
...NIGHTMARE 8...
...The Disappearance of Someone...
"Novi menghilang!" ucap Sandi dengan nada yang meyakinkan, dan yang pastinya perkataan yang ia lontarkan sukses membuat Sendi terperanjat.
Sendi berusaha untuk meyakinkan bahwa ia tidak salah dengar atau paling tidak adegan ini masih termasuk dalam salah satu mimpinya. "A-apa? Apakah aku salah dengar?"
Sandi menegakkan badannya yang tadinya berbaring menjadi duduk, dan segera membuka sebuah resleting yang terdapat di salah satu sisi tenda yang ia tempati. Tenda pun terbuka sempurna dan dapat dilihat Fitri sedang duduk bersimpuh di luar tendanya.
"Tolong beritahu yang lainnya tentang masalah ini, segera!" perintah Sandi yang sedang dilanda perasaan khawatir yang membuncah keluar, sehingga tidak dapat mengatur emosinya.
"Iya!" Fitri pun langsung beranjak menuju tenda temannya yang lainnya dengan tergesa-gesa.
"Sendi, cepat, kita harus mencari Novi sekarang juga!" Sandi mempersiapkan perlengkapan yang akan ia gunakan untuk mencari Novi. Senter, adalah benda yang paling diutamakan dalam situasi seperti ini.
Melihat sahabatnya yang sedang sibuk dengan mempersiapkan perlengkapannya, Sendi pun menawarkan diri untuk membantu temannya. "Biar kubantu." Mendapat respon sebuah anggukan dari lawan bicaranya, ia segera membantunya dengan cepat tapi tetap tenang.
Setelah semua keperluannya sudah didapat, mereka berdua pun segera keluar dari dalam tenda, di mana api unggun masih menyala kecil –lebih kecil dari yang dilihat Novi beberapa saat yang lalu –dan angin pun berhembus dengan sepoi-sepoi.
Fitri berlari menuju tenda temannya yang lain. Ia lebih mengutamakan menuju tenda Rizal dan Jihan berada. Dengan nafas yang memburu, Fitri melangkahkan kakinya yang pada akhirnya ia pun sampai di depan tenda kedua orang yang ia maksud.
"Rizal, Jihan… bangunlah!"
Jihan yang sedang bergulat dengan mimpinya itu pun tersadar, dan mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum ia membalas perkataan Fitri. "Ada apa, Fit? Kenapa kau berteriak seperti itu?"
Dengan nafas yang tersengal-sengal, Fitri menjawab pertanyaan Jihan. "Jihan… Novi, Novi…"
Rasa penasaran bergejolak dalam diri Jihan, dengan perlahan tangan Jihan melewati melewati ruangan hampa di atas badan Rizal yang masih tidur dan menggapai sebuah resleting, lalu dibukalah seluruhnya sehingga nampaklah seorang gadis dengan iris mata berwarna putih sedang duduk bersimpuh di atas tanah luar tendanya.
Tidak sabar dengan perkataan Fitri, Jihan pun kembali melontarkan pertanyaan untuk kedua kalinya. "Ada apa dengan, Novi?"
Fitri menarik nafas dalam-dalam, dan berkata, "Novi menghilang, Ji… Novi menghilang!" teriak Fitri yang pada akhirnya membuat Rizal terbangun dari tidurnya yang lelap, tetapi matanya masih terpejam.
Mendengar pernyataan memahitkan dari Fitri membuat Jihan membelalakan matanya selebar-lebar mungkin.
"Novi menghilang? Tidak mungkin." ucap Jihan seraya menggeleng-gelengkan kepalanya secara perlahan. Perkataan terakhirnya hanya terdengar seperti sebuah gumaman belaka.
Rizal yang sedari tadi mendengar dengan sayup-sayup percakapan mereka, mengangkat kelopak matanya dan memiringkan kepalanya untuk melihat ekspresi Jihan. "Kau kenapa? Apa yang terjadi?"
"Zal… Novi menghilang!" ungkap Jihan yang membuat Rizal tertegun mendengar pernyataan itu.
"Novi menghilang?" Rizal mengulang perkataan yang diucapkan Jihan untuk memastikan apakah ia salah mendengar atau tidak.
