
...NIGHTMARE 22_FINAL NIGHTMARE...
...Final Destination...
"Zal, aku mencintai Jihan."
Seketika sendi tangan Rizal terasa kaku, gerakan tangannya terhenti. Kepalanya pening—serasa semua darah mengalir ke otaknya. Telinga Rizal seperti berhenti berfungsi, tidak ada yang ia dengar selain debaran jantungnya sendiri. Matanya terpaku menatap iris Aquamarine Kurnia yang tengah menatapnya dengan tatapan serius dan dalam. Entah kenapa otaknya tidak ingin bekerja sama dengan dirinya, ia tidak bisa berpikir secara logis.
Rizal tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
"Zal..." sayup-sayup terdengar suara yang memanggil namanya, "Rizal!"
Rizal merasa seperti kembali ke dalam dirinya. Ia mengedipkan mata sesekali sembari mengalihkan pandangannya guna menyadarkan dirinya agar lebih sadar lagi. Tangannya kembali bergerak untuk melipat baju kotornya yang tersisa sembari memikirkan apa yang harus ia katakan.
Kurnia menatap Rizal dengan tatapan yang sulit diartikan. Apakah Rizal mendengar perkataannya yang tadi? Untuk memastikan lebih lanjut, Kurnia pun mengulang perkataan—atau bisa dibilang pengakuannya.
"Zal, aku mencintai Jihan."
Mendengar ulang perkataan itu membuat Rizal menggeram kesal. Mata onyx-nya menatap Kurnia. "Jika kau memang mencintai Jihan, katakanlah ke orangnya langsung, bukan ke aku." Tepat setelah Rizal menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba pemuda tersebut sadar akan apa yang ia ucapkannya. Argh, sepertinya penyesalan memang selalu datang belakangan.
Reaksi yang ditunjukkan Rizal membuat Kurnia sedikit shock dibuatnya. Yang bisa ia lakukan hanya tersenyum renyah. "Benar juga, ya! Yosh! Jika ada kesempatan suatu hari aku akan menyampaikannya sendiri," ucap Kurnia dengan optimis seraya mengepalkan kedua tangannya. Di dalam hatinya ia merasa sedikit bersyukur karena sepertinya Rizal tidak peduli dengan yang namanya cinta.
Sedangkan Rizal sendiri hanya bisa merutuki dirinya yang tidak terlalu mementingkan ego. Ia sendiri juga tidak mengerti mengapa ia bisa tiba-tiba menjawab pengakuan Kurnia mengenai rasa-sukanya-terhadap-Jihan dengan kalimat yang terkesan masa bodohnya itu.
Karena Rizal tidak ingin perasaan gelisah nya ini terus berlanjut, pada akhirnya ia mencoba untuk melawan Kurnia secara halus melalui pertanyannya.
"Memangnya Jihan mempunyai perasaan yang sama denganmu?"
Kurnia menolehkan kepalanya ke arah Rizal karena mendengar sang sahabat mengeluarkan suaranya. Kurnia menyipitkan mata. "Maksudmu?"
Bukannya mendapat perlawanan yang setimpal malah mendapat kecurigaan mendalam dari Kurnia.
Rizal berdeham kecil. "Maksudku, tahu dari mana jika Jihan juga mencintaimu?"
Kurnia bertolak pinggang mendengar perkataan Rizal. "Rizal, sahabatku, bukankah aku belum menyatakan perasaanku kepada Jihan? Jadi, bagaimana aku bisa tahu apakah Jihan mencintaiku juga atau tidak?" ucap Kurnia dengan nada tinggi di kalimat terakhirnya.
Oh, baiklah... sepertinya Rizal harus menghentikan pembicaraan ini sebelum ia menjadi terlihat lebih bodoh di depan Kurnia. Yang hanya bisa ia lakukan hanya merespon perkataan Kurnia dengan kata singkat, "Oh".
Tapi sepertinya respon Rizal itu menambah kebodohannya di depan Kurnia, itu semua terlihat dari bagaimana cara Kurnia memandang Rizal yang sekarang ini terlihat sangat bodoh di sebelahnya.
Karena merasa pemikiran mereka tidak sinkron satu sama lain, akhirnya mereka pun memilih melanjutkan kegiatan melipat baju kotor mereka masing-masing dengan rasa canggung. Dan terhanyut dengan perasaan yang menyelimuti mereka.
.......
...+++~Lost~+++...
.......
Jihan membuka pedal pintu kamar villanya dengan Novi yang sudah lama tidak ditidurinya mengingat Rizal dan Kurnia meminta agar dirinya tidur satu kamar dengan mereka. Mungkin kematian Novi dan Sendi yang membuat kedua pemuda itu menjadi protect terhadap Jihan. Itu hanya pemikirannya.
Secara perlahan Jihan memasukkan segala bawaannya yang masih berada di atas meja dan ranjangnya. Setelah semuanya terkumpul di tangan, Jihan pun segera beranjak menuju tas perlengkapannya—yang sengaja tidak ia bawa ke kamar Rizal dan Kurnia—dan memasukkannya satu-persatu dengan rapi.
Ketika Jihan menutup resleting tas dan hendak membawanya, tiba-tiba pandangan matanya berhasil ditarik oleh suatu hal yang menarik perhatiannya tepat di bawah meja rias sebelah kanannya. Sebuah tas berwarna ungu yang tampak dihalangi sebuah kursi. Yah, tas Novi yang berwarna favorit khasnya.
Tenggorokan Jihan tercekat begitu menyadari apa yang dilihatnya. Dengan ragu-ragu Jihan menarik tas ungu itu mendekat ke arahnya dan air mata pun mengalir turun dari matanya. Ia menutupi mulutnya untuk menahan isak kan tangisnya agar tidak pecah. Tas itu mengembalikan ingatan masa lalunya dimana Novi masih hidup dan juga kenangan dimana mereka sering pergi berdua. Bersama-sama.
Kenangan itu membuat Jihan terhenyak begitu lama. Entah sudah berapa lama ia menghabiskan waktunya itu.
"Novi..." ucap Jihan dengan nada yang gemetar karena tak kuasa menahan rasa sedihnya. Air matanya semakin menjadi-jadi.
Saat Jihan hendak membuka resleting tas Novi itu, entah kenapa ia seperti mendengar suara hatinya yang mengatakan 'jangan' sehingga gerakan tangan Jihan terhenti begitu saja. Mengingat ia tidak ingin suara tangisnya sampai ke telinga Rizal dan Kurnia, ia pun hanya mengelus pelan tas Novi sebelum ia meletakkan kembali tas itu di tempat semulanya.
