikap seperti anak kecil!" tambah Rizal dengan suara yang sudah lebih rendah dibandingkan dengan yang sebelumnya.
Kurnia dan Sandi yang diceramahi pendek oleh Rizal akhirnya kembali duduk dan bersikap rileks seperti biasa.
Beberapa detik kemudian Rizal teringat suatu hal. "Sewaktu, aku di dalam tenda bersama Jihan, aku mendengar sayup-sayup," Jeda sejenak. "Kurnia seperti berkata ia melihat sesuatu saat kalian masih di dalam hutan... Apakah itu benar, Kur?"
Pria berambut kuning jabrik itu pun langsung dengan semangat menganggukkan kepalanya dan berkata, "Benar, Zal! Aku seperti melihat sesosok bayangan putih melintas dari satu pohon ke pohon yang lain!" Tatapan matanya tampak sangat serius.
"Bukan 'kah sudah kubilang, Kur? Mungkin kau hanya salah lihat," ucap Sendi berusaha untuk mempertahankan pendiriannya.
"Heh, kau tahu kalau bukan kau yang mengusulkan kita untuk menginap di dalam hutan mungkin kejadiannya tidak akan menjadi seperti ini." celetuk Sandi pada Sendi.
Perasaan Sendi yang masih campur aduk setelah mendengar kalimat Sandi membuat perasaannya tersinggung dan ia berusaha mengelak, "Jika kita tidak diusulkan menginap, kita mungkin tidak akan mengalami kenangan yang menyesatkan seperti ini."
Kurnia pun ikut tersinggung. "Enak saja, kalian pikir semuanya ini salahku? Lagian, yang paling mencurigakan itu si Sandi," Kurnia membuang tatapannya ke arah lain. "Dia 'kan yang paling mempunyai hubungan dekat dengan para pelayan disini."
Sedetik itu juga tatapan semua pasang mata yang ada di ruangan itu menatap ke arah Sandi.
Ditatap seperti itu membuat Sandi merasa canggung. "A-apa? Kenapa kalian menatapku seperti itu?" Tiba-tiba Sandi teringat sesuatu dan langsung mengutarakannya, "Jangan bilang kalian menuduhku sebagai pembunuh Novi, itu tidak mungkin!"
"Kami tak menuduh mu yang membunuh Novi, San," gumam Jihan.
Fitri menelan ludahnya sejenak. "I-itu... Sebenarnya sewaktu di dalam Hutan saat mencari Novi, a-aku juga melihat suatu bayangan yang tak kasat mata," Kepalanya berusaha mengingat kejadian 'itu' dengan jelas. "Tapi yang aku lihat... bayangan berwarna hitam... bukan putih."
Sunyi. Semua terdiam dalam pemikiran pribadi masing-masing.
Sendi menghela nafas pelan. "Hhh... Kalian semua percaya dengan apa-yang-mereka-lihat itu?" Sendi tersenyum meremehkan. "Cerita konyol."
Kurnia menggeram. Rasa ketidaksabaran terhadap satu sahabatnya itu membuat ia bangkit berdiri kembali dan menarik kerah baju Sendi, sehingga Sendi tersentak ke depan. "Apa kau bilang? Kau hanya orang bodoh yang tidak mengerti perasaan orang lain!"
Tidak dapat menguasai emosinya, ia pun ikut berdiri untuk meladeni emosi Kurnia yang membuncah keluar. "Kok jadi sewot? Heh, kalau bukan orang bodoh yang melihat hal seperti itu, siapa lagi..." Sendi tersenyum licik, tatapan matanya ia alihkan ke sudut ruangan yang lain. "Orang bodoh tetap saja akan menjadi bodoh."
"APA KAU BILANG?"
"Orang bodoh tetap saja akan menjadi bodoh."
Seketika tinju Kurnia hendak mendarat di atas permukaan kulit wajah Sendi, tetapi tangan Sandi yang lebih cekatan dibandingkan dengan nya dan berhasil menahan apa yang akan diperbuat oleh teman 'jabrik kuning'nya itu.
"Apa yang akan kau lakukan, hm? Mau menonjok ku? Tonjok saja! Memang benar 'kan kalau kau itu 'bo-doh'!"
"Jaga mulutmu, Sen! Yang kau katakan itu tidak bisa mengatasi masalah ini!" Sandi memalingkan wajah ke arah Kurnia. "Kau juga, Kur! Bisa 'kah kau menyelesaikan masalah ini tanpa menggunakan kekerasan?"
"Kenapa aku juga salah? Aku hanya tidak senang dikatai seperti itu! Kalau kau jadi aku, memangnya kau sabar dengan orang macam dia!" Telunjuk Kurnia mengacung tepat di depan wajah Sendi.
Sendi berdecih. "Tapi memang benar 'kan kalau kau itu termasuk orang yang bodoh? Orang yang pintar pasti tidak akan percaya dengan hal yang seperti itu!"
Kurnia menggertakkan giginya. "KAU–"
"DIAM!"
Mendengar bentakan Rizal yang kembali muncul, membuat ketiga laki-laki yang sibuk berdebat menjadi diam seribu bahasa.
Rizal menghela nafas. "Bisa 'kah kalian diam? Ayolah, jika kalian menggunakan emosi, kasus kematian Novi secara tidak terduga tidak akan selesai," Iris onyx nya menatap ketiga teman-laki-laki sekelompoknya. "kalian mengerti?"
