
...NIGHTMARE 14...
...Their People's Talks...
Malam hari, tepatnya jarum jam menunjukkan pukul enam lewat tiga menit. Di suatu ruangan—atau lebih tepatnya kamar—yang terletak sangat dekat dengan teras depan di lantai dua villa. Terlihat sosok seseorang berambut raven dan berwajah emo tengah memandangi halaman luar villa yang dibasahi oleh hujan yang sampai sekarang masih mengguyur sekitar daerah tersebut. Mata onyx-nya menatap lurus ke depan—entah apa yang sedang ia lihat, sedangkan pikirannya... blank. Ia tidak tahu apa yang harus ia pikirkan dan ia tidak mau tahu apa yang harus ia pikirkan.
Setelah sekian lama menatap lurus ke arah luar jendela, matanya mulai terfokus pada apa yang terbentuk pada jendela kaca yang bening di hadapannya. Pantulan bayangan dirinya sendiri. Dengan raut wajah yang datar, tangan kanannya bergerak menuju jendela kamar villa yang berada di hadapannya, menyentuh bayangan dirinya, dan mengusapnya pelan.
"Inikah diriku yang sekarang?" Rizal menautkan sebelah alisnya. "Atau ini hanya sebuah reinkarnasi?" Ia membuang pandangannya dari bayangan yang masih ia sentuh—matanya melirik menuju ke salah satu sudut bawah jendela. Dengan sigap dan mata sedikit terbelalak, ia kembali menatap bayangannya di kaca jendela yang dingin. "Apakah—"
"RIZAL!" Jihan teriakan yang memanggil namanya dan disertai dengan suara pintu yang dibuka secara kasar berhasil membuat sang pemilik nama menolehkan kepalanya secara cepat menuju sumber suara tersebut—ke arah pintu kamar villanya.
"Bisa 'kah kau pelan-pelan, Kur?" ucap Sandi yang berada di belakang Kurnia seraya memukul kepala berambut-jabrik-kuning itu pelan.
Kurnia—sang pembuat onar dan yang telah mengganggu kesendirian Rizal—mengelus kepalanya yang sakit akibat pukulan dari Sandi. "Aku tahu, tapi aku tidak bisa menahan emosiku sendiri, kau 'kan tahu bagaimana diriku."
Mendengar kalimat yang diucapkan oleh sahabatnya yang satu ini, hanya dapat membuat Sandi menghela nafas kencang.
Tidak lama kemudian, datanglah kedua orang perempuan—sahabatnya yang lain.
"Kalian berdua, bukannya masuk malah berdiri di ambang pintu seperti ini, menghalangi jalan saja!" celoteh salah satu dari perempuan itu yang bermahkota kan rambut Dark Brown seraya mendorong mereka berdua yang berdiam diri di ambang pintu agar segera masuk ke dalam. Hasilnya? Kedua pemuda yang bernama kecil Kurnia dan Sandi hampir terjerembab ke lantai dalam kamar karena di dorong secara tidak terduga dari belakang jika kaki mereka tidak dengan cepat me-reflekskan dirinya.
"Ji, bisakah kau pelan-pelan?" Ucap Kurnia lembut kepada sahabat kecil perempuannya yang bernama Jihan seraya membalikkan badannya hingga berhadapan langsung dengan lawan mainnya.
"Sayangnya, tidak." jawab Jihan singkat.
Mendengar jawaban dari Jihan, membuat Kurnia memutarkan bola matanya dan berpaling kepada Rizal. "Oi, Zal—" Kurnia membelalakkan matanya selebar mungkin. "A-Apa yang sedang kau lakukan, Zal?" tanya Kurnia dengan nada yang tinggi.
"Hn?"
"Itu, apa yang sedang tanganmu lakukan dengan kaca jendela?"
Rizal memalingkan wajahnya dari para sahabatnya, menuju ke arah tangannya berada sekarang. "Hn, tadi aku sengaja menyentuh kaca ini untuk mengetahui apakah kaca ini tebal atau tidak, tapi sepertinya tidak karena kaca ini sangat dingin." elaknya dengan kata-kata dan jawaban seadanya dan seenaknya.
Pernyataan Rizal membuat para sahabatnya memiliki kesimpulan dan respon tersendiri. Kurnia yang berpikiran pendek hanya dapat menganggukkan kepalanya, Sandi yang mempunyai IQ lebih dari 200 hanya bisa menguap lebar dan tidak ingin ikut campur, Fitri memasang raut wajah bingung dengan disertai banyak pertanyaan di dalam pikirannya, sedangkan Jihan... Ia merasa aneh akan pernyataan yang Rizal lontarkan tadi.