Tangannya bergerak untuk menghapus air mata dari pipinya yang putih. Matanya yang sembab memperhatikan sebentar tas ungu Novi itu. "Maaf, Novi... Aku tidak bisa membawa barangmu pulang... Maaf," kata Jihan lirih.
Dengan langkah pasti, Jihan berjalan menuju pintu kamar dengan membawa tas yang sudah di genggamnya erat. Sebelum Jihan membuka pedal pintu, ia berdiam diri sebentar, menghela napas kencang, lalu keluar dari pintu dengan senyumannya seperti biasa.
.......
...+++~Lost~+++...
.......
Rizal dan Kurnia terus menutup mulutnya—tidak ada yang berniat untuk membuka pembicaraan. Ah, lebih tepatnya Rizal yang masih mengunci mulutnya.
Pikiran Rizal kini sedang kacau, ini semua karena si Bodoh yang tiba-tiba 'curhat' mengenai perasaannya terhadap Jihan. Padahal ia sudah berdiri menghadap ke jendela yang terbuka, tapi tetap saja angin yang menerpa wajahnya tidak bisa menjernihkan pikirannya walau hanya sedikit saja. Ia hanya berharap semoga dapat menemukan jawaban secepatnya. Dan sepertinya itu tidak mudah.
Sial, kenapa juga Kurnia harus memberitahukan ke Rizal, memangnya Rizal itu ibunya. Atau... jangan-jangan Kurnia sudah tahu bagaimana perasaan Rizal sesungguhnya kepada Jihan? Heh, tapi sepertinya tidak mungkin, Rizal sendiri saja masih bingung dengan perasaan yang dirasakannya.
Tapi, diam seperti ini dengan Kurnia rasanya sepi juga, ya...
"Yosh! Akhirnya selesai sudah!" teriak Kurnia kegirangan karena pada akhirnya ia berhasil me-resleting tasnya yang terisi penuh baju kotor. Kedua tangannya terangkat ke atas, pertanda selesai dengan tugasnya.
Rizal menolehkan kepalanya pelan ke arah Kurnia, melihat bagaimana hasil dari pengajarannya. "Hn, lumayan."
Kurnia menyipitkan matanya. "Hanya 'lumayan'? Kau tahu Zal, ini adalah sebuah mahakarya yang baru kali ini kulakukan. Dan kau masih bilang ini lumayan?" tanya Rizal dengan nada memaksa.
"Ya, ya, itu bagus."
Tepat seusai Rizal menyelesaikan, suara pintu terbuka terdengar hingga ke gendang telinga Rizal dan Kurnia, membuat kedua pemuda itu menengok ke daun pintu.
"Zal, Kur, kalian sudah membereskan semua barang bawaan kalian?" tanya seorang gadis seraya masuk ke dalam ruangan dengan membawa sebuah tas yang baru saja ia rapikan di kamar sebelah. Pintu kamar tertutup rapat.
"Tentu saja sudah!" seru Kurnia seraya mengacungkan ibu jarinya.
"Kau belum merapikan barangmu yang berada di kamar mandi, Kur." Rizal mengingatkan Kurnia yang dari dulu keteledorannya tidak pernah berubah.
Tangan Kurnia bergerak untuk menepuk dahinya. "Ah, iya! Aku lupa."
Melihat pembicaraan kecil Rizal dan Kurnia saja mampu membuat Jihan tertawa kecil. "Kalau Kurnia memang tidak pernah berubah, ya!" ucap Jihan singkat.
Rizal hanya terdiam melihat Kurnia yang membalas ucapan Jihan dengan cengirannya seraya menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal itu. Baiklah, sepertinya Rizal mempunyai kelainan di dalam tubuhnya. Entah kenapa saat melihat adegan di depan matanya itu, bagian organ tepat di dadanya terasa nyeri. Yang hanya bisa Rizal lakukan untuk menahan rasa sakit itu adalah mengepalkan kedua tangannya erat. Yah, setidaknya berkurang sedikit.
"Aku ingin memeriksa bagian kamar yang lain dulu," ucap Rizal sembari berjalan melewati Jihan menuju ke pintu kamar. Ketika tangan Rizal yang dingin menyentuh pedal pintu yang lebih dingin dari suhu tubuhnya,Rizal pun menyempatkan diri untuk berkata, "Kur, setelah selesai menyelesaikan barangmu, periksa juga ruangan lain." Lalu Rizal pun pergi dan menghilang di balik pintu.
"Yes, Sir!" seru Kurnia walau ia tidak tahu Rizal masih bisa mendengarnya atau tidak.
Melihat Jihan kembali bergerak untuk mengemasi barangnya yang berada di kamar itu, Kurnia pun segera beranjak dari tempatnya berdiri dan langsung melesat menuju kamar mandi. Ia keluar dengan berbagai perlengkapan mandinya: handuk, sikat dan pasta gigi, sabun beserta shampoo.
Tangan berkulit tan itu mengambil sebuah kantung plastik dari sisi samping tasnya, lalu memasukkan semuanya tanpa diatur terlebih dahulu. Memang khas Kurnia sekali.
Senyuman kebanggaan menghiasi bibir Kurnia. Sesaat dirinya membandingkan barang bawaannya dengan semua barang bawaan Rizal yang sudah berjajar rapi di atas ranjang. Kurnia kembali berjalan untuk mengambil seluruh barang bawaannya yang berada tepat di samping Jihan dan ia taruh semuanya di atas ranjang dengan rapi. Lalu, Kurnia membandingkannya kembali. Kemudian memasukkan kantung plastik berisi peralatan mandinya ke dalam tas yang masih memiliki ruangan untuk menyimpan. Setelah merasa semuanya mirip seperti susunan tas milik Rizal, ia pun menganggukkan kepalanya.
Jihan yang sedari tadi melihat kelakuan Kurnia itu tersenyum kecil dibuatnya. Tidak mau kalah, ya, pikir Jihan dalam hati. Lalu, ia pun melanjutkan kegiatannya yang terhenti.
Merasa puas karena barang bawaannya sudah tertata rapi sama seperti Rizal, Kurnia pun tidak sengaja menolehkan kepalanya ke arah Jihan. Ia memandang punggung Jihan dengan tatapan yang berbeda. Dengan perlahan ia melangkah mendekati Jihan. Saat jarak dirinya dengan Jihan kurang lebih satu meter, Kurnia menghentikan langkahnya.
"Ji" panggil Kurnia dengan nada dalam.