Jihan menganggukkan kepalanya dengan cepat hingga beberapa kali. "Benar, Zal…" Air matanya pun sudah tidak dapat ia bendung lagi karena perasaan shock yang melanda dirinya. Bingung, dan tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
Tangan Rizal bergerak untuk mengelus lengan atas Jihan, berusaha untuk menenangkan perasaanya. "Sudahlah, tenang… bagaimana kalau kita mencarinya? Setuju?" ajakkan Rizal terhadap Jihan hanya dibalas sebuah anggukkan kecil olehnya.
"Baiklah, sekarang aku akan memberitahu Kurnia," baru saja beberapa langkah Fitri menjauh dari tenda Rizal dan Jihan, sebuah suara mengharuskan ia memberhentikan langkah dan membalikkan badannya.
"Tunggu, Fitri," seru Rizal seraya mendudukan badannya yang sedari tadi telah berbaring. "biar aku yang memberitahu Kurnia… kau tolong tenangkan perasaan Jihan sebentar." permintaan Rizal yang lebih menjurus ke sebuah perintah membuat Fitri kembali mendekat ke tenda mereka.
"Baik!"
Sebelum Rizal beranjak keluar dari tenda, Rizal melihat kondisi Jihan terlebih dahulu.
Masih menangis, pikirnya.
Ia pun segera menepuk-nepuk kan kepala Jihan dengan salah satu tangannya. "Tenangkanlah dirimu, Ji."
Rizal pun beranjak dari tempat yang tadi ia duduki menuju keluar –yang dimana setelah Rizal keluar dari tendanya, Fitri segera masuk ke dalam tenda Jihan menggantikan posisi Rizal dan melakukan apa yang diperintahkan Rizal terhadapnya.
Saat Rizal keluar, mata onyxnya menangkap dua orang yang sudah berada di luar tenda, yakni Sandi dan Sendi. Salah satu dari mereka berdua pun membuka suaranya. "Zal, Novi –" ucap Sendi ingin memberitahu, tetapi telah terpotong oleh Rizal.
"Aku sudah tahu." Rizal memalingkan wajahnya dari mereka berdua dan segera berlalu menuju tenda dimana Kurnia berada.
Tanpa pikir panjang Rizal membuka resleting penutup tenda dan segera mengguncang-guncangkan tubuh Kurnia yang sedang tertidur dengan gaya abstraknya.
"Bodoh, bangun!"
Tidak mempan dengan langkah pertama, Rizal menggantinya dengan langkah kedua dalam membangunkan Kurnia. "Bangun, dasar idiot!"
Dengan santainya, tangannya ia angkat tinggi dan melayangkannya pada salah satu pipi Kurnia.
Akibatnya Kurnia terkejut seraya merubah pose tidurnya menjadi duduk dengan disertai tato tangan Rizal yang berwarna merah di pipi kirinya.
"Apa yang kau lakukan, Bung? Sakit tahu! Dasar tidak berprikemanusiaan!" ungkap Kurnia secara frontal untuk menyalurkan apa yang ia rasakan di dalam hatinya sekarang, tanpa memedulikan perasaan lawan bicaranya sekarang.
Rizal mendengus kesal. "Kau tahu? Daritadi aku membangunkanmu tapi kau sama sekali tidak bangun, membuang-buang tenaga saja. Dan..."
Rizal menggenggam tangan Kurnia, membuat pemilik tangan yang digenggam sedikit merona walau ia sadar bahwa ia juga seorang laki-laki. "Dan... kita harus keluar dengan segera untuk mencari Novi yang hilang."
Tanpa memikirkan perasaan 'korban'nya, Rizal menarik tangan yang telah ia genggam menuju keluar tenda secara paksa –yang artinya mau tidak mau harus mau –tidak peduli bahwa perlakuannya itu membuat Kurnia menjadi terseret dibuatnya.
"BUNG, PELAN-PELAN! TAHU PERASAAN SAKIT, NGGAK SIH?"
__ADS_1
Menyadari tangan Rizal telah melepas genggaman di tangannya, Kurnia langsung berdiri dengan singgap seraya menepuk-nepukkan bagian pakaiannya yang kotor karena kejadian tadi.
"Bisa 'kah kau pelan-pelan, Zal? Kau pikir enak diperlakukan seperti itu?" Mata Kurnia menangkap dua sosok lainnya selain mereka berdua.
"Sandi, Sendi, sedang apa kalian di luar?" ekspresi heran Kurnia yang berlebih menghiasi wajahnya yang menjadi semakin terlihat bodoh dibuatnya.