"Jadi..." Rizal melepaskan tangannya yang sedari tadi menyentuh kaca jendela—lebih tepatnya, bayangan dirinya sendiri. "Apa yang akan kalian semua lakukan disini?" Ia memutarkan badannya untuk menghadap teman-temannya yang masih berdiri di sekitar pintu kamar. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celana panjangnya.
Sandi menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Yah... Aku kesini karena ingin berbicara mengenai sesuatu kepadamu."
"Kami juga!" seru Jihan, Kurnia, dan Fitri bersamaan dengan intonasi yang berbeda-beda.
Melihat semua kelakuan teman-temannya, sepertinya Rizal sudah mengerti akan kemana alur pembicaraan mereka ber-lima nanti. Rizal menghela nafas panjang. "Baiklah, lagian memang sebaiknya masalah ini dibahas secara kekeluargaan."
Kurnia tersenyum kecil. "Lalu... Dimana kita akan membahas 'bahan pendiskusian' kita ini?" Iris aquamarine-nya memperhatikan semua pasang mata yang berada dalam satu ruangan dengannya. "Ada yang memiliki ide?"
"Kur, kita ini ingin membicarakan masalah yang terjadi kepada kita, bukannya ingin bergosip ria." celoteh Jihan lagi untuk kedua kalinya.
Fitri menelan ludahnya sejenak. "Ba-bagaimana kalau kita membicarakannya di teras belakang lantai dua ini? Mungkin saja di sana merupakan tempat yang lumayan untuk dijadikan tempat pembicaraan panjang kita." saran Fitri dengan suara yang lembut dan hati-hati di nada bicaranya.
"Yah, tidak buruk juga, ayo." ajak Sandi sembari melangkahkan kakinya menuju ke teras belakang meninggalkan teman-temannya di balik punggungnya.
"Asyik! Udara pegunungan yang sejuk, I'm coming!" ucap Kurnia kegirangan sembari berlalu menuju tempat yang tampaknya sudah di persetujukan untuk dijadikan tempat pembicaraan mereka mengenai masalah yang terjadi.
Kepergian Sandi dan Kurnia diikuti oleh Fitri sembari menahan malu karena hanya menatap punggung Kurnia saja.
Lalu, Jihan tepat di belakang Fitri. Sebelum berbelok sepenuhnya, kepala Jihan menengok ke dalam kamar dan berkata, "Zal, ayo cepat! Nanti keburu makan malamnya siap." Setelah mengucapkan itu, Jihan melengos pergi menyusul yang lainnya.
"Hn." responnya singkat.
Rizal berlalu menuju pintu kamarnya yang telah terbuka lebar akibat dari perbuatan sahabat kuningnya tadi, dan menutup pintunya secara perlahan dari luar.
Sesaat pun berlalu begitu cepat. Aksi tunggu-menunggu mereka selesai, dan sekarang tibalah saatnya mereka mulai membicarakan masalah ini secara bersama—setelah mereka semua menempatkan diri di kursi teras yang tersedia.
"Jadi, pertanyaan apa yang membuka pembicaraan kita ini?" Sandi mengedarkan pandangan matanya ke dalam tatapan mata teman-temannya. "Ada yang ingin memulai melontarkan pertanyaan?"
Keheningan terjadi seketika. Masing-masing diri mereka memikirkan pertanyaan macam apa yang akan mereka ungkapkan sebagai acara pembuka pembicaraan mereka ini.
Sekelebat ide pertanyaan terlintas di dalam pikiran Fitri. "I-Itu... Sebenarnya apa motivasi pelaku untuk membunuh Novi dan Sendi?" Fitri menelan air liurnya. "Apakah ia mencari sesuatu di antara kita?" ucapnya lepas.
"Benar juga. Jika pelaku membunuh Novi dan Sendi... ada kemungkinan bahwa sang pelaku 'mencari' sesuatu." jawab Jihan mengenai pertanyaan yang tadi Fitri lontarkan. "Nah, pertanyaan dariku sekarang adalah... Apa yang 'dicari-cari' pelaku tersebut?"
