
...THE EPILOGUE OF LOST IN NIGHTMARE...
Porsche Panamera melaju dengan kecepatan normal di tengah jalan yang sepi selayaknya sang empunya jalan. Dengungan mesin yang halus hampir tak terdengar itu menggema hingga ke sekitar lingkungan yang dilewatinya. Porsche Panamera melesat menuju rumahnya.
Rizal duduk di kursi kemudi dengan santai. Ia merasa jenuh karena hanya dirinya yang masih terjaga. Sesekali ia melirik Jihan yang masih tidak sadarkan diri di sebelahnya, mungkin ia memukul tengkuknya terlalu keras. Mata onyx Rizal berkeliaran untuk melihat sekeliling, tidak ada apa-apa. Memeriksa seluruh kaca spion yang ada dan tak sengaja matanya menangkap beberapa tas bawaan milik Sakura di baris ke dua mobil.
Sebersit pemikiran terlintas di otaknya. Ah, pantas saja Jihan tidak melihat tubuh Kurnia di bagasi sana.
Kemudian matanya beralih menuju jam digital yang terletak di dasbor samping kemudi. Jam menunjukkan pukul empat lewat tiga belas menit. Sebentar lagi matahari akan tebit, pikirnya dalam hati.
Semakin lama ia berdiam diri, semakin bertambah pula kejenuhan yang ia rasakan. Karena tidak tahan dengan kesunyian ini, ia pun memasukkan kecepatan mobil pada speed ke enam dan semakin mendalamkan pedal gas di kaki kanannya sehingga Porsche Panamera melesat dengan kecepatan di atas rata-rata. Sepertinya Rizal ingin segera berada di rumah nyamannya.
Perjalanan Rizal menuju ke rumahnya dihiasi dengan pemandangan matahari terbit dari arah timur. Langit perlahan merubah dirinya menjadi warna biru cerah. Saat matahari sudah keluar sepenuhnya dari tempat persembunyiannya, perlahan tapi pasti jalanan yang dilewati Rizal sedari tadi semakin bertambah ramai. Sudah waktunya para manusia melakukan aktivitas sehari-harinya.
Dua jam lebih sudah dilalui, pada akhirnya Porsche Panamera itu pun tiba di depan gerbang rumahnya. Tidak membutuhkan waktu lama untuk menunggu pintu gerbang itu terbuka dan terlihatlah dua orang penjaga gerbang yang baru saja membukakan pintu gerbang untuknya.
"Selamat datang, Tuan Muda!" seru kedua penjaga itu bersamaan seraya menggerakkan tangan kanannya membentuk sikap hormat.
Sebelum Rizal menjalankan Porsche untuk masuk ke dalam halaman rumah, ia menyempatkan diri untuk membuka jendela mobilnya dan berkata kepada salah satu penjaga gerbangnya itu sambil tersenyum kecil, "Terima kasih sudah menjaga rumah."
Melihat sang Tuan Rumah itu tersenyum, kedua sudut bibir penjaga gerbang itu pun tertarik tanpa sadar. "Terima kasih kembali, Tuan!" teriaknya sembari berharap semoga Tuan Muda yang sudah melesat masuk ke dalam perkarangan rumah mendengarnya walau sedikit.
Rizal memberhentikan mobilnya tepat di depan pintu utama rumahnya. Tak lama kemudian, seorang pelayan rumahnya yang bertugas menjaga depan pintu rumah membukakan pintu mobil untuknya.
"Selamat datang kembali, Tuan Muda!"
Rizal memijakkan kakinya ke tanah, mengeluarkan dirinya dari mobil yang berhasil membuatnya bosan itu. "Hn," responnya singkat sambil berjalan ke arah pintu mobil yang berlawanan dengannya.
Tindak-tanduk Rizal membuat para pelayan yang berada di sekitarnya bingung. "Tuan Muda, apa yang kau lakukan?"
Tangan kanan Rizal membuka pintu mobil sebelah kemudi. Ia mengangkat Jihan—yang masih tidak sadarkan diri—keluar dari mobil dengan kedua lengan kekarnya. Dapat terlihat dengan jelas Jihan terkulai lemas di sana.
Pelayan yang baru saja membukakan pintu mobil Rizal mengedipkan matanya berkali-kali, memastikan apa yang ia lihat. "Nona Jihan?" ucapnya tak percaya. "Tuan Muda, apa yang telah terjadi pada Nona Jihan?"
Mendengar pertanyaan dari salah satu pelayannya, Sasuke langsung menatap ke arahnya. "Tidak apa, dia hanya tertidur." Rizal memberikan sebuah kode kepada pelayan tersebut dengan sedikit gerakan kepala. "Pergilah."
