Lost In The Nightmare

Lost In The Nightmare
The Silent Of Rest Place


__ADS_3

...NIGHTMARE 6...


...The Silent of Rest Place...


Selangkah demi selangkah mereka jalani menelusuri jalan setapak dari lereng gunung –dimana villa mereka berada- yang rencananya mereka akan menuju ke bukit gunung yang tinggi dan berfoto ria disana kelak.


Detik demi detik. Menit demi menit. Jam demi jam. Ada yang semangat, ada yang lesu. Ada yang lelah, ada juga yang tidak. Perjalanan mereka diselimuti oleh suasana yang berbeda-beda.


Setelah beberapa centimeter pun menjadi meter dan berubah lagi menjadi kilometer, akhirnya mereka tiba di tengah hutan yang membelantara.


"Hn? Kalian dengar suara gemericik air di kejauhan?" Rizal menghentikan langkah kakinya sebentar, memejamkan mata, dan mempertajamkan pendengarannya –yang memang tajam itu –berusaha untuk mencari tahu sumber suara itu berasal.


Tidak lama setelah itu Rizal membuka matanya yang terpejam, "Disana." Kakinya melangkah mengikuti arah pendengaran telinganya untuk menuju sumber gemericik air tersebut.


Sandi yang tadinya di depan sebagai pemimpin mempersilakan Rizal untuk berjalan di depannya, dan yang lainnya mengikuti Sandi dari belakang.


Melewati semak-semak belukar dan pohon-pohon besar, akhirnya sampailah mereka di sumber suara itu berasal.


"Wah, ada sungai, Lihat!" seru Kurnia kegirangan.


"Aku juga sudah lihat, memangnya aku tidak mempunyai mata apa?" jawab Sendi dengan sedikit kesal.


"Hei, sudahlah… jangan bertengkar mulu kenapa?" pisah Novi yang sedari tadi juga menyimpan kesal terhadap sifat mereka berdua.


"Daripada kita berdiri disini terus, bagaimana kalau kita mendekat ke sungai itu dan beristirahat sebentar?" usul Fitri yang sedari tadi kakinya memang sudah lelah berjalan panjang.


"Ayo, kita mendekat," Sandi melangkahkan kakinya bermaksud untuk mendekati sungai yang terus mengalir deras tanpa henti itu.


"Airnya jenih sekali…" gumam Jihan terkagum-kagum karena jarang meihat air sungai sebersih ini.


"Tentu saja airnya jernih, Jihan! Karena sekarang kita telah berada di pegunungan. " Kurnia menjawab gumaman Jihan tadi karena ia sedang berada di sampingnya, jadi… tentu saja ia mendengarnya.


"Hoh…" ucap Jihan yang sepertinya tidak pernah pergi ke daerah pegunungan seperti ini.


"Baiklah. Untuk setengah jam ke depan, kita akan beristirahat disini! Kalian boleh meletakkan tas ransel dan perlengkapan lainnya yang kalian bawa di tangan kalian dalam satu tempat, tidak berpencar-pencar!" tukas Sandi tegas dalam memberi pemberitahuan dan peringatan.


Lalu, mereka pun meletakan semua barang bawaan mereka semua dalam satu lingkaran. Ada yang merenggangkan otot-otot mereka, ada yang menguap, ada pula yang langsung duduk di sekitar barang bawaan untuk berjaga-jaga.


"Sandi! Kita boleh jalan-jalan sebentar?" tanya Sendi dan Kurnia berbarengan.


Sandi menganggukkan kepalanya sekali, "Tapi ingat… jangan jauh-jauh dari sini, dan jangan membuat yang lain repot dan cemas nanti." Pesan Sandi kepada mereka. "Oh iya, dan dalam waktu kurang dari tiga puluh menit kalian sudah harus ada di sini!"


"Yes, sir!" ujar mereka berbarengan disertai dengan gaya hormat dan langsung berbalik badan untuk berjalan-jalan. Sandi tersenyum melihat tingkah kedua sahabatnya itu.