Karena mendengar ada yang memanggil namanya, Jihan pun memberhentikan aktivitasnya dan menoleh ke sumber suara tepat di belakangnya. Iris emerald-nya menangkap iris Aquamarine yang tengah memandanginya.
"Ya, ada apa?" jawab Jihan yang berupa pertanyaan. Jihan melihat mulut Kurnia sedikit terbuka, tetapi segera menutup pula dengan cepat. Seperti sedang tidak yakin akan suatu hal.
Otak Kurnia berpikir cepat mengenai apa yang akan ia ungkapkan. Baru saja ia ingin mengatakan perasaannya terhadap Jihan yang sesungguhnya, tapi tiba-tiba perkataan Rizal yang sebelumnya terngiang-ngiang di pikirannya.
"Memangnya Jihan mempunyai perasaan yang sama denganmu?"
Perkataan Rizal itulah yang berhasil membungkam kembali keberanian Kurnia untuk menyatakan cinta kepada Jihan. Perkataan yang membuat Kurnia berpikir dua kali.
"Ada apa, Kur? Apakah ada yang ingin kau bicarakan denganku?"
Suara Jihan mengeluarkan Kurnia dari pemikirannya. Seulas senyum mengembang di wajah Kurnia. "Tidak apa. Jika kupikir lagi, aku akan membicarakannya denganmu nanti saja."
Jihan memiringkan kepalanya, merasa aneh dengan jawaban Kurnia.
"Tenang saja, Ji... Yang ingin ku bicarakan denganmu tidak terlalu penting." Untuk meyakinkan Jihan akan ucapannya, Kurnia pun membentuk tanda piece, "Benar, kok."
Jihan menghela napas. "Ya sudah..."
"Kalau begitu, aku periksa ruangan lain dulu. Bye!" kata Kurnia sebagai alasan untuk pergi dari pembicaraan itu.
Ia pun meninggalkan Jihan sendiri yang masih bingung dengan kelakuannya itu.
.......
...+++~Lost~+++...
.......
Rizal melangkahkan kakinya menuju ke kamar lainnya. Jujur saja, ia beralasan memeriksa kamar lain hanya karena ia tidak ingin melihat Jihan dan Kurnia di dalam kamar itu. Itu hanya menambah rasa nyeri di dadanya. Bukannya bertambah baik, malah pikiran yang bukan-bukan menguasai dirinya. Apakah tindakannya ini salah?
Langkah Rizal terhenti di tengah koridor ketika ia berada di antara pintu kamar Sendi-Sandi di sebelah kirinya dan kamar Jihan-Novi di sebelah kanannya. Berhubung Jihan adalah jenis perempuan yang pelupa, pada akhirnya ia pun memilih pintu di sebelah kanannya. Dan pintu itu pun terbuka.
Satu hal yang terlintas di benak Rizal, isi kamar ini tidak berbeda jauh dengan kamarnya dengan Kurnia. Yang berbeda hanyalah ukuran ruangan saja, mengingat kamarnya dan Kurnia adalah kamar utama di villa ini.
Di antara semua yang ada di ruangan ini, Rizal hanya tertarik dengan satu hal; jendela. Rizal berjalan mendekati jendela kamar tersebut, lalu membukanya sehingga suhu kamar itu setara dengan suhu luar. Ah, satu hal lagi yang membedakan kamar ini dengan kamarnya. Pemandangan dari jendelanya yang berbeda. Jika jendela kamar Rizal tepat menghadap ke arah hutan, maka jendela kamar ini tepat menghadap ke pegunungan. Setidaknya itu yang tertangkap oleh mata normalnya di saat suasana gelap seperti ini.
Pemuda itu memejamkan matanya sesaat dan menikmati udara alam dan suasana sepi di kamar ini. Ia berusaha melupakan segala kepenatan yang melanda dirinya. Ketika pikiran dan perasaannya kembali tenang, matanya pun kembali terbuka. Setelah puas, ia pun menutup jendela itu kembali.
Rizal memeriksa kembali semua barang yang ada di sini, mulai dari laci meja kecil sebelah ranjang, lemari baju, kamar mandi, hingga bawah bantal. Tidak ada yang tertinggal, bersih.
Saat Rizal ingin beranjak keluar kamar, ada yang menarik perhatiannya. Sebuah tas berwarna ungu di bawah meja rias. Tas itu tepat berada di balik kursi, seperti ditutupi. Rizal mendengus pelan, salah satu sudut bibirnya tertarik ke atas.
"Heh, Sandi, ya..." ucap Rizal kepada dirinya sendiri.
Ia memang menyuruh menyembunyikan barang Novi mengingat sang pemiliki sudah tiada—dan lebih terutama agar Jihan tidak mengingatnya lagi, tapi dia tidak pernah menyangka bahwa Sandi akan menyembunyikan di tempat seperti ini.
"Apakah lemari tadi sudah terlalu penuh? Untung saja sepertinya Jihan tidak me—"
Perkataan Rizal terhenti ketika melihat sekumpulan kecil air yang memantulkan sinar lampu kamar. Karena rasa penasaran telah menyelubungi dirinya, Rizal menekuk satu kakinya sehingga ia berlutut dengan satu kaki. Ia menyentuh air itu dan membiarkan lidahnya mengecap air itu. Air mata.
Dengan cepat, Rizal menarik tas itu keluar dari sana. Dan sesuai dugaannya, terdapat jejak air mata menetes di sana. Oh, baiklah, Jihan sudah tahu mengenai keberadaan tas ini.
__ADS_1
Secara perlahan Rizal membuka tas itu untuk memeriksa apakah Jihan meninggalkan sesuatu di sana sesuai perkiraannya. Hei, Rizal, apakah kau sudah lupa kalau membuka tas perempuan itu dilarang?
Hal pertama yang dilihatnya adalah sebuah handuk besar yang terlipat sehingga menutupi seluruh ruangan tas itu. Tak ada yang mencurigakan. Ketika Rizal hendak menutup kembali tas itu, tiba-tiba ia tertarik dengan sesuatu yang terletak di sisi kiri dalam tas.
Tangan kanannya pun bergerak untuk mengambil barang yang berupa buku itu. Sudut kanan bibir Rizal terangkat. Ia pun mulai membuka buku itu dan membacanya dengan teknik membaca cepat seraya berharap ia menemukan jawaban yang dicarinya.
.......
...+++~Lost~+++...
.......
Kurnia berhasil keluar kamar dengan jantung yang berdebar kencang. Belum menyatakan cinta saja sudah seperti ini, apalagi jika tadi menyatakan cinta? Ia tidak bisa membayangkan seperti apa bentuk jantungnya nanti. Cinta itu mengerikan.