Pertanyaan yang dilontarkan Kurnia dengan jujurnya, membuat Rizal menepuk dahinya sendiri dengan lumayan keras. "Bukannya tadi aku sudah memberitahu mu di dalam tenda, Kur?"
"Hah? Mana kutahu… habisnya kau memberitahu ku cepat sekali, mana bisa kucerna?" Kurnia menautkan kedua alisnya.
Melihat adegan percakapan mereka berdua membuat Sandi dan Sendi menghela nafas panjang bersamaan. "Kur, Novi telah menghilang," Sandi mengusap-usapkan keningnya dengan jemari tangan kanannya.
"APA? NOVI MENGHILANG? KOK BISA?"
Disini dapat terlihat diantara mereka semua reaksi Kurnia lah yang paling luar biasa hebatnya. Sehingga... Sandi dan Sendi membelalakkan kedua matanya karena terkejut oleh reaksi Kurnia yang berlebihan alias lebay.
Karena perasaan kesal, Rizal menjitak kepala Kurnia sekuat tenaganya.
BLETAK!
"Bisa 'kah reaksi mu tidak berlebihan seperti itu, Kur?" Semua jarinya ia bunyikan tanpa terkecuali karena geram dengan sifat bodohnya Kurnia yang sungguh keterlaluan. Hawa nafsu ingin menerkamnya pun mengelilingi seluruh tubuh Rizal.
"Tu-tunggu, Zal… slow, man… OK?" Tawa Kurnia yang garing menguar dari mulutnya sambil mengada-ngadakan tangannya ke depan, ke arah Rizal.
"Sudahlah, kalian berdua… daripada kalian melakukan hal yang tidak berguna, bagaimana kalau kalian mengambil senter serta baterai cadangan, jika kalian membawanya." ucap Sendi seraya bertolak pinggang.
"Roger!" jawab Kurnia sembari mengacungkan jempol kanannya.
Kurnia segera kembali ke tenda nya untuk mengambil senter yang masih berada di dalam ranselnya dengan berlari kecil.
"Jangan lupa sekalian mengambil senternya Fitri, ya?" seru Sandi yang dijawab oleh acungan jempol Kurnia ke udara tanpa menoleh ke belakang.
Sedangkan Rizal kembali ke dalam tenda dengan santainya sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.
"Ji, kau jangan menangis lagi, nanti pasti Novi akan kita temui, percayalah… ya?" Fitri berusaha menenangkan Jihan yang sekarang sudah tidak menangis tersendu-sendu lagi.
Tangannya bergerak untuk menghapus sisa-sisa air matanya. "Thanks, Fit… kau memang temanku yang baik." Seulas senyuman menghiasi wajahnya yang mulai ceria kembali.
"Jihan…"
Pemilik nama yang merasa namanya terpanggil pun mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa gerangan yang telah menyebut namanya. "Oh, kau Zal… ada apa?"
"Bergegaslah, kita akan mencari Novi sekarang." Tubuhnya bergerak untuk masuk ke dalam tenda dan membuka ranselnya untuk mengambil senter yang ia bawa dari rumah.
"Segeralah kau mengambil senter mu, aku akan menunggumu di luar."
Setelah Rizal berada di luar kembali, mulutnya kembali mengatakan sesuatu. Badannya memunggungi mereka berdua.
"Oh iya, satu hal lagi, senter mu sudah diambil oleh Kurnia, jadi kau tidak perlu repot-repot untuk mengambilnya." Rizal pun berlalu begitu saja setelah mengatakannya kepada Fitri.
"Un." ucap Fitri yang merasa pesan itu disampaikan olehnya, seraya menganggukkan kepalanya.
Fitri memalingkan kepalanya dari tempat Rizal tadi berada ke arah Jihan yang sudah mulai bergerak untuk mengambil senternya. "Ji, aku keluar dulu, ya…"
Jihan melirik Fitri yang keluar dan berlari kecil menjauh dari tendanya melalui ekor matanya.
"Novi… kau kemana?" Wajahnya yang ceria kini kembali murung sesaat.
.......
...+++~Lost~+++...
.......
Ketika semuanya telah berkumpul di luar tenda –tepatnya di dekat api unggun yang jika dilihat sebentar lagi akan meredup –Sandi mengumumkan 'untuk apa mereka dibangunkan', 'untuk apa mereka berkumpul', sampai 'untuk apa mereka harus pergi mencari Novi'.