Semuanya kembali terdiam dan terhanyut dalam hipotesis-hipotesis mereka sendiri.
.......
...+++~Lost~+++...
.......
Di pagi itu, mereka-yang -tersisa sudah dapat melepas kepergian Novi dengan ikhlas dan kembali beraktifitas layaknya para mahasiswa yang menikmati liburan panjangnya.
Bangun pagi, olahraga pagi, membersihkan diri, sarapan pagi, dan bercakap-cakap mereka lewati dengan senyuman, canda, dan tawa yang terlukis sempurna di masing-masing wajah mereka. Tanpa merasa terbebani sedikit pun, pastinya.
Saat bersantai-santai di ruangan terakhir.
"Hei! Hei! Hei! Semuanya!" seru Sendi seraya menuruni tangga dari lantai dua ke lantai satu villa.
"Bisa 'kah kau santai sedikit, Sen? Suaramu hampir membuat gendang telingaku pecah," Kurnia menjauhkan tangannya yang tadi sempat digunakan untuk menutupi telinganya secara reflek.
Jihan yang mendengar seruan Sendi tadi pun ikut memberhentikan dentingan piano yang ia mainkan. "Ada apa, Sen? Tampaknya kau semangat sekali,"
"Kalian tahu? Dibelakang villa ini terdapat sebuah kolam renang yang mewah?"
"Hah?" respon semuanya dengan kompak ditambah dengan sedikit tampang heran di wajah mereka.
Melihat reaksi teman-temannya, Sendi pun ikut merasa heran dan bingung. "Jadi kalian belum tahu?"
Serempak mereka semua menggeleng-gelengkan kepalanya. Kecuali Rizal.
Senyuman lebar mengembang di bibir tipis Sendi. "Berarti aku yang pertama kali melihat dan menemukannya, ya?" Kakinya yang sedari tadi berdiam diri, kini beranjak menuju sofa dimana teman-tamannya berada, kecuali Jihan, ia masih duduk di kursi piano villa itu.
Fitri menelan ludahnya. "Memangnya kamu tahu ada kolam renang itu dari mana?" ucap Fitri hati-hati karena takut membuat temannya tersinggung.
Kepala Sendi menoleh ke arah Fitri. "Dari teras belakang di lantai dua."
"Hah? Ta-tapi sewaktu aku dan Novi, saat dia masih hidup, menghampirimu sedang melukis beberapa hari yang lalu sebelum berangkat hiking, aku tidak melihat ada kolam renang di bawah," jelas Fitri kepada Sendi, dan juga didengar oleh yang lainnya.
Senyuman sumringah Sendi berubah menjadi senyuman canggung. "Mungkin kau hanya tidak melihatnya, Fit... Aku saja melihatnya kok, sungguh," Merasa tidak enak ditatap oleh semua temannya, ia berusaha membuktikannya. "Bagaimana kalau kita melihat kolam renang itu sekarang? Hm?"
"Hhh... baiklah, ayo kita lihat kolam itu sekarang," Sandi bergegas berdiri diikuti yang lainnya.
Sebelum mereka melangkah lebih jauh, Sendi berbicara, "Hmm... bagaimana kalau kita buat taruhan juga, setuju?" tawar Sendi kepada yang lainnya.
Telinga Kurnia yang mendengar tantangan Sendi membuat semangatnya bangkit kembali. "Heh, boleh, siapa takut?" jawab Kurnia antusias, sedangkan yang lainnya menatap Kurnia dengan tatapan tidak terduga.
"Jika kolam renang itu ada, kalian harus berenang bersama denganku saat itu juga,"
"Jika kolam renang itu tidak ada, kau harus menjadi pesuruh kami selama tiga hari berturut-turut." tantang Kurnia tidak mau kalah.
Mendengar pernyataan Kurnia yang berarti meladeni taruhan Sendi, membuat mereka semua memandang Kurnia dengan tatapan deathglare. Tatapan Rizal lah yang paling tajam.
Setelah mengucapkan sumpah serapah –lebih tepatnya hanya Kurnia dan Sendi –mengenai taruhan tidak berguna ini, mereka pun melangkahkan kaki dengan tempo yang santai, dan pada akhirnya keenam mahasiswa ini sampai pada halaman belakang villa tersebut.
Hasil taruhannya adalah...
Kolam renang itu benar-benar ada. Percaya atau tidak.
Kurnia yang tidak percaya terhadap kenyataan bahwa ia kalah taruhan dari Sendi hanya bisa menganga selebar-lebarnya melihat hasil dari taruhan mereka. Sedangkan Sendi yang merasa senang sekaligus bangga, tertawa sekencang-kencangnya melihat tampang Kurnia yang luar biasa jeleknya.
"Bagaimana? Kurasa... kalian semua bukan sahabat yang mengingkari janjinya terhadap sahabatnya sendiri, 'kan?" Terdengar suara tawa yang tertahan dari dalam tenggorokan Sendi.
Dengan pasrah, Kurnia memalingkan wajahnya ke arah sahabat terdekatnya, Rizal, dan disertai dengan cengiran meminta belas kasihan. "Hehehe... maaf ya, membentuk tanda piece, yang berarti meminta damai kepada sang Tuan Muda. Dan juga pertanda bahwa ia telah memasuki kondisi siaga tiga.
Tapi, takdir tidak berkata demikian. Rizal malah menajamkan tatapan matanya ke arah Kurnia seolah berkata, 'Awas kau, Kur... nanti kau akan tahu akibatnya!'. Mungkin.
