
...NIGHTMARE 3...
...The Last Room...
Mobil Volvo dan Porsche yang mereka pakai mencuri pandang semua orang yang sesama pemakai jalan. Dan membuat semua mobil yang berada disekelilingnya merasa minder.
Mobil mereka melesat cepat, sehingga membuat pemandangan pohon yang berjejer menyamping dan menjulang keatas –di sebelah kiri dan kanan jalan tol yang mereka lewati seperti goresan hijau yang tidak jelas bentuknya.
Setiap kondisi atau keadaan di setiap mobil berbeda. Mari kita lihat keadaan masing-masing dari karakter dan suasana di dalamnya.
...Volvo XC90...
+Sendi Antoni+
Masih tetap pada pertahanannya. Diam di tempat sambil memegang kendali kemudinya dan menatap lurus kedepan. Dengan senyuman yang tidak jelas, entah dia menikmati keadaan mobil, musik, atau entahlah… .
+Sandi Saputra+
Menatap ke arah luar jendela mobil disebelah kirinya sambil bertopang dagu diatas dasbor sebelah kirinya. Seperti memikirkan sesuatu dikepalanya.
+Novi Rahayu+
Mulutnya terbuka tertutup dan kepalanya menoleh kearah seseorang yang duduk disebelahnya, sepertinya sedang membicarakan sesuatu. Kadang serius, kadang tertawa.
+Fitriani+
Posisi duduknya sopan. Ralat sopan banget. Kakinya rapat dan kedua tangannya berada diatas kakinya. Kepalanya menoleh kearah Novi, sepertinya meladeni setiap kata yang dilontarkan teman disebelahnya.
Condition Completed
Sepertinya walaupun dua orang laki-laki didalam mobil Volvo itu diam-diam menghanyutkan tetapi dua perempuan dibelakang sangat membawelkan.
Ralat lagi. Hanya Satu perempuan yang bawelnya luar biasa, Novi Rahayu. Mungkin kalau aku(Author) berada didalam mobil dan meladeni pembicaraannya bakal menderita Kejang-Kejang Dadakan(KKD) stadium 4.
OK. Lupakan mereka dan beralih kedalam mobil pujaan anak-anak perempuan, Rizal Ardiansyah.
...Porsche Panamera...
Condition Detected
+Rizal Ardiansyah+
Tetap dalam posisinya mengendarai mobil dengan gaya santai dan rileksnya. Terkadang bibirnya terbuka seperti sedang mengucapkan suatu hal lalu diam kembali. Terkadang matanya melirik ke kaca spion tanpa menggerakkan kepalanya sedikitpun, entah apa yang ia lihat.
+Kurnia Rizki+
Heh… tertidur pulas sekali bahkan mulutnya menganga walaupun tidak lebar, air liurnya keluar sedikit, tidak elit sekali… mungkin kecapekan. Entah sudah dimana Kurnia berada.
+Jihan Aulia+
Badannya ia senderkan dipintu sebelah kirinya dan kakinya ia luruskan diatas kursi baris belakang yang memanjang, secara ia hanya sendiri dibelakang. Matanya sudah seperti tidak tahan lagi menopang kelopak matanya yang ingin tertutup rapat. Tekadang mulutnya terbuka seperti nya menjawab perkataan Rizki yang masih terjaga.
Condition Completed
Sepi banget.
Hhhh… baiklah, mendingan kita mendengar percakapan Rizki dan Jihan didalam mobil, daripada mendengar percakapan Novi yang panjang-kali-lebar-kali-tinggi itu.
"Hei... Rizal?" tanya Jihan. Yah… siapa lagi kalau bukan dia.
"Hn?"
"Jalan Tol ini panjang sekali. Memangnya penginapan nya jauh sekali dari sini, ya?"
"Mungkin." Rizal diam sejenak. "Kita ikuti mereka saja."
