
...NIGHTMARE 19...
...The Feeling...
Suara detik kan jam dinding mengarungi seluruh kamar villa yang sekarang berisikan tiga anak manusia dan satu tubuh tak bernyawa di dalamnya. Ketiga anak manusia itu berdiam diri beberapa menit lamanya. Tidak ada yang bersuara.
dan Jihan masih mencerna apa yang barusan mereka dengar dari mulut Kurnia sendiri.
"Membunuh?" tanya Jihan dan Rizal bersamaan. Rasa tidak percaya menguasai nada bicara mereka.
Kurnia menganggukkan kepalanya dengan mantap. Meyakinkan kedua sahabat yang sedang menatap penuh tanya ke arahnya. Pertanyaan Rizal dan Jihan tadi sempat membuat Kurnia berpikir sejenak.
Tatapan mata Rizal membeku. "Kurnia, kau—"
"Kau yang membunuh semua teman kita?" lanjut Jihan atas perkataan Rizal sebelumnya.
Kurnia membelalakkan matanya. "Hah? Kalian gila?" ungkap Kurnia dengan nada tinggi. Kini ia menyadari bahwa sebenarnya pertanyaan yang Rizal dan Jihan lontarkan terarah ke topik itu. "Aku tidak mungkin melakukan perbuatan yang tak wajar seperti itu, tahu!"
Rizal menaikkan sebelah alisnya. "Maksudmu?"
"Yah... Maksudku, aku tidak membunuh Novi, Sendi, dan Fitri. Lebih tepatnya, bukan aku yang membunuh mereka bertiga!"
Jihan mendengarkan pernyataan Kurnia dengan cermat. "Jika kau tidak membunuh mereka, mengapa kau bilang, 'aku akan menceritakan kepada kalian dengan sangat jujur dan jelas mengapa aku membunuh'?" tukas Jihan seraya mengulang kembali kalimat Kurnia yang beberapa waktu lalu didengarnya.
"Aduh... Maksudku, untuk kedua kalinya, yang ku maksud aku membunuh itu aku hanya membunuh Sandi saja. Hanya Sandi, tidak yang lainnya!" balas Kurnia dengan raut wajah panik dalam menjelaskan sesuatu khas dirinya.
Rizal menunggu kelanjutan penjelasan dari Kurnia. "Lalu?"
"Lalu, aku akan menjawab seluruh pertanyaan kalian mengapa aku membunuh Sandi." Entah kenapa aku merasa seperti diriku yang meminta pertanyaan beruntun dari mereka, lanjut Kurnia dalam hati.
Suara helaan Nafas yang berasal dari Jihan terdengar hingga ke seluruh penjuru ruangan besar yang sepi. "Untunglah, ternyata bukan kau yang membunuh mereka."
"Tentu saja! Untuk apa juga aku membunuh mereka. Tak ada guna."
Iris onyx Rizal menatap Kurnia dengan tatapan penuntut jawaban miliknya. "Kalau begitu, berhubung aku sedang dalam kondisi yang tidak menguntungkan, tolong ceritakan kepada kami mengapa kau berinisiatif untuk membunuh Sandi tadi."
Mendengar tuturan yang seperti kalimat perintah dari Rizal membuat Kurnia memandang Jihan dan Rizal secara bergantian. Yang dipandang pun menatap sang narasumber dengan serius.
Suara petir yang menyambar di langit kembali terdengar hingga ke gendang telinga mereka. Jihan yang takut akan hal itu mati-matian menahan lonjakan terkejut dari dalam tubuhnya hingga tangannya tak sengaja menggenggam tangan Rizal yang memang tergeletak di atas ranjang.
Rizal membalas genggaman tangan kecil Jihan dengan sangat erat tanpa sedikit pun mengalihkan pandangannya dari Kurnia. Ia melakukannya secepat kilat sebelum tangan Jihan hendak beranjak darinya.
Merasakan tangan kekar Rizal yang hangat sedang menggenggam dengan sangat erat tangannya... entah kenapa Jihan merasa suasana seperti ini tidak biasa. Padahal sudah berkali-kali Rizal menggenggam tangannya, tapi suasana kali ini berbeda dengan yang sebelumnya.
Jihan menghela nafas pelan. Biarlah, bahkan ia sendiri tidak mengerti apa yang ia rasakan. Daripada memikirkan perasaan aneh ini, lebih baik menunggu penuturan cerita dari Kurnia yang masih terdiam.
Kurnia berdeham, pertanda bahwa ia ingin memulai ceritanya. "Sejak awal, aku sama sekali tidak berinisiatif untuk membunuhnya. Yang kupikirkan hanyalah bagaimana cara menghentikan Sandi yang sudah mulai gila itu secara halus agar Rizal yang sedang menahan rasa sakitnya itu dapat terbebas dari serangan bertubi-tubi nya. Tidak lupa dengan pisau lipat yang ia keluarkan dari saku celananya.
"Saat Sandi menyiku dan mendorongku menjauh darinya dengan sangat kencang hingga aku terhempas ke belakang, aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan. Jujur, ketika ia memperlakukan aku seperti itu, aku ingin sekali memukul wajahnya agar ia langsung tersadar dari dunia gilanya. Tetapi rasa sakit di kepalaku menyadarkan ku dari dunia khayalku bahwa aku tidak mungkin bisa melakukannya karena rasa nyeri ini membatasi seluruh ruang gerakku."
Kurnia menolehkan kepalanya ke tempat Sandi yang sudah tidak bernyawa di lantai. "Hingga pada akhirnya katana yang tergantung di sisi dinding kamar menarik perhatianku yang sedang berada di jalan buntu. Sejenak aku merasa bimbang di antara dua pilihan: membunuh atau tidak."
Iris Aquamarine Kurnia beralih ke arah Rizal. "Tetapi saat ia bertambah serius ingin membunuhmu, pada akhirnya aku memutuskan suatu pilihan, yaitu membunuhnya."
Rintikan hujan yang turun dengan perlahan dalam beberapa detik langsung berubah menjadi sebuah hujan deras yang disertai dengan angin yang kencang.
Jihan mengernyitkan dahinya tak mengerti. "Mengapa kau tiba-tiba memutuskan untuk membunuhnya? Maksudku, apa alasan kau mengambil keputusan untuk membunuhnya, Kurnia? Membunuh bukan seperti dirimu saja."
Rizal melirik Jihan melalui ekor matanya dan kembali menatap Kurnia. Menunggu jawaban yang sama dengan Jihan.