Tidak tahan dengan tatapan mematikan dari Rizal,Kurnia berusaha mengelak dari pernyataan kalah-dari-taruhannya. "Ah, oh iya, aku baru ingat bahwa aku masih ada pekerjaan yang akan ku selesaikan sekarang, jadi, bye!"
Sekuat tenaga, Kurnia berusaha melarikan diri dari temannya yang lain, tapi takdir lagi-lagi tidak berkata demikian. Saat hendak melarikan diri, baju belakang Kurnia ditarik oleh Sendi dan tanpa merasa dosa sedikitpun, ia langsung mendorong Kurnia menuju ke kolam renang, dan...
BYUUURR!
"Fuwaahh! Gila kau, Sen! Kau tidak memikirkan pe–" Otak Kurnia memutar sebentar. "Eh, tunggu, airnya tidak dingin... airnya hangat!" Ia menenggelamkan seluruh badannya sekali lagi guna memastikan apa yang ia rasakan, benar atau tidak.
Sedangkan yang lainnya hanya sweatdrop di tempat melihat tingkah laku Kurnia bersama dengan otak lemotnya.
Tidak lama kemudian Kurnia kembali muncul ke permukaan. "Benar, airnya tidak dingin! Ayo, kalian juga berenang! Sangat menyenangkan, lho!" Tampaknya si rambut pirang jabrik ini telah lupa bahwa ia kalah taruhan dan orang yang berhak mengajak berenang pertama kali adalah Sendi. Tapi, ya sudahlah.
__ADS_1
Sendi dan Rizal pun saling bertatapan muka dan membuang pandangan menuju Sandi yang sedang menguap lebar. Di dalam pikiran mereka pun muncul ide licik yang sama dan saling bahu membahu untuk mengangkat Sandi, Sendi bagian kaki dan Rizal bagian tangan.
"Wo-woi! Apa yang akan kalian lakukan? Turunkan aku, cepat!"
"Tidak akan!" ucap Sendi dan Sandi bersamaan. Ternyata di balik tampang cool Rizal, ia juga bisa menjahili orang lain.
Sekali lagi. Satu, Dua, Tiga!
BYUURR!
"Hahahaha! Kau tahu, San? Tampangmu saat ini sangat jelek!" ejek Kurnia tanpa memikirkan perasaan orang lain.
"Apa kau bilang?" ucap Sandi geram.
"Eh, Mmm, tidak apa-apa kok, tampangmu yang sekarang sangat keren, layaknya seorang bintang shampoo ternama!" Kurnia mengacungkan jempolnya penuh dengan keyakinan.
Tanpa disadari, perkataan yang seharusnya ia gunakan menjadi senjata pengelakkan ternyata bereaksi menjadi sebuah jam weker di telinga sang iblis yang sedang tertidur pulas. Dan pada saat itu posisi Kurnia berada dalam kondisi siaga dua.
Sandi pun tersenyum tulus di depan salah satu sahabatnya itu. "Hmm... untung kita berteman ya, Kur... coba kalau tidak, aku tidak tahu kamu akan berubah bentuk menjadi apa sekarang."
"Hehehe... damai, boss! Oke?" Dan lagi-lagi, tangan Kurnia membentuk sebuah tanda yang bernama piece di depan temannya yang lain.
Di saat Rizal sedang melihat adegan konyol di depan matanya, Sendi mencuri sedikit demi sedikit waktu yang tadinya berada di sebelah Rizal, sekarang berada tepat di belakang Rizal.
Dan untuk ketiga kalinya. Satu, dua, tiga!
BYUURR!
Terdengar suara tawa terbahak-bahak dari semua temannya. Ini adalah kali pertamanya Rizal dipermalukan oleh teman dan di depan teman-temannya. Tapi, tetap saja tampang cool dan stoic nya tidak pernah lepas dari seorang Rizal, apalagi ditambah dengan efek basah dan air yang mengalir dari ujung rambut hingga badannya yang sempurna. Kecuali auranya yang sudah berubah menjadi hitam pekat dan matanya menatap geram teman-temannya –kecuali perempuan –yang menertawainya.
"Sabar, kawan! Kita 'kan sedang bersenang-senang disini, ya 'kan?" Sandi berusaha menenangkan emosi Rizal yang hampir meledak.
Dinasehati oleh Sandi seperti itu membuat Rizal menghela nafas panjang dan kembali rileks seperti biasa.
Sendi kembali memalingkan wajahnya ke arah kedua teman perempuannya yang sedang tegang level tinggi dilihat oleh Sendi seperti itu.
"A-ano, Sen, jangan bilang kalau kau– KYAAA!" Perkataan Fitri terpotong oleh karena Sendi yang sudah menggendongnya ala bridal style dan melemparnya ke kolam renang.
BYUURR!
"S-sen, ka-kau hampir saja membuatku jantungan!" seru Fitri yang sudah basah seutuhnya karena dilempar tanpa aba-aba oleh Sendi. Sungguh terlalu.
Sendi mengeluarkan senyuman andalannya dan menoleh ke arah satu-satunya peserta yang tersisa dalam acara 'lempar-lemparan ke kolam renang ala Sendi'. Ya, tidak lain, tidak bukan, dan tidak salah lagi... Jihan Aulia.
"Berhubung kamu adalah peserta yang tersisa, aku menawarkan pilihan khusus kepadamu." Senyuman Sendi tambah melebar. "Pertama, kau ingin aku lempar ke kolam renang atau... kedua, kau ingin melempar dirimu sendiri ke kolam renang?"
