
...NIGHTMARE 5...
...Begin The Way Into The Nightmare...
Matahari sudah menampakkan sedikit cahayanya dari belakang pegunungan hijau, yang dihiasi oleh nyanyian beraneka ragam macam burung yang telah bangun dari tidurnya untuk menyambut sang matahari.
Tidak terkecuali ketujuh orang yang sudah bangun dari mimpi indahnya –mungkin sudah terjaga sebelum burung-burung itu bangun –yang telah selesai bersiap-siap mempersiapkan segala sesuatu yang mereka butuhkan nanti.
Setiap mereka membawa barang yang akan dibawa dalam bentuk tas ransel gunung ke ruang terakhir, dan memilih kursi yang empuk(sofa) untuk diduduki masing-masing dari mereka secara acak.
Seseorang pun memulai pembicaaan. "Jadi… semua barang yang akan dibawa sudah kalian bereskan?" tanya Sandi dengan saling bertukar pandang dengan yang lainnya.
"Yes, sir!" seru mereka dengan semangat membara. Kecuali Rizal yang hanya mengangguk sekali.
"Baiklah kita akan berangkat jam Sembilan pagi nanti. Sekarang kalian bebas melakukan apapun yang ingin kalian lakukan."
Mereka semua pun beranjak dari tempat duduknya dan mulai mengerjakan kegiatan yang ingin mereka lakukan sebelum mereka mulai memasuki hutan yang luas.
.......
...+++~Lost~+++...
.......
Daripada kita keluyuran tidak jelas juga mending kita melihat aktifitas salah satu dari tujuh orang tersebut. Dan saya(Author) memilih Sendi sebagai pengisi kekosongan ini.
Jika kita menaiki tangga dan menuju kebagian teras belakang lantai atas villa ini, kita akan melihat sesosok Sendi yang sedang duduk berhadapan dengan kanvas.
Tangan kanannya tidak bisa diam menggores-goreskan kuas dikanvasnya, sedangkan tangan kirinya memegang sebuah palet yang berisi berbagai warna cat yang ia tuangkan diatasnya.
Secara seksama dan hati-hati, ia memandang pemandangan yang indah dan mencoretnya di kanvas putih besarnya dengan sangat perlahan tapi pasti. Saat sedang asyiknya ia melukis dengan sangat tenang, kesunyiannya pecah saat suara seseorang memecah keheningan yang menyelimutinya.
"Sen, apa yang sedang kau lakukan disini?"
Mendengar suara seseorang yang memanggil namanya, tanpa memalingkan wajahnya dari goresan yang ia ciptakan ia menyahut seruan perempuan itu yang ternyata adalah Novi. "Hmm… dilihat sendiri juga tahu 'kan?"
"Hah… dasar, kau. Kalau kau sudah seperti ini susah diajak bicara." Novi mulai mendekat kesamping Sendi yang ternyata diikuti oleh Fitri dibelakangnya.
"Kenapa kau tidak ke tempat yang lain saja? Kau mengganggu konsentrasi ku yang tenang tahu." sindir Sendi yang hanya diucapkan dengan nada biasa, tapi tetap saja yang mendengarnya merasa tersindir.
"Hhh.. Tadi aku bersama Jihan, tapi Rizal dan Kurnia mengajaknya pergi mengelilingi halaman villa ini. Lalu aku pergi ke kamar Sandi, ia sedang tidur dan tidak ingin diganggu sebelum jam sembilan pagi nanti. Akhirnya aku bosan, dan saat aku ingin ke teras belakang –yang kulihat ada kau –aku berpapasan dengan Fitri yang sedang bosan juga. Ya sudah, aku mengajaknya ke sini untuk melihat apa yang kau lakukan." jelas Novi panjang lebar tiada hentinya.
"Hoh…"
"A-apa yang sedang kau lukis?" Akhirnya Fitri memberanikan diri untuk berbicara yang sejak dari tadi menutup mulutnya, diam.
"Hm… lihat saja sendiri, nanti kau pasti akan tahu."
Dengan rasa penasaran Novi dan Fitri mendekatkan diri ke Sendi agar mata mereka dapat melihat hasil karya Sendi yang sedikit lagi ingin jadi itu.
"Me-menyeramkan sekali, sih…" komentar Novi setelah melihat hasil lukisan Sendi.
"Ju-juga menyedihkan…" timpal Fitri dangan dicampur sedikit ketakutan pada suaranya saat melihat lukisan Sendi.
