Lost In The Nightmare

Lost In The Nightmare
The Story Has Come Out


__ADS_3

Minta maaf jika alur cerita atau plotnya tambah tidak jelas, pendeskripsian yang hancur berantakan, setiap adegan per scene nya tidak terasa, miss typo yang bertebaran, dan lain sebagainya yang dapat kalian temukan di dalam Cerita ku ini. Tolong dihargai usahaku dalam menyempatkan diri membuat cerita ini walau gelombang badai yang silih berganti menimpa hidupku. #Bhah


Tanpa basa-basi lagi,


...NIGHTMARE 13...


...The Story has Come Out...


"Tragedi 'ruangan terakhir'."


Perkataan Deni tepat mengenai setiap hati para pendengar yang ada di ruangan itu, ya... ruangan terakhir.


"A-apa yang kau maksud? 'Ruangan terakhir'?" tanya Fitri dengan disertai raut wajah yang tidak percaya oleh apa yang ia dengar dari mulut Deni sendiri.


"I-itu 'kan nama ruangan yang sedang kita tempati sekarang!" Kurnia sudah tidak dapat menahan emosi ketakutannya sekarang ini. Tubuhnya merinding tepat saat Deni menyebutkan nama 'ruangan terakhir'.


Indra—sang wakil kepala pelayan di villa tersebut—membelalakkan matanya. Tidak percaya. "A-Apa yang kau bilang tadi? Bisa tolong diulangi sekali lagi?" kata Indra karena menurutnya kemungkinan besar ia salah dengar.


Tidak ada respon sedikit pun dari Deni yang sudah menundukkan kepalanya ke bawah, yang dapat dilihat olehnya saat ini hanyalah sebuah lantai marmer yang menghiasi tempat pijakan kakinya itu. Warna lantai itu kini sama seperti perasaan yang berada di dalam dada dan pikirannya saat ini. Abstrak.


"Sssttt... kalian tenang sebentar, biar 'kan dia menjelaskan masalahnya." ucap Sandi berusaha menenangkan yang lainnya, padahal ia tahu bahwa dirinya sendiri juga dipenuhi oleh perasaan kesal dan amarah.


Di saat semuanya menanti kalimat-kalimat yang akan dilontarkan Deni, sesuai dugaan mereka... Deni melanjutkan perkataannya.


"Dulu, dua puluh tiga tahun yang lalu, ada sebuah kejadian yang-tidak-diundang di tempat ini. Ada sebuah keluarga yang datang: Ada anak kecil, anak muda, dewasa, bahkan yang sudah lanjut usia sekalipun... Sebuah keluarga besar, bukan keluarga inti." jelas Deni di akhir kalimatnya.


"Mereka bersenang-senang di villa ini, dan sering menghabiskan waktu bersama anggota keluarga yang lainnya, di sebuah ruangan yang sekarang sedang kita tempati... disini... di ruangan terakhir."


Bulu kuduk mereka kembali meremang dan berdiri saat mendengar kata ruangan terakhir.


"Waktu demi waktu dan hari demi hari pun keluarga itu lalui dengan canda tawa. Termasuk di sebuah kolam renang—tempat dimana Tuan Muda Sendi menutup matanya, sama seperti yang kalian lakukan beberapa saat yang lalu."


"Ja-jadi—"


"Diam, Kurnia! Lanjutkan dengan kejujuran dan keterbukaan." sela Sandi yang sedari tadi terlalu fokus dengan cerita sang kepala pelayan.


"Tapi, canda tawa mereka tidak berlangsung lama, karena... ada sesuatu yang di luar dugaan menghampiri mereka semua. Sesuatu yang di luar naluri manusia, sesuatu yang tidak diundang kedatangannya dan..." Tanpa ia sadari nada bicaranya meninggi dan tangannya yang terkepal mengeluarkan zat cair berwarna merah dari telapak tangannya.


Melihat keadaan atasannya yang seperti itu, salah satu dari pelayan tersebut—yang bernama Deri—berkata, "Tuan, tangan Anda..." Badannya bergerak sedikit untuk mendekati Deni dan ber-inisiatif untuk mengobati lukanya.


Deni mengangkat tangannya yang tidak berdarah. "Cukup! Tidak perlu, aku baik-baik saja."