Jihan menguap. "Aku sudah mengantuk." Mata Jihan perlahan memejam atau mungkin terpejam tanpa ia sadari, "Maaf ya zal aku tak bisa lagi menemani mu berbicara."
"Hn. Tak apa. Jika sudah sampai atau ada apa-apa aku akan membangunkan mu dan Kurnia." Rizal tersenyum kecil.
Jihan melihat senyuman Rizal dari kaca spion tengah dan membalas senyumannya. "Ya baiklah. Thanks, Zal." Dengan perlahan matanya tertutup dengan rapat.
Jihan terlelap dalam hitungan detik. Mungkin terlalu lelah dalam perjalanan dengan Rizal? Dia tetap dalam posisinya yang mengendalikan mobil dengan santainya dengan suasana yang sudah sepi sekarang, kecuali suara alunan lagu dari CD yang di putar nya didalam mobil.
.......
...+++~Lost~+++...
.......
Setelah berkali-kali mereka istirahat sebentar, makan, ke toilet, dan yah… sebagainya, akhirnya mereka sampai juga di depan hutan yang mereka tuju.
Tunggu. Depan? Ya. Hanya depan, bukan di dalam hutan.
Saat sampai di depan hutan yang rindang. Mereka semua keluar dari mobil untuk menghirup udara segar yang asli dari pegunungan.
"Huaaaaaa! Sejuk sekali udara disini." kata Novi sembari merentangkan kedua tangannya ke udara.
"Hmm… benar, rasanya udah lama sekali kita tidak ke pegunungan." Fitri menghirup udara pegunungan sebanyak-banyaknya ke dalam paru-paru nya.
"Kita datang pada waktu yang tepat." ucap Jihan sembari mengedarkan pandangannya di sekelilingnya.
"Tepat?" tanya Sandi bingung. Tangannya ia gantungkan di atas pintu mobil yang masih terbuka olehnya.
"Tepat karena kabut sudah mulai turun. Benar 'kan, Ji?" Kurnia memiringkan ke arah Jihan yang berada di belakangnya.
"Salah," Jihan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tepat, karena kita datang pada suasana alam yang sedang ramah kepada kita." jawab Rizal. Ia hanya membuka pintu mobil yang berada di sebelahnya dan merubah arah duduknya menuju ke arah pintu mobil yang telah terbuka.
"Benar." telunjuk Jihan mengacung kepada Rizal. Senyuman tulusnya menghiasi kulit wajahnya yang putih.
"Eh… jawabannya sulit dimengerti." ucap Kurnia, Novi, Fitri secara bersamaan. Beraneka wajah bingung mereka tampilkan di masing-masing wajahnya.
"Mungkin maksud Jihan –yang pastinya sudah dijawab oleh Rizal ; kita datang pada saat cuaca sedang cerah berawan dan sedang tidak hujan karena daerah hutan terkenal dengan identik kawasan yang sering bercuaca mendung dan hujan." jelas Sendi mendetail tanpa tanda istirahat.
__ADS_1
"Heh… kalau kau menjelaskan panjang lebar dan bicara tanpa koma memangnya si Kurnia bakal mengerti." ejek Sandi kepada Kurnia, yang pasti dengan senyuman dan tatapan mengejeknya.
Novi dan Fitri terkekeh pelan. Kurnia yang mendengar tawa kecil mereka langsung berbicara dengan wajah yang sudah memerah. "Enak saja! Walaupun aku bodoh, tapi aku tidak sebodoh itu kali!"
"Iya, iya. Tapi akhirnya kau mengaku kau bodoh walau tidak bodoh-bodoh-amat." tambah Sendi.
"Huh! Berisik!" balas Kurnia yang mungkin hampir menyerupai sebuah teriakan itu. Seonggok perasaan kesal serta usaha menahan malunya, ia langsung duduk ke dalam mobil sambil memasang wajah cemberut andalannya.