Karena tidak ingin berdiam diri terus-menerus di depan pintu kamar, Kurnia pun mulai berjalan seraya menenangkan debaran jantungnya. Ia berpikir kalau ia akan memeriksa teras belakang dahulu, mengingat Rizal yang akan memeriksa kamar. Jadi, Kurnia langsung melesat menuju teras belakang melewati kedua pintu kamar lainnya.
Sesampainya di sana Kurnia langsung memeriksa di sekitar teras itu, barangkali ada barang yang tertinggal ketika mereka berbincang-bincang di sini. Merasa tak ada yang tertinggal, Kurnia pun mendekat ke arah tiang teras. Ia menumpukan badan ke kedua lengannya yang ia gantungnya di tiang teras.
Tepat di bawahnya terdapat kolam tempat di mana Sendi mengembuskan napas terakhirnya. Tiba-tiba saja ia teringat mengenai barang bawaan yang dibawa temannya yang sudah tiada, ia merasa tidak rela meninggalkan semua barang yang ditinggalkan teman-temannya di villa ini.
Yang hanya bisa ia lakukan adalah melupakan pemikiran seperti itu dan menatap lurus ke depan. Ia tahu tidak ada yang bisa ia lihat di depan sana, tapi entah kenapa ia ingin memandang lurus ke depan saja. Tidak ingin memikirkan apapun untuk beberapa detik dari sekarang.
"Kurnia! Rizal! Tolong ke sini sebentar!"
Suara Jihan menggema ke seluruh penjuru villa lantai dua. Dengan tergesa-gesa, Kurnia pun segera keluar dari teras dan menuju ke kamar di mana Jihan berada. Baru saja ingin melewati pintu kamar yang lainnya itu, tiba-tiba Rizal muncul dari salah satu kamar yang ada. Maka terjadilah benturan kepala yang hebat dari keduanya.
Suara ringisan sakit dari keduanya terdengar hingga ke pendengaran Jihan yang berada di luar kamar.
"Kalian tidak apa? Benturan kalian tadi sungguh kencang," seru Jihan dari kejauhan.
Kurnia merespon perkataan Jihan dengan mengangkat sebelah tangannya sambil berseru dengan suara lantang, "Kami tidak apa!"
"Kur, bisakah kau tidak berlari di koridor seperti itu?" tanya Rizal seraya mengelus pelan bagian kepalanya yang menjadi korban benturan tak berencana itu.
"Zal, aku itu tidak berlari, aku hanya berjalan cepat. Lagian, kau juga tiba-tiba muncul begitu," balas Kurnia tak mau kalah.
"Memangnya apa yang harus aku lakukan ketika keluar kamar, hah?"
Kurnia mengangkat sebelah tangannya. "Keluarkan tanganmu terlebih dahulu agar orang lain yang lewat di koridor tahu kalau kamu ingin keluar."
"Zal, Kur, perbincangan kalian sudah selesai? Aku membutuhkan salah satu dari kalian!"
Suara Jihan membuat kedua pemuda itu menoleh ke arahnya. "Iya, sebentar lagi," seru mereka bersamaan dengan kompak. Lalu kembali menatap satu sama lain.
"Jadi, siapa yang akan ke sana?" tanya Kurnia kemudian terhadap Rizal.
Rizal menghela napas. "Kau sajalah." Sebelum Kurnia mengeluarkan suaranya, Rizal menambahkan kalimatnya. "Aku masih ingin memeriksa sebentar kamar Sendi-Sandi." Rizal berjalan menuju pintu kamar yang ingin diperiksanya.
Kurnia menaikkan sebelah alisnya. Matanya mengikuti ke mana Rizal berjalan. "Memangnya sedari tadi kau melakukan apa?"
"Tidur," jawab Rizal singkat sebelum pintu kamar Sendi-Sandi tertutup rapat.
Rizal menutup pintu kamar Sandi-Sendi dengan sedikit tegas di depan Kurnia, berharap pemuda itu menyadari perasaannya. Baiklah, ini mengenai perasaan yang ia rasakan saat adegan sebelumnya, bukan adegan yang baru saja terjadi—if you know what I mean.
Dan baru saja ia berbohong.
Karena tidak ingin menghabiskan waktu lebih banyak lagi mengingat sekarang sudah jam setengah dua belas kurang—setidaknya itu menurut jam arloji yang menggantung di lengan kirinya—Rizal pun segera memeriksa setiap sudut ruangan.
Seperti di kamar sebelumnya, di sini pun diperlakukan sama oleh pemuda satu ini. Memeriksa laci, kamar mandi, bawah bantal, dan bawah meja. Tak ada tercecer, semua barang Sendi dan Sandi sudah rapi. Hanya satu yang belum diperiksa. Lemari kamar.
Dengan santai, Rizal mendekat ke arah lemari dan membukanya. Tepat di depan matanya terlihat sebuah benda berbentuk persegi berukuran lumayan besar yang dilapisi sehelai kain berwarna putih. Karena penasaran, Rizal pun mengambil benda itu dan membuka kain pembungkus yang berserat tebal itu.
Mata Rizal sedikit terbelalak. "Ini..."
.......
...+++~Lost~+++...
.......
"Oh, baiklah..." ucap Kurnia setelah pintu kamar itu ditutup Rizal dengan sedikit kencang—atau itu mungkin hanya perasaannya karena berjarak terlalu dekat dengan pintu?
Kurnia berjalan ke arah Jihan yang sedari tadi menunggu salah satu dari mereka mendekat kepadanya. "Ada apa, Ji?"
Rizal bertolak pinggang. "Berhubung sekarang sudah jam setengah dua belas kurang, aku akan memanggil para pelayan untuk membantu kita membawakan barang ke bagasi mobil," ucap Jihan panjang lebar. "Jadi, kau tolong pindahkan tasku yang masih di lantai ke atas ranjang, ya?"
Ibu jari Kurnia mengacung ke atas seraya melemparkan senyum ke arah Jihan. "Tentu saja, serahkan padaku!"
Rizal membalas senyuman Kurnia. "Terima kasih, Kur!" Jihan pun segera berlari kecil menuju ke lantai bawah. "Tolong, ya!"
Setelah memastikan Jihan sudah turun ke bawah. Kurnia pun masuk ke dalam kamar dan melakukan apa yang Jihan minta tolong kan. Berhubung bawaan Jihan tidak terlalu banyak, jadi Kurnia bisa melakukannya hanya dalam sekali jalan.