"Baik, Tuan." Deri menempati posisi berdirinya kembali seperti biasa, saat ia mendengar cerita dari Tuan-nya, Deni.


Kepala pelayan itu menarik nafas sebentar. "Saya sendiri tidak tahu, kejadian yang saya lihat itu sebuah kesengajaan atau tidak. Membayangkannya saja sudah seperti mengalami nightmare yang buruk, sangat buruk." Deni menundukkan kepalanya lebih dan lebih dalam lagi. Jari-jari tangannya menjambak rambut hitamnya yang panjang.


"Lalu? Apa yang terjadi pada saat itu?" tanya Jihan dengan wajah polosnya.


"Pada saat itu... pada saat itu..." Deni tidak dapat lagi membendung air matanya, perlahan tapi pasti zat cair yang berasal dari dalam matanya itu keluar menelusuri pipinya yang berkulit putih pucat.


"Dulu, terdapat sebuah kipas angin besar tepat di tengah langit-langit ruangan 'ini'..." Secara serempak mereka yang ada di dalam ruangan itu mendongakkan kepalanya sesuai dengan letak kipas angin yang Deni ceritakan tadi.


"Mana? Tidak ada?" tanya Kurnia.


"Itu dulu, Kur... bukan 'kah tadi Deni bilang 'dulu'? Please, jangan gunakan otak bodoh mu di saat seperti ini." celetuk Rizal yang sudah kesal dengan sifat Kurnia sedari tadi.


"Oh, yes, Sir!" Tangan kanannya bergerak untuk melakukan posisi hormat tepat di pelipis matanya.


Rizal hanya dapat menghela nafas panjang dan memutar bola matanya. "Lalu? Ada apa dengan kipas angin besar itu?" Rizal menyandarkan badannya ke bantalan sofa yang empuk di belakang punggungnya seraya melipat kedua tangannya.


Mata Deni melirik sedikit ke arah sosok Rizal berada, dan tentu tatapan mata Deni dapat dirasakan oleh Tuan Muda kita satu ini. Tatapan mata mereka saling bertabrakan satu sama lain. Tidak berselang beberapa lama, Deni mengalihkan tatapan matanya dari Rizal dan kembali mengamati lantai marmer serta kembali melanjutkan cerita 'dongeng'nya.


"Kipas itu... Bukan kipas, lebih tepatnya... baling-baling kipas itu entah kenapa dapat terlepas dari putaran porosnya."


Keringat dingin secara perlahan mulai mengalir keluar dari dalam kulit kepala Fitri. "Te-terlepas? Kenapa bisa?" ucap Fitri dengan—sekali lagi—wajah tidak percaya nya.


"Sssttt..." Jihan memberikan tanda kepada Fitri yang telah mengeluarkan suaranya agar segera mengunci mulutnya dan menyimpan kata-katanya. Fitri dan Kurnia ternyata sama saja.


Beberapa detik kemudian, Deni melanjutkan perkataannya.

__ADS_1


"Setelah terlepas dari putaran porosnya, baling-baling itu terbang dengan sendirinya. Satu persatu anggota keluarga itu kehilangan nyawanya. Ada yang kepalanya terpenggal, ada yang kepalanya terbelah menjadi dua, ada yang tangan dan kakinya terputus saat hendak melarikan diri, dan... yang paling aku ingat, ada seorang laki-laki yang berlari kepadaku saat aku menyusul ke ruangan 'ini'. Dia berlari kepadaku sambil meminta tolong dan mengulurkan tangannya, saat aku hendak menggapai tangannya..."


CTAAAARRR!


"KYAAAA!"


Para perempuan histeris karena mendengar suara petir yang bervolume tinggi tepat pada titik point cerita yang hampir mencapai klimaksnya. Mungkin.


"Bisa 'kah kalian merespon biasa saja?" ujar Sandi seraya menutup telinganya yang masih sakit akibat mendengar lengkingan suara perempuan, baik dari pihak pelayan maupun dari pihak sahabatnya sendiri.


Kurnia mengangguk setuju. "Hm, hm... Teriakan kalian sungguh berleb—"


"Diam kau, Kur" Ucap Rizal dengan tegas.


"Memangnya kenapa? 'kan aku hanya—"


"Diam."