Oh ya, dan tidak ketinggalan Sandi menyuruh Fitri untuk menceritakan apa yang terjadi sebelum Novi meninggalkan tenda dengan 'alasan'nya. Sandi juga menimpali percakapan antara ia dan Novi sebelum pada akhirnya Novi pergi dan tidak kembali sampai sekarang.
Sandi mengedarkan pandangannya ke dalam hutan yang disertai dengan kegelapan malam serta angin yang berhembus semakin kencang. Kepalanya ia dongakkan ke atas agar dapat melihat sang rembulan yang bersinar dengan lingkaran yang sempurna, menambahkan kesan cantik pada dirinya.
Iris matanya kembali memandangi iris mata temannya yang lain secara bergiliran. "Maka dari itu… pencarian Novi dimulai dari sekarang." Sandi menekankan kata 'sekarang' saat ia berbicara.
Sandi membalikkan badan dan berjalan menuju arah hutan –yang mungkin dilewati oleh Novi sesaat sebelumnya. "Kita akan mencarinya tidak jauh dari daerah sekitar tenda kita, karena tidak mungkin Novi membuang air kecil jauh-jauh dari wilayah pertendaan kita."
Satu persatu dari mereka pun mulai mengikuti Sandi dari belakang.
"Berusahalah agar tidak terpisah maupun terpencar, ya!" Sendi yang berada tepat di belakang Sandi berusaha mengingatkan teman-temannya yang berada di belakangnya.
Catatan: Saya akan menjelaskan daftar nama dalam barisan ini mulai dari depan: Sandi, Sendi, Fitri,Jihan, Rizal, dan yang paling belakang adalah... Kurnia.
Jalan berbatu dan rumput-rumput ilalang yang tinggi telah mereka lewati bersama demi menemukan sesosok teman perempuan mereka yang seperti lenyap ditelan Bumi.
Tapi masalahnya, sudah setengah jam lebih berlalu usaha mereka masih belum membuahkan hasil yang memuaskan.
Kepala mereka tetap bersikukuh menengok ke kiri dan kanan jalan yang mereka lewati sembari menyorotkan cahaya lampu senter –satu-satunya penerangan yang mereka bawa –sambil berharap dalam hati mereka bahwa akan menemukan dia secepat mungkin karena rasa lelah telah menyelimuti mereka semua.
__ADS_1
"NOVII!"
"NOVI!"
"NOVI, KAU DIMANA? TOLONG JAWAB!"
"NOVI…!"
"AYOLAH, NOV… KAU DIMANA?"
"NOVI… JAWABLAH!"
Masing-masing dari mereka menyibukkan mulutnya untuk meneriakkan nama sahabatnya yang menghilang, beda dengan Rizal… ia mempunyai inisiatif tersendiri untuk mencari Novi dengan menajamkan pendengarannya dan penglihatannya untuk melihat dan merasakan keadaan di sekelilingnya. Lebih mudah dan irit tenaga, kan?
Gumpalan awan malam yang tadinya tipis kini berubah menjadi sebuah gumpalan yang tebal dan gelap, menutupi cahaya rembulan yang bersinar terang di atasnya.
Awan hitam yang dengan sukses mengambil kekuasaan atas langit pun mulai meneteskan air yang sudah terkumpul banyak di dalam badannya yang besar.
Secara otomatis pula kegiatan mereka sedikit terhambat oleh air hujan yang jatuh mengguyur mereka tanpa rasa kasihan, dan juga mengakibatkan mereka harus berbicara dengan suara yang lantang dan sedikit –atau kalau bisa sepenuhnya –berteriak.
Langkah kaki mereka terhenti sebentar.
"Oh, Sialan! Hujan!" Kedua tangan Sandi meremas sementara rambut yang berada di atas kepalanya dengan sekuat tenaga lalu menghentakkan kembali kedua tangannya.
"Bagaimana ini, San? Apakah kita berhenti saja untuk mencari Novi?" tanya Kurnia yang berjalan mendekati Sandi secara perlahan karena kondisi tanah yang mereka pijak sekarang sudah licin akibat air hujan yang mendadak turun begitu saja.
Sandi memicingkan matanya ke arah Kurnia di sebelahnya. "Tidak! Kita harus segera menemukan Novi se-ka-rang!" ucap Sandi tegas dan sepertinya penuh dengan arti kalimat-pemaksaan-secara-tidak-langsung.