Perintah Rizal membuat sang pelayan membungkukkan badannya sedalam mungkin dengan cepat. "Maafkan saya karena terlalu mencampuri urusan Anda. Saya permisi." Lalu ia pun pergi meninggalkan Rizal beserta Jihan di atas lengannya.
Kepala Rizal menoleh ke arah seseorang yang tengah berdiri tepat di depan pintu masuk utama kediamannya tersebut. "Sinta, kau sudah bisa ke sini sekarang."
Pelayan wanita itu pun berjalan ke arah Rizal yang sudah memberikan kalimat petunjuk untuk mendekat. "Selamat datang kembali, Tuan Muda! Bagaimana liburan Anda di sana? Apakah menyenangkan?" tanya pelayan wanita yang bernama lengkap Cintia wulandari itu seraya tersenyum lebar. Sinta adalah pelayan wanita satu-satunya di kediaman ini dan berpakaian selayaknya elayan pria lainnya.
"Berhenti berbasa-basi," ucap Rizal dengan ketus. Lalu ia memberi perintah kepada pelayan wanita itu, "Masukkan tubuh Kurnia ke kantung jenazah yang sudah kuserahkan kepadamu beberapa hari yang lalu sebelum aku pergi dari rumah."
Tanpa berhadapan terlebih dahulu dengan Rizal, Sinta menuju ke pintu kemudi Rizal untuk menekan tombol pembuka bagasi mobil. Setelah itu, ia mengarah ke bagian belakang mobil dan membuka pintu satu-satunya di sana. Terlihatlah tubuh Kurnia yang sudah memucat di sana. Tak bernyawa.
"Tuan Muda," panggil Sinta sembari menengkokkan kepalanya ke arah Rizal yang masih memperhatikan gerak-gerik Sinta di tempatnya berdiri, "apakah ternyata Anda benar-benar melakukan rencana yang telah Anda rancang?"
Rizal menarik salah satu sudut bibirnya. "Menurutmu?" Setelah mengucapkan satu kata yang menurutnya adalah sebuah jawaban untuk Sinta, Rizal pun mulai melangkahkan kakinya masuk ke rumah. "Lakukanlah apa yang harus kau lakukan sebelum memanggil yang lain untuk membawakan semua barang yang ada di mobil ke kamarku."
Sinta menghela napas pelan. "Baiklah, Tuan Muda," jawabnya sambil tersenyum. Dia menutup bagasi mobil yang sudah dibukanya dengan tidak rapat, kemudian ia mengangakat kedua tangannya ke udara dan saling menepukkan tangannya sebanyak dua kali.
"Buka pintunya! Tuan Muda telah kembali!" teriak Sinta dengan suara keras.
Pintu rumah pun terbuka lebar diikuti dengan suara penyambutan kepulangan Rizal dari para pelayan di dalam rumah sana. Punggung Rizal pun menghilang dari pandangan ketika pintu rumah kediamannya itu tertutup rapat.
Sinta kembali membuka bagasi Porsche Panamera yang berada di depannya. Salah satu tangannya bergerak untuk mengambil sarung tangan di dalam kantung celananya dan langsung ia kenakan di kedua tangannya.
"Baiklah, sekarang giliranku untuk melaksanakan tugas dari Tuan Muda."
...+++~Lost~+++...
Rizal membuka matanya dari alam bawah sadar yang sudah depalan jam menguasai dirinya. Ia berdiam diri sejenak dengan memandangi langit-langit kamarnya, mengumpulkan kesadarannya yang telah menyebar saat ia tertidur tadi. Setelah merasa dirinya telah lebih baik, kepalanya tertoleh ke kanan untuk mengecek keadaan seseorang yang selama ini perasaan untuk orang itu selalu ia pendam. Jihan.
Sepertinya Jihan tengah tertidur pulas, itu semua terlihat dari bagaimana cara Jihan bernapas serta posisi Jihan yang tidak berubah mulai dari Rizal membaringkannya ke tempat tidur hingga sekarang.
Merasa tertarik dengan wajah tidur Jihan, Rizal pun memiringkan badannya ke arah sahabat perempuannya. Onyx-nya yang kelam menelusuri wajah Jihan; dahi, pipi, hidung, semuanya. Tangan kirinya yang bebas bergerak untuk menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantik Jihan. Setelah selesai, Rizal kembali memandangi Jihan. Dan ia siap menerima berbagai macam reaksi dari Jihan ketika ia sadar nanti.
