Lost In The Nightmare

Lost In The Nightmare
First Step To Final


__ADS_3

...NIGHTMARE 17...


...First Step To Final...


Sandi tertidur dengan sangat lelap di atas sofa panjang secara horizontal di ruangan terakhir. Bunga mimpi yang hadir menghiasi bingkai tidurnya berhasil membuat Sandi tersentak kaget sehingga posisi tidurnya berubah menjadi posisi duduk. Nafas Sandi tidak teratur. Salah satu lengan Sandi bergerak untuk mengelap keringat yang sudah bercucuran dengan sangat deras di sekitar dahi dan pelipisnya.


Saat tangannya menyentuh kulit lehernya sendiri, ia baru menyadari suatu hal bahwa ia sedang berkeringat dingin. Otaknya kembali memutar untuk mengingat apa yang ia mimpikan barusan. Mimpi buruk.


Satu hal yang paling diingatnya dari rentetan panjang film mimpi buruk yang baru diputar di dalam bingkai mimpinya adalah ia mendengar suara teriakan seorang perempuan yang melengking panjang.


Sandi memejamkan matanya kembali, berusaha membuang jauh-jauh mimpi tidak berguna itu. Setelah merasa dirinya sudah agak tenang, ia melirik ke arah jam yang bergantung di atas salah satu sisi dinding ruangan terakhir.


Sekarang sudah jam tiga lewat tiga puluh menit pagi buta, pikirnya dalam hati.


Setelah mengembuskan nafas panjang, tiba-tiba ia mengingat kejadian sebelum ia tertidur di sini dengan perlahan dan termenung sendiri karena menyadari ia sedang tertidur di atas sofa di ruangan terakhir. Bukankah seharusnya tidur di dalam kamarnya?


Memang benar ia sudah tidur di dalam kamarnya, tetapi Fitri membangunkannya karena perut perempuan itu sudah memberontak meminta makan sekitar pukul... dua lewat tiga belas dini hari? Lalu saat tiba di lantai bawah, Fitri bilang bahwa ia bisa pergi mencari makan sendiri karena... mungkin, perempuan itu tidak tega melihat kondisi Sandi yang sempat berjalan menuruni tangga dengan sempoyongan akibat rasa kantuk yang masih setia menyerangnya.


Tapi... Tunggu. Sekarang sudah pukul setengah empat, dan Fitri belum kembali membangunkannya? Perasaan gelisah kini menyelimuti dirinya. Berbagai macam pertanyaan terus berputar dipikirannya: Apakah Fitri sudah selesai menyelesaikan acara makannya dan kembali ke kamar tanpa membangunkan dirinya? Ke manakah ia harus mencari Fitri untuk memastikan keadaan perempuan itu baik-baik saja terlebih dahulu? Ke kamar tidur? Atau ke... ruang makan?


Bayangan negatif mengenai Fitri mulai bermunculan sedikit demi sedikit, Sandi menggeleng-gelengkan kepalanya dengan sangat keras salah satu upaya untuk menghilangan kesan negatif itu. Fitri baik-baik saja. Dan Fitri akan baik-baik saja.


Berhubung ia berpikir optimis bahwa Fitri sudah kembali ke kamarnya yang berada di lantai dua, Sandi melangkahkan kakinya dengan pasti menuju ke lantai dua. Sandi berdoa di dalam hatinya dan berharap semoga saja Fitri tertidur di kamarnya dengan nyenyak saat Sandi mendapatkan keberadaannya nanti.


Ketika sampai di depan pintu kamarnya, Sandi menghela nafas pelan dan membuka pintu itu untuk segera memastikan apakah Fitri berada di dalam kamarnya atau tidak. Dan jawabannya adalah...tidak ada.


Sandi merasa tegang seketika, pikiran-pikiran negatif itu kembali hadir di dalam pikirannya. Ia langsung melangkahkan kakinya dengan cepat menuruni tangga setelah menutup pintu dengan sangat kencang—bisa dibilang membanting pintu—dan menuju satu-satunya tempat di mana ia bisa mendapatkan Fitri berada sekarang. Ruang makan.


Dengan gesit, Sandi melewati selak-beluk ruangan yang ada di villa untuk segera tiba di ruang makan secepat-cepatnya. Sungguh, pikirannya kacau sekarang. Dia tidak ingin lagi kehilangan teman-temannya yang sangat berharga. Yang hanya bisa dilakukannya sekarang hanyalah berdoa dan berharap bahwa Fitri tidak akan apa-apa.