Kurnia membuang tatapan matanya dari kedua temannya. Ia menghela nafas sejenak. "Entahlah, Ji. Aku sendiri juga tidak tahu mengapa tiba-tiba aku langsung mengambil keputusan yang seperti itu." Otaknya memilah-milah kata yang tepat untuk menggambarkan perasaannya pada saat itu. "Rasanya seperti ada yang berkata, 'kalau kau tidak membunuhnya, maka cepat atau lambat kau akan kehilangan kedua temanmu juga'."
"Maka dari itu kau membunuhnya?" tanya Rizal dengan sarkatis.
Kepala yang dihiasi rambut jabrik kuning itu mengangguk sebanyak dua kali.
Dengan geram Rizal mendaratkan sebuah sentilan di dahi Kurnia yang juga berkulit tan seperti tubuhnya. "Bodoh! Kalau kau sampai ketahuan membunuh Sandi dari sidik jarimu itu bagaimana, hah?"
Sentilan dari Rizal mampu membuat Kurnia merintih kesakitan walau kepalanya sudah dilindungi dengan perban sekalipun. "Argh... Zal! Sentilan mu itu sakit, tahu!" Matanya melirik ke arah Rizal yang masih menunggu jawaban darinya seraya mengelus-elus dahinya. "Nanti sidik jarinya biar aku lap dengan kain agar sidik jariku tak melekat pada pegangan katana itu."
"Kalau begitu, cepat lakukan sebelum kau melaporkan masalah ini kepada para pelayan," perintah Rizal singkat.
"Iya, iya."
Dengan langkah gontai Kurnia berjalan menuju tas yang dibawanya untuk mengambil pakaian bekas pakai miliknya sebagai media lap tersebut. Penjelasan pun selesai.
Jihan yang sadar akan genggaman tangan Rizal yang masih menyelimuti salah satu tangannya, akhirnya memilih untuk melepaskannya dan beralih menuju wajah Rizal yang sedikit kebiruan. Terutama di sudut bibirnya.
"Kau tak apa, Zal?" tanya Jihan seraya menyentuh perlahan luka Rizal sehingga sang pemilik luka tersebut meringis menahan sakit.
"Aku tak apa, Ji," balasnya seraya ikut menggerakkan salah satu tangannya untuk menyentuh lukanya sendiri di sekitar sudut bibir.
Tangan Jihan menjauhi tangan Rizal. Ia menghela nafas. "Aku tahu kau seorang laki-laki, tapi jika itu memang sakit tolong jangan mengucapkan hal yang sebaliknya."
Setelah mengucapkan kalimatnya, Jihan langsung menyambar kotak P3K di atas ranjang yang ia gunakan untuk Kurnia tadi. Tangannya membuka kotak P3K itu, lalu mengeluarkan beberapa kapas, sebotol alkohol, dan tidak lupa dengan obat merahnya. Juga plester sebagai tambahan.
Rizal memperhatikan gerak-gerik Jihan dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kau ingin apa?"
Mendengar pertanyaan yang menurutnya aneh dari Rizal membuat Jihan mendongakkan kepalanya dan balas menatap pemuda emo tersebut. "Ingin apa? Yah, aku ingin mengobati lukamu." Ia menutup kotak P3K-nya dan kembali menatap Rizal yang ternyata masih menatapnya.
Rizal menaikkan sebelah alisnya. "Memangnya kau bisa?" tanya Rizal tidak percaya.
Jihan mendengus kencang. "Kalau hanya mengobati luka ringan aku bisa-bisa saja. Buktinya saja aku bisa mengobati Kurnia." Jihan menunjuk Kurnia yang sedang sibuk mengelap pegangan katana yang masih menancap di dada Sandi dengan menggerakkan kepalanya.
Pemuda berambut reven itu masih menatap Jihan dengan perasaan ragu. Ia tidak tahu bisa mempercayai Jihan atau tidak. Bagaimana ia bisa mempercayai Jihan dengan begitu mudah jikalau selama ini Rizal-lah yang terlihat merawat Jihan?
Jihan yang sudah merasakan kalau Rizal masih ragu dengannya, pada akhirnya memutuskan bertanya sesuatu, "Kau tak percaya padaku?"
Tanpa ragu sedikit pun Rizal menjawab, "Iya."
Jawaban singkat, padat, namun jelas dari Rizal membuat Jihan merengutkan wajahnya. "Ah, sudahlah!" Tangan Jihan mengatur badan Rizal secara paksa dengan kedua tangan kecilnya agar badan Jihan berhadapan dengan dirinya.
"OK, mari kita mulai!"
Jihan menuang sedikit alkohol ke atas gumpalan kapas dan siap mendaratkannya di atas kulit wajah Rizal yang sembab, tetapi sebelah tangan Rizal menahan tangan Jihan yang sudah setengah jalan.
"Kau serius?" tanya Rizal sekali lagi.
Jihan menepis tangan Rizal yang berada di pergelangan tangannya. "Percayakan saja padaku. Kau boleh komen, kritik, atau saran saat aku mengobati lukamu, kok." Bibirnya membentuk sebuah senyuman. "OK?"
Rizal menghela nafas panjang. Kalau Jihan sudah tersenyum seperti ini... apa lagi yang bisa diperbuatnya?
"Baiklah. Lakukan apa yang ingin kau lakukan."
Senyuman Jihan semakin melebar. "Terima kasih."
Tangan Jihan mulai bergerak melakukan acara ritualnya dengan luka Rizal dengan perlahan. Sesekali Rizal meringis kesakitan, pertanda bahwa luka yang disentuh Jihan merupakan luka dengan hantaman yang dalam. Dan itu juga pertanda bahwa Jihan harus ber ekstra hati-hati.
Selama Jihan mengobati luka di wajahnya, Rizal mengawasi tangan Rizal yang bergerak-gerak di sekitar wajahnya. Matanya yang tajam sesekali melirik Jihan yang sedang menatap serius lukanya. Terkadang ia menahan senyuman dan tawa melihat ekspresi Jihan yang sangat waspada karena takut mendengar Rizal meringis—walau itu hanya bersuara pelan sekalipun.
Kurnia yang sibuk dengan aksi mengelapnya tidak sengaja memperhatikan kedua sahabatnya bergantian mulai dari Jihan, Rizal, Jihan, Rizal... Padahal ia hanya melihat Jihan yang sedang mengobati Rizal, tetapi... mengapa ia merasa berbeda? Entah kenapa, Kurnia merasakan hal lain saat Rizal memandang Jihan... Ah! Tidak, tidak, tidak. Ini tidak aneh. Ini biasa-biasa saja.
Benar, semua biasa-biasa saja, ucap Kurnia dalam hati yang tanpa disadari kepalanya ikut mengangguk setuju.