Tak lama kemudian, suara lenguhan yang berasal dari pita suara Jihan terdengar di telinga Rizal. Dengan mata Rizal sendiri, dirinya menyaksikan kelopak mata Jihan perlahan membuka dan mengedip beberapa kali hingga akhirnya pandangan iris emerald Jihan fokus dan terbiasa dengan sinar matahari yang menembus masuk melalui kaca dari luar sana.
"Di mana aku?" tanya Jihan lemah dengan nada terputus-putus.
Merasa ada seseorang yang tengah memperhatikannya dari sebelah kirinya, Jihan pun menolehkan kepalanya dengan ke arah sumber pandangan berasal. Saat mata hijaunya menangkap Rizal sedang memerhatikannya, seketika potongan gambaran adegan tragis yang terjadi di villa sebelumnya terus bermunculan dari awal sampai akhir matanya melihat. Suara ucapan, tangisan, amarah, hingga teriakan terdengar dengan sangat jelas di telinganya. Jihan langsung mengingat apa yang sudah terjadi.
Rizal adalah pembunuhnya.
Dengan sigap, Jihan membangunkan dirinya dari posisi tidur dan hendak beranjak dari tempatnya. Tapi apa daya, tangan kekar Rizal lebih cepat bergerak dari apa yang tubuh Jihan reaksikan.
"Jihan, jangan tinggalkan aku," pinta Rizal. Ia menatap Jihan dengan arti mendalam.
Jihan mengibaskan pergelangan tangannya yang berhasil digenggam oleh Rizal. "Lepaskan aku, Zal!"
Genggaman tangan Rizal bertambah erat. "Kumohon, aku akan menjelaskan semuanya, maka dari itu, tetaplah di sini."
Mendengar suara Rizal yang memelas seperti itu, membuat hati Jihan melembut. Rasa tak tega menyelimuti dirinya. Akhirnya ia pun memilih untuk berdiam diri di posisi duduknya.
Rizal merubah posisi tidurnya menjadi posisi duduk sambil tetap memegang erat tangan Jihan. Mencegah Jihan untuk melarikan diri dari sisinya. Iris onyx-nya menangkap Jihan sedang memejamkan matanya seraya menautkan kedua alisnya, sepertinya Jihan tengah berpikir keras mengenai apa yang akan ia utarakan.
__ADS_1
"Kenapa?" Sebuah pertanyaan keluar dari bibir mungil Jihan. "Kenapa kau melakukan semua ini, Zal? Apa salah mereka?"
Sudah Rizal duga ia akan bertanya seperti itu. "Aku membunuh Novi dan Fitri karena mereka akan membahayakan mu, sedangkan aku membunuh Sendi dan Kurnia karena mereka mempunyai perasaan yang sama denganku kepadamu."
Tidak ada untaian kata yang keluar dari mulut gadis di hadapannya, sepertinya ia sedang mencerna apa yang dikatakan Rizal kepadanya. Baru saja Jihan membuka mulutnya untuk mengatakan suatu hal, tiba-tiba Rizal memotongnya, "Aku tidak bisa memberitahukan bagaimana bisa aku melakukannya karena akan menjadi cerita yang panjang. Aku berjanji suatu hari nanti jika kau bertanya secara satu-persatu aku akan menceritakannya serinci mungkin."
Baiklah, kini Jihan merasa bahwa Rizal memiliki kemampuan untuk membaca pikirannya. Tiba-tiba saja, sebuah pemikiran mengenai ruangan terakhir pun melintas di benak Jihan. "Lalu, bagaimana dengan ruangan terakhir yang diceritakan oleh Kepala Pelayan itu? Apakah itu juga perbuatanmu?"
Rizal terkesiap mendengar pertanyaan Jihan, ia sama sekali tidak menduga bahwa Jihan berhasil mengucapkan kata kunci untuk membuat Rizal menjelaskan secara dalam kepadanya. Dan untuk menghindari kecurigaan mendalam dari Jihan yang sedang mengawasi ekspresi Rizal melalui kedua mata jade-nya, sepertinya Rizal harus rela berbicara panjang lebar.
Pandangan mata Rizal beralih ke tempat lain untuk mempersiapkan diri, lalu kembali menatap dalam Jihan dalam waktu singkat. "Tidak. Kejadian dua puluh tiga tahun yang lalu memang benar adanya."
Jihan tercengang mendengar ucapan Rizal dan tidak merespon sama sekali jawaban yang telah Rizal berikan sama dengan artian Jihan menunggu kelanjutan penjelasan darinya.