Kurnia mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan, semua terlihat rapi dan kosong seperti pertama kali datang. Memeriksa laci dan lemari, kosong. Melihat keadaan kamar mandi untuk yang ke terakhir kalinya, tidak ada apa-apa.
"Yosh! Siap berangkat untuk pulang!" serunya dengan perasaan lega.
"Sebelum pulang masukkan dulu semua barang ke dalam mobil."
"Hn." Rizal melengos masuk ke dalam, membiarkan pintu terbuka lebar. Kepalanya bergerak ke kiri dan ke kanan mencari sesuatu. "Jihan?"
Kurnia melipat kedua tangannya di dada. "Dia tadi menyuruhku untuk menaikkan tas bawaannya ke atas ranjang, sedangkan dia sendiri pergi memanggil para pelayan untuk membantu kita membawakan barang bawaan ke bagasi," jelas Kurnia panjang lebar.
Rizal menaikkan salah satu alisnya. "Apakah kita tidak mengganggu para pelayan di tangah malam begini?"
Kedua pundak Kurnia tertarik ke atas singkat. "Entahlah, bukankah mereka sendiri yang menawarkan diri untuk membantu kita untuk yang ke terakhir kalinya?"
Pandangan Rizal beralih dari mata Kurnia ke lantai villa yang dingin. Tidak ada balasan darinya, tampaknya Rizal sedang berpikir. "Hn, kau benar."
Suara derap langkah kaki terdengar semakin besar di telinga mereka, beberapa orang tengah berjalan mengarah ke kamar di mana Rizal dan Kurnia berada. Sebelum sekumpulan orang itu muncul di depan daun pintu, iris Aquamarine dan onyx sudah menyambut mereka terlebih dahulu.
"Permisi, Tuan Muda, kami datang untuk membantu membawakan semua barang Anda ke bagasi," ucap Kepala Pelayan Baru Indra. Tangan kanannya ia silangkan di depan dada. Ia hanya berdua dengan salah seorang rekannya yang bernama Rizki.
Iris onyx mengamati mereka satu persatu. "Jika kalian sudah datang, di mana Jihan?" Pertanyaan Rizal menggerakkan hati Kurnia untuk mencari gadis pujaannya di antara para pelayan.
"Aku di sini!" ujar Jihan dari kejauhan, lalu berjalan masuk ke dalam kamar melewati kedua pelayan yang masih setia berdiri di luar kamar.
Kurnia menghela napas dalam. Perasaan lega menyelimuti hatinya. "Kukira kau menghilang."
"Tidak ada yang mau menculik ku Kur," balas Jihan ketika sudah berada di samping Rizal. "Daripada memikirkan aku, bagaimana kalau kita mulai memindahkan barangnya sekarang?" Iris emerald Jihan menarik lengan kiri Rizal dengan seenaknya dan melihat sesuatu yang menggantung di sana sebentar. Perlakuan Jihan dibiarkan saja oleh Kurnia. "Sekarang sudah jam setengah dua belas lewat, Teman."
Rizal memberi kode masuk dengan gerakan kepala singkat kepada para pelayan. "Kalian boleh melakukan tugas kalian."
"Rizal, Kurnia, kalian mengatur barang di bagasi," perintah Jihan terhadap mereka, "Aku akan mengatur di sini."
"Hn."
"Baiklah!"
Indra dan Rizki mulai mengangkat barang sesuai dengan kapasitas tangan mereka dan mulai berjalan ke luar kamar. Rizal dan Kurnia hanya mengikuti mereka dari belakang. Mereka menuruni tangga hingga ke lantai satu—ruangan terakhir. Saat di ruangan itu, Kurnia menyempatkan diri untuk memeriksa apakah ada barang yang tertinggal di ruang itu.
"Aku sudah memeriksanya, Kur. Tidak ada yang tertinggal," ucap Rizal datar.
"Oh." Kurnia merespon Rizal dengan sangat sederhana. Matanya menangkap bahwa sedari tadi Rizal hanya memerhatikan lurus ke depan, ke arah para pelayan. Tidak ke yang lain. Apakah Rizal mencurigai mereka? Atau... apa? Berhubung Kurnia tidak ingin terlibat lebih jauh, jadi dia membiarkan Rizal melakukan sesukanya.
Setelah melewati beberapa ruangan di lantai satu, akhirnya mereka pun tiba di luar villa. Udara dingin yang menusuk hingga ke tulang tanpa segan langsung menerpa tubuh mereka yang masih terbiasa dengan udara hangat di dalam sana. Walau mereka sudah memakai jaket tebal, tetap saja udara dingin pegunungan itu terus menerobos masuk ke dalam lapisan jaket terdalam.
"Ah, dinginnya!" rutuk Kurnia akan kenyataan yang ada.
"Jika kau terus berdiam diri seperti itu, maka udara dingin akan membuatmu beku," ujar Rizal yang sudah membuka pintu bagasi hingga terbuka sepenuhnya. "Kalian boleh menaruh barang itu di sini," perintah Rizal sambil menunjuk tanah yang berada tidak jauh di kakinya.
Dengan tenang, kedua pelayan itu pun menaruh semua barang yang dibawa tepat di mana Rizal menunjukkan lokasi peletakannya. Pelayan yang bernama Rizki berkata, "Kalau begitu, kami akan mengangkut barang yang lain. Permisi."
Seusai menyelesaikan kalimatnya, Rizki dan Indra pun pergi meninggalkan Rizal dan Kurnia berdua di belakang.
Tanpa basa-basi, mereka pun langsung mengatur barang yang baru saja ditaruh para pelayan itu satu persatu. Tidak ada pembicaraan di antara mereka, entah karena faktor suhu sehingga mereka tidak mau berbicara satu sama lain... atau tidak ada yang mau mereka bahas?
Tak lama kemudian kedua pelayan itu datang kembali dengan membawa barang yang berbeda. Barang Rizal sudah lengkap di dalam mobil, berarti itu adalah barang bawaan Kurnia dan sebuah tas milik Jihan. Dan itu artinya masih ada beberapa tas Jihan di atas.
Kedua pelayan itu langsung meletakkan barang bawaan kedua yang mereka bawa di tempat pertama mereka letakkan, lalu pergi tanpa mengucapkan sepatah kata. Mungkin mereka sedang terburu-buru untuk menyelesaikan pekerjaan ini mengingat sekarang sudah jam dua belas kurang lima belas menit.
Rizal dan Kurnia kembali mengatur barang yang ada. Awalnya terjadi tanpa percakapan, tapi tiba-tiba Kurnia mengawali percakapan mereka.
"Zal, aku sudah memutuskan!"