Saat Kurnia hendak bangkit dari posisi berlututnya, tiba-tiba ia terpeleset oleh genangan darah Sandi yang tidak sengaja terinjak oleh kakinya.
"UWAH!"
Dan dapat dipastikan, suara jatuh dan teriakan Kurnia mengundang dua sahabat lainnya—yang sedang berhadapan—segera menolehkan kepala ke arahnya. Betapa bodoh dirinya sekarang.
Jihan terkesiap akan apa yang didengarnya. "Kau baik-baik saja, Kur?"
"Kur, ada apa denganmu?" tanya Rizal setelah Jihan.
Dengan sigap Kurnia bangkit berdiri dari posisi jatuhnya. "Ah, tidak. Tidak apa-apa. Tadi aku hanya terpeleset oleh aliran darah Sandi saat hendak berdiri tadi." Kurnia tertawa garing.
Jihan menghela nafas. Sebelah tangannya ia letakkan di atas dadanya. "Untunglah, aku kira ada apa-apa denganmu."
Iris onyx Rizal memperhatikan Kurnia dari atas sampai bawah. "Kur, kurasa kau harus mengganti pakaianmu. Pakaian dan tangan kananmu penuh dengan bercak darah."
"Hah?" Kurnia memperhatikan seluruh pakaiannya dan hasilnya sesuai dengan apa yang Rizal katakan tadi. "Oh, baiklah. Kurasa aku harus segera mengganti pakaian dan..." Kurnia memperhatikan tangan kanannya, "mencuci tanganku."
Kurnia memberanjakkan dirinya menuju ke tempat tasnya berada. Ia mengambil semua pakaian yang ia butuhkan dengan tangan kirinya yang tidak ternodai oleh darah sialan yang telah menyebabkan dirinya seperti ini. OK, sekarang Kurnia merasa bersalah dan berdosa karena telah mengatai darah temannya yang sudah ia bunuh dengan tangannya sendiri dengan semena-mena.
Selagi Kurnia sibuk dengan tasnya, Jihan kini menuangkan obat merah ke atas gumpalan kapas yang baru saja ia ambil dari tempatnya. Dengan perlahan juga, Jiham mendaratkan kapasnya yang sudah terisi oleh obat ke atas luka Rizal yang tadi sudah disterilkan oleh alkohol sebelumnya.
Setelah mengeluarkan segala yang ia butuhkan, Kurnia segera beranjak dari tasnya menuju ke kamar mandi dengan membawa seluruh pakaiannya di tangan kirinya yang besar. Sebelum Kurnia menutup pintu kamar mandinya dengan sempurna, matanya kembali melirik Rizal dan Jihan yang sedang berhadapan itu. Dan kini pintu kamar mandi menutup dengan rapat pandangan matanya.
Iris onyx Rizal yang kelam menatap Jihan dengan seksama. "Jihan, apa kau pernah menyukai seseorang?"
"Hmm?" Jihan yang sedang mengobati luka Rizal merasa bingung dengan pertanyaan Rizal yang tiba-tiba seperti ini. "Ah... kalau jika dibandingkan dengan rasa suka, mungkin lebih tepatnya mengagumi."
"Memangnya berbeda?" Rizal meringis kesakitan karena Jihan terlalu menekan lukanya dan langsung dibalas ucapan maaf oleh sang pengobat, Jihan.
"Tentu saja. Kalau rasa suka itu seperti tergila-gila pada seseorang, ingin memiliki tapi tidak ingin dimiliki. Sedangkan rasa kagum itu cenderung ke arah lebih suka memandangi daripada memiliki."
Sejenak Rizal mencerna baik-baik apa yang dituturkan oleh Jihan. "Kalau mencintai?"
Otak Jihan berpikir sejenak. "Hmm... Kalau mencintai itu seperti ingin memiliki satu sama lain dan tak ingin dipisahkan." Jihan menaruh kapas obat merah itu di atas meja kecil sebelah ranjang bersama dengan kapas alkohol yang ia pakai sebelumnya. "Nah, sekarang tinggal memakaikan plester di wajahmu."
Ketika Jihan mulai mengambil kotak plester, tiba-tiba tangan Rizal bergerak menghalangi niat Jihan. "Tunggu! Aku memiliki plester lain yang cocok denganku di dalam tas yang kubawa."
Jihan mengamati langkah Rizal dengan tatapan bingung. Mulai dari Rizal pergi menuju tasnya berada, hingga ia kembali duduk di hadapannya.
Jemari tangan kanan Rizal menunjukkan apa yang ia bawa tepat di depan mata Jihan yang masih diam membisu. Menerka-nerka apa yang Rizal bawa.
__ADS_1
"Apa ini?" Tangan Jihan mengambil apa yang Rizal tunjukkan kepadanya.
"Itu plester yang berwarna bening yang sedikit buram. Keburaman nya itu disengaja agar luka si pemakai tidak terlalu mencolok," jelas Rizal saat Jihan membuka kotak kemasan itu dan mengeluarkannya.
Bola mata yang mirip dengan batu jade itu menatap Rizal masih dengan tatapan keheranan. "Memangnya apa bedanya dengan plester biasa? Lebih cepat sembuh?"
Kurnia di dalam kamar mandi yang sudah rapi dengan pakaian bersihnya pun bergegas mencuci tangannya dengan sabun. Berhubung darah yang berada di tangannya sudah mengering karena ia lebih mementingkan mengganti pakaiannya dahulu, mungkin acara mencuci tangan ini akan memakan waktu yang lama.
Rizal menggelengkan kepalanya. "Tidak. Aku hanya tidak ingin plester berwarna coklat itu menghalangi wajahku yang sempurna ini."
Seketika Jihan langsung memberengut kan wajahnya dan memukul salah satu lengan Rizal. "Aku kira plester ini lebih efektif atau apa, ternyata ini demi kepentinganmu sendiri. Memangnya sejak kapan Rizal Ardiansyah di hadapanku ini menjadi orang yang percaya diri?"
"Sejak tadi."
Merasa tidak puas akan jawaban yang Rizal berikan kepadanya, kini Rizal diserang oleh omelan Jihan secara beruntun seraya menempelkan plester itu tepat di luka Rizal. Anehnya, seorang Rizal terus menatap Jihan tanpa sedikit pun niat untuk membalas perkataan Jihan. Terbersit pertanyaan membayang di kepalanya.
Usai mencuci tangannya yang kini sudah terlihat bersih dan juga wangi sabun yang ia pakai, Kurnia pun mulai memberanjakkan dirinya ke tempat pintu kamar mandi berada. Ia menarik nafas yang dalam sebelum ia membuka pintu. Meyakinkan dirinya sendiri.