Bingung melihat ekspresi dan komentar mereka, Sendi melihat ulang hasil karya nya yang barusan ia selesaikan itu. "Lho, bukannya tadi aku -ingin- melukis hutan yang indah dengan suasana yang mendung?" ucap Sendi terheran-heran dengan hasil karya nya sendiri seraya menautkan alisnya.
Ditambah ucapan Sendi yang -ia sendiri juga bingung itu-, menambah aura yang dapat membuat bulu kuduk merinding menyelimuti sekeliling teras belakang lantai atas tersebut.
"Ah… Send kau bisa saja, 'kan lukisan ini kau yang lukis sendiri dengan tanganmu. Masa kau sendiri bisa lupa, sih?" ujar Novi sambil tangannya mengada-ngada ke udara dengan nada bicara yang sedikit bercanda.
"Hah? Benar 'kok. Tadinya aku lukis hutan dengan cuaca mendung menghiasi suasana di hutan, karena aku suka sekali cuaca seperti itu. Seperti pertama kali kita datang didepan hutan ini, lho." jelas Sendi dengan nada yang serius.
"Be-benar, Sen? Kalau begitu kenapa bisa ada gambar orang-orang yang sangat menyedihkan dan… menyeramkan?" tanya Fitri Menginterogasi Sendi sedikit.
Sendi merespon dengan menaikkan kedua pundaknya keatas. "Aku juga tidak tahu. Ini aneh. Sangat aneh." Terlihat dengan jelas, Sendi sedang berpikir keras tentang peristiwa yang aneh terjadi disini.
__ADS_1
Hening. Dengan terciptanya suasana hening seperti itu, semakin membuat bulu kuduk mereka berdiri dan rasa ketakutan menyelimuti mereka.
"Ahahaha… bagaimana kalau sebaiknya kau membereskan semua perlatan melukis mu dan menyimpan 'hasil' mu ke sesuatu tempat yang tersembunyi? Jujur, itu adalah 'hasil' mu yang sangat membuatku –atau mungkin semua orang yang melihatnya- merasa tidak –sangat- nyaman." kata Novi dengan sedikit gemetaran pada suaranya.
"Be-benar itu, Sen! Bagaimana kalau kau mengemil makanan ringan saja di kamar kita sambil membicarakan sesuatu yang lebih enak dibahas?" lanjut Fitri yang juga takut dengan 'hasil karya' nya Sendi.
Raut wajah Sendi yang tadi berpikir keras perlahan berubah karena melihat ekspresi kedua temannya yang ketakutan setengah mati dengan 'karya' nya itu. "Hmm… baiklah. Ayo, kalian membantuku membawakan semua peralatanku ini."
Fitri dan Novi sejenak menegang ditempat ia berdiri. Mengerti perilaku mereka seperti itu, Sendi melanjutkan perkataannya. "Kecuali kanvasnya. Biar aku yang membawanya,"
Terdengar helaan nafas yang kecil tapi panjang dari mereka berdua, dan badan mereka yang tadinya menegang mulai rileks hanya dengan hitungan detik. "OK. Sini biar kami bawakan barang yang lainnya." Novi dan Fitri mulai mengambil satu persatu barang Sendi ke tangan mereka dan membawanya ke dalam kamar Sendi dengan sangat hati-hati.
Melihat temannya yang sudah mulai menjauh darinya dan 'hasil karya'nya. Sendi melihat dengan seksama kanvas itu dan mengangkatnya setinggi tingginya. "Sepertinya… akan terjadi hal yang menarik." Entah disengaja atau tidak, Sendi mengeluarkan seringaian menyeramkan yang seratus delapan puluh derajat berbeda dari senyumnya yang biasa.
Seingaiannya yang tajam pun perlahan memudar dan Sendi kembali memegang kanvasnya di tangan kiri dan membawa kayu penyanggah kanvasnya ditangan kirinya setelah ia lipat menjadi sesimple mungkin, lalu mulai menyusul Fitri dan Novi yang dari tadi sudah berada di kamarnya dan Sandi.
.......
...+++~Lost~+++...
.......
Jam dinding menunjukkan pukul delapan lewat empat puluh lima menit pagi. Terlihat di ruang terakhir, mereka semua telah berkumpul dari sisa-sisa waktu sebelum mereka semua memulai 'petulangan' pertama mereka di dalam hutan.
"Bagaimana? Sudah siap?" tanya Sandi pada akhirnya setelah beberapa lama mereka bercakap-cakap tentang sesuatu sebagai bahan basa-basi.