Sendi menggelengkan kepalanya. "Kondisi alam sekarang tidak memungkinkan kita untuk mencari Novi dengan mudah," Sendi menatap langit dengan tatapan yang sulit diartikan. "Ini buruk."
Perkataan Sendi membuat Fitri terbingung-bingung. "Buruk? Apanya yang buruk?"
Sendi merubah posisi kepalanya menjadi bertatapan langsung dengan sang empunya iris amethyst. "Hujan akan terus berlanjut selama beberapa hari dan…" Sendi menolehkan wajahnya ke arah Sandi yang sudah memperhatikannya. "Kemungkinan besar akan terjadi badai di sekitar pegunungan, terutama di dalam hutan."
Kalimat yang Sendi utarakan membuat mata Sandi sedikit terbelalak. "Bagaimanapun juga kita harus tetap mencari Novi," putus Sandi teguh dalam tujuannya sekarang.
Bukan hanya Sandi, bahkan Fitri dan Jihan yang mendengar pernyataan buruk ini dari Sendi pun tertegun dibuatnya.
"Ka-kau bercanda 'kan, Sen? Kalau badai berlangsung bagaimana dengan Novi? Dia pasti kedinginan dan –dan…" kata Jihan dengan sedikit terbata-bata di akhir kalimatnya.
Fitri memeluk temannya yang sedang dilanda kekhawatiran yang luar biasa, berusaha menenangkannya. "Sudahlah, Ji… Novi pasti baik-baik saja, ia 'kan anak yang kuat, iya 'kan?"
"T-tapi…"
Sebuah tangan menepuk salah satu pundak Jihan. "Don't negative thinking, Ji." Rizal kembali menurunkan tangannya yang tadi ia gunakan untu menepuk pundak Jihan.
Kurnia mengangguk pertanda setuju dengan ucapan Rizal. "bukan hanya kau yang merasa khawatir, tapi kita semua yang ada disini juga merasa khawatir, benar 'kan semua?" Kurnia memandang teman-teman yang berada disekelilingnya satu-persatu dan dijawab dengan sebuah anggukan.
Melihat respon dari para sahabatnya membuat Jihan terlihat sedikit tersenyum. "Makasih, Semuanya…"
"Nah, selagi masih ada waktu bagaimana kalau kita melanjutkan pencarian Novi ini?" ajak Sandi kepada yang lainnya.
Tanpa dilihat sepertinya mereka pun setuju dengan ajakan Sandi, jadi… mereka melanjutkan perjalanan mereka yang tertunda tadi.
.......
...+++~Lost~+++...
.......
Medan pencarian Novi yang mereka lalui sekarang pun harus lebih ekstra hati-hati. Kenapa? Yah… karena hujan yang mengguyur sangat deras membuat tanah yang tadinya padat kini mulai melembek dan licin jika dipijak.
"Hati-hati, Ji." Rizal membimbing dan menuntun –atau dengan kata lain menggandeng Jihan dengan sabar dan hati-hati.
Baru beberapa menit mereka jalani, terasa seperti berjam-jam telah mereka lalui. Hingga tak terasa sekarang hujan mengguyur mereka dengan sangat deras dan angin bertiup dengan sangat kencangnya.
"Mau sampai kapan kita akan mencari Novi dalam situasi seperti ini? Kita sudah mengitari tempat ini beberapa kali," tanya Kurnia dengan suara yang sedikit ia keraskan agar terdengar oleh yang lain, secara suara hujan yang deras serta petir yang menyambar lebih mendominasi daripada suara yang ia teriakkan.
"Kita harus tetap mencarinya sebelum fajar menyingsing!" Sandi kembali memberhentikan langkahnya dan menoleh ke belakang, tatapannya menuju Kurnia.
"Teman, sudahlah… jangan ribut terus," lerai Jihan dengan suara yang agak parau nyaris tak terdengar.
Rizal merasa ada keanehan pada suara Jihan. "Ji, kau tidak apa-apa?" Perasaan khawatir yang berlebih bergejolak dalam pikiran Rizal.
Terlihat seulas senyuman lemah nan tulus diwajahnya yang mulai memucat. "Aku tidak apa-apa…"
Mendadak Jihan mulai kehilangan keseimbangan dan…
BRUK!
"JIHAN!"
...~Lost In Nightmare~...
...To be Continued…...
__ADS_1