Fitri dan Novi langsung duduk di sekitar barang bawaan yang sudah terkumpul itu. Sedangkan Sandi? Jangan ditanya lagi, ia langsung tiduran dan melipat kedua tangannya di belakang kepalanya sebagai bantal kepalanya, sambil melihat langit yang sedikit tertutup dedaunan pohon.


Novi dan Fitri berbicara yang tidak jelas temanya sambil terkadang ekspresinya serius lalu berubah menjadi tertawa kecikikan sendiri. Sungguh aneh. Memang.


Sedangkan Rizal dan Jihan? Mereka bertugas mengisi botol minuman mereka sendiri juga yang lainnya, belum lagi mengisi air dalam botol cadangan mereka yang super duper besarnya.


"Wah… Zal, lihat! Airnya jernih sekali, ya?" Hello, Jihan… bukannya kau tadi sudah membahas ini dengan Kurnia tadi?


"Hn. Namanya juga air di pegunungan, jadi wajar saja kalau airnya jernih karena tersaring secara alami dengan batuan-batuan di sekitar sungai."


"Oh…"


"Oh iya, kau tahu? Kita akan mengisi botol-botol tersebut dengan air sungai ini. Sekarang."


"Hah? Airnya bisa diminum juga?" tanya Jihan dengan perasaan terkejut dan terheran-heran.


"Hn. Ini adalah pengalamanmu mendaki gunung yang pertama kali 'kan, Ji? Sebaiknya simpan segala kenanganmu saat disini, bersama kita… semuanya." Mata Onyx Rizal memandang mata Emerald Jihan dengan dalam dan penuh arti. Berbeda. Sangat berbeda seperti Rizal memandang sahabatnya yang lain. Lebih hangat. Sangat hangat.


Berhubung Jihan kita ini tidak peka dan masih polos banget. So, Jihan mengartikan pandangan sang Pangeran kita ini hanya biasa saja. "Boleh aku mencobanya?" tanya Jihan dengan senyuman sumringahnya dengan masih menatap mata Rizal.

__ADS_1


"Tentu." Dengan melihat senyuman Jihan, entah ada angin apa Rizal membalas senyuman Jihan dengan senyuman lebarnya.


Mereka berdua berlutut di tepi sungai. Terlihat di wajah Jihan, kebimbangan yang mudah diduga. Yah… karena ini akan menjadi kali pertamanya Jihan mencicipi air secara langsung, tanpa diolah, dimasak, dan disteril terlebih dahulu dengan mesin yang canggih.


Melihat wajah Jihan yang ragu-ragu untuk mengambil beberapa air untuk diminum, akhirnya Rizal angkat bicara. "Percayalah padaku… Apakah aku pernah berbohong padamu?" Rizal sedikit memasang tampang memelas pada Jihan, berharap Jihan bersimpati padanya.


"Ah! Bukannya begitu, Zal! Aku selalu mempercayai mu dan Kurnia, Tapi-" Jihan menjelaskan perasaannya agar Rizal tidak salah paham dengan keraguannya itu, sebelum Jihan menyelesaikan kalimatnya Rizal memotong perkataannya.


"Tapi apa?" Mata Rizal menatap Jihan penuh dengan kelembutan dan masih dengan tampang memelasnya. "Jika kau percaya padaku, ambil air dengan tanganmu dan minumlah… ya?"


"OK, OK! Aku akan meminumnya." Jihan mengangkat kedua tangannya ke udara pertanda menyerah beradu suara dengan Rizal. Walaupun hati Jihan merasa aneh dan tidak enak saat ini, saat melihat air di sungai itu.


"Kalau begitu… ayo diminum." suruh Rizal dengan menunjuk air tersebut dengan dagunya.


Melihat kode perintah dari Rizal. Jihan tidak segan-segan untuk memasukkan kedua tangannya ke dalam air, mewadahkannya, mengangkatnya, dan mendekatkan mulutnya ke kedua tangannya yang sudah terangkat, dan meminum serta menelan air itu. Pastinya.


DEG!


Tiba-tiba mata Jihan terbelalak lebar, dan ia tak berkutik pada posisinya sekarang.


Rizal mulai panik dengan reaksi Jihan yang mendadak seperti itu. "Ji? Jihan, kau tidak apa-apa?" seru Rizal dengan nada semakin meninggi. Jihan tidak bereaksi.