Langkah kakinya berhenti saat berada tepat di ruang makan yang masih gelap. Sandi membuka pintu ruang makan dengan tegas, sehingga pintu ruang makan itu membentur dinding yang berada dalam jalur rotasi pintu itu.


"FITRI!" panggilnya dengan nada teriak dan tegas.


Kosong.


Secercah cahaya yang masuk dari arah lorong di luar ruang makan mampu masuk dan menerangi sedikit ruangan tersebut melalui ambang pintu yang telah dibuka oleh Sandi.


Mata Sandi terus beredar di sekitar sudut ruang makan, berharap masih bisa menemukan sesosok yang dicarinya itu, tetapi hasilnya nihil. Ruangan itu benar-benar kosong dan rapi. Nafasnya tersendat-sendat, kini ia baru menyadari bahwa rasa khawatirnya sudah melebihi batas yang biasanya. Ke mana Fitri?


Setelah beberapa lama untuk berpikir dengan jernih mengenai tempat lain selain ruang makan, tiba-tiba terbesit lah sebuah ruangan lain yang masih mempunyai hubungan dengan ruang makan. Dapur.


Sandi kembali melesatkan diri menuju dapur yang berjarak tidak jauh dari ruang makan tanpa menutup pintu ruangan yang sudah ia buka selebar-lebarnya.


Tidak butuh lima detik untuk berlari ke dapur, kini Sandi sudah tiba tepat di depan pintu dapur yang masih tertutup rapat. Tidak ada suara-suara mencurigakan yang terdengar dari balik pintu itu. Entah kenapa, bukannya merasa senang, tetapi justru perasaannya menjadi lebih gusar dari sebelumnya.


Sandi menelan air liurnya sendiri dan menghela nafas secara tegas. Tangannya bergerak untuk membuka—lebih tepatnya mendobrak—pintu dapur itu seraya berteriak memanggil, "FITRI!"


Bau karat yang dicampur dengan garam hadir di indra penciuman Sandi, membuat kepalanya pusing karena bau tidak menyenangkan itu. Mata terbelalak lebar ketika melihat sesosok yang dicarinya berada dalam kondisi yang tidak diperkirakan oleh otaknya yang genius.


"FITRIIII!"


.......


...+++~Lost~+++...


.......


"FITRI!"


Kelopak mata seorang perempuan bermahkota kan dark brown itu terbuka secara perlahan, menampakkan iris mata berwarna hijau yang tidak kalah indah dengan permata emerald dan batu jade.


Suara teriakan yang memanggil Fitri berhasil membangunkan gadis yang bernama jihan ini dari tidurnya yang nyenyak. Karena merasa penasaran dengan teriakan dari luar yang memanggil Fitri itu, Jihan pun bangun dari tempat tidurnya secara perlahan—mengingat sekarang ia berada di tengah-tengah Rizal dan Kurnia yang masih tertidur di kiri dan kanan tepi kasur—dan langsung menuju ke arah jendela yang mengarah ke luar villa.


Iris mata emerald Jihan menangkap sesosok Sandi yang sedang membuka pintu ruang makan yang gelap—sepertinya lampu ruang makan itu belum dimatikan. Sandi tampak diam sejenak, sepertinya sedang mencari sesuatu. Apakah Sandi sedang mencari Fitri?


"Ji, sedang apa kau di sana?"


Pemilik nama kecil Jihan itu langsung menolehkan kepalanya ke arah belakang, ia sedikit tersentak karena secara tiba-tiba melihat seorang pemuda berambut raven yang sedikit berantakan di balik punggungnya tanpa ia sadari sedikit pun.


"Ah, kau, Zal... Tidak. Aku hanya penasaran dengan suara orang yang sempat berteriak tadi. Tapi ternyata itu suara Sandi." Jihan membalikkan badannya kembali menuju ke arah luar jendela. "Dan tampaknya ia sedang mencari...Fitri?" ucap Jihan tidak yakin.


Rizal mengikuti arah pandang Jihan. Mata onyx-nya yang kelam melihat seorang pria yang tengah berdiam diri di ambang pintu ruang makan. Sedang apa orang itu?


"Woi, Zal, Ji... kalian sedang apa berdiri di depan jendela seperti itu? Bisa 'kah kalian diam dan kembali tidur? Kalian mengganggu waktu tidurku, tahu?"