"Dua puluh tiga tahun yang lalu mengenai sebuah keluarga yang meninggal dengan cara mengenaskan di ruangan terakhir itu memang terjadi sebelum kita dilahirkan. Rasa takut bersalah dan pikiran bagaimana suatu hari aibnya ketahuan di depan publik pun menghantui mereka. Para bawahan Deni secara perlahan memiliki keanehan psikologis seiring berjalannya waktu dan diselesaikan dengan bunuh diri dan saling membunuh satu sama lain, hingga pada akhirnya hanya Deni sajalah yang masih bertahan dengan kelogisan pikiran di otaknya. Deni terus menyembunyikan apa yang sesungguhnya telah terjadi di villa itu kepada para karyawan baru yang diterimanya dari tahun ke tahun, sampai tiba di mana ia harus menceritakan kejadian tragis itu di depan seluruh karyawannya dan kita semua."
Sungguh ironis, itulah yang dirasakan Jihan sekarang. Entah kenapa hatinya merasa iba akan kejadian ruangan terakhir itu. Ia masih memilih berdiam diri untuk mendengarkan apa yang akan diucapkan oleh Rizal selanjutnya. Tetapi, sepercik keganjalan menggentayangi pikirannya sehingga membuat dirinya terdorong untuk mengutarakan pertanyaannya.
"Dari mana kau tahu kalau bawahan Deni yang sebelumnya itu mengalami gangguan psikologis?"
Pertanyaan Jihan menyebabkan seringaian Rizal—yang sudah ditahannya agar tidak keluar—muncul ke permukaan. "Karena sebelum Deni menceritakannya kepada kalian, aku sudah diceritakan olehnya sebelum aku membunuh Novi." Seringai Rizal bertambah tajam. "Dan cerita tragedi ruangan terakhir itu adalah kesempatan bagiku untuk memainkan cerita di dalam cerita."
Seringaian Rizal yang tajam membuat Jihan bergidik ngeri dan hendak melarikan diri, tapi itu mustahil karena tangan Rizal masih setia menggenggam pergelangan tangannya. Akhirnya yang bisa ia lakukan hanyalah menunggu Rizal melanjutkan perkataannya.
"Aku mengakali-akali cerita dua puluh tiga tahun yang lalu itu dengan menggabungkannya dengan rencana yang sudah kurancang sedemikian rupa sebelum kita pergi menuju villa itu. Hasilnya, seluruh senjata musuh yang sudah kuperalat olehku itu berbalik menyerang ke arahnya."
Rizal tertawa kecil. "Ia pun merasa kalau seluruh arwah yang meninggal mengenaskan itu datang kembali untuk meneror dirinya dan memastikan kepada semuanya sebelum ia mengakhiri hidupnya sendiri dengan cara yang memuakkan dan tidak etis." Seketika seringaian Rizal menghilang dan berganti dengan raut wajah serius. "Dan aku merasa bahwa Deni sudah merencanakan sebelum kematiannya ia harus mengungkapkan segala kesalahannya dan melimpahkannya kepada kita yang tersisa."
Kini Jihan berada di tengah kebimbangan antara apakah sebaiknya dirinya menjauhi Rizal atau tetap berada di sisinya. Ia tidak tahu, ia bingung.
Cengkraman tangan Rizal yang berpindah dari pergelangan tangan menuju tangannya menyadarkan Jihan dari semua kepenatan yang dipikirkannya. Sebelah tangan Rizal yang satunya lagi menarik tangan Jihan yang terkulai lemas di sebelahnya, kemudian ia menyatukan kedua tangan Jihan yang berada di dalam genggamannya dan mengeratkannya dengan kedua tangannya. Seperti meminta sesuatu dari hati.
"Kumohon, jangan tinggalkan aku. Tetaplah di sisiku karena sekarang hanya kaulah satu-satunya yang kumiliki di dunia ini. Aku tahu, aku bersalah karena membunuh keempat temanku, tapi itu demi kau dan aku." Onyx Rizal menyelam lebih dalam ke emerald Jihan. "Setelah orang tua dan kakak satu-satunya yang kumiliki di dunia ini telah tiada, apakah kau akan meninggalkan aku sendiri, Jihan?"
Rasa kasihan menyelubungi diri Jihan. Kalimat terakhir Rizal mampu menembus benteng pertahanan yang telah dibuatnya. Perkataan itu mengingatkan dirinya akan kesepian seorang Rizal yang masih membutuhkan rasa kasih sayang ketika ditinggal mati oleh anggota keluarganya beberapa tahun yang lalu. Dengan sigap, Jihan langsung memeluk tengkuk Rizal dan itu membuat Rizal terkesiap dibuatnya.
"Aku tidak akan meninggalkanmu, Zal. Terima kasih karena sudah membunuh mereka demi aku," ucap Jihan seraya meneteskan air matanya di bahu Rizal.
