
...NIGHTMARE 20...
...Remembering...
Seusai Indra menutup pintunya dengan sangat rapat dan pergi meninggalkan kamar yang baru saja disinggahinya. Kurnia—salah satu penghuni kamar villa itu—langsung berjalan dengan derap kaki yang keras ke arah Indra dan Jihan berada. Di atas kasur.
"Rizal, Jihan... Kita harus keluar dari villa ini."
"Hah?" respon mereka berdua secara kompak. Tampaknya kalimat yang baru saja Kurnia lontarkan membuat kedua orang ini merasa heran.
Jihan yang merasa aneh dengan pernyataan Kurnia yang tiba-tiba, memutuskan untuk bertanya untuk lebih jelas. "Ada apa? Kenapa kita harus keluar dari villa ini?"
Bukannya menjawab dan menjelaskan, Kurnia malah memaksa dan mengelaknya. "Sudahlah! Pokoknya turuti saja apa yang kukatakan. Segera!"
Saat Kurnia hendak beranjak dari tempatnya berdiri untuk melakukan suatu gerakan, Rizal dengan cepat segera beranjak dari tempat tidur dan menyambar lengan bawah Kurnia. "Mengapa?" tanya Rizal dengan nada rendah. Tatapan matanya menuntut jawaban.
"Jangan halangi aku! Sudah turuti saja kata-kataku!" Kurnia menepis genggaman tangan Rizal di lengan bawahnya dan langsung memberanjak kan diri menuju dimana tas barang bawaannya berada.
Dapat dilihat oleh sepasang iris onyx dan emerald apa yang sedang dilakukan pemuda jabrik kuning temannya itu. Kurnia sedang mengemasi barang-barangnya yang bisa dibilang berantakan dengan terburu-buru. Membelakangi Rizal dan Jihan.
"Kur, ada apa denganmu?" ucap Jihan lirih disertai dengan tatapan iba ke arah Kurnia.
Rizal menatap Kurnia dengan tatapan geram karena tadi ia baru saja diabaikan oleh sahabatnya yang biasa terlihat paling ceroboh di antara yang ceroboh. Perasaan sedikit kesal menyergap pikiran Rizal.
"Kurnia."
Tidak ada jawaban dari sang empunya nama.
"KURNIA!" panggil Rizal dengan suara baritone miliknya dengan sangat tegas.
Dan masih tidak dihiraukan oleh sang empunya nama Kurnia itu.
Dengan kesal, Rizal melangkahkan kakinya menuju ke tempat Kurnia berkutat sekarang. Tangannya bergerak untuk menarik Kurnia ke belakang, membalikkan badannya, dan mendirikan Kurnia dengan cara mengangkat baju bagian depannya.
"Oi! Kalau ku panggil, jawab!"
"Zal, jangan terlalu kasar kepadanya!" seru Jihan tidak lama Rizal menyelesaikan kalimatnya. Ia berusaha menekan amarah Rizal.
Kurnia terkesiap. Napasnya memburu. Seperti sedang waspada terhadap suatu hal. "Maaf, Zal." Kurnia mengatur detak jantungnya agar kembali normal dengan cara menarik napas sedalam-dalamnya. "Kurasa, aku terlalu berkonsentrasi dengan apa yang aku pikirkan."
Merasa Kurnia yang ada di hadapannya sudah kembali normal seperti sedia kala, secara perlahan tangan Rizal yang mencengkeram baju Kurnia itu terlepas. Alhasil, baju bagian depan Kurnia terlihat kusut.
Jihan menggantikan Rizal bertanya ke Kurnia mengingat Rizal sedang mengatur emosinya. "Apa yang kau pikirkan, Kur? Aku tahu, kau ingin cepat-cepat keluar dari sini, tapi coba lihat ke luar," Jihan menggerakkan kepalanya ke arah jendela kamar, "di luar masih badai."
Iris Aquamarine Kurnia bergerak ke arah yang Jihan tunjukkan. Benar. Di luar, hujan masih turun dengan sangat deras. Anak kilat masih menyambar di atas langit, sedikit tenang. Diduga, cuaca masih belum bersahabat untuk sementara waktu.