Saat Kurnia baru membuka sedikit cela di pintu kamar mandinya, suara pertanyaan dari seseorang sahabatnya pun tak sengaja terdengar oleh gendang telinganya.
"Ji, jika ada seseorang yang mencintaimu bagaimana?"
Bukannya segera keluar dari kamar mandi, Kurnia malah tetap berdiam diri dengan posisi kakunya itu. Entah kenapa ia merasa tertarik mendengar apa jawaban dari Jihan atas pertanyaan Rizal. Dan ia berpikiran bahwa jika ia keluar dari kamar mandinya sekarang, ia akan mengacaukan momen dan pertanyaan semacam ini.
"Hah?" Jihan mengerjakan matanya beberapa kali, memproses apa maksud perkataan Rizal. "Maksudmu?"
"Yah... Maksudku, jika ada seseorang yang kau kenal atau dekat denganmu mengutarakan perasaannya kepadamu... apa yang akan kau lakukan?"
Jihan tampak berpikir sejenak dan memikirkan baik-baik apa yang akan ia lakukan jika hal itu terjadi. "Entahlah. Aku sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa suatu saat nanti akan ada seseorang yang menyatakan cinta kepadaku."
"Itu bukan jawaban, Ji. Yang aku butuhkan adalah sebuah jawaban apa yang akan kau katakan dan apa yang akan kau lakukan," protes Rizal.
"Oh, baiklah... Akan aku pikirkan." Jihan mulai berpikir—lebih tepatnya membayangkan—kembali apa yang akan ia lakukan jika itu terjadi. Seandainya.
Kurnia yang mendengar protesan Rizal dari dalam kamar mandi pun hanya dapat tersenyum sumbing. "Zal... perkataanmu seperti memaksa dan menuntut seseorang, tahu?" Lalu, Kurnia menggeleng-gelengkan kepalanya seraya menunduk.
Setelah sekian lama berpikir, Jihan akhirnya menggumamkan sesuatu, "Tergantung."
"Hn?" Rizal masih menuntut penjelasan dari Jihan.
"Yah, tergantung siapa orangnya dan sedekat atau sekenal apa orang itu denganku." Jihan melanjutkan perkataannya, "Jika orang itu memang sangat mengenal diriku, belum tentu aku mengenal orang itu sebaik ia mengenalku, bukan?"
Rizal mengangguk setuju akan penuturan dari Jihan. "Lalu?"
"Lalu... Jika masalahnya seperti ini, maka belum tentu pula jawaban apa yang aku berikan kepadanya." Jihan menghela nafas pelan. "Memutuskan sesuatu seperti itu lebih susah dan rumit jika dibandingkan dengan memutuskan kau ingin pergi atau tidak."
Mendengar jawaban Jihan yang seperti itu membuat Kurnia tertawa tertahan karena ia sudah mengira Jihan akan menjawab seperti itu.
Rizal mencondongkan tubuhnya lebih dekat ke arah Jihan. "Pertanyaan kedua, jika orang yang mencintaimu itu sangat mengenalmu sama seperti kau mengenalnya... Apa kau akan menerima cinta orang itu?"
Seketika Kurnia langsung terperanjat kaget mendengar pertanyaan Rizal barusan. Tunggu. Ia merasa aneh dan berdebar-debar karena takut. Kedua tangannya mengepal erat. Apa yang ia takutkan? Yang ia tahu sekarang, ia harus keluar dari kamar mandi segera. Entah kenapa, ia merasa ini adalah momen yang paling tepat untuk keluar.
"Hah?" Jihan membelalakkan sedikit matanya. "Zal, apa maksud—"
Rizal memotong kalimat Jihan. "Jihan, aku—"
"Pada akhirnya sekarang aku sudah membersihkan diriku dari noda darah itu, Ji, Zal!" teriak Kurnia seraya keluar dari kamar mandi dengan langkah kaki dan senyuman yang ceria. Memotong perkataan Rizal. Karena ia tidak tahu harus berkata apa, jadi ia hanya bisa berkata seperti itu.
Jihan turut tersenyum mendengar suara ceria Kurnia yang khas. "Syukurlah, Kur. Dengan begini 'kan kau terlihat segar."
"Heh, tentu saja!" serunya seraya menggosok-gosokkan jari telunjuknya di bawah hidungnya.
Rizal menghela nafas dalam akan sikap Kurnia yang seperti biasa. "Kur, apakah kau sudah membersihkan sidik jarimu dari katana itu?"
Kurnia memutarkan badannya agar ia menghadap ke Rizal. "Sudah, captain! Ada yang kau sanksi-kan lagi?"
"Bagaimana kalau sekarang kau memberitahu para pelayan, Kur? Tapi jangan bilang kalau kau yang membunuhnya," saran Jihan seraya memasukkan plester yang Rizal tunjukkan ke dalam kotak kemasannya. Lalu tatapannya kembali lesu. "Walaupun sungguh disayangkan kau telah membunuhnya, Kur..." gumam Jihan yang hanya terdengar oleh Rizal yang paling dekat dengannya.
Kurnia memukulkan kepalan tangannya di atas tangannya yang menengadah. "Benar juga. Kalau begitu aku panggil para pelayan dulu, ya!"
"Hn. Pergilah sebelum darahnya mengering." Rizal meyakinkan Kurnia agar memberitahu para pelayan lebih cepat, lebih baik.
Kurnia mengangguk sekali dengan yakin, lalu dengan langkah pasti berjalan menuju pintu kamar dan menghilang di baliknya. Meninggalkan Rizal dan Jihan di belakang.
.......
...+++~Lost~+++...
.......
Kurnia terus melangkahkan kakinya menuju mess para pelayan berada. Turunan tangga, lika-liku ruangan, dan koridor panjang telah ia lalui beberapa menit lamanya. Dan tibalah ia di depan salah satu kamar pelayan villa.
Ia menarik nafas sesaat, mempersiapkan diri menghadapi kenyataan. Tangan kanannya bergerak mengetuk pintu kamar di hadapannya dengan tempo cepat dan berseru-seru memanggil pelayan. Semoga saja para pelayan villa telah selesai mengurusi mayat Fitri dan kembali tidur di dalam kamarnya.
Tidak membutuhkan waktu lama Kurnia mengetuk pintu itu karena salah satu pelayan berambut perak dengan masker di wajahnya telah membukakan pintu untuknya.
"Bukan itu!" seru Kurnia dengan nada yang sengaja ia buat agar terkesan panik. "Temanku yang bernama Sandi meninggal!"
"HAH?" ucap pelayan yang bernama Rizki tidak percaya. "Ada apa ini sebenarnya? Baru saja yang perempuan meninggal, lalu sekarang..."