"Ya!" seru Fitri, Novi, dan Sendi berbarengan.
"Ok! Ayo, kita berangkat, tubuhku ini sudah tidak sabar menahan jiwa yang ingin berkelana di dalam hutan sesegera mungkin!" Kurnia memberi jawaban dengan semangat berapi-api terlihat di bola matanya.
"Kalian benar-benar yakin kita akan berkemah selama beberapa hari disana? Bagaimana kalau terjadi apa-apa dengan kita?" terdengar dari suara Jihan, ia sedang merasa gelisah.
"Hah? Bicara apa kau, Ji? Jangan membuat kita takut! Ingat kita kesini untuk bersenang-senang, tidak lebih." Sendi mulai merubah posisi duduknya dengan membungkuk dengan kedua tangannya di bawah dagu dan menopangnya di atas lututnya. Sedikit keseriusan Sendi menjawab kegelisahan Jihan.
"Benar, Ji… lagian 'kan kita nanti didalam hutan selalu bersama dan tidak berpencar-pencar, benar 'kan teman-teman?" ucap Fitri meyakinkan Jihan dan yang lainnya.
"Baiklah, waktu sudah menunjukan jam sembilan kurang lima menit. Sebaiknya kita bergegas." Sandi mengangkat badannya dari tempat duduk dan mulai mengambil barang bawaannya, diikuti yang lainnya.
Mereka menopang tas ransel di punggung mereka masing-masing dan segera menggerakkan kakinya menuju ke luar villa.
"Yuhuuu… alam yang hijau aku datang…!" teriak Kurnia keras, sehingga yang lainnya menutup kuping agar gendang telinga mereka tidak pecah.
"Bisakah kau tidak berteriak!"
"Mau gimana lagi? Aku senang sekali sih!"
"Hhhh…"
"Oh iya… bagaimana dengan peralatan tenda dan lainnya yang akan kita gunakan untuk kemah nanti?" tanya Jihan kepada Sandi.
"Tenang saja. Aku sudah menyuruh Rizal untuk memerintahkan Deni dan anak buahnya dalam mepersiapkan segala yang tidak kita punya nanti." Sandi berbalik badan menghadap Rizal. "Kau sudah menyuruh mereka 'kan, Zal?"
"Sudah. Sebentar lagi juga mereka datang. "Mata Rizal mencari-cari orang yang ia suruh untuk melakukan apa yang Sandi katakan kepadanya. "Nah, itu mereka datang." Tunjuk Rizal dengan kepalanya yang sedikit ia mengadahkan ke atas.
Sontak Sandi langsung memutar kepalanya menuju arah pandang Rizal. "Great Timing!" gumam Sandi melihat Deni dan anak buahnya membawa perlengkapan tenda dan sebagainya.
"Permisi, para Tuan dan Nona muda! Perlengkapan tenda dan lain-lain yang anda butuhkan telah kami persiapkan dengan sudah ditest terlebih dahulu oleh kami. Silakan!" ucap Deni saat tiba dihadapan mereka semua dan memerintahkan anak buahnya untuk menyerahkan semua barang yang akan mereka pakai dialam hutan nanti.
Terlihat berbagai perlengkapan sebagai berikut: Beberapa tenda, paku, tali tambang dan rafia, senter dan emergency light, bahan makanan dan minum, sebuah panci, kapak, garam, jas hujan, kompas berserta peta, makanan dalam kemasan kaleng, baterai, dan sebagainya sudah dipegang oleh masing-masing anggota hiking tersebut.
"Wah…banyak juga," gumam Jihan dalam hati.
Seakan-akan tahu apa yang Jihan gumamkan, Rizal mengulurkan tangan kepada Jihan untuk menawarkan bantuan kepadanya. "T-tidak usah, Zal… lagian kau sudah membawa barang yang terlihat lebih berat dari ku tahu!" Jihan melihat barang yang sudah dibawa Rizal di tangannya dengan barang yang ia bawa secara bergantian.
"hanya 'terlihat', bukan kapasitasnya." Tangan Rizal memaksa mengambil barang bawaan Jihan dari tangannya.
__ADS_1
"J-jangan, Zal! Aku bisa membawanya sendiri!"
Suara Jihan menyebabkan beberapa pasang mata yang lainnya melihat kearah mereka berdua.
"Hah? Ada apa kalian berdua?" tanya Novi yang menuntut jawaban dari kedua belah pihak disana.