Mendengar kata terima kasih keluar dari mulut Jihan, Rizal pun langsung membalas pelukan Jihan dengan cara melingkarkan pelukannya di tubuh kecil Jihan. "Terima kasih dan sama-sama."
Setelah mengucapkan balasan untuk kalimat Jihan, seringaian tajam Rizal kembali melengkung dengan strategis di wajah tampannya.
Rizal, apakah kau puas karena sudah mendapatkan Jihan dipelukanmu dan memegang kelemahannya?
...+++~Lost~+++...
ITB kini diselimuti oleh kedukaan mendalam karena telah ditinggalkan oleh teman, sahabat, anak, sekaligus mahasiswa di universitas tersebut. Rasa duka yang paling dalam tengah dirasakan oleh orang tua dari Novi, Sendi, Fitri, Sandi, dan Kurnia.
Rizal dan Jihan tengah duduk di barisan kursi keluarga mengingat mereka berdua adalah sahabat terdekat dari kelima korban. Jihan tak kuasa menahan tangisnya sehingga tangisnya pecah, sedangkan Rizal hanya bisa menutup mulutnya dan menatap kelima foto yang terpampang di depan mereka.
Acara pemberian bunga pun dimulai dari barisan keluarga yang paling berduka. Setelah semua para orang tua sudah memberikan hadiah terakhir untuk para anaknya, sekaranglah giliran Rizal dan Jihan secara bergantian.
Jihan menaruh bunga dengan tangan gemetar karena rasa sedihnya yang tidak terbendung lagi, rasa menyesal karena ini semua sudah terjadi menguasai dirinya. Andai saja ia berhasil mengarahkan para sahabatnya itu untuk tidak pergi ke tempat jauh seperti itu, mungkin Rizal tidak akan sempat untuk melancarkan rencana gilanya itu.
Dan kini giliran Rizal, ia menaruh bunga di setiap foto dengan raut wajah yang sama datarnya. Kecuali ketika ia tepat berdiri di depan foto Kurnia dengan cengiran khasnya itu. Terima kasih sudah terlahir menjadi sahabatku, Kur, ucapnya dalam hati.
Matanya mulai membening karena air mata yang membasahi matanya, tetapi ia dengan cepat mengedipkan matanya untuk mencegah air itu tidak bertambah banyak. Rizal menaruh bunga di depan foto sahabatnya itu seraya berkata, "Maafkan aku, Kurnia... Maaf."
Setelah menjalani dua jam sesi berdukacita ini, pada akhirnya Rizal dan Jihan pun pamit kepada para orang tua korban dan tibalah saat di mana mereka berhadapan dengan kedua orang tua Kurnia beserta adiknya, Nugraha. Tidak ada yang berbeda dengan Kurnia dari adiknya itu, yang membedakan mereka berdua hanyalah sifatnya yang agak liar dan rambutnya yang berwarna hitam saja.
Rizal membungkuk badannya di depan kedua orang tua Kurnia—lebih tepatnya di depan ayah Kurnia mengingat sang ibu sedang mengalami shock berat ditemani dengan Nugraha. "Maafkan aku, Paman. Aku—" Sebelum Rizal menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba ia merasakan ada tangan seseorang mengelus lembut kepalanya. Rizal menegakkan badannya untuk melihat siapa pemilik tangan tersebut. Ayah Kurnia.
"Tidak perlu meminta maaf, melihat bahwa masih ada sisa korban keganasan para pelayan yaitu kalian saja kami merasa senang karena masih menyisakan saksi mata," kata Ayah Kurnia dengan tatapan lembut, tetapi sedih.
"Ya, kami berdua siap dipanggil menjadi saksi mata," ucap Rizal mantap. Mata Rizal melirik Jihan yang berada di sebelahnya dan dijawab sebuah anggukkan olehnya.
Ayah Kurnia mendengus menahan tawa. "Kalian ini... tidak berubah."
Komentar Ayah Kurnia direspon dengan senyuman ramah dari Rizal dan Jihan. "Kalau begitu, kami pulang dulu, Paman," pamit Rizal seraya menarik tangan Jihan menjauhi sang ayah dari Kurnia itu.
Ayah Kurnia hanya bisa melambaikan tangannya hingga kedua sahabat dari anak sulungnya itu semakin menjauh dari mereka. "Terima kasih sudah mau menjadi sahabat anakku, Rizal, Jihan." Dan ia pun beranjak dari tempatnya berdiri menuju ke tempat istri dan anak bungsunya—yang sudah menjadi anak satu-satunya—itu berada.