"Sudah! Cepat kau kumpulkan para pelayan yang lainnya dan langsung menuju kamar utama di lantai dua! Aku tunggu."
Kurnia pun berlalu meninggalkan Rizki yang sudah sibuk membangunkan teman satu kamarnya di mess itu.
Dari lubuk hati Kurnia terdalam sendiri... ia merasa sangat bersalah telah membunuh Sandi, ditambah dengan memutarbalikkan fakta oleh mulutnya saat menjelaskan sebuah alasan kepada para pelayan nanti. Dirinya seperti berlari dari kenyataan.
.......
...+++~Lost~+++...
.......
"Rizal?"
Pemuda yang merasa bernama kecil Rizal itu tersadar dari lamunan sesaatnya. Dirinya kini duduk bersila sembari menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Ia mengangkat kepalanya yang merunduk, membalas tatapan mata si pemanggil namanya.
"Hn?"
"Apakah badanmu merasa sakit?"
Rizal kembali teringat akan apa yang diperbuat Sandi terhadapnya saat detik-detik terakhir kehidupan pemuda itu. Tangan kanannya bergerak untuk memegang perutnya yang sempat diberi sebuah hadiah pukulan oleh Sandi.
"Sudah tidak sakit," jawab Rizal sesuai apa yang ia rasakan sekarang.
Jihan yang duduk di tepi ranjang kini mulai mengangkat seluruh kakinya ke atas ranjang dan duduk dengan cara menekukkan kedua kakinya ke belakang di hadapan Rizal. "Kau yakin?"
"Hn," respon Rizal singkat. "Kau lupa kalau sewaktu senior high school dulu aku pemegang sabuk hitam karate? Jadi tak perlu khawatir, aku sudah pernah merasakan yang lebih sakit dari pukulan Sandi itu."
Gadis di hadapan Rizal menghela nafas panjang. "Padahal aku ingin mengobati badanmu."
Sebelah alis Rizal terangkat. "Kenapa kau memasang wajah kecewa seperti itu?"
"Kau tahu? Aku jarang sekali mengobati orang lain, lebih tepatnya kau adalah orang pertama yang ku obati."
Rizal tersenyum kecil. "Oh, ya? Kalau begitu, Kurnia pasien yang ke berapa?"
Dengan reflek, Jihan menepuk dahinya. "Ah, iya! Benar juga. Berarti kau orang kedua dan Kurnia adalah orang yang pertama."
"Makanya kalau mau bicara itu dipikir dulu," komen Rizal sembari menyentil dahi Jihan, sama seperti yang ia lakukan kepada Kurnia sebelumnya.
Jihan hanya dapat meringis kesakitan akibat sentilan dari Rizal. Ia dan Kurnia pernah mengomentari mengenai sentilan menyakitkan yang sering Rizal lakukan kepada mereka berdua, tetapi bukannya berhenti, Rizal malah menambah daya tekan di sentilannya sehingga menjadi sangat menyakitkan seperti sekarang.
Di lain tempat, Kurnia terus menaiki tangga menuju lantai dua villa dengan santainya menuju kamar di mana Rizal dan Jihan berada. Di dalam otaknya terus memikirkan alasan yang tepat jika nanti ditanya oleh para pelayan mengenai alasan Sandi meninggal.
Kembali ke situasi di dalam kamar. Iris onyx kelam Rizal terus memandang ke arah Jihan yang tengah kesakitan akibat sentilan yang ia berikan di dahinya. Ia terus memandangi sahabat perempuan sedari kecilnya itu hingga tanpa disadari Jihan yang berada di hadapannya menatap balik ke arahnya.
Kurnia terus menelusuri koridor dengan jalannya yang lemas. Ketika sampai di pertengahan koridor, tiba-tiba dirinya mendapatkan alasan yang menurutnya logis mengenai alasan Sandi meninggal di dalam kamar dengan kondisi seperti itu. Kini ia melanjutkan setengah perjalanannya menuju kamar yang hanya beberapa langkah lagi.
"Rizal?" Jihan melambai-lambaikan salah satu tangannya di udara. "Apakah kau baik-baik saja?"
Suara Jihan terdengar ke luar ruangan kamar hingga ke gendang telinga Kurnia. Kenapa? Bukankah hujan di luar sangat deras? Tanpa berpikir panjang lagi, tangan Kurnia memegang handle pintu kamar dan berniat membukanya.
"Ji, jika salah satu sahabat sedari kecil mu mencintai dirimu, bagaimana?"
Suara pertanyaan Rizal terdengar oleh pendengaran Kurnia saat pintu kamar berhasil terbuka sedikit. Pertanyaan itu sukses membuat dirinya berhenti kaku di depan pintu. Dan... bagus, ia mengalami kejadian seperti ini dua kali dalam sehari di lain posisi, hanya dipisahkan jarak beberapa waktu, dan mempunyai tujuan langkah kaki yang sama. Ruang tidur villanya.
Jihan yang mendengar pertanyaan Rizal yang menurutnya kadang terlalu memusingkan kepalanya ini hanya bisa diam membisu. "Hah? Maksudmu?"
"Maksudku, jika aku atau Kurnia mencintaimu dan menyatakannya, bagaimana reaksimu?" jelas Rizal mengenai pertanyaan yang sebelumnya dan masih berupa pertanyaan.
Kurnia yang hanya mendengarnya saja merasa dirinya juga tersangkut-paut oleh pertanyaan Rizal. Tunggu. Tersangkut-paut? Jangan-jangan...
Jihan berusaha mengalihkan topik. "Mengapa kau bertanya seperti i—"
Bunyi petir yang menggulung dan mengalun lembut di langit hitam di luar sana membuat Jihan terpaksa menghentikan perkataannya. Tubuhnya bergetar ketakutan dan berharap semoga petir itu tidak mengeluarkan suara yang menggelegar karena ia sungguh ketakutan.
Melihat tubuh Jihan yang bergetar hebat membuat Rizal sedikit khawatir dengannya. Tangan kanannya terulur ke pundak Jihan dan mengguncangkan nya sedikit. "Ji, kau tak apa-apa?"
Dengan terbata-bata Jihan menjawab, "Tidak apa-ap—"
Suara petir menyambar kembali hadir dengan tiba-tiba beserta suaranya yang sangat lantang. Jihan pun dengan rasa terkejutnya langsung memeluk Rizal yang berada di depannya tanpa segan-segan dan pemikiran terlebih dahulu.