__ADS_1


Tak lama Kurnia melontarkan seluruh perkataannya sembari uring-uringan di atas kasur, iris emerald dan onyx itu kembali melihat pergerakkan dari Sandi yang kini sedang berjalan menuju... pintu dapur? Apakah ia sedang lapar?


Setelah beberapa detik Sandi berdiam diri berhadapan dengan daun pintu dapur, tangannya bergerak dengan perlahan untuk memegang pedal pintu, lalu di hentakkan nya dengan keras sembari berteriak, "FITRI!"


Mendengar kata Fitri di telinganya, Kurnia langsung beranjak dari tempat tidurnya dengan tergesa-gesa menuju ke jendela Jihan dan Rizal berada. Mengikuti arah pandang kedua sahabatnya. Ditatapnya sosok Sandi sesaat dengan iris aquamerine-nya yang biru. Tubuh Sandi tampak tegang.


"Apakah Fitri ada dan baik-baik saja?" gumam Jihan pelan. Hampir seperti suara bisikkan.


"Semoga saja ada dan baik-baik saja," sahut Rizal dengan sebuah bisikkan yang serupa.


"Bukan 'semoga', tapi 'pasti' baik-baik saja," koreksi Kurnia terhadap bisikkan jawaban Rizal.


Setelah hening beberapa detik lamanya, terdengarlah suara teriakan, "FITRII!"


Jihan terkesiap seraya menutup mulutnya dengan salah satu tangannya. Perasaan tidak enak mulai menghinggap ke arah tubuhnya. Berat.


"Sepertinya ini tidak baik-baik saja." Rizal memandang kaku ke arah Sandi yang tengah menghadap ke dalam dapur.


Kurnia menganggukkan kepalanya, menyetujui kalimat Rizal. "Dan memang tidak baik-baik saja." Tangannya mencolek pundak Rizal. "Kurasa kita harus bergegas ke bawah. Ayo!"


Rizal mengikuti langkah kaki Kurnia yang tengah beranjak keluar mendahuluinya setelah menyadarkan Jihan dari dunia kekagetannnya. Rizal berjalan dengan langkah cepat dan besar, berusaha menyusul Kurnia yang berada di depannya sembari menggenggam tangan Jihan yang baru setengah sadar.


Sekilas, Kurnia menolehkan kepalanya ke arah belakang untuk memastikan bahwa kedua temannya berada tepat di belakangnya. Tapi entah kenapa, arah pandang matanya menjadi bertumpu dan terpaku oleh tangan Rizal yang tengah menggenggam tangan Jihan sembari berjalan setengah berlari. Dan di saat itulah rasa nyeri yang ia rasakan sebelumnya di dadanya kembali hadir. Mengapa? Bukankah Kurnia dan Jihan itu berteman? Bersahabat?


Kepala Kurnia kembali memandang lurus ke depan. Kurnia menggeleng-gelengkan kepalanya sedikit, berusaha mengenyahkan segala pikiran tidak penting yang hinggap di otaknya yang malang itu. Yang paling penting dan terutama adalah: Ia harus segera menuju ke tempat Sandi berada dan... memastikan bahwa tidak ada masalah yang kembali terjadi di tengah-tengah sahabatnya yang tersisa.


Tidak lebih dari satu menit kemudian, Kurnia, Rizal, dan Jihan sudah dapat melihat seorang Sandi tengah berlutut di depan ambang pintu dapur di pelupuk mata mereka. Keyakinan akan terjadinya suatu hal pun kembali menjadi keyakinan kuat di dalam pribadi otak mereka bertiga.


"San! Apa yang terjadi?" tanya Kurnia dengan tidak sabaran ketika pada akhirnya mereka sampai di mana Sandi berada.


Seorang Sandi tidak sanggup mengucapkan sepatah kata lagi. Ia sudah sangat shock dengan keadaan di depan matanya itu. Bola matanya tetap menatap tidak percaya apa yang ada di depannya. Di dalam ruangan dapur itu.


Karena rasa ketidaksabaran berhasil mengalahkan rasa penasaran, pada akhirnya Kurnia, Rizal, dan Jihan memberanikan diri untuk melihat keadaan yang sesungguhnya di dalam dapur itu.


Mata mereka terbelalak lebar. Oh, tidak lagi...