Ketika Rizal dan Jihan sudah berada di dalam mobil. Tangan Rizal bergerak untuk menyalakan mesin mobil dan langsung menginjak pedal gas menuju ke rumahnya. Tidak membutuhkan waktu setengah jam untuk sampai ke rumahnya karena jarak dari kampus ke kediamannya bisa dibilang tidak terlalu jauh.
Rizal dan Jihan keluar dari mobil saat mereka sudah sampai di depan pintu rumah. Jihan menengadahkan kepalanya untuk melihat langit yang berwarna kelabu dengan disertai awan hitam yang menggantung di cakrawala sana.
"Sepertinya akan hujan," gumam Jihan dengan suara kecil tapi masih bisa didengar oleh Rizal.
Pemuda tersebut memperhatikan sejenak Jihan yang dititipkan oleh orangtuanya kepada Rizal karena ingin pindah keluar negeri. Sebenarnya Rizal sendiri yang memohon kepada orang tua Jihan agar perempuan miliknya itu tidak pergi dari sisinya dan meninggalkannnya. Berhubung orang tua Jihan sudah percaya kepada Rizal yang selalu menjaga Jihan—yang sejak dilahirkan memang bertubuh lemah, akhirnya Rizal pun diberikan kepercayaan oleh kedua orang tua Jihan untuk menjaga putri semata wayangnya itu. Yah, kejadian ini sudah berlalu sehari sebelum upacara penghormatan terkahir yang baru saja mereka lewati.
Rizal mengikuti arah pandang Jihan yang masih menatap langit bebas yang tidak secerah hari sebelumnya. Tampaknya langit ikut kembali bersedih atas kepergian kelima sahabatnya yang lain. "Hah... Sepertinya hujan akan turun. Ayo, kita masuk."
Kedua korban yang selamat—setidaknya menurut hasil sidang polisi—itu berjalan beriringan masuk ke dalam rumah. Mereka menaiki anak tangga setelah menjawab sapaan para pelayan rumah yang menyambut kedatangan mereka kembali. Sebelum mereka berbelok menuju anak tangga yang lain. Sebuah lukisan yang didominasi oleh warna gelap tersebut menarik perhatian mereka berdua.
Jihan mengeluarkan nada keheranan. "Sejak kapan lukisan ini berada di sini? Dan..." Jihan mememperhatikan kembali setiap detail dari pewarnaan dan corak lukisan, "...kenapa terlihat menyeramkan."
Beberapa hipotesis muncul dari otak Rizal yang sudah mengalihkan pandangannya dari lukisan tersebut. Berpikir keras. Dan hanya ada satu kesimpulan yang didapatnya.
__ADS_1
Mereka sudah kembali.
Iris emerald Jihan yang masih senantiasa memandang tanpa jemu lukisan aneh tiba-tiba terbelalak sedikit. "Ini seperti—"
"Jihan, sebaiknya kau kembali ke kamar saja dulu," saran Rizal, memotong argumen Jihan yang belum selesai diungkapkan.
Jihan menatap bingung ke arah Rizal yang sudah menatapnya terlebih dahulu. "Kenapa?"
"Ada pekerjaan yang harus kulakukan di ruang kerjaku."
"Oh, baiklah."
Sebelum Jihan beranjak dari tempatnya berdiri, tangan kanan Rizal memegang bagian belakang kepala Jihan menciumnya sebentar dan dibalas dengan Jihan singkat. Seusainya, senyuman Jihan mengembang di wajahnya yang manis. "Kalau begitu, aku ke kamar dulu. Ingat, jangan terlalu memaksakan diri," pesan Jihan lalu ia pun bergegas naik ke atas membelakangi Rizal.
Setelah merasa yakin bahwa Jihan sudah masuk ke dalam kamar, Rizal mulai memanggil sebuah nama dengan tegas, "Sinta."
Tak lama kemudian pelayan wanita yang bernama Sinta itu berjalan menaiki tangga mendekat ke arah Rizal yang masih terdiam sembari menatap lukisan yang menggantung di sisi dinding anak tangga.
"Ya, Tuan Muda. Apakah ada yang bisa saya bantu?" tanya Sinta seraya tersenyum lebar.
"Pindahkan lukisan ini ke dalam ruang kerjaku," perintah Rizal pendek sambil berlalu menuju ruang kerjanya berada.
"Baik, Tuan Muda."
Sinta pun segera melepaskan lukisan tersebut dan membawanya mengikuti Rizal tepat di belakangnya. Ruang kerja Rizal berada tidak jauh dari kamarnya dengan Jihan. Lebih tepatnya, pintu ruangan kerjanya tepat berhadapan dengan pintu kamarnya. Sesampainya di dalam ruangan kerja, Rizal segera mendudukan dirinya di kursi nyamannya yang berada di balik meja kerjanya yang lebar dan luas. Berbagai macam arsip tampak tersusun dengan rapi di sana. Sepertinya Jihan yang telah merapikannya.