Rizal yang langsung dipeluk pun meringis kesakitan karena luka pukulan Sandi di badannya. Aneh, perasaan saat disentuh oleh tangannya luka itu tidak sakit. Atau Jihan terlalu menekan—lebih tepatnya, menghantam badannya terlalu keras hingga sangat terasa? Baiklah, sekarang Rizal tidak memikirkan hal itu. Iris onyx-nya kini sedang terpaku oleh pucuk kepala Jihan.
Sedangkan Kurnia yang berada di balik pintu—di luar ruangan kini sedang tercengang akan apa yang telah Jihan lakukan kepada Rizal. Yah, walaupun karena rasa terkejut, tetapi 'kan mereka perempuan dan laki-laki!
__ADS_1
Setelah beberapa saat kepalanya berada di dada bidang Rizal, Jihan langsung menyadari akan tindakan dan di mana dirinya sekarang berada.Jihan terkesiap. Ia berusaha bangkit dari posisinya seraya berkata, "Maafkan aku, Zal! Aku tak—"
Merasakan pergerakkan Jihan yang mulai menjauh, kedua lengan Rizal dengan sigap langsung memeluk badan Jihan agar mendekat ke tubuhnya kembali dan dikunci dengan rangkulan yang sangat erat.
Mata pemilik iris Aquamarine itu terbelalak lebar. Kurnia sama sekali tidak menduga akan reaksi Rizal yang sekarang ini terjadi. Ia tidak tahu mengapa saat Rizal memeluk Jihan seperti itu dadanya merasa nyeri. Ingin rasanya kakinya melangkah mendekat ke arah mereka berdua, lalu memisahkan mereka. Tetapi di satu sisi lain, kakinya juga ingin beranjak pergi dari tempatnya berdiri sekarang, lalu mencari tempat yang sunyi untuk berdiam diri sendirian.
Kurnia menggeleng-gelengkan kepalanya keras, berusaha mengenyahkan segala pemikirannya yang tidak jelas asalnya itu. Kini yang hanya bisa lakukan sekarang adalah tetap berdiam diri di tempatnya dan terus melihat ke arah Rizal dan Jihan di dalam kamar sana.
Kepala Rizal menunduk untuk mendaratkan mulut dan hidungnya di atas pucuk kepala Jihan. Aroma tubuh Jihan menyelinap masuk melalui indra penciumannya. Ia tidak tahu apa yang telah dilakukannya, otaknya seperti memerintah tubuhnya bahwa nikmatilah sesaat apa yang telah kau lakukan. Rasanya ia tak ingin melepaskan pelukannya. Baiklah, Rizal memang sudah gila saat ini.
Jihan yang masih berada dalam dekapan Rizal hanya bisa diam membisu. Ia tidak dapat mengingat apa yang terjadi dan bagaimana ekspresi pasti raut wajah Rizal saat hendak memeluknya. Yang ia tahu hanyalah Rizal memeluknya dengan gerakan cepat.
Merasa risih dengan keadaan seperti ini, Jihan pun berupaya untuk melepaskan diri dari pelukan Rizal. "Zal, kau bisa lepaskan aku?"
Mendengar suara Jihan yang meminta untuk dilepaskan dengan kalimat tanya membuat Rizal tersadar dari pikiran kosongnya. Dengan sigap Rizal langsung melepaskan Jihan dari pelukannya. Kedua tangannya yang mencengkram erat kedua lengan atas Jihan secara perlahan mengendur dan menjauh.
Rizal menundukkan kepalanya. Tidak berani menatap Jihan. "Maafkan aku, Ji... Aku—"
Perkataan Rizal berhenti begitu saja karena ia merasakan ada sebuah tangan yang mengelus kepalanya lembut. Karena penasaran Rizal pun mengangkat wajahnya. Dan sesuai dugaannya, sang empunya tangan itu adalah Jihan.
Jihan terus mengelus kepala Rizal sambil tersenyum menatap Rizal yang sudah membalas tatapan matanya. "Aku tahu, pasti kau merasa kesepian, 'kan?"
Tidak ada kata-kata yang keluar untuk membalas kalimat Jihan. Mata onyx yang setajam elang itu hanya terus menatap ke arah emerald Jihan. Menunggu kelanjutan dari perkataan gadis itu.
Jihan melanjutkan kalimatnya. "Kau merasa kesepian karena kedua orang tua mu sudah tidak ada sejak belasan tahun lalu."
Seketika Kurnia terkesiap kaget. Ia menundukkan kepalanya, matanya melihat lantai kayu di bawah alas kakinya. "Rizal tidak ada orang tua? Bukankah waktu itu ia bilang…" bisik Kurnia dengan suara yang sangat kecil. Pandangannya kembali ke arah Rizal dan Jihan berada. "Apa maksudnya?"
Jihan menurunkan tangannya dari pucuk kepala Rizal. "Nah, ayo semangat! Jangan bersikap aneh seperti itu!" ujar Jihan penuh percaya diri.
Seulas senyuman ditahan Rizal agar tidak muncul ke permukaan. Tampaknya ia senang karena ada orang yang menghiburnya di saat seperti ini.
Pemuda berkulit tan yang masih berada di balik pintu kamar untuk mendengar percakapan mereka itu, kini dipenuhi oleh beragam macam pertanyaan di pikirannya. Saking banyaknya, otaknya yang memiliki IQ terbatas itu tidak bisa lagi berpikir lebih jauh.
Ketika dirinya bertanya-tanya sendiri dalam diam, tiba-tiba suara seseorang hadir membangunkan Kurnia yang sudah tenggelam di dalam lautan pertanyaan. Membuat ia tersentak kaget.
"Permisi, Tuan Muda… Ada yang bisa kami bantu?" ucap Indra, si wakil kepala pelayan. Kepalanya sedikit ia miringkan karena merasa bingung dengan adanya Kurnia di ambang pintu masuk.
Kini wajah Kurnia seperti menjadi orang yang panik karena kepergok sedang melakukan sesuatu yang negatif. Di saat panik seperti itu, otaknya berusaha merangkai sebuah kata yang nyaman diucapkan. Hei, apakah menguping pembicaraan orang tanpa disengaja termasuk perbuatan yang negatif?
"Hah? Ah, tidak aku baru saja habis keluar dari kamar mandi," jelas Kurnia disertai cengiran andalannya. Ia merasa menyesal telah mengeluarkan kalimat penjelas yang rada aneh. Semoga saja tidak ketahuan.
Pelayan villa bernama Rizki—yang berada di belakang Indra—memajukan langkahnya mendekati Kurnia. "Kalau begitu, bisakah Anda tunjukkan mayat Tuan Muda Sandi berada?"
"Ya, silakan masuk ke dalam." Kurnia mendorong pintu kamar yang memang sudah ia buka itu dengan perasaan rileks dan biasa. Seperti ia tidak mendengar percakapan Rizal dan Jihan sebelumnya.