"Jika pelaku itu 'mencari-cari' sesuatu di antara kita, berarti ada kemungkinan besar pula pelaku tersebut mengenal kita." ungkap Rizal dengan sangat santai seraya melipat kedua tangannya untuk menambah kehangatan di tubuhnya.
Secara reflek, mereka semua yang ada di satu tempat dengan Rizal menolehkan kepalanya. "Kenal?" tanya mereka semua bersamaan, terdapat nada keheranan di perkataan mereka.
Rizal yang merasa tidak enak menjadi pusat perhatian teman-temannya, dangan sangat mudahnya mengutarakan sebuah perintah. "Jangan menatapku."
"OK, baiklah, Rizal." Kurnia mengangkat kedua tangannya pertanda bahwa ia tidak berani melawan perintah sahabat raven nya itu. "Jadi, apa maksudmu dengan kata 'kenal'mu itu?" lanjutnya.
"Aku hanya sekedar mengutarakan pendapatku, tidak lebih." jelas Rizal singkat.
Sandi berpikir keras mengenai apa yang telah terjadi kepada kelompoknya. "Pertama, pembunuhan terhadap Novi, lalu Sendi. Kedua, secara tiba-tiba Deni menceritakan kejadian tragis yang terjadi di villa ini dua puluh tiga tahun yang lalu," Ia menjabarkan satu persatu kejadian aneh dan tidak terduga yang menimpa liburan panjang mereka.
Suara hujan yang menjadi backsound perbincangan mereka tiba-tiba menjadi bertambah lebat, anak-anak petir saling menyambar satu sama lain. Angin bertiup begitu kencang, sehingga pepohonan yang berada di sekitar villa itu mengeluarkan suara gesekan antara dahan dan ranting—suara yang aneh, dan menambah kesan seram di lingkungan villa itu.
Jihan membuka mulutnya, memecah ketertutupan mulut di tangah-tengah perbincangan mereka. "Apakah... pelaku itu salah satu dari kita?" gumamnya dengan suara yang menurutnya kecil, tetapi masih dapat didengar oleh orang-orang di sekitarnya.
"A-mana mungkin seperti itu, Ji... Lagian, mana mungkin kami tega membunuh sahabat kami sendiri." Kurnia menatap semua wajah teman-temannya. "Benar, 'kan, teman-teman?"
"Te-tentu saja, Kur!" jawab Fitri setuju dengan pernyataan Kurnia. Sedangkan Rizal dan Sandi hanya dapat merenungkan pertanyaan Jihan yang tiba-tiba keluar. Tidak dapat berkomentar, merespon, ataupun menjawab.
Tatapan Sandi lurus ke depan. Melihat pijakan kakinya yang terbuat dari kayu yang kokoh. "Jika memang pelaku pembunuhan ini adalah salah satu dari kita..." Mata berkeliling untuk menatap setiap pasang mata teman-temannya. "Apa alasan, motivasi, dan tujuan sang pelaku?"
Rizal berdeham. "Itu masih berupa hipotesis belaka, San. Masalahnya adalah 'apakah benar pembunuh tersebut adalah salah satu di antara kita?', kita masih belum dapat menemukan jawaban yang tepat dari kalimat pertanyaan itu."
"Itu hanya menemukan, belum lagi untuk memastikannya." timpal Kurnia terhadap kalimat Rizal.
Semua kembali terdiam dan termenung. Apakah benar pelaku dari kasus pembunuhan yang terjadi dalam kelompok mereka adalah salah satu dari mereka berempat? Atau sang pelaku berasal dari luar lingkar yang mengenal mereka?
Fitri menelan paksa air liurnya yang kesekian kalinya. "A-aku hanya berpikir sejenak, jika sang pelaku memang benar salah satu dari kita... Apa yang akan kalian lakukan?" ucapnya dengan malu dan hati-hati. "Aku hanya ingin mendengar pendapat kalian."
__ADS_1
Kurnia mengeluarkan cengiran andalannya. "Heh, kalau aku sih akan berusaha untuk menghentikan segala kejahatan yang ia lakukan dan membuatnya menyesal akan semua perbuatannya."
Sandi tersenyum meremehkan. "Jawabanmu sungguh berperikemanusiaan, Kur. Kalau aku telah menemukan sang pelaku adalah salah satu dari kita, aku akan memukulnya hingga aku puas dan menjebloskannya langsung ke dalam penjara dengan tanganku sendiri. Kalau perlu hukum mati saja sekalian."
"Ironis." timpal Kurnia.