Jihan yang sudah sedikit gemetar akan senyuman Sendi yang seakan-akan hendak memakan Jihan, akhirnya memutuskan jalan yang terbaik bagi dia sendiri. "A-aku memilih melempar diriku sendiri ke kolam renang, ya?" Iris emerald nya memelas kepada onyx milik Sendi.
Melihat tatapan mata Jihan, Sendi hanya dapat mengangkat kedua bahunya. "Terserah, this is your choice."
Perlahan-lahan, Jihan melangkahkan kakinya menuju ke tepian kolam renang. Hanya menyisakan beberapa langkah kaki lagi, Sendi menggendong Jihan dari belakang dan bersama-sama melompat menuju ke dalam kolam renang.
BYYYUUUURRRRR!
"FUWAAHH! Sen, kau sudah gila! Kau hampir membuatku jantungan, tahu!" protes Jihan akan apa yang Sendi lakukan kepadanya, tadi.
"Hahaha... calm down, Ji! Aku hanya bercanda, ya 'kan teman-teman?" tanya Sendi kepada yang lainnya, dan hanya dijawab sebuah anggukkan dan sebuah respon 'Hn' yang Anda semua tahu itu pemilik jawaban siapa.
"Nah, apa aku bilang, kalau berenang semua jadi seru, 'kan?" tutur Kurnia tanpa merasa bersalah sedikitpun.
Tahu 'kah Anda? Bahwa perkataan Kurnia tadi membuat semua orang –ralat, semua teman laki-lakinya menatap Kurnia dengan sangat tajam dengan disertai deathglare yang menjadi-jadi. Dan sudah dapat dipastikan, bahwa ucapannya tadi membuat posisinya berubah dan kondisinya naik ke tingkat yang lebih tinggi, yakni siaga satu.
Dengan santainya mereka bertiga –Sendi, Rizal, dan Sandi –mendekat ke arah Kurnia. Masih dengan disertai deathglare pada masing-masing wajah mereka.
"Ah, Oi... Ini ada apa ya? Aku salah bicara, ya? Hehehe... minta maaf lagi, ya? UWAAAAA!"
Tanpa segan-segan, mereka bertiga menenggelamkan kepala Kurnia hingga banyak balon-balon udara yang keluar dari hidung dan mulutnya karena ditenggelamkan tanpa aba-aba dan di luar perkiraannya. Memang bodoh.
Canda, tawa, dan aksi-aksi konyol pun terjadi di kolam renang ini. Hingga tanpa disadari sudah dua jam mereka berada di dalam air.
"Hei kawan, aku selesai duluan, ya!" seru Sandi di tengah kebahagiaan mereka.
"Eh? Kenapa? 'kan kita lagi seeru-serunya!" Kurnia terlihat kecewa akan kata-kata yang dilontarkan oleh Sandi.
"Biarlah, Kur... mungkin dia sudah tidak sanggup lagi," ucap Sendi kepada Kurnia agar ia tidak melarang temannya yang sudah kelelahan.
"Hm, aku dan Fitri juga sudah lelah bermain di air selama ini terus-menerus," Kepala Jihan menoleh ke arah Fitri. "benar 'kan, Fit?"
"I-iya," Tubuh gadis satu ini tampak bergetar, menggigil, karena berusaha menahan hembusan angin dingin yang berhembus melalui pakaiannya yang telah basah.
Melihat Fitri yang sedang kedinginan, Kurnia merasa iba di dalam hatinya."Ya-yah, kalau kalian ingin sudahan, ya... silahkan!" Entah ada perasaan seperti apa, tiba-tiba Kurnia jadi berbicara sedikit tergagap.
'Ada apa denganku?' pikir Kurnia dalam hati.
Sandi menghela nafas panjang. "Kalau begitu, kami naik duluan." Kedua tangannya ia gunakan untuk menopang tubuhnya yang cukup berat agar dapat naik ke tepi kolam renang.
Aksi Sandi pun diikuti oleh Fitri, Jihan, dan... Rizal?
"W-wo-woi, Zal!" panggil Kurnia dengan terheran-heran. Sedangkan Jihan, Fitri, dan Sandi terus berjalan menjauhi kolam meniggalkan Rizal dan Kurnia yang sedang berdebat di belakang.
Kepala sang pemilik rambut raven pun melihat sosok sahabat jabrik kuningnya itu dari balik pundaknya. "Hn?"
"Ko-kok kamu juga ikutan naik?"
"Memangnya kenapa? Tidak boleh?" Tatapan Rizal menajam sehingga membuat nyali Kurnia untuk mencegah Rizal menciut secara drastis. Membuat Kurnia memikirkan hal-hal mengerikan yang dilakukan Rizal kepadanya saat di dalam hutan beberapa waktu lalu.
Kurnia menghela nafas panjang, mengikuti apa yang Sandi lakukan tadi. "Kalau kau juga sudahan, aku juga!"
"Kenapa? Jika kau masih ingin bermain air, ya main saja." tanya Rizal dengan tatapan datar dan dingin andalannya.
"Karena..." Salah satu tangan Kurnia bergerak untuk merangkul leher teman sepermainannya yang bertampang stoic. "Karena sahabat pantat ayamku yang satu ini ingin sudahan dari kegiatannya!"