Kedatangan Kurnia beserta para pelayan di balik punggungnya mendapat sambutan hangat oleh sepasang iris onyx dan emerald dari atas kasur.
"Kur, baguslah kau sudah kembali!" ucap Jihan menyambut kedatangan Kurnia dan para pelayan.
Kepala Kurnia mengangguk pasti sambil tersenyum sumringah. "Ya, para pelayan sudah datang membantu kita." Sesekali iris aquamarine-nya melirik ke arah Rizal yang sedang memandang lantai kayu tanpa ekspresi yang jelas. Apakah Rizal baik-baik saja? Jika ada kesempatan, ia ingin menanyakan seluruh pertanyaan yang ia pendam saat ini.
"Baiklah, kami meminta izin untuk mendekatinya, boleh?" tanya Zaki yang juga salah satu dari pelayan villa. Ia tampak membawa sebuah kantung jenazah yang masih terlipat rapi di tangannya.
"Hm... ya, tentu." Kurnia memberi jalan para pelayan untuk melihat lebih dekat tubuh tak bernyawa Sandi yang berakhir di tangannya.
Para pelayan berjalan mendekat ke arah tubuh kaku Sandi, lalu berjongkok di sekitarnya. Melihat kondisi aneh kematian Sandi para pelayan pun mulai membicarakan dan berbisik satu sama lain. Bagi mereka semua, kematian Sandi yang seperti ini sangat tidak masuk akal.
Karena rasa penasaran yang tinggi, seorang pelayan yang bernama Deni memberanikan diri untuk bertanya, "Mmm, apakah Anda sekalian bisa menjelaskan jenis kematian Tuan Muda Sandi ini? Maksud saya, apakah alasan kematian Tuan Muda Sandi ini karena dibunuh?"
Rizal, Kurnia dan Jihan terdiam sesaat. Tidak tahu apa yang harus mereka ceritakan. Bicara jujur... atau berbohong?
Takut dicurigai karena berdiam diri terlalu lama, pada akhirnya Jihan memutuskan untuk membuka suara terlebih dahulu. "Sandi itu—"
"Sandi itu bunuh diri."
Suara Kurnia memotong perkataan Jihan dengan tegas. Membuat seluruh arah pandangan mata menuju ke arahnya. Tak terkecuali Rizal dan Jihan.
Sekilas Kurnia seperti tersenyum tipis hampir tak terlihat ke arah Rizal dan Jihan yang masih menatapnya khawatir. Dan itu pertanda bahwa serahkan saja semuanya kepada Kurnia sedangkan kalian silakan duduk dan mendengarkan.
Kurnia menarik nafas dalam, mengambil ancang-ancang untuk menceritakan kepada para pelayan. "Seperti apa yang kukatakan sebelumnya, Sandi bunuh diri. Kenapa? Karena dia sudah gila."
Tampak raut wajah bertanya di setiap para pelayan. Menunggu Kurnia melanjutkan perkataannya selanjutnya.
"Bagaimana bisa ia kubilang gila padahal sebelumnya ia baik-baik saja? Coba saja kalian pikirkan, jika kalian sedang berbicara dengan teman-teman kalian di dalam kamar dan tiba-tiba salah seorang teman kalian membuka pintu dengan hentakan yang sangat keras, lalu langsung menuduh orang secara sembarangan sebagai pembunuh ditambah ia telah memegang tali di tangannya, apakah dia tidak gila?
"Dan karena kegilaannya menuduh seseorang itu, ia dengan seenaknya mengikat sahabatku, Rizal, di kursi dan mendaratkan pukulan fisik secara bertubi-tubi hingga sahabatku sempat lemas sesaat dan babak belur!" Jari telunjuknya menunjuk ke tempat Rizal berada. Nada bicara Kurnia meninggi secara tajam di akhir kata-katanya.
Dapat dipastikan, sekarang Rizal dibanjiri oleh tatapan prihatin para pelayan. Dan ini membuat Rizal merasa risih dan tak nyaman. Ia tak suka diperhatikan dengan tatapan kasihan seperti ini. Ia sudah seperti korban bencana alam saja.
"Karena aku dan sahabat perempuanku, Jihan, tidak percaya atas segala tuduhannya kepada Rizal, akhirnya ia memutuskan untuk mengambil katana dan menancapkannya dari balik punggungnya karena ia sempat berteriak kalau ia ingin menodai kamar ini dengan darahnya yang muncrat ke segala arah sambil berteriak seperti orang yang lebih gila dari orang gila biasa. Tapi seperti yang kalian lihat, itu tidak berhasil."
Kurnia menghela nafas, mengatur emosinya sesaat. "Setidaknya itu adalah ringkasan cerita yang terjadi di sini beberapa saat yang lalu." Ia membuang muka ke arah yang lain. Jantungnya berdebar kencang. Apakah penjelasannya dapat diterima dengan masuk akal?
Zaki membelalakan matanya. "Tak kusangka cerita dan masalahnya akan seperti ini."
"Mungkin karena ia kebanyakan pikiran hingga ia mendadak menjadi gila seperti itu," timpal Rizki setelah Zaki bersuara.
"Ya, bisa jadi," respon Deri.
Dan mulailah para pelayan kembali berisikan satu sama lain, bercengkrama mengenai apa yang barus aja diceritakan oleh Kurnia. Berbagai opini keluar dari tiap pelayan yang ada.
Merasa tidak enak kepada para tamu, Indra, selaku wakil kepala pelayan yang sudah menggantikan posisi kepala pelayan Deni, memerintahkan anak buahnya untuk segera membereskan apa yang sudah terjadi di kamar ini.
"Baiklah, bincang-bincang kalian cukup sampai di situ! Silakan laksanakan tugas kalian masing-masing seperti apa yang sudah ku beritahukan saat berada di bawah tadi. Cepat!"
Dengan sigap para pelayan pun melaksanakan tugasnya masing-masing, sesuai apa yang dikatakan oleh pimpinan mereka.
Saat melihat Zaki berusaha untuk mencabut katana yang menembus badan Sandi, perasaan menyesal kembali menyelubungi hati Kurnia. Dadanya terasa nyeri mengingat kejadian yang sebenarnya terjadi—apa yang dilakukan olehnya kepada Sandi oleh katana itu.
Tidak lama kemudian, mayat Sandi diangkat dan dimasukkan ke dalam tas khusus jenazah yang dibawa oleh Zaki tadi. Dan beberapa pelayan yang lainnya langsung bertindak untuk membersihkan seluruh noda darah yang ada. Sedangkan, wakil kepala pelayan Indra sibuk untuk memberi komando dan mengawasi para anak buahnya.