Kini tepat di dinding dalam dapur di hadapan mereka, telah tergantung sesosok Fitri dengan sangat tidak wajar. Bukan digantung dengan seutas tali, melainkan dengan beberapa buah pisau dapur yang tertancap dengan sangat dalam—bahkan sampai menembus dinding di belakangnya—di bagian dahi, leher, kedua pundak dan sikut, telapak tangan, dada, perut, kedua paha, dan pergelangan kakinya. Darah merah yang kental tampak bercipratan bahkan mengalir di sekitar dinding mayat itu tergantung. Bau khasnya sudah memenuhi ruangan dapur tersebut.


Sebelum Jihan kembali ke dalam kondisi lemahnya, Rizal dengan sigap menutup kedua mata Jihan menggunakan salah satu telapak tangannya. Dan benar saja, sekarang Rizal sudah dapat merasakan bahwa suhu tubuh Jihan kembali meninggi. Panas.


Menatap kedua temannya yang sudah tidak dapat berkutik dan tidak tahu harus berbuat apa lagi, Rizal—satu-satunya orang yang masih tersadar di sana—langsung melontarkan sebuah perintah untuk Kurnia—yang menurutnya masih lebih sadar dibanding Sandi.


"Kur! Cepat kau bangunkan para pelayan di sini! Dan suruh mereka bertindak apa yang harus mereka lakukan!"


Suara Rizal yang keras dan berat mampu membuat Kurnia tersadar seketika dari lamunan panjang ketidakpercayaan apa yang dilihatnya. Kurnia mengangguk dengan tegas ke arah Rizal dan segera melesat menuju mess khusus untuk para pelayan villa itu.


Melihat punggung Kurnia yang sudah menghilang dari pandangan, Rizal mengalihkan pandangannya ke arah Sandi berada. Perasaan luluh melihat keadaan Sandi hinggap di dirinya ketika iris onyx-nya menatap Sandi yang jatuh tersungkur tidak berdaya.


Rizal tidak tahu apa yang harus ia lakukan terhadap temannya yang satu itu. Karena sekarang dirinya sudah disibukkan oleh keadaan Jihan yang masih tidak menentu.


Sandi mencengkram rambutnya sendiri dengan kedua tangannya. Matanya membelalak. Giginya saling gemeretak satu sama lain. Tubuhnya gemetar. Pikirannya kacau. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan dan ia tidak tahu apa yang akan ia lakukan. Yang hanya ia ketahui hanyalah: Fitri mengalami kejadian hal seperti ini karena dirinya tidak dapat menahan rasa kantuknya sendiri dan meninggalkan seorang perempuan sendirian.


"San, kau tidak apa-apa?" tanya Rizal seraya menepukkan salah satu tangannya di pundak Sandi. Sebelah tangannya masih memeluk Jihan.


Perkataan Rizal bagaikan sebuah magnetik kuat yang berhasil menarik Sandi beserta pikirannya ke alam sadar yang nyata. Sandi mengatur nafasnya yang terengah-engah. Ia memejamkan matanya sesaat, berusaha mengontrol seluruh pikirannya dengan sewajarnya.


"Tidak apa-apa." Sandi mengembuskan nafas pelan selama berkali-kali. "Tidak apa-apa." Matanya melirik ke arah Jihan berada dengan raut wajah khawatir. "Jihan sendiri? Apakah ia baik-baik saja?"


"Tak usah khawatir, ia hanya shock melihat apa yang sudah terjadi di depannya." Kepala Rizal bergerak sedikit ke dalam dapur, menunjukkan suatu hal yang dimaksudnya.


Sandi memijat kecil pelipis matanya, berusaha menenangkan jiwanya yang hampir tidak keruan tadi. Iris matanya sesekali melirik ke arah tubuh tak bernyawa milik Fitri yang masih menggantung di salah satu sisi dinding dapur dan langsung diikuti perasaan nyeri di dadanya.


Kematian Fitri menyisakan luka dan penyesalan di lubuk hatinya.


"Aku tak menyangka bahwa 'dia' juga mengincar Fitri yang hampir tidak pernah menyusahkan kita."


Iris onyx Rizal melirik ke arah Sandi yang masih terduduk di atas lantai yang dingin. Memerhatikan perkataannya satu persatu.


"Aku menyesal telah meninggalkannya sendirian." Tangan kanan Sandi mencengkram kuat rambutnya sendiri. "Andaikan saja aku mengetahui barang sedikit saja dari ciri-ciri pembunuh ini... aku pasti sudah akan menghabisinya dengan tanganku sendiri. Untukku dan untuk teman-temanku yang telah mendahuluiku, kita."