"Hahahahahahahaha!" tawa keras mereka semua kompak. Kecuali Rizal, ia hanya tersenyum dan menepuk-nepuk punggung Kurnia seakan-akan berusaha untuk meredamkan Kurnia dari amarahnya sambil mengucapkan ucapan 'sabar ya, Kur'.
"Ah! Sudahlah, bagaimana kalau kita masuk kedalam hutannya saja." Sandi memandangi langit diatas kepalanya. "Sepertinya hari sudah mulai gelap."
"Ya sudah. Ayo, masuk kedalam mobil masing-masing." ucap Sendi seraya merubah posisinya yang besenderan di mobilnya menjadi berdiri tegak dan mulai memasuki mobilnya.
Melihat Sendi yang mulai masuk kedalam mobil, yang lainnya juga ikut merubah posisi tubuh mereka yang berbeda-beda dan masuk kembali kedalam mobil mereka dan dalam posisi yang sama.
Rizal dan Sendi mulai menyalakan mobil mereka sehingga menghasilkan deru mesin yang menggelegar disekitar hutan.
Mereka melanjutkan perjalanan. Seakan membelah hutan yang luas dan lebat ini.
.......
...+++~Lost~+++...
.......
Pohon-pohon yang menjulang tinggi keatas dan rindang berada disekitar tepi jalan yang cukup muat satu mobil. Mereka menelusuri hutan yang panjang dan mungkin mereka sudah mulai memasuki pertengahan hutan.
"Kapan kita akan sampai?" tanya Jihan yang memecah keheningan didalam mobil karena ia, Kurnia, dan Rizal telah terpesona akan keindahan alam yang Tuhan ciptakan ini sungguh luar biasa indahnya. Tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
"Mungkin sebentar lagi." jawab Kurnia dengan suara yang kecil dan singkat karena masih terpesona.
Beberapa detik kemudian setelah Kurnia menjawab pertanyaan Jihan.
"Hn? Kurasa kita sudah mulai memasuki kawasan villa hutan yang kita tuju." ucap Rizal membalas rasa penasaran Jihan tadi.
"Tahu dari mana kau?" Mata Kurnia meremehkan perkataan Rizal yang tiba-tiba.
"Kau lihat didepan mu, Bodoh! Ada pagar berwarna putih yang tinggi dan besar di depan kita." telunjuknya ia acungkan ke depan, tepat di mana pagar itu.
Kurnia dan Jihan pun melihat kedepan dan senyuman terukir di bibir mereka karena telah melihat pagar villa yang sudah didepan mata.
"Yuhuuuu! Akhirnya sampai juga setelah beberapa menit kita menelusuri hutan sialan ini." kata Kurnia. Perasaan leganya menjalar di dalam hatinya yang sekarang telah kesenangan setengah mati.
"Wush! Kur, kau tahu? Kau tidak boleh mengucapkan perkataan yang tidak senonoh di dalam hutan, karena di setiap hutan pasti dan selalu ada penunggunya. Bisa-bisa kita tidak bisa keluar dari hutan ini dengan selamat," tegur Jihan terhadap perkataan yang diucapkan Kurnia sebelumnya.
"Hah!" ucap Kurnia tersigap. "Sa-saya minta maaf, Tuan dan nyonya penunggu." Kurnia menepuk ke dua tangannya seraya membungkuk beberapa kali ke arah luar jendela mobil.
Jihan tersenyum melihat sikap Kurnia, sedangkan Rizal? Dia melihat Kurnia dengan tanpa ekspresi entah apa yang ada di dalam pikirannya sekarang.
Melihat pagar putih villa itu terbuka dan mobil Sendi telah melaju kedalam, Rizal menekan kan pedal gas di kaki kanannya, mengikuti arah mobil Sendi melaju.
Mobil Sendi berhenti tepat didepan rumah penginapan mereka. Melihat Sendi memberhentikan mobilnya dan turun, Rizal langsung memarkirkan mobilnya tepat di sebelah kanan mobil Sendi.