Satu hal yang terlintas dipikiran Rizal sekarang akan apa yang akan ia lakukan, yakni...
BLETAK!
"Apa yang kau lakukan kepadaku, Kur? Kau tahu? Aku ini masih waras, tidak seperti mu!" celoteh Rizal akan apa yang Kurnia lakukan kepada dirinya.
Seperti biasa, Kurnia merespon perlakuan Rizal kepadanya dengan sebuah cengiran andalannya. "Hehehe... Tidak apa-apa 'kan?"
Melihat Kurnia yang sudah dipukul olehnya masih tetap tersenyum seperti itu membuat Rizal merasa sedikit kasihan kepadanya. "Hhh... Terserah kau saja lah," Dengan begitu, Rizal pun naik ke tepian kolam renang yang diikuti oleh Kurnia disampingnya.
Sebelum mereka memberanjakkan kakinya, Kurnia memalingkan wajah ke arah Sendi yang masih berenang di dalam kolam renang. "Sen, mau sampai kapan kau terus berenang?"
Samar-samar mendengar suara Kurnia di dalam air, ia langsung mengambil posisi berdiri. "Zal, sekarang jam berapa?"
Mata onyx nya melihat jam tangan water resistant-nya yang masih menggantung di lengan kirinya. "Jam empat lewat." Kepalanya kembali terarah ke wajah Sendi.
"Kalau begitu... aku masih ingin berenang sebentar lagi."
"Kau yakin?" tanya Kurnia.
"Tentu, memangnya kenapa?"
"Tidak, hanya saja... aku merasa tidak enak," iris sapphire nya melihat jalanan yang berada di bawah kakinya. Pikirannya membawa ia ke dalam dugaan-dugaan negatif.
Sendi hanya dapat tersenyum seperti biasanya melihat Kurnia seperti itu. "Tidak apa, tidak akan ada yang terjadi, lagian 'kan aku laki-laki!"
Seulas senyuman mengembang di bibirnya. "OK! aku dan Rizal pergi dulu, ya? Dah!"
"Dah!" jawab Sendi disertai dengan lambaian tangan.
"Hah? Kata siapa aku akan berjalan berdampingan denganmu?" cela Rizal.
"Jangan begitu, Zal... sesama teman harus saling mendampingi satu sama lain!"
"Didampingi? Terlalu anak kecil sekali,"
"Sudahlah pokoknya jalan saja!"
"Aku tidak mau! Kau jalan duluan,"
"Tidak mau, kita harus berdampingan!"
"Kalau tidak mau, ya sudah!"
"Zal, jangan lari kamu, tunggu aku!"
Dan seketika itu juga mereka berlari menjauh dari kolam renang, dimana Sendi sedang ber-sweatdrop ria melihat kejar-kejaran mereka yang terbalik. Mengerti maksudku? Baru kali ini seorang Rizal dikejar oleh seorang Kurnia. Ada apa dengan dunia ini? Apa dunia ini sudah terbalik?
Sepeninggalan Kurnia dan Rizal, Sendi pun kembali melanjutkan aktifitas renangnya. Dengan lincah, ia berenang dengan menggunakan beberapa gaya yang sudah ia pelajarinya sedari kecil, terus berenang dari ujung sampai ke ujung tepi kolam.
Beberapa waktu kemudian badannya pun merasa cukup lelah. Ia pun memutuskan untuk menepi dan naik ke tepi kolam. Dengan perlahan tapi pasti, ia dapat berdiri dengan sukses di daratan. Ia memejamkan matanya sesaat dan mengatur pernafasannya sebaik dan senormal mungkin. Setelah itu, ia segera berjalan sedikit demi sedikit dan membuka matanya secara perlahan.
DEG!
Mata Sendi terbelalak lebar, jantungnya berdetak sangat cepat, nafasnya memburu. "A-apa yang akan kau lakukan dengan benda itu?"
Kakinya perlahan mengambil langkah mundur –dengan kata lain, mengambil ancang-ancang untuk melarikan diri. "Mu-mundur! Jangan mendekat! Ka-kau sudah gila, ya?" Mata Sendi terfokus pada apa yang berada di tangan lawan mainnya sekarang. "Untuk apa gergaji itu, hah?"
Semua hal yang dilontarkan olehnya tidak dijawab maupun direspon sedikit pun. Bukannya membuat 'sesuatu' yang di hadapannya itu gentar, tetapi malah membuat 'sesuatu' itu semakin manjadi-jadi.
"Ke-kenapa kau tersenyum seperti itu? Tidak lucu, kau tahu! Menjauh!"
Ketegangan sudah menjalar di setiap tubuhnya sekarang, ditambah dengan angin pegunungan yang dingin dan baju yang basah maka... sempurnalah kegigilannya sekarang.
"UWAAAAAAAA!"
Dengan gerakan spontan, Sendi pun membalikkan badannya, hendak melarikan diri. Menyelamatkan diri. Tapi, sepertinya Tuhan tidak berkehendak demikian.
Sepertinya, Sendi kita yang satu ini lupa akan posisinya berdiri sekarang.
Saat kakinya bergerak untuk membalikan badannya ke belakang, kakinya tergelincir air yang berada di tempat ia berpijak sekarang. Tidak 'kah kau ingat, Sen? Kau baru saja keluar dari kolam renang.
KREK!
"AAARRGGHHH!"