"Biarin. Biar tahu rasa sekalian." jawab Sandi dengan nada cuek dan kesal di dalamnya.
Jihan tertawa kecil mendengar nada bicara Kurnia dan Sandi. "Kalau aku," Jihan merangkai kata-katanya sejenak. "Hmm... mungkin reaksi pertama yang terjadi padaku adalah shock dan tidak menyangka sama sekali."
Iris aquamarine Kurnia menatap Jihan. "Mmm, Ji. Yang kau ceritakan tadi adalah reaksi kau jika kau mengetahui pelaku tersebut adalah salah satu dari kita, bukan yang akan kau lakukan." koreksi Kurnia terhadap kalimat Jihan.
"Jika itu sih... mungkin aku akan merasa kesal dan membenci orang tersebut."
"Oh... Kau masih terlalu lembut, Ji." kritik Kurnia dan didukung dengan sebuah anggukkan setuju oleh Sandi.
Jihan menghela nafas. "Mau bagaimana lagi, kalian 'kan tahu sifatku seperti apa? Dan jika aku diberi pertanyaan semacam itu, aku pasti akan memikirkan juga perasaan pelaku tersebut."
"Makanya, jangan menjadi anak musik." ledek Sandi.
"Terserah aku. Hidupku ini." Jihan membuang pandangannya ke arah lain sembari memasang wajah cemberut di wajahnya.
"Sudah, ledekan Sandi jangan diambil hati, Ji." Kurnia menolehkan kepalanya ke arah Rizal berada. "Kalau kau? Apa yang akan kau lakukan, Zal?"
"Hn? Apakah aku juga harus menjawab pertanyaan semacam itu?"
"Wajib dan harus."
Rizal menghela nafas panjang, pertanda bahwa ia menyerah dalam hal berdebat dengan Kurnia untuk saat ini. "Jika aku menemukan sang pelaku berada di antara kita,"
"Salah satu di antara kita." koreksi Kurnia.
"Iya, salah satu dari kita." Rizal memilih jawaban yang tepat. "Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan kepadanya."
"Maksudnya?" Kurnia menaikkan sebelah alisnya.
"Tergantung dari wajahnya. Jika wajahnya lumayan akan ku buat menjadi berantakan, dan jika wajahnya jelek akan ku buat menjadi lebih hancur dan berantakan."
"Itu namanya memukuli wajahnya, Zal."
"Yah, kurang-lebih seperti itu."
Mendengar jawaban Rizal, membuat Kurnia menepuk dahinya sendiri dengan sangat keras. "Hei, kalau Fitri sendiri? Apa yang akan kau lakukan?" Kurnia menatap Fitri dengan tatapan penuh harapan agar Fitri mau memberikan jawabannya mengenai pertanyaan yang ia buat sendiri.
Ditatap seperti itu oleh Kurnia, dapat membuat wajah Fitri mengeluarkan semburat merah. "I-I-Itu..." Fitri berusaha agar tidak pingsan dan tetap sadar. "Kalau aku mengetahui kalau pelaku tersebut adalah salah satu dari kita, aku akan berusaha melakukan yang terbaik untuk para sahabat-sahabatku yang masih hidup bersamaku." ucapnya dengan malu dan sepenuh tenaga.
Jawaban yang Fitri lontarkan mampu membuat Jihan, Kurnia, Sandi, dan Rizal sweatdrop sesaat.
"A-jawaban yang bagus, Fit. Aku suka." puji Kurnia dengan cengiran khasnya.
"Terima kasih, Kur." Fitri menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Disaat mereka semua menonton drama Kurnia dan Fitri yang dapat terbilang singkat. Sebuah suara secara tiba-tiba hadir di gendang telinga mereka.
"Permisi, Nona dan Tuan Muda. Makan malam sudah siap, silakan mendatangi meja makan untuk menyantap hidangan yang kami buatkan. Mari."
Kurnia yang lebih cerewet di antara mereka semua, terkesiap dan menjawab perkataan dari pelayan itu dengan jawaban yang apa adanya. "Ya, tentu. Kami akan segera kesana segera. Silakan kesana duluan."
"Kalau begitu, permisi." Setelah mengucapkan kalimat terakhirnya, pelayan itu pun berlalu mendahului mereka.
Setelah langkah pelayan itu menjauh dan tidak terdengar lagi, Kurnia menolehkan kembali kepalanya ke teman-temannya. "Jadi, inti dari pembahasan kita tadi adalah?"