Kurnia dan Jihan langsung merenggangkan tubuh mereka sekuat tenaga karena kelelahan dalam perjalanan yang sangat panjang. Sedangkan Rizal? Ia malah memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.
Ingin berharap melihat Rizal merenggangkan tubuhnya? Jangan bermimpi dan berharap terlalu tinggi, atau mungkin saja si 'pangeran dingin' kita yang satu ini tidak pernah merasa lelah sedikit pun. Sangat mustahil, bukan?
"Akhirnya kita sampai juga," celetuk Novi setelah keluar dari mobil yang ia duduki.
"Iya. Badanku pegal-pegal," tukas Fitri sambil memenumbuk-numbuk pundaknya dengan kepalan tangannya.
Jihan memandangi sekeliling villa itu; Pohon dan rumput yang hijau. Kicauan burung yang indah dan beragam. Penginapan yang terbuat serba kayu –yang sepertinya kokoh, menambah nuansa alam lebih melekat di sekitar villa itu.
"Indah. Sangat Indah," gumam Jihan. Udara yang dingin dan sejuk menjalari seluruh kulit diwajah Jihan dan menerpa bulu-bulu halus di wajahnya.
"Ditambah cuaca yang bersahabat… sepertinya tempat ini cukup menarik."
Jihan langsung menengok ke asal suara yang menambahkan kata-katanya tadi tepat di sebelah kanannya.
Rizal Ardiansyah.
Rizal sedikit mengeluarkan senyuman kecil tapi tulus setelah Jihan melihatnya tepat disebelahnya.
"Heh… ternyata kau masih suka tempat pegunungan, Hn?" tanya Rizal.
"Tentu! Kau tahu, Zal? Hanya daerah pegunungan yang dapat membuatku melepaskan beban dan masalah yang ada dibenak ku."
'Oh ya?' pikir Rizal. " Kau dari dulu tidak pernah berubah, Jihan." balas Rizal.
"Hahahaha… kau juga. Masih saja irit bicara sejak dulu," celetuk Jihan tanpa ia sadari sekarang ia sedang berbicara dengan siapa. "Lagian aku mau berubah jadi bagaimana lagi? Yang paling nyaman untuk diri kita, yah… be yourself!"
"Hah… kau benar." ujar Rizal kalah. "Dan juga…" Belum Rizal selesai bicara ada seseorang –sepertinya orang asing –yang berbicara dengan mereka semua. Seperti memberi kata sambutan.
"Selamat datang di Long Less Dream Forest Village. Villa ini berfasilitas bintang lima. Dan didukung oleh fasilitas canggih, tetapi tetap berlogo ECO yang dibuat agar tidak merusak penghijauan disekitar villa kami. Silakan masuk dan melihat-lihat seisi villa terlebih dahulu."
Kata sambutan yang sangat panjang dan lebar keluar dari seorang pria yang bernama Deni–The President of Village. Setidaknya itu yang tertulis di seragam yang ia kenakan, tepatnya di bagian dada kirinya. Yang pastinya dengan tulisan yang sangat kecil.
Mereka pun menuruti apa yang dikatakan Deni untuk masuk kedalam villa dan melihat keadaan didalam villa tersebut.
Terlihat Sandi lah yang pertama kali bergerak dan bersalaman dengan sang empunya villa. Mungkin. Lalu disusul oleh Novi, Sendi, Fitri, Kurnia, dan….
"Ayo, Zal. Kita juga harus segera melihat dan memeriksa ruangan dalamnya" ucap Jihan tidak sabar, lalu berlari kecil mengejar Kurnia cs yang sudah berjalan didepan mereka.
Rizal hanya menjawab Jihan dengan sebuah anggukan dan menatap Jihan yang sudah berlari kecil didepannya. "Dan juga… akan terjadi hal yang sangat menarik. Di sini," Seringaian lebar dan tajam menghiasi bibirnya yang tipis dan dingin sesuai dengan suhu tubuhnya. Kakinya mulai bergerak melangkah satu demi satu dibelakang Jihan.