"ARGH!" geram Kurnia kesal. "Kalau cuaca masih seperti ini di kemudian hari, kapan kita bisa pulangnya?" Mulut Kurnia terus menggerutu dengan tidak jelas.
Jihan melihat Kurnia dengan tatapan iba. "Kur, bukan hanya kau saja yang ingin pulang. Aku juga, aku tak ingin mati sia-sia di sini." Jihan menahan air matanya agar tidak tumpah keluar. Ingatannya kembali ke masa dimana mereka semua masih beranggotakan lengkap; Novi, Sendi, Fitri, dan Sandi masih berada di antara mereka.
"Kita tidak akan mati sia-sia di sini." Suara Rizal menyadarkan keduanya dari kenangan sedih mereka bersama yang lain. Mata Rizal melihat ke arah Kurnia dan Jihan secara bergantian. "Kita akan pulang dengan selamat," ucap Rizal meyakinkan keduanya.
Ucapan Rizal membuat Jihan dan Kurnia mengangkat kepalanya ke atas. Membuat pikiran dan perasaan mereka menjadi berpikir positif kalau mereka dapat keluar dari villa ini.
Seketika, Kurnia menjadi murung kembali. Ia mengembuskan napas. "Tapi, kapan kita bisa pulang dari sini? Seminggu lagi? Sebulan lagi? Mengingat badai masih setia berada di sekitar pengunungan ini."
Rizal beranjak dari tempat dia berdiri menuju dimana tas bawaannya berada. Tangannya mengambil sesuatu dari dalam tasnya. "Kuharap kau tidak lupa kalau kita masih memiliki benda ini." Rizal menunjukkan sebuah benda berbentuk persegi panjang dari tangannya. Sebuah tablet.
"Ah! Kau membawa tablet!" seru Jihan dan Kurnia bersamaan. Mata mereka seperti melihat sang penyelamat di depan mereka. Sedangkan Rizal hanya tersenyum kecil.
Wajah Kurnia kembali murung karena mengingat suatu hal. "Tapi, untuk apa?"
Jihan memalingkan wajahnya ke arah Kurnia dan dibalas dengan tatapan Kurnia. "Tentu saja untuk melihat ramalan cuaca kapan alam akan bersahabat dengan kita, bukan?"
"Ah..." Kurnia menabrakkan sisi bawah tinjunya dengan telapak tangan lainnya yang terbuka. Seperti telah mengetahui satu hal. "Tapi, bagaimana caranya? Bukankah biasanya di pegunungan tidak akan mendapat sinyal?"
"Kalau tidak mencoba, kita tidak akan tahu," kata Rizal seraya berjalan menuju kasur dan mendudukkan dirinya di tepi. "Lagian, percuma saja kita menginap di villa berbintang, bukan?"
Ketika Rizal duduk, Jihan dan Kurnia mendekat ke tempatnya berada. Kurnia duduk di sebelah kiri Rizal dan Jihan di sebelah kanan Rizal.
Saat tablet-nya dinyalakan, iris onyx Rizal langsung melirik ke arah sudut kanan bawah layar. Di sana tertera dengan sangat jelas bahwa sinyal yang didapat sangat bagus.
"Yosh! Berarti sudah dibuktikan kita tidak sia-sia menginap di villa berbintang!" seru Kurnia kegirangan melihat sinyal yang didapat sangat baik. Lalu, ia tertawa.
"Kalau begitu, coba kita menuju ke ramalan cuaca hari yang akan datang," usul Jihan yang kini sudah merasa lega karena sinyal untuk peralatan elektronik di villa ini tidak terganggu sedikit pun.
"Hn." Rizal menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan ucapan Jihan.
Jari Rizal yang bisa dibilang panjang mulai beraksi dengan layar touchscreen tablet-nya. Tak lama kemudian muncullah sebuah deretan panjang dari atas ke bawah. Di layar tablet itu tertera dengan sangat jelas tanggal hari ini, esok, dan seterusnya beserta sebuah gambar cuacanya.