"Hey, dengarka—" kata Kurnia tidak mau kal—


"Diam!" Sekarang semuanya berseru bersamaan. Hei, kenapa pendeskripsian ku yang di atas juga dipotong? Ya, sudahlah... Lanjut ke cerita.


"Oh, OK, baiklah, aku akan di-am! Puas?" Dan pada akhirnya Kurnia pun menyerah akan perlawanan dari teman-temannya.


Kurnia kembali berbicara, "Tolong dilanjutkan ceritanya." Kepala Rizal berhadapan dengan Deni, kembali.


Deni menyenderkan badannya ke bantalan sofa di belakangnya, sama seperti yang Rizal lakukan. Dia membuat ruangan diantara kaki kanan dan kirinya, kedua tangannya saling ia tautkan, dan pergelangan tangan bawahnya bertumpu pada kedua pahanya.


"Seketika ruangan itu berubah menjadi lautan darah. Darah merah mereka mengganti seluruh cat dinding di ruangan ini, semuanya... Tubuh mereka tidak bernyawa tepat—ah, tidak—lebih tepatnya berantakan di ruangan yang kita duduki sekarang."


"Tunggu. Bukannya kau bilang ada seseorang yang meminta tolong padamu?" Jihan bertanya dengan rasa penasaran yang melanda di dalam dirinya.


Karena pertanyaan yang Jihan ajukan mewakili pemikiran teman-temannya yang lain, yang lainnya hanya menunggu kembali cerita dari Deni.


"Apakah dia selamat?" lanjut Jihan.


Deni berpikir keras, seakan-akan dia benar-benar kembali ke dalam masa itu. "Dia... Dia..." Tercipta kesunyian selama beberapa detik. "... mati."


"Ke-kenapa? A-apa yang terjadi dengannya?" timpal Fitri mewakili pertanyaan dari teman-temannya, juga.


"Saat saya hendak menolongnya, baling-baling kipas angin itu sukses membelah badannya menjadi dua. Darah segar nya bermuncratan ke seluruh tubuh dan wajah saya. S-saya... saya..." Nafas Deni memburu. Tidak teratur.


"...'saya'... kenapa?" tanya Zaki, salah satu pelayan kepercayaan Deni.


Deni kembali menghirup nafas dalam-dalam, berupaya mengatur nafasnya kembali normal seperti sedia kala. "Saya... merasa bersalah," Kedua tangannya bergerak untuk memegang kepalanya, dan menunduk sedalam-dalamnya. "Maaf, maaf, maafkan saya... maafkan saya karena tidak dapat menolong'mu'."


Mendengar Deni meminta maaf kepada orang itu, Rizal merasa bingung. "Hn? Untuk apa kau meminta maaf? Dia sudah tidak ada, untuk apa kau meminta maaf?"


Deni menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak, sekarang dia sudah kembali datang kembali ke dunia setelah dua puluh tiga tahun lamanya."


Sandi mengambil secangkir teh hangatnya—yang kini sudah tidak lagi hangat karena cuaca dingin lebih dominan di dalam ruangan ini—dan meneguknya sedikit demi sedikit. "Heh, maksudmu 'dia' bereinkarnasi? Orang yang sudah mati tidak mungkin bereinkarnasi." Ia kembali meletakkan cangkir tehnya ke tas meja kecil di depannya.


"Me-memangnya siapa yang menurutmu sama seperti 'dia' yang ingin kau tolong?" tanya Fitri dengan rasa penasarannya yang menggebu-gebu.


Mata tajam Deni melirik ke arah mereka, para tamu villa nya. "Maaf jika saya lancang, 'dia'..." Tatapan matanya kini terfokus pada salah satu dari tamunya. "Dia mirip sekali denganmu."


Seketika itu juga semua tatapan mata dengan disertai tampang tidak percaya tertuju kepada 'dia' yang dimaksud Deni. "Rizal?" ucap mereka serempak.


Rizal yang sekarang menjadi pusat perhatian di ruangan terakhir itu sedikit terkejut, tapi tetap dengan gaya stoic andalannya. Ia mengangkat sebelah alisnya. "Aku? 'Dia' mirip denganku? Heh, yang benar saja." Mata onyxnya bergerak untuk melihat sekelilingnya. "Bisa 'kah kalian tidak menatapku seperti itu?"