"Yah, kita semua harus sama-sama berjuang untuk memikirkan dan menemukan siapa pelaku di balik semua ini." jawab Sandi.
"Selanjutnya?" tanya Jihan.
"KITA MAKAN!" seru Kurnia yang ternyata sudah tidak tahan untuk menahan perutnya yang sudah mengeluh meminta makan sedari tadi.
Melihat Kurnia kesenangan seperti itu, membuat Jihan, Fitri, dan Sandi tersenyum. Sedangkan Rizal? Ia hanya dapat menganggap biasa-biasa saja sikap Kurnia itu.
"Sebaiknya kita juga harus cepat-cepat masuk ke dalam ruangan agar tubuh kita hangat." Rizal menerobos pandangannya ke arah luar villa yang dimana hujan turun dengan sangat lebat dan anak petir saling menunjukkan kemampuannya satu sama lain. "Tampaknya, cuaca di luar sana juga tidak bersahabat."
Secara serentak, mereka pun berlalu meninggalkan tempat perbincangan mereka di balik punggung mereka masing-masing. Teras belakang villa yang semula dingin, kini menjadi lebih dingin dari sebelumnya. Mendengarkan, dan menjadi saksi bisu perbincangan mereka yang tadi sempat menempati teras tersebut.
.......
...+++~Lost~+++...
.......
Di ruang makan, terlihat Kurnia, Rizal, Jihan, Fitri, dan Sandi sedang menikmati santapan makan malam mereka dengan sangat antusias karena banyak kejadian yang tidak terduga menimpa mereka silih berganti. Dari pertama mereka datang ke villa ini sampai sekarang.
Kurang-lebih dua puluh menit pun berlalu dengan kesunyian yang hanya diisi dengan dentingan piring, garpu, dan sendok makan di dalamnya. Seusai menyantap makan malam dan meminum minuman yang sudah disediakan, sekarang tiba saatnya untuk memakan makanan penutup yang sebentar lagi akan hadir.
Sesuai dugaan, tidak lama mereka menunggu makanan penutup pun hadir di tengah-tengah meja makan berbentuk persegi panjang yang berada di depan mata mereka. Saat salah seorang pelayan—bernama kecil Zaki—membuka penutup nampan yang ia bawa. Dapat dilihat oleh mata telanjang, nampan makanan penutup itu tersebut berisi potongan buah semangka, melon, dan nanas.
Dengan cepat, Jihan menyerbu buah-buahan yang berada di depan matanya dengan lebih antusias dibanding menyantap makan malam utamanya. "Aku ingin melon!" serunya seraya menancapkan garpunya dan melahapnya sekaligus.
"Ji, bisa 'kah kau makan dengan santai dan pelan-pelan?" komentar Sandi sembari mengambil buah nanas kesukaannya dengan garpu miliknya.
"Sayangnya... tidak." ujar Jihan singkat.
Kurnia hanya dapat menyengir mendengar jawaban singkat Jihan atas komentar Sandi. Tangan kanannya yang telah memegang sebuah garpu bergerak untuk mengambil buah semangka yang berada di hadapannya, lalu melahapnya hanya dengan beberapa gigitan.
Melihat Kurnia—laki-laki yang disukainya—mengambil buah semangka, Fitri juga ikut-ikutan mengambil buah semangka. Mungkin supaya terlihat sama dan serasi. Ehem.
Sedangkan Jihan dan Sandi hingga sekarang masih berdebat satu sama lain.
Sandi berdecak. "Hei, Kur, Zal, bisa 'kah kalian menasehati sahabat perempuan kecil kalian agar mendengarkan kata-kataku?"
Kurnia tertawa kecil mendengarnya. "Santai saja, San. Jihan memang dari kecil memang seperti itu, iya 'kan, Zal?" Matanya melirik ke arah pemuda berwajah stoic, sahabatnya.
__ADS_1
"Hn."
"Benar 'kan kataku. Sudah, mengalah saja San, kami saja sering mengalah jika berdebat dengan Jihan karena mengingat dia ini seorang perempuan."
"Hn."
"Kalian bertiga ini memang sahabat sedari kecil yang sangat aneh," ucap Sandi dengan nada pasrah yang sangat tertera di kalimatnya.
"Lihat, Ji! Bahkan Sandi yang ber-IQ lebih dari 200 bisa kau kalahkan dalam perdebatan mu tadi."
"Yeah, aku hebat!"