"Bagaimana?" tanya Jihan penasaran dengan hasil ramalan cuaca yang ada.
Iris mata Rizal bergerak, membaca seluruh hasil yang ia dapat. "Menurut ramalan cuaca, matahari akan bersinar cerah di daerah pegunungan ini besok, mengingat sekarang sudah jam setengah enam pagi," ucap Rizal seraya menjelaskan kepada dua orang lainnya yang berada di sebelah kanan dan kirinya.
Tangan Kurnia bergerak untuk menggaruk rambutnya frustasi. "Argh, kenapa harus besok? Kenapa tidak hari ini yang cerah?"
Kurnia mengangkat sebelah alisnya. "Kenapa harus hari ini? Menurutku besok adalah hari yang tepat untuk pergi dari sini," ucap Rizal sambil mematikan tablet-nya kembali.
Kurnia memandang heran Rizal. "Kenapa?"
Kepala Rizal menoleh ke arah Kurnia. "Karena kita bisa menggunakan waktu hari ini untuk beristirahat dan mengemasi barang-barang kita."
Pemuda itu mulai bangkit dari tempat yang ia duduki barusan. Ia meletakkan tablet-nya di atas meja kecil samping kasur tidak jauh dengannya.
Terdengar suara hembusan napas dari arah gadis yang masih duduk di atas kasur. "Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang?"
Rizal memperhatikan dengan saksama kondisi kedua tubuh kedua temannya. Setidaknya itu bisa dilakukan dengan mudah oleh seseorang yang akan menjadi dokter setelah wisuda nanti. "Untuk sekarang ini sebaiknya kita mengistirahatkan badan kita terlebih dahulu, lalu makan, kemudian baru berkemas."
Kurnia mengernyitkan dahinya. "Memangnya kapan kita akan mulai berangkat dari sini?"
Iris kelam Rizal melirik ke arah Kurnia. "Besok. Jam dua belas malam."
.......
...+++~Lost~+++...
.......
"Selamat siang, Nona dan Tuan Muda! Makan siang sudah siap!"
Suara seorang pelayan villa beserta ketukan pintu terdengar dan menggema hingga ke seluruh penjuru kamar, hingga membukakan kelopak mata milik seorang gadis.
Jihan mengganti posisi tidurnya menjadi posisi duduk. "Iya, kami akan segera ke sana!" seru Jihan seraya mengusap matanya yang baru saja beradaptasi dengan sinar matahari.
__ADS_1
"Kalau begitu, saya akan menunggu Anda di ruang makan. Saya permisi."
Seusai suara di seberang pintu sana selesai berbicara, suara langkah kaki sepatu terdengar menjauh dari depan pintu kamarnya. Sunyi.
Dilihatnya Kurnia dan Rizal yang masih tersesat dalam mimpi mereka masing-masing. Apakah sebegitu indahnya mimpi mereka hingga suara pelayan dan ketukan pintu suara saja tak terdengar di telinga mereka?
Jihan beranjak secara perlahan dari tempat tidur agar tidak mengganggu kedua lelaki di kiri dan kanannya. Kakinya melangkah mendekat ke arah jendela kamar villa yang bisa dibilang berukuran besar. Tangannya bergerak untuk membuka tirai yang kemarin malam ia tutup.
Mata Jihan yang sudah mulai terbiasa dengan cahaya kini mulai melemparkan pandangannya ke jendela luar. Dilihatnya awan hitam yang menipis tengah menggantung di langit dan diselingi dengan sinar matahari yang menerobos masuk melalui celah yang ada. Benar seperti apa yang ramalan cuaca bilang. Besok adalah hari yang cerah di pegunungan ini.
Membayangkan hari cerah: langit biru dan sinar matahari—membuat Jihan merasa senang dan gembira. Ah, ia sudah lama merindukan cuaca seperti itu. Ia berjalan menuju ke kamar mandi sembari melompat kecil, mulutnya nyaris menyenandungkan nada-nada yang berasal dari hati kecilnya.