Mendengar pernyataan dari seorang Rizal, semua orang yang menatapnya langsung membuang pandangan mereka ke segala arah yang ada.


Dan yang hanya dilakukan Rizal saat ini ialah menghela nafas sepanjang-panjangnya. "Memangnya persamaan ku dengan 'dia' itu apa?" Matanya mengintimidasi Deni.


Iris mata si kepala pelayan melihat Rizal dengan seksama dan menjabarkannya secara rinci. "Iris matanya... hidungnya... bentuk rahangnya... warna kulitnya..."


Rizal yang dilihat secara detail oleh Deni, perasaannya merasa tidak enak. Jawaban yang keluar dari mulut Deni dipotong oleh pertanyaan Rizal yang kedua. "Perbedaannya?"


Seketika tatapan mata Deni berakomodasi minimum dan merilekskan badannya dengan menyandarkan tubuhnya ke punggung sofa di belakangnya. Dan dengan lugas, singkat, dan cepat Deni berkata, "Tatapan mata, keturunan, dan sifat." Kata 'sifat' di akhir kalimat diberi sedikit penekanan intonasi.

__ADS_1


"Hmph..." Kurnia menahan tawanya karena mendengar pernyataan dari Deni yang—menurutnya—lucu.


Dengan sekejap, mata elang Rizal menatap Kurnia dengan intens disertai dengan aura gelap di sekelilingnya. Dan yang hanya dapat Kurnia lakukan adalah diam seribu bahasa dan menelan air ludahnya sendiri. Ah, dan tidak ketinggalan juga cengiran andalannya.


"Dimanakah mereka dikuburkan?" tanya Sandi yang ingin menyudahi adegan tidak jelas antara Rizal dan Kurnia.


Deni tidak menjawab. Raut wajahnya tampak sedang memikirkan sesuatu.


"Bolehkah kami melihatnya?" timpal Jihan.


Fitri mengangguk pertanda setuju dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Jihan. "Un, dan sekalian berziarah juga." ungkap Fitri menambahkan kalimat Sandi dan Jihan.


Keringat dingin mulai mengalir di pelipis matanya. "Jasad mereka..." Mata Deni melihat mereka satu persatu, lebih tepatnya melihat ekspresi mereka. "Jasad mereka... saya kubur disini."


DEG!


"A-apa? Apa saya tidak salah dengar?" kata Zaki dengan cengiran ambigunya.


Sekarang Deni hanya dapat tertunduk lesu dengan pandangan mata yang kosong. Menyesal. "Maafkan saya, saya tidak tahu lagi harus mengubur jasad mereka yang terbilang cukup banyak itu dimana lagi... saya..."


BUAGH!


"DASAR MANUSIA TIDAK PUNYA OTAK! APAKAH KAU TIDAK MEMIKIRKAN BAGAIMANA ARWAH MEREKA NANTI, HAH?" Rizal menarik kerah kemeja putih Deni dengan menggunakan kedua tangan kekarnya.


"Zal, tenangkan dirimu! Kau lihat? Karena kau memukulnya dengan keras, dia jadi seperti itu." Kurnia menarik Rizal ke belakang, berusaha untuk memisahkan ia dengan Deni, tetapi jari-jari Rizal masih menggenggam kerah kemeja kepala pelayan itu dengan sangat erat.


Teman perempuan Rizal yang bermahkota kan rambut berwarna dark brown akhirnya ikut membantu usaha yang dilakukan oleh Kurnia. "Zal, lepaskan tanganmu dari kerahnya! kasihan 'kan?" Tangan kecil nya berusaha membuka genggaman tangan Rizal dari Deni sekuat tenaganya.


Perasaan kesalnya sedikit tergerak—atau dengan kata lain meredam—karena melihat kedua sahabat terdekatnya menasehati dirinya untuk menyudahi segala perbuatan yang telah ia lakukan. Akhirnya dalam satu hentakan dorongan ke belakang Deni dilepaskan dari cengkraman tangan Rizal. Dan sekarang dapat terlihat dengan jelas bagian atas kemeja Deni sekarang, sangat berantakan.