Dalam satu detik, sendi yang melekat diantara tulang telapak kaki dan lengan kaki bawah tidak kuat untuk tetap menjalankan tugasnya sebagai sendi. Alhasil, kedua tulang itu saling bergeser satu sama lain. Kakinya kini tidak senormal beberapa saat yang lalu.
TAP! TAP! TAP!
Bulu kuduk Sendi kembali berdiri. Perasaan sakit yang ia rasakan sudah terganti dengan perasaan ketakutan luar biasa yang menyelimuti seluruh tubuhnya sekarang.
"To-Tolong, aku masih tidak ingin mati... Aku minta maaf jika aku mempunyai salah padamu, maaf, maaf! maaf!"
Tetapi sepertinya, lawan main ia kali ini adalah orang yang agresif. 'Ia' terus melangkahkan kakinya menuju Sendi yang berada beberapa meter di depannya. Terus dan terus memperkecil jarak yang membentang diantara mereka.
__ADS_1
Sendi yang melihat 'ia' terus berjalan menujunya melalui iris onyx yang kini sudah bening oleh air matanya, menambah ketakutan di dalam dirinya.
"Ja-jangan mendekat! MENJAUH!"
Lagi-lagi, tidak digubris sedikit pun olehnya.
"Kumohon..."
Bukan ke-ibaan hati yang didapat olehnya, melainkan sebuah tatapan tajam yang merendahkan dan senyuman lebar yang mengandung arti sebuah kelicikan dan hawa nafsu pembunuh yang tinggi, sangat tinggi.
Tidak pikir panjang lagi, Sendi memaksakan tubuhnya untuk berdiri dengan satu kaki normal yang mengakibatkan ia berjalan dengan terpincang-pincang. Alhasil? Kakinya -sekali lagi –tergelincir oleh air yang baru saja membuatnya menjadi tidak sempurna. Diluar dugaannya, percikan air di tempat ia tergelincir membawa seluruh tubuhnya mengarah ke kolam renang yang berada tepat dihadapannya, dan...
DUAGH!
Kepalanya terbentur ujung sisi tepi kolam dengan hentakan yang sangat keras. Liquid berwarna merah dan berbau besi karat merembes keluar dari kepalanya yang bermahkotakan rambut hitam kebangaannya, tepat di otak belakangnya.
BYUUURR!
Tubuh yang masih sedikit sadar itu terhempas ke dalam kolam yang dipenuhi oleh air sedalam 1,5 meter. Air yang jernih dan hangat pun bercampur aduk dengan darah segar yang keluar dari kepalanya yang bocor.
Kolam renang yang berwarna biru jernih serta dapat menenangkan hati, pikiran, dan jiwa seseorang jika melihatnya, seketika berubah menjadi lautan darah berwarna merah dan bau anyir yang tajam pun mendesak masuk ke dalam indra penciuman setiap orang yang jika berada di sekitarnya.
Keadaan Sendi yang seperti itu membuat 'Lawan main'nya pasti merasa senang. Dapat dipastikan sekarang, senyuman licik dan lebar pun mengembang di bibirnya yang tipis. Dengan tawa tertahan, 'ia' melangkahkan kakinya pergi menjauhi Sendi bersama dengan kolam 'merah'nya itu.
Tubuh Sendi... sudah tidak bernyawa.
Tubuhnya memang berada disana, tapi... tidak dengan jiwanya.
.......
...+++~Lost~+++...
.......
Di lain tempat. Tepatnya di dalam ruangan terakhir. Kurnia, Rizal, Jihan, Sandi, dan Fitri sedari tadi menunggu kehadiran temannya, Sendi, yang belum datang menemui mereka semua sampai detik ini. Perasaan mereka mulai dilanda oleh kecemasan dan kekhawatiran, terlihat dengan jelas di raut wajah mereka.
Kurnia tampak berjalan bulak-balik di satu tempat yang sama, di belakang sofa. "Kenapa Sendi belum datang juga, ya? Apakah ia–"
"Wush! Jangan berpikir yang negatif, Kur! Sendi pasti baik-baik saja!" ucap Jihan kepada Kurnia, karena merasa Kurnia ber-negative thinking.
"Apaan sih, ji! 'kan aku belum selesai bicara! Maksud perkataanku tadi 'apakah ia baik-baik saja?', itu lanjutannya." Kurnia memasang tampang menggoda ke Jihan. "Jangan-jangan... kau yang berpikiran negatif tentang Sendi, ya? Hmm..."
Senyuman-penuh-arti Kurnia mampu membuat wajah Jihan merona merah. "A-apaan sih, kau! Bu-bukan... maksudku... aduh... itu... ARGH!" kenapa aku bisa gelagapan begini?, lanjutnya dalam hati.
Melihat mereka berdua seperti itu, Rizal mengalihkan permbicaraan mereka berdua. "Sudah. Bagaimana kalau kita menyusulnya saja sekarang, hn?"
"I-ide bagus, Zal!" ujar Fitri, dengan arti memuji tindakan saran dari Rizal.
"Ya sudah, ayo kita cek ke kolam renang, mungkin saja dia masih disana." ajak Sandi kepada yang lainnya, dan dijawab sebuah anggukkan dari tiap kepala yang ada.
Tiap kaki mereka pijakan di setiap lantai yang berbeda jaraknya, mereka berjalan dengan setengah berlari disertai pula dengan rasa was-was di dalam hati dan pikiran mereka.