Sesampainya di sana, ia menutup pintu kamar mandi dan lekas membasuh wajahnya yang berkulit putih dengan sabun pencuci muka dan membilasnya dengan air dingin mengingat sekarang ia berada di pegunungan. Tangan kanannya mengambil handuk yang menggantung di sebuah tiang penyangga di sebelah kanannya, lalu mengelap mukanya hingga kering.
Setelah selesai, ia menatap dirinya sesaat melalui cermin di depannya. Baiklah, harus diakui ia memang masih mengantuk sekarang, tapi ia juga harus bersemangat karena sebentar lagi ia dan kedua sahabat lelakinya yang masih tersisa akan segera meninggalkan villa yang menurutnya sangat mengerikan ini.
Jihan menggelengkan kepalanya sekuat tenaga, berusaha mengenyahkan segala pikiran negatif mengenai villa ini dan kenangan buruk lainnya. Ia mengembuskan napasnya kencang dan tersenyum cemerlang. Setelah dirinya merasa baikkan, ia membalikkan badannya dan segera keluar dari kamar mandi setelah menggantung handuk tersebut kembali ke tiangnya.
Jihan berjalan menuju meja kecil yang berada di samping tempat tidur. Ia mengambil handphone-nya dan mengaktifkan layarnya. Jam satu siang. Pantas saja perutnya sudah merasa lapar.
Berhubung lambungnya sudah meronta ingin diberi makan, pada akhirnya ia memutuskan untuk memangil Rizal dan Kurnia kembali dari alam bawah sadar mereka.
"Zal! Kur! Ayo, cepat bangun! Makan siang kita sudah jadi!"
"Aku sudah tahu."
Suara seorang pemuda yang menjawab seruannya mengagetkan Jihan, hampir saja ia terperanjat karenanya. Kepala pemuda itu menoleh ke arahnya beserta tatapan matanya yang dingin.
"Rizal! Sejak kapan kau bangun?"
"Yang pastinya, sebelum kau bangun, aku sudah bangun." Rizal menjawab pertanyaan Jihan dengan wajah kalem seperti biasa. Khas seorang Rizal.
Jihan memberengut kesal. "Kalau sudah bangun sedari tadi, mengapa kau tidak menjawab seruan pelayan untuk segera makan siang?"
"Apakah aku perlu menjawabnya?" tanya Rizal sambil lalu. Ia bangkit dari tempat tidurnya dan segera menuju ke kamar mandi. "Lagian, aku malas menjawabnya," ucap Rizal sebelum pintu kamar mandi tertutup rapat.
Sesudah suara keran air dan air mengucur terdengar dari dalam kamar mandi, Jihan baru tersadar dari segala hipotesis akan perkataan Rizal tadi. Jihan adalah seorang pemikir berat.
"OK, lupakan dia dan sekarang kita bangunkan seorang lagi yang dasarnya memang pemalas berat," gumam Jihan kepada dirinya sendiri.
"Kur, ayo bangun! Nanti makanannya menjadi dingin!" seru Jihan sambil menggoyang-goyangkan Kurnia. Perbuatannya itu membuahkan hasil yang sedikit terlihat.
Kurnia mengerang kecil, berusaha melawan kantuk yang masih menyelimutinya. "Sebentar lagi," balasnya. Dan pada akhirnya, ia kalah dengan rasa kantuknya sendiri.
Jihan merutuk kesal akan apa yang ia dapat dari usahanya tadi. "Kur! Ku Hitung sampai tiga, kalau sampai tidak bangun, kau tidak akan mendapatkan makan siang!" seru Jihan kembali dengan dengki.
Masih tidak ada respon dari pemuda berambut jabrik kuning yang masih meringkuk di atas tempat tidur.
"Satu..."
Tidak ada respon.
"Dua..."
Masih tidak ada respon.
"Ti..."
"Kalau cara kamu membangunkannya seperti itu, aku jamin sampai kapan pun juga tidak akan membuahkan hasil."