Matanya menatap geram Deni yang masih tertunduk karena rasa penyesalan yang melanda dirinya. "KAU HARUS MEMINTA MAAF DAN BERBUAT SESUATU KEPADA JASAD MEREKA! KAU MENGERTI?" Dengan amarah yang masih memuncak, Rizal meninggalkan ruangan terakhir dan langsung melesat menaiki tangga menuju ke lantai dua villa.


Sedangkan mereka yang ditinggalkan hanya dapat terdiam, tidak tahu lagi apa yang harus mereka perbuat setelah ini.


Indra—sang wakil kepala pelayan—memutuskan untuk memecah keheningan ini. "Saya rasa kita semua harus kembali bekerja, teman." Indra menghela nafas sembari memejamkan matanya sesaat, lalu melirik ke arah jam dinding. "Kita harus segera memasak makan malam sebelum terlambat." Dan ia pun melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan terakhir menuju ke dapur.


"Ya, ayo!" ucap Rizki seraya berjalan di belakang Indra, tindakannya diikuti oleh seluruh pelayan yang tadi mendengar cerita 'Deni beserta ruangan terakhir'nya.


Sandi membangunkan dirinya yang sedari tadi duduk di sofa—mendengarkan sebuah cerita—untuk berdiri dan menatap Deni yang menurutnya sangat menyedihkan. Lalu ia mengalihkan pandangannya dari Deni dan berjalan. Menuju ke arah tangga.


"San, kau mau kemana?" tanya Kurnia.


"Aku ingin ke atas, ada suatu hal yang ingin ku bicarakan dengan Rizal." Kakinya menaiki anak tangga satu persatu dengan santai dan pada akhirnya hilang dari semua pandangan teman-temannya.


Sontak Kurnia segera berdiri dan berlari. "Tunggu, aku ikut!"


"He-hei, Kur!" Jihan berdecih. "Dasar." Karena melihat teman-temannya yang sudah menghilang dari sekelilingnya, pada akhirnya Jihan memutuskan untuk bangkit berdiri dari posisi duduknya, beserta Fitri. "Maafkan kelakuan sahabatku, Rizal, tadi, ya?" Kepalanya sedikit tertunduk dihadapan Deni.


Fitri yang tidak tahu harus mengucapkan kalimat apa hanya dapat mengikuti apa yang Jihan lakukan, yakni menundukkan kepala sebagai perwakilan permintaamaafan untuk Rizal.


"Tidak apa-apa." Akhirnya Deni mengeluarkan sepatah kata. Entah dalam ekspresi tersenyum atau murung, yang jelas sekarang ini kepalanya menunduk sangat dalam. Raut wajahnya tidak terlihat, sedikit pun.


Jihan yang merasa tidak enak dengan suasana seperti ini akhirnya menyudahinya begitu saja. Tangannya menggenggam tangan Fitri. "Ayo, Fit, kita ke atas."


Fitri menangguk setuju. "Iya."


Mereka pun pergi menuju ke lantai dua—dimana Kurnia, Sandi, dan Rizal sekarang berada, dengan meninggalkan Deni yang masih bertahan dengan posisinya di belakang mereka.


Selama beberapa menit dalam kesendirian dan suasana yang hening, Deni merenungkan tragedi masa lalunya yang kelam. Kepalanya terus menunduk, matanya memandangi lantai marmer di bawahnya. Di dalam kepalanya terbayang masa-masa yang tidak mengenakan dua puluh tiga tahun yang lalu. Jeritan, tangisan, teriakan minta tolong terus berputar di pikirannya.


Jemari tangannya bergerak untuk mencengkram dengan sangat erat rambutnya yang panjang. "Bukan saya yang melakukannya... bukan saya... bukan—"


Secara tiba-tiba, Deni mengangkat wajahnya lurus ke depan. Wajahnya datar. "Benar, bukan aku yang mengakibatkan kematian mereka... aku hanya ingin menolong..." Mulutnya menampilkan sebuah senyuman yang lebar. "Ahaha... Bukan saya yang membunuh mereka, tetapi baling-baling kipas angin itu yang membunuh mereka! Ahahahaha hahaha...!"


Tawa Deni mengisi seluruh ruangan terakhir itu.


Apa yang terjadi kepada dia?


Apakah dia menjadi... gila?

__ADS_1


...~Lost In Nightmare~...


...To Be Continued…...


__ADS_2