Demi apapun, sekarang Rizal benar-benar panik setengah mati melihat sahabat kecilnya mematung seperti itu. Pikiran Rizal melayang memikirkan hipotesis-hipotesis yang mungkin terjadi pada air sungai yang mengalir di depannya sekarang, entah air itu sudah tercampur zat kimia dari alam dan yang lainnya atau sebagainya yang telah membuat Jihan bereaksi seperti ini saat meminumnya.


Kedua tangan Rizal bergerak untuk meraih pundak Jihan dan menggoyang-goyangkan tubuhnya, berusaha semoga Jihan bergerak sedikit saja dari posisinya mematung seperti itu. "Ji! Jihan kau kenapa? Ada apa denganmu? Tolong, jangan membuatku bingung dan panik!"


Mendengar perkataan Rizal dan tingkahnya tidak seperti biasanya yang stay cool, Jihan tertawa dan kedua tangannya memegang perutnya yang sakit akibat tawanya yang terlewat lepas itu. "Ahahahaha! Aku hanya bercanda Zal… jangan bertampang aneh seperti itu dong! Hahahaha…"


Rizal kembali mencoba memasang tampang stoicnya, walau dengan perasaan kesal yang sudah tidak dapat ditahan lagi karena Jihan sudah mempermainkannya tadi. "Kau pikir bagus bertingkah seperti tadi. Kau tahu ji? Jantungku tadi seakan mau lepas dari jaringan yang menghubungnya ke seluruh tubuhku."


"Zal, bisakah kau bicara dengan gaya bicara yang biasa? Jangan memakai gaya bahasa kedokteranmu itu disini. Ayolah kawan, kita sedang berlibur, mengerti?" Jihan mengkritik gaya bicara yang Rizal gunakan tadi sambil menahan tawa sedikit saat bicara.


Rizal menghela nafas panjang dan berkonsentrasi atas apa yang akan nanti ia ucapkan kepada Jihan. "Baiklah. Jangan ulangi perbuatanmu tadi. Kau tahu, kita sekarang sedang berada di tengah-tengah hutan. Tolong jaga sikapmu itu." Rizal melipatkan kedua tangannya di depan dadanya.


"Iya~, Dokter Rizal!" seru Jihan seraya menggerakkan tangannya untuk memberi hormat kepada sahabatnya.


"Aduh! Zal, tanganmu itu merusak rambutku yang sudah tertata rapi tahu!" Jihan menggembungkan pipinya dan mencoba menyingkirkan tangan Rizal dari kepalanya.


"Iya, iya. Sejak kapan sahabatku yang satu ini mulai memperhatikan penampilannya?" tanya Rizal seperti sedang menginterogasi Jihan.


"Huh, kau ini. Memangnya aku tidak boleh memperhatikan penampilanku sekali ini apa?" Jihan memasang ekspresi cemberut di wajahnya.


"Hahaha… aku hanya bercanda. Sangat, Sangat boleh kok kau memperhatikan penampilanmu. Oh iya, bagaimana rasa airnya? Lebih segar dari air yang biasanya kita minum di rumah 'kan?"


Jihan mengangguk dengan semangat sebanyak dua kali. "Hn. Airnya sangat segar dan… menyehatkan?" Mendengar pertanyaan Jihan, Rizal langsung menganggukan kepalanya sekali. "Ya, Sangat menyehatkan."


"Hhh… baiklah. Bagaimana kalau sekarang kita mulai mengisi botol-botolnya?" ajak Rizal dan dijawab oleh anggukkan Jihan sekali.


Mereka masing-masing mengambil satu botol di tangan mereka, membuka penutupnya, dan mengarahkan lubang masuk air botol itu berlawanan dengan arus sungai. Sambil mengisi setiap botol dengan air sampai penuh, Jihan membuka percakapan mereka dengan sebuah pertanyaan.


"Hei, Zal. Apakah pendengaranmu itu sangat tajam?"