Iris onyx Rizal menatap iris emerald Jihan. Ia menaikkan sebelah alisnya. "Aku tidak datang secara tiba-tiba." Rizal menggantungkan handuk yang ia pakai untuk mengelap mukanya di lehernya yang jenjang. "Sudahlah, jangan membahas lebih lanjut, itu tidak penting." Tangan besar Rizal kembali mengelap beberapa bagian tepi siluet wajahnya dengan ujung handuk yang menggantung di badannya.
Jihan menghela napas sesaat. "Lalu, apa maksudmu dengan 'cara seperti itu tidak akan membuatnya bangun'?"
Rizal memberhentikan kegiatannya sesaat dan menoleh ke arah Jihan. "Aku tidak berkata dengan kalimat seperti itu."
"Yah, kira-kira seperti itulah!"
Tanpa menjawab pertanyaan dari Jihan, Rizal langsung pergi ke dalam kamar mandi dan keluar dengan sebuah gelas bening di tangan kanannya.
Jihan yang melihatnya merasa heran dan bertanya-tanya akan apa yang akan Rizal perbuat. "Untuk apa air di dalam gelas itu?"
"Perhatikan baik-baik, ini adalah salah satu cara ampuh untuk membangunkannya yang sudah malas tingkat akut." Tanpa rasa bersalah sedikit pun, Rizal menumpahkan air dari dalam gelas sedikit demi sedikit tepat di wajah Kurnia.
Seketika itu juga Kurnia langsung terduduk dari posisi tidurnya. "Zal! Bisakah kau membangunkan ku dengan cara yang lebih baik dan sopan?" Sebelah tangannya bergerak untuk mengelap wajahnya dengan menggunakan baju lengan panjangnya.
"Tak kusangka, ternyata cara membangunkan Kurnia yang ampuh seperti itu, ya?" ucap Jihan kagum akan hasil yang Rizal dapatkan untuk membangunkan Kurnia. Ia ternyata benar-benar polos.
Kurnia dengan tampang sehabis bangun tidurnya itu memandangi Rizal dan Jihan secara bergantian. "Apa yang sedang kalian bicarakan?"
Rizal berdecak kesal. "Sudahlah, lebih baik kau lekas membasuh mukamu yang sudah terlalu kusut itu," kata Rizal seraya berlalu menjauhi mereka berdua.
Jihan mengangguk setuju. "Benar apa yang Rizal katakan, sebaiknya kau segera memperbaiki raut wajahmu di kamar mandi sebelum makanan siang kita nanti menjadi dingin karena kau."
Kurnia memutar bola matanya. "Yah, baiklah." Ia segera bangkit dari kasurnya dan berjalan menuju kamar mandi dengan langkah rela tak rela.
Sambil menunggu Kurnia yang sedang berada di dalam kamar mandi. Rizal dan Jihan menyibukkan diri mereka dengan kegiatan masing-masing. Jihan sedang mengutak-atik handphone-nya di atas kasur, entah apa yang ia mainkan. Sedangkan Rizal sedang memandangi pemandangan melalui jendela kamar yang ia buka, sehingga udara pegunungan yang sejuk masuk ke dalam kamar.
Tidak lama kemudian, Kurnia pun muncul dari kamar mandi dengan diiringi senyuman cerah khas miliknya. "Baiklah, saatnya kita makan!"
Setelah kemunculan Kurnia, mereka bertiga pun langsung ke luar kamar dan menguncinya, lalu berjalan beriringan menuju ke ruang makan yang sudah menunggu mereka.
"Mengapa kau begitu lama saat di dalam sana?" tanya Rizal saat Kurnia berjalan sejajar dengannya.
"Hah? Oh, tadi aku ada masalah dengan perutku, jadi..."
Jihan yang sudah tahu ke mana arah pembicaraan Kurnia akhirnya mengucapkan, "sudah, jangan membahasnya!"
"Ah, Jihan tahu saja," goda Kurnia. Perkataannya membuat Jihan kesal dan sebal.
Perjalanan mereka bertiga menuju ruang makan dipenuhi dengan pembicaraan dan candaan yang didominasi oleh Jihan dan Kurnia. Sedangkan Rizal, ia hanya mendengar dan sesekali merespon 'hn' jika ditanya suatu hal oleh mereka.