Rasa senang mereka, mereka tunjukkan dengan cara menabrakkan telapak tangan Kurnia dengan telapak tangan Jihan sehingga menghasilkan suara yang cukup besar yang menggema di seluruh ruang makan.
Para pelayan yang melihat aksi kekanak-kanakan mereka hanya dapat menggeleng-gelengkan kepalanya sembari tersenyum kecil, bahkan sampai ada yang tertawa tertahan.
"Zal, kau tidak ingin memakan makanan penutup yang sudah tersedia di depanmu?" tanya Fitri dengan masih tertawa kecil karena melihat wajah Sandi yang sedang mengerutkan wajahnya akibat permainan kecil dari Jihan dan Kurnia.
Rizal menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak. Di antara buah-buahan itu tidak ada buah kesukaanku."
Kurnia yang menyadari percakapan antara Rizal dan Fitri, langsung memutar kepalanya ke arah Fitri. "Rizal memang seperti itu, Fit. Lebih baik kau tidak perlu bertanya kenapa dia tidak menyantap makanan penutup itu, karena jika semakin dipaksa ia akan semakin keras kepala." Tangan kiri Kurnia merangkul leher Rizal yang berada di sebelah kanannya.
Penjelasan dari Kurnia hanya direspon oleh sebuah jawaban 'oh' yang panjang dari mulut Fitri.
"Memangnya buah kesukaan Rizal apa?"
Kurnia menepuk dahinya. "Ya ampun, masa' tidak tahu buah kesukaan Rizal itu apa? Buah kesukaan Rizal itu—"
"Apel!"
"Jawaban Anda benar! Jihan Aulia mendapat nilai 100!"
"Iyey!"
Seketika ruangan menjadi berisik dengan suara tepukan tangan dari Kurnia dan Jihan yang sukses membuat suasana ruang makan menjadi meriah dan memiliki aura yang nyaman. Melihat kedua sahabat sedari kecilnya bertingkah laku seperti itu, mampu membuat Rizal membentuk sebuah senyuman tipis di wajahnya.
Entah dengan indra ke berapa, Kurnia menyadari bahwa Rizal sedang tersenyum kecil. "Aha! Rizal tersenyum!" Jari telunjuk kanannya menunjuk sepenuhnya kepada wajah Rizal.
Rizal memasang tampang meremehkan dan membuang pandangannya ke arah yang lain. "Heh, tahu dari mana aku sedang tersenyum?"
"Itu semua terlihat jelas di wajahmu! Rizal tersenyum, Rizal tersenyum, Rizal tersenyum!" ucap Kurnia dengan nada meledek versi anak kecil di akhir kalimatnya.
Alhasil? Senyuman Rizal kembali muncul ke permukaan karena tidak tahan mendengar nada ledekan anak kecil dari Kurnia.
Seketika pula suasana ruang makan itu menjadi lebih ramai dari yang sebelumnya.
Terdengar sebuah langkah kaki yang semakin lama semakin mendekat ke pintu masuk ruang makan. Sontak, semua orang yang berada dalam ruangan itu menghentikan segala aksi dan gelak canda tawa mereka. Seluruh pasang mata berfokus ke arah pintu masuk berada. Menanti-nantikan siapa gerangan yang akan masuk ke dalam ruang makan.
Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menunggu, tampaklah seorang pria berambut panjang berwarna hitam dan berkulit putih pucat di ambang pintu masuk tersebut.
"Tuan Deni!" Secara bersamaan dan dengan disertai rasa terkejut, para pelayan yang berada di dalam ruang makan menyebut nama kepala pelayan yang ternyata sedari tadi tidak menampilkan batang hidungnya setelah insiden kejujuran dan keterbukaannya.
Deni membalas sapaan para anak buahnya dengan senyuman lemahnya. Dapat dilihat oleh mata telanjang, mata Deni sangat sayu, kulitnya lebih pucat dari biasanya, dan senyumannya seperti tidak niat sama sekali.
Sekarang Deni berdiri tepat di tengah-tengah meja ruangan. Di depan meja makan. "...aku... maafkan aku..."
Dengan sigap, tangan kanan Deni mengambil sebuah pisau yang sudah ia persiapkan di balik selipan celana panjang dan ikat pinggang di balik punggungnya, menancapkannya pisau pemotong daging—yang sepertinya baru diasah tersebut—tepat di jakun miliknya hingga menembus ke bagian belakang lehernya secara vertikal, memutar posisi pisau yang sudah menembus lehernya yang tadinya vertikal menjadi horizontal dengan paksa, lalu menariknya ke arah kanan sehingga lehernya tersobek, dengan kata lain setengah putus.