Rizal memiringkan kepalanya agar dapat melihat Jihan yang sedari tadi sudah menatapnya dengan perasaan penasaran terpancar dari wajahnya. "Hn. Seperti yang kau lihat tadi. Bukannya kau sudah tahu sejak kita masih kecil?"


"Ya, aku tahu. Tapi kurasa jarak pendengaranmu itu semakin tajam dan bertambah jauh dari sebelumnnya."


Mendengar pendapat Jihan, Rizal hanya mengangkat bahunya. "Entahlah. Aku juga sudah lama tidak terlalu memperhatikan indra pendengaranku ini." Dan Jihan hanya meresponnya dengan ber-'oh' ria saja.


Tidak terasa botol-botol yang tadinya kosong sekarang telah terisi penuh. Rizal melirik sedikit arloji jam tangannya, menghitung-hitung waktu yang tersisa sekarang. Masih tersisa lima belas menit. Wajah Rizal kembali menatap Jihan yang sedang menyusun botol-botol agar rapi.


"Ji, kau mau merendam kaki bersamaku disini?" ajak Rizal, terlihat senyuman kecil yang tulus menghiasi wajah tampannya yang kini semakin tampan dibuatnya.


"Tentu. Dengan senang hati." Tanpa disadari oleh dirinya sendiri, Jihan ikut tersenyum melihat senyuman Rizal yang dapat membuat semburat merah muncul di wajah Jihan yang cantik.

__ADS_1


Mereka melepaskan alas kaki yang mereka kenakan di kaki mereka satu persatu.


Rizal mengulurkan tangan kanannya hanya untuk Jihan, lalu Jihan dengan senang hati meraih tangan kanan Rizal dengan tangan kanannya yang lebih kecil dari tangan Rizal. Dan kedua tangan itu saling mengeratkan satu sama lain.


Dengan perlahan-lahan, Rizal membimbing dan menuntun Jihan untuk berjalan di dalam sungai yang dalamnya hingga sebetis itu. Sesampainya ditengah, Rizal mendudukkan Jihan di atas batu yang lebar dan agak tinggi, tapi masih dapat digunakan untuk merendamkan kaki, dengan cara memegang pinggangnya dan mengangkatnya hingga terduduk dengan nyaman ditempatnya. Setelah Jihan telah duduk, Rizal langsung mendudukkan dirinya sendiri di atas batu yang sama dengan Rizal. Tepat di sampingnya.


Sekilas Rizal melihat perasaan bahagia terlintas di wajah manis Jihan. Maklum, ini pertama kali Jihan berhubungan secara langsung dengan alam. "Kau suka?" mata Rizal masih memperhatikan wajah Jihan dengan tatapan yang lembut.


"Suka. Suka sekali." Jihan memiringkan wajahnya dan dapat ia lihat wajah Rizal tegah memperhatikannya dengan hati-hati. "Ada apa, Zal? Kok kau melihatku seperti itu?"


"Hn. Tidak. Tidak ada apa-apa." Rizal mengalihkan pandangannya lurus tepat di depannya. Bisa ia lihat pemandangan berbagai macam pohon terdapat di hutan itu dan aliran panjang sungai yang ia nikmati sekarang dengan Jihan.


Tidak dapat bertahan lama dengan mengalihkan pandang dari Jihan, Rizal menatap Jihan kembali. "Jihan… kau ada perasaan pada seseorang sekarang?"


"Iya. Bukan seseorang, tapi banyak orang. Mulai dari orangtuaku, teman-temanku, dan sahabat-sahabatku semua. Mereka sangat berharga." Tatapan mata Jihan menerawang jauh tanpa batas lurus ke depan. "Itu namanya perasaan kasih sayang, Rizal."


"Hn… kasih sayang, ya…" Rizal mendongakkan kepalanya ke langit biru, "Apakah berbeda dengan perasaan yang namanya 'cinta'?" Kepalanya kembali ia arahkan kepada Jihan.


Jihan memegang dagunya sendiri. Pose berpikir. "Kata orang-orang sih perasaan 'cinta' itu berbeda dari rasa kasih sayang. Lebih dalam, berbeda, khusus, dan… entahlah, aku sendiri juga tidak tahu secara pasti perasaan 'cinta' itu seperti apa." Wajah Jihan tersenyum sekilas dan tertawa kecil. Seperti berusaha mencairkan suasana yang serius itu.