Dan pada akhirnya, sampailah mereka di tempat tujuan.
.......
...+++~Lost~+++...
.......
"Aku sudah tidak kuat lagi! Perutku sakit sekali!" ringis Kurnia kekenyangan. Bagaimana tidak ingin perutnya sakit? Dia saja hampir memakan seluruh makanan yang ada di atas meja. Dia lapar atau rakus?
Sekarang ini mereka sedang berjalan kembali menuju kamar mereka. Tetap dihiasi dengan pembicaraan sehari-hari.
__ADS_1
Jihan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Jika kau makan sedikit lagi, perutmu pasti akan meledak, Kur."
Baiklah, acara makan siang mereka telah usai. Acara makan siang tadi dimulai dengan sikap Kurnia yang sudah seperti orang kelaparan tidak makan dua bulan, sehingga Jihan dan Rizal hanya bisa memicingkan matanya ke arah Kurnia akan sikapnya. Lalu, diakhiri dengan erangan kesakitan Kurnia karena perutnya seperti akan pecah dan mengeluarkan segala isi yang ia makan barusan.
Tiba-tiba Kurnia teringat akan suatu hal. "Rizal!" Kurnia beranjak mendekati Rizal dan sebisa mungkin memasang tampang innocent andalannya. "Zal, nanti kau mau memeriksa kesalahan apa yang terjadi pada perutku? Kau 'kan calon dokter."
Kepala Rizal Menoleh ke arah Kurnia dengan santai. "Aku tidak mau." Ia membuang pandangannya dari Kurnia, kembali menatap lurus ke depan. "Jika kau ingin bertanya apa yang salah denganmu, jawabannya adalah cara makan mu," ucap Rizal saat Kurnia hendak memprotes apa yang diucapkan Rizal sebelumnya.
Kurnia mendecih kesal. "Kalau itu juga aku sudah tahu."
Mendengar pembicaraan singkat antara Kurnia dan Rizal membuat Jihan tertawa cekikikan sendiri. Entah bagian mana yang ditawakannya. Lalu, Jihan melenguh panjang. "Aku tak sabar untuk pulang!" ucapnya dengan suara hampir berupa seruan panjang.
"Yosh! Aku juga!" Kurnia menelengkan wajah menghadap ke Rizal. "Rizal, kau juga tidak sabar, 'kan?"
"Hn."
Dengan reflek, Kurnia merangkul leher Rizal. Kurnia tertawa singkat. "Baiklah, bagaimana kalau kita mengelilingi villa ini untuk yang ke terakhir kalinya?"
Tangan Rizal bereaksi. Ia dengan mudahnya melepaskan rangkulan Kurnia dan memelintir tangan pemuda berkulit tan itu hingga ia meringis kesakitan. "Jika kau ingin mengelilingi villa ini, pergilah sendiri. Aku mempunyai kegiatanku sendiri."
Jihan yang melihat kedua sahabat lelakinya hanya bisa speechless sesaat. Ia merasa bimbang antara memisahkan atau membiarkan. Dan sepertinya, ia memilih pilihan pertama untuk jaga-jaga.
"Iya, iya! Lepaskan tanganku!"
Rizal pun melepaskan cengkraman tangannya. Alhasil, tanda merah seukuran tangan Rizal menyiplak di pergelangan tangannya. Kurnia pun kembali meringis.
.......
...+++~Lost~+++...
.......
Kurnia terus melangkahkan kakinya mengitari daerah luar villa. Matanya menjadi saksi keindahan alam pegunungan di sekitar villa tersebut. Padahal indah seperti ini, tapi mengapa sering terjadi kasus mengerikan? Pelakunya tidak diketahui pula. Jika dipikirkan lebih lanjut, memang sakit rasanya.
Kalau diingat-ingat lagi, pertama kali mereka datang ke sini berjumlah tujuh orang dan sekarang hanya bertiga. Itu pun yang tersisa adalah kedua sahabat sedari masa kecilnya.