Darah segar yang berasal dari leher Deni sukses menyembur ke seluruh meja makan yang ada di hadapannya. Makanan, minuman, taplak meja, kini semuanya telah terjamah oleh darah Deni. Tidak hanya itu, wajah dan pakaian Rizal, Kurnia, Jihan, Fitri, dan Sandi juga terjamah oleh darah segarnya.
Jihan yang melihat kematian yang tidak wajar Deni secara langsung di depan matanya ditambah dengan darah yang menyembur ke pakaian dan wajahnya, kini tidak dapat menahan rasa shock mendadak dari dalam dirinya. Nafasnya tersengal-sengal.
Rizal yang menyadari keanehan yang terjadi pada diri Jihan, dengan reflek menolehkan kepalanya ke arah Jihan yang berada di sebelahnya dan memegang kedua pundak Jihan dengan kedua tangannya yang besar. "Ji! Jihan, kau tidak apa-apa?"
Tangan kanan Jihan bergerak untuk menyentuh cairan kental yang berada di wajahnya, dan melihatnya dengan disertai gemetar yang luar biasa. Takut. Dalam hitungan detik, Jihan kehilangan kesadarannya dan menjatuhkan badannya ke arah Rizal berada.
"JIHAN!" teriak Rizal panik kerana melihat Jihan kehilangan kesadaran dan menjatuhkan badannya yang kecil di dada bidang Rizal.
Fitri muntah secara mendadak karena tidak tahan lagi mencium bau garam yang dicampur dengan karat secara terus menerus, seluruh makanan yang baru ia santap terbuang begitu saja.
Sandi dan Kurnia masih kuat untuk menahan segala apa yang telah ia lihat tadi dan bau darah yang menyusup masuk ke dalam indra penciuman mereka.
Dengan emosi yang masih tidak terkendali dan shock, Sandi menyuruh seluruh para pelayan, "Hei kalian, jangan diam saja! Lakukan sesuatu kepada jasad si Deni itu! Cepat!"
Masih dengan rasa terkejut yang tinggi dan tujuh puluh lima persen tingkat kesadaran mereka, semua pelayan pun menjawab, "Ba-Baik!"
Para pelayan pun bergerak untuk menutup dan mengamankan jasad Deni yang sudah tidak bernyawa seketika. Jasadnya sungguh mengerikan. Bagian lehernya setengah terputus dan setengah lagi tidak. Kulit, daging, dan tulang tenggorokannya terlihat dengan sangat jelas. Dari dalam sobekan leher itu, terus mengeluarkan cairan kental berwarna merah tanpa henti hingga lantai dimana jasad itu berbaring sudah menjadi seperti lautan darah segar buatannya sendiri.
Sandi membantu Fitri yang sedang kesulitan dalam mengatur metabolisme tubuhnya yang mendadak kacau. Sedangkan Kurnia segera membantu Rizal untuk menangani Jihan yang tiba-tiba pingsan di tempat.
Jika terus seperti ini, kondisi Jihan akan lebih memburuk. "Kur, bantu aku membuka pintu kamar kita, aku akan merawat Jihan di kamar kita."
"Membuka pintu kamar? Jihan nya?"
"Jihan biar aku bawa! Ayo!" Dengan cekatan, Rizal langsung menggendong tubuh Jihan ala bridal style menuju ke dalam villa.
"OK!" jawab Kurnia singkat.
Sebelum Rizal melangkah ke luar ruang makan, ia berteriak, "San, sebaiknya kau juga bawa Fitri ke dalam kamar, dia terlihat tidak sehat." Kakinya kembali melangkah menjauhi ruang makan.
Sandi menatap prihatin Fitri. "Sebaiknya kita juga harus ke kamar agar kau dapat beristirahat. Aku akan menggendong mu dari belakang, ayo!"
Mendengar perkataan Sandi, Fitri memeluk leher Sandi dari belakang dan Sandi pun mulai menggendongnya dengan punggung kekarnya menuju kamarnya.
Jadi... apakah Deni itu sudah gila?
Atau kerasukan hingga ia membunuh dirinya sendiri?
...~Lost In Nightmare~...
...To Be Continued…...
__ADS_1