Mulut Rizal terbuka seperti akan mengucapkan suatu hal, tetapi terpotong oleh suara baritone di ujung lorong sana.


"Woi! Aku sudah mendatangkan para pelayan villa!" ucap Kurnia dari kejauhan dengan suara yang lantang.


Suara langkah kaki beberapa orang yang sedang berlari tersebut semakin lama semakin mendekat ke arah Sandi dan Rizal serta Jihan berada.

__ADS_1


Salah seorang dari pelayan—yang bernama Deri—mengucapkan sesuatu, "Maafkan kami atas kejadian ini, Tuan Muda! Kami tak menyangka peristiwa ini akan terjadi, ini sungguh-sungguh berada di luar pikiran kami!"


"Hn. Tak apa-apa, kami juga sudah menerima kenyataan ini dengan lapang dada," balas Rizal sekenanya agar tidak membuat para pelayan khawatir.


Mata Sandi tiba-tiba mendelik ke arah Rizal yang berdiri di sebelahnya. Ditatapnya sosok sahabat berwajah stoic itu dengan tatapan mata yang sulit diartikan dengan kata-kata.


Kini para pelayan yang berhasil dipanggil Kurnia segera melesatkan diri mereka ke dalam tugas yang sudah dibagi rata oleh sang wakil kepala pelayan. Ada yang bergerak untuk mengambil kantung jenazah. Dan juga ada yang bergerak masuk ke dalam dapur, membereskan apa yang sudah terjadi di sana.


Kurnia yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik para pelayan yang bekerja, mengalihkan pandangannya ke arah Rizal yang sedang berdiam diri melihat ke arah dapur. Beberapa detik kemudian, iris Aquamarine itu menatap dengan rasa prihatin ke sosok sahabat perempuannya yang tertidur di dalam pelukan lengan Rizal sekarang.


"Zal, sebaiknya kau segera mengantarkan Jihan kembali ke kamar." Kurnia kembali memandang Rizal. "Sepertinya ia memerlukan banyak istirahat dan ketenangan karena melihat kejadian ini."


Iris onyx Rizal yang kelam melirik ke arah Jihan yang berada di dalam pelukannya. "Hn, kau benar." Rizal menatap Kurnia kembali. "Siapa yang—"


Belum selesai Rizal menyempurnakan kalimatnya, Kurnia memotong perkataannya, "Tidak perlu khawatir, biar aku yang memperhatikan para pelayan ini bekerja. Bukan 'kah Jihan lebih memerlukan dirimu yang lebih mengetahui masalah penyakit dan yang diperlukannya?"


Melihat senyuman Kurnia khas yang mengembang, Rizal hanya dapat berkata. "Kalau itu maumu, baiklah."


Setelah Rizal membalikkan badannya dan berjalan beberapa langkah, tiba-tiba saja ia menghentikan langkahnya sesaat dan menoleh ke belakang. "San, lebih baik kau juga beristirahat karena sepertinya mentalmu sedang tidak stabil saat ini."


Pemilik nama kecil yang dipanggil oleh Rizal itu menolehkan kepalanya dan tersenyum samar. "Tidak apa, aku hanya ingin di sini sebentar lagi."


"Kur, kau juga. Kalau sudah merasa lelah dan mengantuk lebih baik kau jangan memaksakan dirimu, kau bisa-bisa tambah merepotkan ku dengan penyakit yang menyerang mu nanti," kata Rizal acuh tak acuh seraya berpaling dan berjalan kembali meninggalkan Kurnia dan Sandi yang masih terduduk di lantai yang dingin di belakang.


Kurnia yang diberi pesan seperti itu hanya dapat mencibir kesal dan menjawab, "Baiklah, Dokter!" sebelum sosok itu menghilang dari pandangan.


Pemuda berjabrik kuning itu memandang ke arah temannya satu lagi—Sandi—yang tengah duduk bersandar di salah satu tiang penopang atap koridor terbuka ini dan memutuskan untuk duduk di sebelahnya. Entah kenapa, Kurnia merasakan perasaan dingin telah menyelimuti mereka berdua. Akhirnya, Kurnia yang biasanya tidak bisa menutup mulutnya barang sedetik saja ini lebih memilih tidak berkata apa-apa daripada terjadi suatu masalah yang tidak diinginkannya—entah itu berdebat, beradu mulut, atau sebagainya.