Berjalan, berjalan, dan terus berjalan. Hampir satu menit mereka menelusuri jalan setapak menuju kolam renang, dan akhirnya tibalah mereka melihat kolam renang itu. Perasaan tidak enak pun muncul setelah mereka tiba disana, jauh dari kolam, saat mencium bau karat dan anyir di hidung mereka.
Perasaan tidak enak pun berganti dengan rasa penasaran yang tinggi. Perlahan mereka berjalan mendekat ke tepi kolam, dan...
"KYAAAAA!"
Para perempuan berteriak histeris. Para laki-laki membelalakan matanya selebar mungkin. Mulut dan lidah mereka kini tidak bisa berkata apa-apa lagi. Kaku. Keluh. Buta seribu bahasa.
Jantung dan paru-paru mereka berhenti bekerja, tidak berkontraksi ataupun berelaksasi. Berhenti. Hanya satu kata itu yang dapat mendeskripisikan seluruh sistem tubuh mereka sekarang. Begitu shock-nya mereka saat melihat teman –eh maksudnya sahabat mereka telah bermandikan darah di kolam renang villa tepat di depan mata mereka.
Fitri dan Jihan, yang hanya bisa mereka lakukan hanyalah menangis seraya berpelukan guna meredam rasa histeris dan shock yang mereka berdua rasakan saat ini. Rasa takut melanda perasaan mereka. Sangat takut.
Sandi sangat shock melihat Sendi yang tidak bernyawa dan hidupnya berakhir dengan tragis serta sama sekali tidak berkesan. Sangat tidak berkesan. Karena tidak kuat melihat nasib kematian Sendi, salah satu sahabat yang paling dekat dengannya, ia jatuh tersungkur, lebih tepatnya berlutut di tempatnya berdiri.
Rizal meletakkan kepalan tangan tepat di depan dahinya. Matanya terpejam, tidak, tapi disengajakan oleh pemilik mata onyx itu untuk terpejam, sangat terpejam hingga mucul lipatan-lipatan yang diakibatkan oleh matanya. Mulutnya tampak merutuki dirinya sendiri. Merasa bersalah.
Sedangkan Kurnia, ia sibuk memasang tampang shock ala dirinya sendiri. Matanya terbelalak, mulutnya sedikit terbuka. Blank. Otaknya tidak memikirkan satu kata pun, atau mungkin memang tidak pernah memikirkan apapun. Tidak ada reaksi khusus yang terjadi padanya. Tidak ada.
Jeritan melengking yang Jihan dan Fitri buat membuat para pelayan serta kepala pelayannya pun tergesah-gesah menghampiri asal suara teriakan itu berasal, dan...
"UWAAA! Ada apa ini?"
"C-Cepat keluarkan tubuh itu dari kolam renang!"
"Yes, Sir!"
Para pelayan pun segera mengangkat mayat Sendi yang sudah 'tidak bertuan' itu, meletakkannya di daratan –sekilas, para sahabat yang ditinggalkan melihat wajah Sendi untuk yang terakhir kalinya sebelum pada akhirnya para pelayan menutupi seluruh tubuh Sendi dengan jas hitam yang mereka kenakan.
Rizal yang merasa menyesal karena telah meninggalkan Sendi sendirian di kolam renang melirik satu persatu pelayan yang ada di sekitarnya. Ada keganjilan yang ia rasakan saat melihat raut wajah sang kepala pelayan, Deni. Tampangnya seperti sedang memikirkan suatu hal. Gelisah. Takut.
Merasa aneh dengan keganjilan tersebut, Rizal mengepalkan tangannya sekuat tenaga dan melangkahkan kakinya dengan pasti menuju Deni. Tangannya dengan sigap meraih kerah depan kemeja kepala pelayan itu.
"APA YANG KAU SEMBUNYIKAN, HAH? JAWAB, BRENGSEK!" Emosi Rizal memuncak, perasaannya saat ini campur aduk. Tidak bisa ditebak oleh orang lain. Bahkan dirinya sendiri pun tidak.
"A-A-Aku..."
BUAGH!
Sebuah hadiah berupa pukulan keras sukses membuat pipi kiri Deni yang berwarna putih pucat menjadi memar seketika. Bunyi pukulan yang dihasilkan membuat semua 'anak manusia' yang berada di sekitar mereka mereflekskan badannya untuk melihat apa yang terjadi sehingga dapat membuat bunyi seperti itu.
Emosi Rizal kini sudah berubah menjadi kegeraman yang hebat. Matanya tidak lagi hitam, tidak lagi sebuah batu permata onyx yang memukaukan hati siapa saja yang melihatnya. Tapi, kini iris matanya berubah menjadi berwarna merah.
Tatapannya tajam. Sangat tajam. Sehingga mampu membuat Deni mengeluarkan keringat dingin yang mengalir di pelipisnya.
"A-Ma-Maaf, Tuan Muda..." ucap Deni tergagap.
"Zal, apa yang terjadi?" seru Sandi seraya mendekati Rizal dengan diikuti oleh teman-temannya yang lain, sehingga sekarang Rizal dikelilingi oleh para sahabatnya.
"Dia!" Jari telunjuk Rizal mengacung tepat di depan mata Deni. Matanya masih berada dalam warna kemerahan yang membara. "Kau, pasti ada yang kau sembunyikan, 'kan? Jawab!"
Kalimat yang diucapkan Rizal membuat temannya yang lain membelalakan matanya.