Mendengar suara baritone pemuda di sebelahnya telah keluar dari tenggorokannya, Rizal pun menoleh ke arahnya tanpa menghentikan aktivitasnya. Raut wajahnya datar.
Kurnia menoleh ke Rizal. "Aku akan menyatakan cintaku pada Jihan ketika kita dalam perjalanan pulang nanti."
Seketika mata Rizal terbelalak. Gerakkan tangannya terhenti. "Apa?"
"Bagaimana menurutmu, Zal? Keren, 'kan?" Kurnia menampilkan cengiran khasnya.
Mulut Rizal terbuka sedikit seperti ingin mengatakan sesuatu, tetapi tertutup kembali seperti menahan sesuatu. Rahangnya terkatup rapat, apakah dia menyesal? Rizal memalingkan kepalanya dari Kurnia. "Terserah kau." Hanya itu yang bisa ia katakan.
Hei, Rizal, bisakah kau berhenti menyakiti perasaanmu sendiri?
"Mohon doanya, ya," pinta Kurnia seraya mendekatkan wajahnya ke arah Rizal. Dan hanya dijawab sebuah gumaman acuh tak acuh setuju darinya.
Kemudian mereka pun kembali mengatur barang dengan perasaan yang berbeda. Kurnia melakukannya dengan penuh sukacita, sedangkan pemuda lain yang di sebelahnya tengah diselimuti oleh perasaan yang luar biasa kacaunya. Salah sendiri, bukan?
Ketika barang yang mereka masukan sudah tersusun rapi dan menunggu barang yang berikutnya datang. Rizal melirik jam arloji-nya sesaat.
"Kur, berhubung nanti aku yang mengendarai mobil, aku ingin ke kamar mandi dulu. Tolong jaga barang bawaan kita," perintah Rizal seraya berjalan meninggalkan Kurnia yang sedang bahagia di belakang.
"Serahkan saja padaku!" kata Kurnia seraya memukul dadanya. Senyuman masih mengembang di wajahnya.
Pikiran Kurnia kini tengah dihantui oleh perasaan gembira akan cinta. Baru kali ini ia merasakan hal seperti ini. Mungkin kalimat seperti 'cinta dapat membuat orang menjadi gila' berlaku untuk Kurnia sekarang. Yang dilakukan otaknya saat ini adalah menyusun kalimat yang tepat untuk menyatakan cintanya kepada Jihan. Semakin lama ia memikirkan Jihan, semakin cepat pula debaran yang dialami jantungnya.
Di saat otaknya sedang sibuk bermain menyusun kalimat, telinganya mendengar suara derap langkah kaki seseorang yang semakin lama semakin mendekat ke arahnya. Karena penasaran siapa orang tersebut, akhirnya Kurnia memutuskan untuk menolehkan kepalanya ke derap langkah kaki itu berasal.
Pupil Kurnia mengecil. Orang yang sekarang tepat berada di depannya membawa tongkat pemukul baseball. Belum sempat Kurnia mengeluarkan suaranya, seseorang yang berada di depannya itu langsung menghantamkan benda yang berada di tangannya tepat di atas kepala Kurnia. Bunyi suara benturan keras terdengar dengan sangat jelas.
__ADS_1
Sebelum Kurnia terjatuh ke tanah karena menerima pukulan yang lumayan keras, orang itu menopang Kurnia yang sudah terkulai lemas dengan tubuhnya. Kepala Kurnia tepat berada di salah satu pundak orang tersebut.
"Ji... Han..."
.......
...+++~Lost~+++...
.......
Rizal terus melangkahkan kakinya menuju tempat di mana mobilnya berada dengan sedikit terburu-buru. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam kantung jaket, mengharapkan ia mendapat kehangatan di sana. Tapi tetap saja, nihil.
Ia menuruni tangga luar villa satu persatu dan onyx-nya menangkap ada seseorang yang sedang menutup pintu mobil baris ke duanya.
"Ji, sejak kapan kau di sini?" tanya Rizal saat berada tepat di balik punggung Jihan.
Mendengar ada yang memanggilnya, Jihan pun menoleh ke arah sang empunya suara. "Ah, Zal... Tidak lama, kok. Baru saja." Jihan memerhatikan Rizal. "Memangnya kau dari mana saja?"
"Aku dari kamar mandi." Ibu jari Rizal menunjuk ke arah belakang punggungnya. Tak lama kemudian, ia mengedarkan pandangannya untuk melihat sekitar. "Di mana Kurnia?"
Jihan menatap Rizal bingung. "Dia tidak ada di sini sejak aku datang. Bukankah dia bersamamu?"
"Aku memang bersama dengan dia beberapa menit yang lalu, tapi dia ku tinggal ke kamar mandi dan aku juga menyuruhnya untuk memasukkan barang bawaanmu mengingat barang bawaanmu yang dibawa kedua pelayanlah yang terakhir."
Kedua alis Jihan saling bertaut satu sama lain. "Barang bawaanku? Aku tidak menyuruh mereka."
Rizal menyipitkan matanya. "Maksudmu?"
"Ya, kedua pelayan itu memang kembali untuk membawa barang bawaan Kurnia, tapi aku menyuruh mereka untuk membawa tasku yang paling berat saja, sedangkan sisanya aku yang bawa sendiri karena sebelum kita pergi nanti aku ingin buang air kecil terlebih dahulu," jelas Jihan dengan nada sungguh.
"Tapi kedua pelayan itu, tidak berkata apa-apa." Rizal mengalihkan pandangannya ke arah lain. Otaknya berpikir keras mengenai hal ini. Kedua pelayan itu pergi dengan diam, Kurnia ia tinggalkan sendiri, dan saat kembali Jihan sudah berada di mobil sedangkan Kurnia menghilang entah ke mana.
"Jangan-jangan..."
Jihan menatap serius ke Rizal. "Jangan-jangan apa?"
"Kemungkinan besar, menurut pemikiranku, Kurnia adalah pembunuh yang sebenarnya," ungkap Rizal to the point.
Mata Jihan membulat. "Itu tidak mungkin, Zal!" tolak Jihan dengan nada tidak terima, "Kurnia tidak mungkin pembunuhnya! Bukankah dia yang menolong mu dari kegilaan Sandi?"
"Jadi apa, Ji?" balas Rizal dengan nada tinggi, "Dari semua alasan yang telah kita jelaskan satu persatu hanya satu orang yang mempunyai alibi pembunuh. Kurnia."
Kepala Jihan menggeleng ke kiri dan ke kanan, tidak menerima kenyataan yang ada. Tenggorokannya tercekat. Baru saja ia ingin mengucapkan suatu hal, tetapi suara Rizal lebih cepat keluar dibanding dirinya.