Setelah tidak terlihat sedikit noda darah pun di sekitar area tubuh Sandi tergeletak sebelumnya, Indra memerintahkan anak buahnya untuk saling bahu-membahu membawa mayat tersebut dan segera menguburkannya di samping kawan yang telah mendahuluinya.
Sekali lagi, Kurnia menatap kepergian Sandi untuk yang ke terakhir kalinya. Ingin rasanya ia menangis dan meraung sejadi-jadinya karena rasa penyesalan yang menggerogoti hatinya. Tiba-tiba ia teringat akan momen-momen dimana dia bersama Sandi. Ia pernah curhat dan bertanya akan perasaan apa yang ia rasakan kepada Jihan. Hingga tiba pada ingatan dimana ia meninggalkan Sandi sendirian di depan ruang dapur dan ia menjadi gila setelahnya.
Tunggu. Apakah ada yang aneh?
Ketika para anak buahnya sudah menghilang dari pandangan. Indra membalikkan badannya menghadap Rizal, Jihan, dan Kurnia berada.
"Kami sudah membersihkan noda darah yang ada, lalu mayat Tuan Muda Sandi akan segera kami kuburkan secepat yang kami bisa. Silakan kembali beristirahat dengan tenang karena tampaknya kondisi Anda sekalian sangat tidak fit sekarang ini. Apakah sekarang ada sesuatu yang Anda bertiga butuhkan?" tutur panjang Indra disertai kalimat tanya di akhirnya.
Jihan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak ada, terima kasih," jawab Jihan mewakili Rizal dan Kurnia yang masih termenung.
Jika kalian membutuhkan sesuatu, Anda bisa langsung bilang kepada kami. Jangan sungkan." Indra tersenyum ke arah Jihan dan dibalas sebuah anggukkan oleh Jihan sendiri.
Melihat hal tersebut, Rizal merasa tidak suka. Sehingga tanpa disadari ia menatap Indra dengan tatapan tajam dan dingin. Tapi sepertinya Indra tidak sadar akan hal itu. Dan memang lebih baik seperti itu.
"Baiklah, kalau begitu, saya permisi dari hadapan Anda." Indra membungkukkan badannya, merasa hormat kepada para tamunya.
Saat Indra memberanjakkan kakinya kurang dari lima langkah, tanpa perhitungan suara Kurnia membuat Indra menghentikan langkah kakinya.
"Tunggu, Indra..."
Perintah Kurnia kepada Indra berhasil membuat Rizal dan Jihan menolehkan kepala ke arahnya. Menatapnya dengan bingung.
Sang pemilik nama yang dipanggil oleh nama Indra itu membalikkan badannya menghadap langsung ke arah Kurnia. Sejajar.
"Ya, Tuan," jawabnya dengan senyuman ramah khas pelayan di wajahnya.
Untuk beberapa saat Kurnia diam membisu. Entah apa yang dipikirkannya. Raut wajahnya saat ini sama sekali tidak menggambarkan ekspresi apapun, seperti kertas yang masih kosong.
Karena merasa tidak enak dengan keadaan tamunya yang bernama Kurnia itu, Indra sedikit memiringkan kepalanya. "Tuan Muda?"
Mendadak Indra membatalkan apa yang akan ia katakan. "Tidak, tidak jadi." Kurnia kembali menampilkan cengiran nya yang bagaikan matahari.
"Anda yakin, Tuan Muda? Saya sama sekali tidak keberatan jika Anda meminta sesuatu kepada saya," Indra berusaha membujuk Kurnia yang secara tiba-tiba mengurungkan niatnya untuk berbicara. Barangkali ada perubahan keputusan dari Kurnia.
Pemilik kepala yang berhiaskan rambut jabrik kuning itu menggeleng pelan dengan sedikit menunduk seraya menutup matanya. "Tidak. Tidak apa-apa." Kurnia mengangkat kepalanya, menatap Indra yang berada beberapa meter di hadapannya. "Jika aku menginginkan sesuatu, aku akan bilang kepadamu, kok."
Melihat senyuman Kurnia yang tanpa beban sedikit pun membuat Indra merasa lega dan membalas senyuman Kurnia dengan sama tulusnya.
"Baiklah, kalau begitu. Saya permisi." Indra membungkukkan badannya kembali, tetapi ini khusus untuk Kurnia.
Indra pun kembali melangkahkan kakinya menuju pintu kamar berada. Saat ia hendak menutup pintu kamar, Indra menyempatkan diri untuk menyampaikan sepatah dua kata kepada Rizal, Jihan, dan Kurnia.
"Selamat beristirahat."
Lalu, pintu pun tertutup dengan sangat pelan dan sopan.
Berhubung Indra sudah pergi dari kamar ini beberapa menit lamanya, pada akhirnya Jihan memutuskan untuk mengakhiri keheningan yang sudah terbentang sejak tadi. "Kur, lebih baik kau istirahat. Bukan 'kah keningmu masih sakit akibat benturan tadi?"
Mendengar Jihan berbicara mengenai benturan, Kurnia baru mengingat kembali akan rasa sakit yang selalu menghalangi gerak-geriknya ini. Tapi saat Kurnia tersadar ke dunia nyata, entah kenapa dahinya itu sudah tidak sesakit seperti yang sebelumnya ia rasakan.
Tunggu. Ini tidak penting. Yang terpenting sekarang Kurnia harus mengungkapkan suatu gagasan yang penting ke Rizal dan Jihan. Segera.
Kurnia melangkahkan kakinya menuju Rizal dan Jihan berada. Derap langkah kaki tegas Kurnia seperti akan mematahkan lantai dua villa yang terbuat dari kayu ini. Tentunya, suara langkah kaki yang tidak biasa ini menarik perhatian dan memberhentikan aktifitas sang pemilik iris onyx dan emerald yang sedang bersiap untuk merebahkan dirinya di atas kasur karena terlalu lelah dengan semua ini.
Rizal yang melihat ekspresi Kurnia yang tidak biasa ini mengutarakan pertanyaannya, "Kurnia, ada apa denganmu?"
Sedangkan Jihan yang berada di sebelah Rizal hanya bisa berdiam diri. Tidak dapat mengira apa yang sedang terjadi.
Kurnia memandang kedua orang sahabat semasa kecilnya ini secara bergantian. Rasa was-was hadir di pikirannya. Kurnia memasang raut wajah dan sorot mata yang serius saat bertatapan mata dengan kedua sahabat semasa kecilnya itu.
"Rizal, Jihan...Kita harus keluar dari villa ini."
__ADS_1
...~Lost In Nightmare~...
...To Be Continued…...