"Ki-kita hanya…" Melihat Jihan takut dilihat dengan tatapan mata yang banyak seperti itu, Rizal memotong perkataannya.
"Aku hanya menawarkan bantuan untuk membawa sebagian barang bawaan Jihan yang banyak dan berat, mengingat ia tidak boleh membawa barang yang terlalu berat karena penyakitnya." jelas Rizal padat.
"Oh…" mereka semua hanya ber-'oh' ria dengan apa yang Rizal jelaskan tadi.
"Kalau begitu bagus 'kan, Ji… sahabat kecil mu itu memperhatikan kesehatanmu." nasihat Fitri terdengar sangat lembut di telinga Jihan, membuat hati Jihan yang tadinya keras menjadi mencair seketika.
Menyaksikan Jihan yang seperti itu, Rizal menggerakkan tangannya lagi untuk meraih barang Jihan dari tangannya dan… GOTCHA! Dapat!
"Rizal…!" Jihan yang terkejut akan perbuatan Rizal secara tiba-tiba, menegur Rizal yang tentunya dipotong oleh Rizal sendiri.
"Apa? Lagian yang lain tidak mempermasalahkan nya,"
Melihat perdebatan Rizal dan Jihan membuat hati Kurnia merasa panas dan perasaan cemburu menyelimuti dirinya. Ia hanya bisa menatap mereka dengan deathglare nya.
"Ayo, kita pergi!" Sandi mendongakkan kepalanya keatas langit yang biru dan cerah. "Sepertinya… hari ini hari yang bersahabat." Seulas senyuman menghiasi bibir Sandi. "Dan… sepertinya akan terjadi hal yang menarik disini." gumam Sandi kecil.
Sendi yang melihat senyuman Sandi pun ikut tersenyum karena ia jarang sekali melihat sahabatnya yang satu itu tersenyum bahagia. "Nah, Semuanya… Ayo!" Dan pastinya ia tidak mendengar apa yang telah digumamkan oleh Sandi tadi.
"Yu!" mereka semua pun mulai melangkahkan kakinya menuju luar gerbang Villa dan diantar oleh Deni serta anak buahnya.
Selepas kepergian mereka, Deni dan anak buahnya melambaikan tangan dan berpesan. "Hati-hati dijalan, Tuan dan Nona muda!"
Perlahan pepohonan yang rindang pun memisahkan mereka. Deni langsung memutarkan badannya menghadap kepada seluruh anak buahnya. "Baiklah. Sekarang mereka semua sudah pergi jangan kalian kira bebas dari pekerjaan yang menumpuk. Lakukan kegiatan kalian seperti biasa dan… lakukanlah yang terbaik!"
"Baik, Tuan!" Serempak mereka mengucapkan kata yang sama dan mulai berhamburan ke dalam Villa dan menuju kegiatan mereka yang selanjutnya masing-masing.
Setelah menyuruh anak buahnya pergi melanjutkan aktifitasnya, Deni menolehkan kepalanya ke belakang –tepat pada ketujuh sahabat itu melewati pepohonan yang rindang. "Yah… semoga kalian mendapatkan kejadian 'hal yang menarik itu', Tuan dan Nona muda."
'Khu khu khu khu khu khu khu…' tawa Deni sembari berjalan untuk mengawasi aktifitas para anak buahnya kembali.
Dan… Pintu gerbang yang besar itu pun tertutup dengan sendirinya secara perlahan. Seakan-akan tidak mau tahu dengan apa yang akan terjadi kepada mereka bertujuh nanti.
Hei… Apakah kalian tak merasa ganjil dengan persiapan tenda yang sangat lengkap itu?
Bukankah ini Villa?
Untuk apa Villa menyiapkan barang semacam itu di dalamnya jika fasilitasnya saja lengkap dan pelayanannya saja berbintang?
Dan… apa maksud Deni pada saat terakhir itu?
Ucapannya bukanlah sebuah pernyataan…
Melainkan sebuah jawaban dari kalimat 'Sepertinya akan terjadi hal yang menarik' yang dilontarkan dari keempat sahabat laki-laki itu.
Bagaimana keadaan di dalam Hutan?
Menenangkan… atau… menegangkan?
Sepertinya… akan terjadi 'sesuatu yang menyenangkan' di dalam hutan ini…
Dan mungkin, hiking mereka ini pertanda bahwa…
NIGHTMARE mereka semua akan segera dimulai…
SEGERA!
...~Lost In Nightmare~...
__ADS_1
...To Be Continued…...