"Ditambah kini ia menghilang dari hadapan kita." Rizal menatap dalam Jihan. "Maka sempurnalah alibinya."
Air mata Jihan kini sudah tidak terbendung lagi. Tangisnya pecah. Kedua tangannya ia gunakan untuk menutupi wajahnya. Kenyataan ini sama sekali tidak diduganya. Dalam tangisnya ia merasakan dua tangan besar merengkuh wajahnya, mengesampingkan tangannya yang menutupi wajah, dan mendekatkan wajahnya seraya membiarkan onyx-nya menatap dalam ke emerald-nya.
Kedua ibu jari Rizal mengusap air mata Jihan. "Jangan menangis. Bukankah itu baru kemungkinan besar? Walau tidak mungkin dia tidak ingin pulang ke rumah, kita bisa menunggunya."
Tidak butuh waktu lama untuk menunggu Jihan menganggukkan kepalanya pertanda setuju.
Rizal menghela napas. "Kita tunggu sebentar lagi."
Dengan lembut, Rizal menarik Jihan ke dalam pelukannya dan bisa dipastikan tengah terkejut akan apa yang telah Rizal lakukan padanya. Tangan kanan Rizal bergerak untuk mengelus pelan pucuk kepala teman perempuannya itu. Jika dilihat-lihat, Rizal memang sangat menikmati momen yang ada, sedangkan Jihan? Kurasa dia sedang sibuk dengan jantungnya yang berdebar tidak keruan itu. Entah sejak kapan setiap kali Rizal menatap atau melakukan hal baik kepadanya, jantungnya pasti akan berdebar kencang. Serasa semua darah naik ke atas kepala. Perasaan apa yang ia rasakan?
Di saat perasaan Jihan sudah mulai tenang, terdengar suara derap langkah kaki yang perlahan mendekat ke arah mereka. Dengan sigap Rizal dan Jihan pun menolehkan kepalanya ke arah suara berasal. Berharap suara itu adalah suara derap langkah kaki milik Kurnia.
Mata mereka membelalak ketika melihat apa yang ada di depan mata. Para pelayan tampak di depan mereka seraya membawa peralatan benda tajam. Tidak hanya itu, bahkan ada yang membawa sebuah obor di tangannya—seperti hendak membakar sesuatu. Satu hal yang ditangkap oleh Rizal dan Jihan.
Tatapan mereka tatapan haus membunuh.
"Ada apa ini?" gumam Jihan dalam pelukan Rizal dengan nada gemetar.
Kepala pelayan bernama Indra mengacungkan jarinya ke tempat Rizal dan Jihan berada. "Tangkap mereka!"
Beberapa pelayan berlari ke arah mereka seraya mengangkat tinggi benda tajam mereka, siap memotong korban yang ada di depan mereka.
"Jihan! Masuk ke dalam mobil!" seru Rizal sambil mendorong Jihan menjauh dari dirinya, lalu disusul dengan bunyi suara benda tajam menancap di pintu bagasi mobil Rizal.
"Cepat, Ji!"
Dengan tergesa-gesa, Rizal dan Jihan berlari masuk ke dalam mobil. Rizal mengambil alih kemudi. Tanpa pikir panjang, Rizal segera meng-starter mesin mobilnya dan langsung melesat dengan kecepatan tinggi menjauhi para pelayan yang masih mengejar mereka dari belakang.
Indra mengangkat salah satu tangannya ke atas, seperti memberi kode. "Tutup gerbangnya!" teriak Indra dengan suara lantang. Suaranya menggema di seluruh penjuru pegunungan yang sunyi.
"Zal! Gerbangnya!" seru Jihan yang duduk di sebelah Rizal seraya menunjuk apa yang dikatakannya.
Rizal melihat apa yang ditunjuk Jihan di depan. Gerbang villa yang besar itu menutup secara perlahan. Tidak ingin mensia-siakan waktu yang ada, Rizal menggerakkan kakinya untuk menginjak persneling dan memasukkan kecepatan mobil ke dalam speed tertinggi. Porsche Panamera itu melesat lebih cepat dari sebelumnya. Semakin lama, mereka semakin dekat dengan gerbang yang nyaris tertutup.
Mereka lolos.
Porsche Panamera Rizal melambung tinggi mengingat ia menggunakan kecepatan yang di atas rata-rata manusia normal kemudikan dan jalanan pegunungan di luar sana yang menurun. Bunyi benturan keras dan desingan bumper depan mobil dengan tanah saat jatuh terdengar menyakitkan telinga. Rizal dan Jihan selamat, walau fisik mobilnya tidak.
Tapi, sepertinya mereka tidak mempedulikannya.
Kini Rizal dan Jihan sudah dapat merasa lega akan kejadian ekstrim tadi. Berhubung mereka sudah berada di luar wilayah villa itu, Rizal pun menuruni kecepatan paling gila yang pernah ia rasakan manjadi kecepatan normal yang biasa dipakai orang awam. Tidak ada yang bicara satu sama lain, mereka masih berada dalam tahap tegang.
Saat di perjalanan—kira-kira sudah beberapa kilometer jauhnya dari gerbang villa itu—Jihan teringat akan Kurnia yang ia tunggu kehadirannya ketika masih di dalam area villa. Ia baru menyadari bahwa Kurnia tidak bersama dengan mereka. Mereka meninggalkan Kurnia di sana.
"Zal, bagaimana dengan Kurnia?" tanya Jihan dengan nada cemas.
Sebelum Rizal menjawab pertanyaan Jihan, tiba-tiba suara ketukan berdesibel kecil terdengar dari dalam mobil. Ketukan itu sebanyak dua kali.
Tatapan mata Jihan mengeras mendengar suara itu, ia langsung memalingkan wajah ke arah Rizal yang masih melihat lurus ke depan jalan. "Zal, kau dengar itu?"
Rizal melihat Jihan melalui ekor matanya sesaat. "Mendengar apa?"
Jihan memberi instruksi kepada Rizal. "Tunggu. Coba diam dan dengar."
Suara ketukan sebanyak dua kali itu terdengar lagi, masih dengan desibel yang sama.
Seketika bulu kuduk Jihan meremang mendengar suara ketukkan itu. Rasa penasaran dan takut bercampur menjadi satu. "Zal, apa kau dengar?"
"Mungkin kau salah dengar, Ji... Mana a—"
Ketukan sebanyak dua kali itu kembali hadir kini dengan desibel yang sedikit lebih keras dari sebelumnya.