'Cinta' , ya…, pikir Rizal. Senyuman kecil menghiasi wajahnya, "Akankah ada perasaan itu dalam diriku?" gumam Rizal dengan suara yang nyaris tidak terdengar.


"Hn? Ada apa?"


"Tidak. Tidak ada apa-apa." Ku rasa. Tambah Rizal dalam dirinya sendiri.


Keheningan terjadi berlangsung lama. Mereka berdua terhanyut dalam pikiran mereka sendiri, sampai suara Sandi menggema ke seluruh hutan, memanggil mereka berdua yang masing-masing sibuk dengan pikiran dalam kepalanya.


"Rizal! Jihan! Mau sampai kapan kalian mau berada disana terus, hah?"


Dijamin suara teriakan Sandi tadi membuat telinga Rizal dan Jihan memekik kesakitan, dan orang yang berada di sekelilingnya mengalami tuli dadakan.


"Kalian tidak melihat waktu sekarang? Aku tahu kalian dalam proses pendekatan, tapi tolong perhatikan waktu disekitar, mengerti?" Dan tentu saja kalimat tanya yang terakhir bernada mengejek kedua insan tersebut.


"Hhh… iya, iya" jawab Jihan pasrah dengan suara kecilnya.


"Dasar tidak tahu diri. Berpendidikan tinggi, tapi seperti itu kelakuannya." sahut Rizal dengan gumamannya seraya turun dari batu dan kembali menuntun Jihan dan membimbingnya kembali ke daratan.


Mereka berdua pun melangkahkan kaki mereka memperpendek jarak antara mereka berdua dengan 'Sandi and friends' nya yang tengah memandang mereka berdua, mulai dari jarak kejauhan sampai Rizal dan Jihan tepat berdiri di hadapan mereka.


Mata Sandi memandang Rizal sesaat dan berpindah ke Jihan secara bergantian. "Kurasa kalian tidak apa-apa. Baiklah, selanjutnya kita akan melanjutkan perjalanan kita menuju tempat yang kita tuju nanti."


"Wah! Aku sudah tidak sabar ingin melihat pemandangan seperti itu." Kurnia merenggangkan badannya yang pegal-pegal setelah melihat objek di sekeliling hutan bersama Sendi beberapa menit yang lalu.


"Yah… apalagi untuk pasangan baru kita ini." ucap Novi dengan nada tidak suka dan iris Lavender nya memandang iris emerald Jihan dengan tatapan merendahkan.


Melihat sikap Novi terhadapnya itu, Jihan berusaha untuk meyakinkan nya. "Hah? Pasangan? Kau salah sangka Nov… Rizal tidak ada hubungan apa-apa dengan ku. Ya 'kan Zal?" Iris emerald nya bertemu dengan iris onyx Rizal sesaat


"Hn." jawab Rizal singkat.


"Tuh 'kan. Tidak ada apa-apa." Jihan kembali menatap Novi.


Novi masih belum percaya kepada perkataan Jihan dan masih memandang Jihan dengan tatapan tidak bersetia kawan. Sandi yang lama-kelamaan merasa bosan dengan apa yang terjadi di depan matanya mengalihkan pembicaraan. "Jadi… kita dapat pergi melanjutkan perjalanan hiking kita ini sekarang?"


Tanpa segan-segan Sandi melangkahkan kakinya menjauh dari tempat pengistirahatan tadi setelah berbicara kepada teman-temannya. Tanpa segan-segan juga yang lain mengikutinya dari belakang.


Kini tempat pengistirahatan yang mereka tempati terasa sepi kembali. Tidak ada hawa kehidupan manusia, tidak ada keberisikan yang terjadi.


Sunyi. Hanya kesunyian yang menyelimuti daerah itu. Tapi…


Entah kenapa tempat itu menjadi terasa padat dan ramai. Suasana mencekam pun kembali berkumpul di tempat itu.


Yah… tempat peristirahatan mereka. Tadi.

__ADS_1


...~Lost In Nightmare~...


...To be Continued…...


__ADS_2