Sinta yang masih berdiri di daun pintu seraya membawa lukisan kanvas itu berkata, "Lukisan ini ingin Anda taruh di mana, Tuan Muda?"
Onyx Rizal berkeliling mencari sudut pandangan yang tepat untuk lukisan tersebut. "Di sana." Rizal menunjukkan sisi tembok sebelah kiri yang ia maksud. Sinta pun langsung melakukan tugasnya untuk menggantung lukisan tersebut di sana lalu langsung berpamitan untuk keluar dari ruangan kerja Rizal.
Baru saja Sinta menutup pintu, tiba-tiba pintu ruang kerja itu terbuka kembali. Terlihat dua orang pria yang sudah tidak asing lagi di mata Rizal. "Kalian boleh masuk," ucapnya seraya memeriksa dokumen yang sudah dirapikan oleh Jihan beberapa hari yang lalu. Sepertinya Rizal sudah tahu siapa yang membuka pintu kerjanya.
Kedua pria itu membungkukkan badannya untuk memberi hormat seraya berkata, "Selamat datang kembali ke kediaman, Tuan Muda. Maaf kami terlambat," ujar mereka bersamaan.
"Hn." Rizal menatap kedua pria yang sudah berdiri di depan matanya itu. "Aku tahu kalian sudah kembali, Indra, Rizki."
Pelayan yang bernama Rizki itu tersenyum, walau ia memakai masker tapi bisa ketahuan dari matanya yang berubah bentuk. "Yah, tampaknya kami pulang dengan meninggalkan tanda dengan adanya lukisan itu, ya."
Rizal saling menautkan jarinya di atas meja. "Jadi, sekarang kalian bisa melaporkan apa yang kalian lakukan dan pikirkan saat aku menyuruh kalian menjadi salah satu dari pelayan villa tersebut." Ia menunggu penjelasan.
Rizki memasukkan kedua tangannya ke dalam kantung celana. "Sesaat kami tidak merasakan keanehan dengan para pelayan villa itu, tapi ketika Deni menceritakan semua aibnya dan bunuh diri bergitu saja perasaan mencekam pun dirasakan oleh para bawahannya. Kami bisa mengatasinya disebabkan masih berada di tingkat aman. Dimulai dari keputusan Tuan Muda beserta kedua teman Tuan Muda yang lain untuk meninggalkan villa, pikiran buruk mereka mengenai bagaimana masalah kematian kelima sahabat Tuan Muda yang lain menjadi hantu dipikiran mereka. Karena kebanyakan pikiran mereka pun mulai tidak bisa berpikir logis dan memutuskan untuk melancarkan ide gila mereka: membunuh mereka yang tersisa."
"Lalu?" tanya Rizal menagih kelanjutan cerita.
"Untuk menutupi bahwa kami mengenal Tuan Muda, kami pun mau tidak mau mengikuti kegilaan mereka, yakni menjadi pura-pura gila. Dan jika kami berdua pikirkan lagi, sepertinya ini bisa membuat Tuan Muda beserta teman Anda terbebas dari alibi tersangka pembunuhan di villa tersebut."
Rizal mencerna cerita yang sudah dituturkan oleh Rizki. Kedua alisnya saling bertaut. "Bagaimana kalian bisa terbebaskan dari kasus villa tersebut? Bukankah ketika aku pergi kalian masih menjadi salah satu dari pelayan yang gila itu?"
Merasa bagian Rizki untuk menceritakan sudah selesai, Indra pun mulai melanjutkan perkataan Rizki untuk berjalan lebih jauh lagi. "Ketika kami sudah memastikan Anda lolos dan berhasil keluar dari gerbang villa yang nyaris tertutup, kami pun segra bergegas pergi dari villa tersebut dengan diam-diam melalui pintu belakang villa—di mana mobil yang kami kendarai saat menuju ke villa berada—setelah mengganti seluruh baju pelayan yang kami kenakan dengan baju biasa. Untuk menghilangkan jejak, kami membakar habis baju tersebut.
"Kami langsung menuruni pegunungan untuk mencari kantor polisi terdekat dan melaporkan semua hal yang terjadi di villa tersebut ketika matahari kembali terbit. Beberapa jam setelah kami menjawab seluruh pertanyaan yang diberikan polisi dan memproses kejadiannya, akhirnya penangkapan para pelayan pun terjadi. Sepertinya Anda telah melihat beritanya di televisi beberapa hari yang lalu."