"Itu! Kau mendengarnya, 'kan, Zal?" tanya Jihan sekali lagi. Tidak ada jawaban dari Rizal, atau Rizal sama sekali tidak berniat untuk menjawabnya. Karena rasa penasaran lebih mendominasi dari rasa takutnya, Jihan pun memberi sebuah perintah kepada Rizal, "Berhenti, Zal."
Rizal menengokkan wajahnya beberapa kali ke arah samping kemudi. "Apa? Kau tidak salah? Sekarang ini kita sedang berada di dalam hutan."
"Berhenti, Rizal!"
Porsche Panamera itu pun berhenti melaju di tengah kesibukkan mesinnya dengan disertai sebuah decitan ban sebelum mobil itu berhenti total. Bisa dilihat sekarang tangan Rizal terkepal hebat di-steer-nya.
"Matikan mesin mobilnya," titah Jihan kemudian.
Rizal pun mematuhi segala perintah Jihan. Sunyi. Tidak ada suara deru mobil yang terdengar. Yang ada hanya sorotan lampu mobil yang menyenter jalan bebatuan. Selama Rizal berdiam diri di sebelahnya, Jihan menajamkan indra pendengarannya. Tak ada suara. Suara ketukkan itu tidak terdengar lagi. Suara ketukkan dua kali. Otak Jihan berpikir cepat mengenai masalah ini. Kalau tidak salah, suara tadi berasal dari arah belakang mobil. Bagasi.
"Zal, buka bagasi mobil, cepat," titah Jihan kembali sambil membuka pintu dan turun dari mobil. Berjalan menuju belakang mobil.
Dan Rizal pun langsung menekan sebuah tombol dari beberapa tombol di sekitar kemudinya. Bunyi respon pintu bagasi pun terdengar. Lalu, Rizal segera turun dari mobil. Menyusul Jihan yang sudah mendahuluinya.
Jihan meneguk air liurnya, menyiapkan mental untuk menerima apa yang ada di sana dan apa yang akan terjadi kepadanya dan Rizal setelah ini. Dalam hitungan ketiga di dalam hati, ia pun membuka bagasi itu. Jihan mematung dibuatnya. Ia merasa seluruh waktu di dunia ini berhenti karenanya.
"Kurnia..." ucapnya lirih.
Ya, Kurnia-lah yang berada di dalam bagasi itu. Rembesan darah mengalir keluar dari kepalanya, seperti telah dipukul dengan sesuatu hingga pingsan. Tubuhnya terkulai lemas bersama tumpukkan barang di dalam sana. Tidak ada pergerakkan. Tidak ada respon. Tidak ada bunyi deru napas. Mungkin beberapa saat yang lalu Kurnia masih berada bersama dengan mereka, tapi sekarang...
Kurnia telah tiada.
Jihan membelalakkan matanya. Ia tidak menyangka hal ini akan terjadi. Dan ia tidak siap menerima bahwa ia akan kehilangan salah satu teman masa kecilnya. Tunggu, masih ada Rizal di sebelahnya. Jihan menolehkan kepalanya ke arah Rizal untuk melihat bagaimana respon dari Rizal.
"Rizal..."
Rizal menundukkan kepalanya seraya menyeringai tajam. Suara tawa tertahan yanng berat keluar dari pita suaranya. Suara tawanya meledak ketika ia mengangkat wajahnya dan menatap Jihan yang berada tepat di depannya dengan tatapan penuh kasih sayang. Bibirnya masih menyeringai.
"Jihan, akulah pembunuh yang sebenarnya."
Jihan terkesiap mendengar apa yang baru saja Rizal katakan. Matanya membelalak lebih lebar dari sebelumnya. Sungguh, ia tidak percaya ini adalah dunia nyata. Ia rasanya ingin berlari mencari jalan keluar dari mimpi ini dan terbangun di dalam kamarnya.
"Mengapa kau melakukan ini, Zal? Mengapa kau membunuh mereka, teman-teman kita?" tanya Jihan dengan suara tertahan.
"Aku melakukan ini karena mereka mengganggu dan membahayakan kita," ucap Rizal jujur dengan nada geram yang jelas terdengar dan tatapan tajam. Tetapi berubah dengan cepat menjadi normal. "Dan aku membunuh mereka karena aku mencintaimu, Jihan."
Air mata Jihan mengalir turun dari bendungannya, membuat anak sungai di pipinya yang putih. "Tapi, kenapa kau harus membunuh Kurnia?"
Rizal memandang Jihan dengan arti yang dalam. "Aku terpaksa melakukannya karena dia juga mencintaimu. Aku tahu, aku memang menyadarinya lebih telat dibandingkan Kurnia, tapi akulah yang pertama kali mencintaimu. Dan aku tidak akan membiarkan seorang pun, walau itu adalah Kurnia, mendahuluiku."
Seringaian Rizal menajam dari sebelumnya. Onyx-nya menatap Jihan dengan tatapan ingin memangsa. "Sandiwaraku sungguh hebat, bukan?"
Tuturan kalimat dari Rizal membuat Jihan shock sesaat. Diam di tempat. Apa yang harus ia lakukan?
Melihat Jihan yang tengah terpaku di tempatnya, Rizal pun langsung memeluk Jihan dengan erat. Tangan kekarnya mencengkram erat lengan Jihan. Seperti apa yang telah diduganya, Jihan meronta ingin dilepaskan. Semakin menjadi-jadi Jihan memberontak di dalam pelukannya, semakin erat pula Rizal memeluknya.
"Rizal! Lepaskan aku!"
Salah satu sudut bibir Rizal tertarik ke atas. "Aku tidak akan pernah melepaskan mu, Ji. Karena kau adalah milikku."
Setelah menyelesaikan perkataannya, sebelah tangan Rizal terangkat ke udara dan mendaratkannya di tengkuk Jihan dengan sangat kencang hingga gadis yang berada di dalam pelukannya itu tidak sadarkan diri di tempat seketika.
Merasa Jihan yang berada di dalam lingkar lengannya sudah tertidur dengan arti kata lain, Rizal pun membopong Jihan dan memasukkannya ke dalam mobil sebelah kemudi—tempat Jihan duduk sesaat sebelumnya—setelah ia menutup kembali pintu bagasi mobil yang berisi Kurnia itu.
Rizal berjalan memutari mobil untuk masuk ke dalam bagian kemudi. Sebelum ia masuk ke dalam mobil, Rizal mengacungkan jari telunjuk tepat di depan mulutnya seraya menolehkan kepalanya.
"Ssshhh..."
...~Lost In Nightmare~...
...THE END...
__ADS_1