"Oi, kau tahu dari mana dia salah? Bukannya sedari tadi dia–"
"Aku melihat raut wajahnya," Rizal mempertajam penglihatannya kepada Deni. "raut wajahnya terlihat seperti gelisah dan takut." Iris matanya lebih menatap intens Deni. "Dengan kata lain, seperti ada sesuatu hal yang disembunyikan olehnya, dalam pikirannya."
Jihan yang sudah tahu kelebihan Rizal dengan mata-nya sedari kecil itu menengokkan kepalanya ke arah seseorang yang Rizal tuduh menyembunyikan 'suatu' hal. "Be-benarkah kau menyembunyikan sesuatu hal yang penting dari kami?"
Merasa aura ketegangan yang berada di tempat itu semakin terarah ke sudut negatif, Zaki, salah satu dari pelayan yang berada disana berinisiatif untuk mencoba menyejukkan ketegangan yang sedang berlangsung. "Permisi, Tuan-Tuan... bagaimana jika kalian membicarakan masalah ini sembari duduk dan menikmati secangkir teh hangat di dalam ruangan terakhir?"
"I-iya, Zal... lebih baik kita membicarakan masalah ini baik-baik tanpa ada perkelahian satu sama lain." timpal Fitri mendukung usul yang disarankan oleh Zaki.
"Ok... mari kita semua menuju ke ruangan terakhir sekarang!" ujar salah satu pelayan lain yang bernama Rizki.
.......
...+++~Lost~+++...
.......
Beberapa menit mereka gunakan untuk menenangkan pikiran mereka masing-masing. Beberapa cangkir teh telah disuguhkan di atas meja yang berada di hadapan mereka. Sesekali mereka menghirup wangi daun teh yang dapat menenangkan jiwa mereka yang sedang tidak stabil dan shock, dan menyeruput sedikit demi sedikit teh hangat mereka. Uap panas yang dihasilkan teh hangat itu mereka manfaatkan untuk menghangatkan tangan mereka yang kembali mendingin karena hujan telah turun dengan lebatnya di luar sana.
"Jadi," Suara Rizal memecah keheningan yang ada. "Apa yang kau sembunyikan?" Mata Rizal memang dapat membaca dan mengetahui perasaan dan aura seseorang, tapi... tidak dapat melihat masa depan atau masa lalu seseorang yang bertatapan mata dengannya. Itulah kelemahan matanya.
"Aku akan menceritakannya, tapi..." Deni mencoba memilih kata-kata yang tepat di kepalanya. "Dapat 'kah anda merubah rupa iris mata Anda?"
"Hoh, tentu."
Seketika iris mata Rizal berganti menjadi iris permata onyx nya kembali.
Melihat mata Rizal yang telah berubah, Deni menghela nafas pelan. "Baiklah, ini adalah suatu rahasia yang sengaja aku kubur dalam-dalam selama puluhan tahun lamanya, tidak kusangka 'hal' ini akan muncul ke permukaan oleh karena ketujuh anak muda yang–"
"To the point." sela Rizal singkat. Sedangkan yang lainnya –para pelayan dan keempat sahabatnya –menunggu kelanjutan Deni dengan seksama.
Deni mengeratkan kepalan tangannya, memejamkan matanya, mengatur emosinya, dan mempersiapkan diri kepada kenyataan yang ada. "Ini adalah kejadian dua puluh tiga tahun yang lalu,"
Ketegangan dari para pendengar dapat dirasakan oleh Rizal. Tetapi, mata dan telinganya tetap terfokus kepada Deni dan segala perkatannya.
Deni menatap dalam mata para pelayan, Kurnia, Fitri, Sandi, Jihan, dan terakhir... pandangannya bertumpu pada iris onyx Rizal. Menatapnya lebih dalam. Menyelam ke tempat yang paling jauh di dalam jurang hitam milik Rizal.
"Peristiwa yang dimana tempat kejadian dan nama julukannya sama,"
Hening. Deni tampak bimbang untuk mengatakannya.
"Nama-'nya'..."
Sejenak keheningan datang kembali untuk menyelimuti mereka yang berada di...
"Tragedi 'ruangan terakhir'."
*┈┈┈┈*┈┈┈┈*┈┈┈┈
Bukan 'kah sudah kubilang pada 'Nightmare 3'?
Aku pernah berkata pada kalimat penutup 'Nightmare 3' bahwa:
Kalimat pertama: Ada apa di ruangan terakhir tersebut?
Kalimat kedua: Tampaknya ruangan terakhir itu mempunyai arti tertentu….
Dan jika kalian yang membaca menganggap bahwa kalimat-kalimat yang aku tulis itu hanya sebuah kalimat biasa yang tidak mempunyai arti...
Dapat dipastikan , kalian mendapat nilai NOL BESAR dariku.
Dan... itu akibat dari tanggapan kalian yang SALAH BESAR.
Perpaduan yang sempurna, bukan?
Nilainya sesuai dengan jawaban yang kalian isi di dalam 'selembar kertas jawaban' di dalam pikiran kalian.
Ah, dan satu lagi...
Kalian ingat akan kalimat keramat yang pernah diucapkan oleh setiap karakter laki-laki yang ada di 'Lost In Nightmare' ini?
Always remember this sentence!
'sesuatu yang menarik' akan terjadi disini.'
Mungkin... kalimat itu akan segera terjawab di dalam cerita 'Lost In Nightmare' ini.
Jadi... mana yang akan kalian pilih? Pembunuhan yang berhubungan dengan manusia... atau hantu?
...~Lost In Nightmare~...
...To Be Continued…...
__ADS_1