Kalimat terakhir Indra mengingatkan acara berita yang menampilkan bagaimana aparat kepolisian menangkap para pelayan yang sudah terlanjur gila. Rizal menarik salah satu sudut bibirnya. "Apakah Sinta berhasil melakukan tugasnya dengan baik?"
Indra melanjutkan cerita panjangnya. "Untungnya Sinta berhasil datang tepat waktu sebelum polisi datang menyergap tempat kejadian peristiwa dengan membawa jasad Tuan Muda Kurnia beserta barang bawaannya."
Tak salah memilih pelayan wanita itu sebagai salah satu pion dari rencananya. Rizal tak bisa membayangkan bagaimana kecepatan mobil yang dibawa oleh pelayan wanita itu.
"Dan hasilnya seperti yang Anda ketahui, kita semua terbebas dari semua alibi," lanjut Rizki di akhir cerita mereka.
Senyuman bangga menghiasi wajah tampannya. Kini otaknya memperkirakan apa yang akan ia katakan jika suatu saat dirinya dipanggil menjadi saksi nanti dan bagaimana cara mengelaknya. Setelah berhasil menyusunnya dengan rapi, Rizal pun mulai memberi perintah kepada kedua pelayan yang masih berdiri di depannya, "Kalian sudah boleh keluar dan melakukan aktivitas biasa kalian. Terima kasih atas cerita menariknya."
"Ya, Tuan Muda. Kami permisi."
Langkah kaki mereka pun dengan perlahan menjauhi ruangan kerja Rizal. Meninggalkan Rizal sendiri di dalamnya. Tiba-tiba ia teringat akan sebuah buku yang ia temukan di kamar Jihan-Novi—lebih tepatnya di dalam tas Novi—ketika di villa beberapa hari yang lalu. Tangan kanannya membuka laci meja kerjanya dan mengambil buku yang terpampang jelas di sana.
Kumpulan Tes Psikologis Tentang Cinta, setidaknya itulah yang tertulis di cover buku berukuran sedang itu. Harus diakui, buku inilah yang menyadarkan Rizal kalau rasa yang dirasakannya kepada Jihan disebut cinta.
Rizal menutup kembali laci meja kerjanya dan segera bangkit berdiri dari kursinya sambil memegang buku itu untuk ditunjukkan kepada Jihan. Sebelum ia berjalan mendekat pintu, sekali lagi, Rizal melihat lukisan yang kekasihnya bilang menyeramkan itu. Yah, ini adalah lukisan peninggalan Sendi yang ditemukan secara tidak sengaja olehnya di dalam lemari. Kelihatannya lukisan ini sangat disembunyikan oleh sang pencipta, terlihat jelas dari bagaimana Sendi memasukkan hasil karyanya ke dalam sarung pembungkus kanvas berwarna cokelat pudar yang tebal.
Di lukisan tersebut terpampang kelima korban yang matinya persis seperti apa yang dialami oleh kelima sahabatnya dan tepat di tengah-tengahnya terdapat seorang gadis jatuh tersungkur sambil menangis dengan didampingi seorang pria yang memeluknya erat dengan satu tangan dari belakang seraya berlutut dengan satu kaki, sedangkan tangannya yang satu lagi seperti sedang menyembunyikan benda tajam yang berlumuran darah di balik punggungnya.
Tidak ada yang seram dari lukisan itu. Rizal menilai, mungkin karena pewarnaannya yang terlalu banyak warna gelap dan merah saja yang menambah aura keseraman di lukisan sana. Selebihnya biasa saja.
Jika Rizal pikir lagi, sepertinya lukisan Sendi dan kisah mereka ini bisa dijadikan sebuah dongeng pengantar tidur yang menarik. Berceritakan mengenai tujuh tokoh utama yang tinggal di dunia yang bernama Mimpi dimana semua teman-temannya hilang satu persatu di dalam dunia yang menyeramkan itu. Menarik, bukan?
Lalu, judul apakah yang cocok untuk cerita tersebut?
Rizal berpaling dari lukisan itu dan langsung ke luar dari ruang kerjanya. Ketika tangannya memegang pedal pintu kamarnya di mana Jihan berada, sebuah seringaian tajam melengkung dengan strategis di bibirnya.
"Yah... Lost In Nightmare... Tidak buruk juga."
Setelah Rizal menggumamkan isi hatinya, suara pintu kamar terbuka dan tertutup pun terdengar hingga ke ujung lorong rumah ini.
...~The Epilogue of Lost In Nightmare~...
...THE END...
__ADS_1