Tanpa disadari, langkah kakinya membawa dirinya memasuki sebuah taman bermain yang masih satu kawasan dengan villa yang disinggahinya.
Kurnia menghela napas. "Aku saja baru tahu jika di sini ada sebuah taman bermain." Ia mengedarkan pandangannya. "Terlalu buruk cuaca di daerah villa ini sehingga aku lebih menghabisan waktuku di dalam villa. Ditambah lagi dengan banyaknya kasus yang menimpa kelompok kami." Sekali lagi, Kurnia menghela napasnya, tapi kini lebih berat dari sebelumnya.
Ia memilih untuk mendudukkan dirinya di salah satu ayunan yang tersedia di sana. Secara perlahan, ia mengayunkan ayunan tersebut dengan kakinya yang masih menyentuh tanah rerumputan.
Pikirannya kembali membawa nya ke masa-masa dulu dimana mereka semua masih berjumlah lengkap, tak ada yang kekurangan sedikit pun. Saat di kafetaria kampus, lalu di cafe langganan mereka—untuk membicarakan pergi menginap di villa ini. Kemudian, keesokkan harinya mereka pergi meninggalkan rumah mereka dan tibalah mereka di sini setelah melewati hutan pegunungan.
Sandi yang membicarakan kegiatan untuk hiking dan pada akhirnya muncullah kejadian pertama dan selanjutnya—hilang dan ditemukannya Novi, kematian Sendi di kolam renang, kematian Fitri di dapur, dan yang terakhir, kematian Sandi oleh tangannya sendiri.
Rasa bersalah karena membunuh Sandi masih setia menyelimuti hatinya, tapi ia terus mengelak kalau ia membunuh Sandi adalah untuk menyelamatkan kedua temannya. Yah, menyelamatkan Rizal dan Jihan.
Dengan perasaan yakin dan berusaha mengulaskan sebuah senyuman di wajahnya, ia mengayunkan kuat-kuat ayunan yang didudukinya hingga melambung tinggi—ke depan dan ke belakang. Iris aquamarine-nya menatap langit sedikit cerah yang masih digantungi awan hitam tipis dengan tatapan menerawang jauh ke angkasa. Mulutnya sedikit terbuka.
"Kita akan pulang, sebentar lagi."
.......
...+++~Lost~+++...
.......
Di tepi sebuah jendela, duduklah seorang gadis cantik bermahkota kan rambut dark brown yang menambah kesan menawan pada dirinya, Fitri.
Ia duduk secara horizontal, sejajar dengan jendela yang berada tepat di samping lengan kanannya yang terkulai lemas. Kedua kakinya ia luruskan ke depan. Wajahnya terarah ke luar jendela, iris emeraldnya tampak rada sayu.
Jihan mengembuskan napasnya. Pikirannya melambung jauh ketika dirinya, Rizal, Kurnia, Sandi, Sendi, Fitri, dan Novi saling berbincang satu sama lain di kafetaria kampus mereka begitu akrab dan sepertinya tidak ada masalah.
Tapi, saat mereka nanti pulang, kembali ke kehidupan biasa mereka—menjadi mahasiswa sesuai fakultas yang mereka tekuni—tidak akan ada pembicaraan yang seperti dulu. Semuanya sudah berubah.
Ditambah lagi, apa yang harus ia, Rizal, dan Kurnia jelaskan ke masing-masing orang tua mereka—terutama yang ditinggalkan—mengenai masalah ini?
Jihan menggaruk kepalanya dengan gemas. Ia tidak mau memikirkan sampai ke sana, tapi mau bagaimana lagi? Ia memang dari lahir sudah di takdirkan sebagai pemikir berat. Jadi, suatu masalah pasti akan terus berada di pikirannya walau ia sudah coba untuk melupakan masalah itu.
Maka dari itu, sedari dulu Jihan tak pernah diberi pilihan dan tanggung jawab yang berat mengingat ia adalah seorang pemikir berat ditambah badannya sedang mengalami sedikit masalah. Mungkin karena itu juga, jika ia tiba-tiba diberi suatu pilihan yang menyusahkan ia akan menjadi repot sendiri, bahkan bisa merepotkan orang lain.