Sebuah kantung mayat sudah berisi tubuh tak bernyawa Fitri itu pun keluar dari dalam dapur itu. Meninggalkan kesan kesedihan dan terharu menjadi satu. Good bye.


"Aku merasa ada yang aneh."


Kepala Kurnia tertoleh ke arah Sandi. "Apa?"


Sandi menundukkan kepalanya sehingga Kurnia tidak apat melihat dengan jelas wajah Sandi dari samping. "Aku merasa ada yang aneh... dengan dia."


"Siapa?"


"Sahabat laki-laki sedari kecilmu, Rizal."


Kurnia tersentak kaget mendengarnya, lalu menutupinya dengan suara tawa kecil miliknya. "Apanya yang aneh, San? Tidak ada yang aneh. Kalau kau merasa aneh dengan sifat dinginnya, harap dimaklumi karena dia memang seperti itu," jelas Kurnia panjang-lebar, mencoba menerangkan sebaik-baiknya.


Sunyi. Sandi tidak bersuara sedikit pun. Kepalanya masih tertunduk dalam, sepertinya rasa penyesalan masih menyelubungi hatinya yang... beraura gelap?


Dalam kesunyian itu, Kurnia termenung sesaat. Memikirkan apa yang baru saja diucapkan oleh mulut Sandi tadi. Atau sepertinya Sandi memang sengaja berdiam diri untuk memberikan kesempatan bagi Kurnia untuk berpikir secara rasional. Berbagai ekspresi wajah terpancar begitu saja tanpa ia sadari di wajahnya.


Aneh? Apanya yang aneh? Apakah Rizal benar-benar terlihat aneh? pikir Kurnia dalam hati.


Bayang-bayang pikiran Kurnia membawa dirinya kembali ke momen-momen sebelum mereka—yang masih lengkap jumlahnya—berangkat menuju ke villa, pembicaraan mengenai hiking, dan hingga terjadinya tragedi mengenaskan yang terjadi kepada Novi. Yah, itu adalah awal dari tragedi semua ini dimulai. Lalu berlanjut ke tragedi kematian Sendi dan Fitri yang baru-baru ini terjadi.


Tidak ada yang aneh dari Rizal, Kurnia mengangguk yakin.


Tunggu. Tiba-tiba sekelebat ingatan yang samar pun melintas di ambang-ambang pikiran Kurnia.


Saat itu Rizal...


Kurnia membuang pandangannya ke arah Rizal menghilang tadi.


Jangan-jangan...


Dengan satu gerakan cepat, Kurnia bangkit berdiri dari lantai dingin yang sempat ia duduki tadi. Ia menoleh ke arah Sandi yang diam tak berkutik di tempatnya sedari tadi. "San, aku ke kamar sekarang, ya!"


Pemuda beriris aquamerine itu pun melesatkan dirinya secepat mungkin. Sebelum ia menghilang di belokkan yang akan menelan sosoknya, Kurnia berseru untuk Sandi sesaat, "San, sebaiknya kau segera menuju kamarmu juga dan istirahat! Hati-hati, kau sendiri di sana!" Setelah kalimatnya selesai, Kurnia pun menghilang dari pelupuk mata. Benar-benar timing yang pas, bukan?


Suara derap langkah kaki Kurnia yang berlari kini tidak terdengar lagi oleh gendang telinga pemuda yang bernama kecil Sandi ini. Pikirannya bisa dikatakan benar-benar kosong, bisa juga dikatakan benar-benar penuh. Entahlah, tidak ada yang bisa membaca raut wajahnya sekarang karena kepalanya masih tertunduk—dan sepertinya tundukannya itu semakin dalam.


Berbagai macam persistiwa yang terjadi di villa ini telah dijabarkan olehnya di dalam otak kebanggaannya yang berkapasitas IQ lebih dari dua ratus. Semua penjabarannya ia kait-kaitkan dengan sifat dan tingkah laku Rizal yang ia perhatikan selama ini.


Tidak berapa lama kemudian, Sandi tersentak dari pikirannya selama ini. Sebuah lengkungan senyuman tajam menghiasi wajahnya yang tertunduk dan samar. Apakah Sandi telah mendapatkan bukti yang ia perlukan? Mengapa Sandi menuduh Rizal?


"Nah... Rizal." Kepala Sandi terangkat ke atas, tatapannya lurus ke depan. "Aku akan membuka seluruh rahasiamu."


...~Lost In Nightmare~...


...To Be Continued…...

__ADS_1


__ADS_2