Kalau dipikir-pikir, ia benci dengan dirinya yang seperti itu.
Ia menekuk salah satu kakinya, lalu meletakkan pipi sebelah kirinya di atas lututnya dengan sepasang telapak tangan yang saling ia tautkan sebagai penumpunya.
Hanya satu yang pasti di otaknya.
"Kita akan segera pulang."
.......
...+++~Lost~+++...
.......
Rizal tengah duduk di sebuah sofa khusus untuk satu orang. Ia tidak sendiri, ia ditemani oleh secangkir teh pahit pesanannya yang baru saja datang. Setidaknya menurut penelitian para dokter meminum teh masih lebih baik daripada meminum kopi yang mengandung kafein.
Ia duduk menyandar di punggung sofa yang empuk. Salah satu kakinya ia silangkan. Tangannya tampak sedang memainkan sebuah tablet di atas pahanya. Iris onyx-nya bergerak lincah untuk memantau semua yang terdapat di layar tablet miliknya.
Memainkan game untuk mengisi waktu luang sudah menjadi kebiasannya sejak kecil. Tapi, walau ia sering mengisi waktu luang dengan bermain game, ia tetap menjadi nomor satu di kelasnya. Bahkan hingga duduk di kuliah. Mungkin kepintarannya memang salah satu dari garis keturunan keluarganya.
Setelah menyelesaikan permainannya, Rizal kembali menyesap teh pahitnya yang ia letakkan di sebuah meja kecil penghias ruangan yang tepat berada di sebelah kirinya. Bunyi dentingan peraduan antara piring kecil dan cangkirnya menggema di seluruh ruangan terakhir yang ia tempati sekarang ketika ia menaruh cangkirnya kembali ke tempat asalnya.
Sudah berapa lama ia bermain game sendirian di ruangan terakhir ini?
Untuk memastikan durasi ia bermain, matanya melirik ke sudut kanan bawah layar tablet-nya karena menurutnya lebih dekat daripada melihat jam dinding yang menggantung tepat di belakangnya ataupun melirik jam tangannya.
Baiklah, sudah empat jam lebih ia bermain. Dan sekarang jam menunjukkan pukul setengah enam sore.
Setengah enam? Otaknya aktif menghitung suatu hal. Masih tersisa enam setengah jam untuk mencapai jam dua belas malam.
Ia bangkit berdiri dari sofa yang ia duduki dan menaruh tablet-nya di atas sofa yang kini sudah bersuhu sama dengan badannya. Kakinya melangkah menuju salah satu jendela besar yang terdapat di ruangan terakhir itu. Tangannya bekerja sama untuk membuka kunci pengait jendela dan membentangkan jendela itu keluar sehingga udara pegunungan dapat masuk ke dalam. Udara pegunungan menerpa kulit wajahnya yang putih. Terasa dingin, tapi nyaman.
Rizal memejamkan matanya sesaat, lalu menghirup udara pegunungan sedalam-dalamnya dan mengembuskan nya kembali. Setelah merasa seluruh otot, pikiran, dan perasaannya menjadi rileks, kelopak matanya kembali membuka secara perlahan memperlihatkan iris onyx yang seperti jurang yang dalam ketika kita berlama-lama menatapnya.
Saat matanya terbuka, ia kembali melihat hamparan pegunungan luas yang merupakan salah satu alam yang dapat menenangkan jiwa. Suara kicauan burung terdengar oleh telinga Rizal dari kejauhan. Ia yakin, ia tidak akan menemukan hal seperti ini ketika mereka pulang nanti.
Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celana panjang yang ia kenakan. Sekali lagi, ia menarik napas dan mengembuskan nya singkat. Matanya yang tajam melemparkan pandangan yang bisa menusuk orang yang melihatnya lurus ke depan.
"Kita akan pulang... sebentar lagi, ya?"
...~Lost In Nightmare~...
__ADS_1
...To Be Continued…...