Apa maksud perkataan dan seringaian Rizal?
.......
...+++~Lost~+++...
.......
"Dan terakhir adalah ruang kumpul yang berada di bagian belakang rumah kayu ini." ucap Deni saat sudah sampai pada ruangan terakhir yang mereka kunjungi.
__ADS_1
"Wah… nyaman sekali… membuat hati menjadi tenang." kata Novi seraya merenggangkan tubuhnya yang sudah ia hempaskan diatas sofa yang-mahalnya-luar-biasa itu.
Sedangkan yang lainnya mulai berpencar mengitari dan melihat barang-barang yang ada disini. Dan tidak lupa mengecek kondisinya juga.
"Hmm… sangat bersih," ucap Sandi seraya mengamati dengan jeli berbagai macam barang yang tersusun di sebuah lemari kaca, disalah satu sudut ruangan.
"Dan terawat." tambah Sendi yang sudah berada di sebelah Sandi.
"Wah ada X-Box series x… PS5… hah! Ada Nintendo Swicth OLED juga disini. Lengkap dah! Untung aku nggak jadi bawa konsolnya kesini, Hahahaha" ujar Kurnia senang karena melihat apa yang sedang terngiang-ngiang di dalam kepalanya.
"K-kau beruntung ya… K-Kurnia!" kata Fitri yang sepertinya ia juga ikut bahagia melihat Kurnia kesenangan.
"Ah…" jawab Kurnia sambil tersenyum kepada Fitri, yang pastinya membuat wajah Fitri memerah seperti kepiting rebus.
"K-kau kenapa Fit?" tanya Kurnia dengan nada khawatir menghiasi suaranya.
"T-tidak apa-apa kok Kur." Fitri berusaha meyakinkan Kurnia dengan mengucapkan beberapa patah kalimat.
"Masa'? Coba sini aku pegang kening mu!" Tangan kanan Kurnia mulai bergerak menuju ke kening Fitri dengan perlahan.
"J-jangan Kurnia…" elak Fitri sekuat tenaga berusaha menghindari tangan Kurnia yang ingin memegang keningnya saja, itupun untuk mengecek apakah ia sakit atau tidak.
Disaat Kurnia dan Fitri sibuk membuat kebisingan dan mencuri perhatian setiap orang di sana. Jihan hanya menatap dengan mata tidak percaya benda yang besar dan indah di depan matanya.
Piano. Ya. Sebuah Grand Piano yang besar dan mempunyai tangga nada dengan oktaf yang sangat lengkap berdiam diri didepannya sekarang, seakan-akan juga terpaku melihat kedatangan Jihan. Dramatis banget.
Jihan memperkecil jarak antara ia dan Piano berwarna hitam legam itu. Tangannya bergerak mengelus badan piano yang mulus dan elegan.
"Indah sekali…" ucap Jihan takjub dengan mata yang berbinar-binar.
"Kau suka?" tanya Rizal yang tanpa Jihan sadari sudah berada di belakang Jihan. Mengamatinya.
"Hah? Oh. Ya, aku suka. Sangat suka!" ucap Jihan seperti memberitahukan perasaan gembiranya kepada Rizal.
"Hn."
Tangan Rizal yang sedari tadi mengelus badan piano itu mulai turun untuk membuka penutup tuts piano tersebut.
Salah satu jari Jihan–tepatnya jari telunjuknya –menekan salah satu tuts putih bernada 'La' tinggi oktaf ketujuh jika dihitung dari glef 'f' yang paling rendah.
TING!
"Suaranya juga jernih," kata Jihan menilai bunyi nada yang ia tekan tadi.
Tanpa ia sadari juga, bunyi dentingan Piano yang ia bunyikan membuat seisi manusia yang berada dalam satu ruangan itu melihat ke arah sumber suara itu berasal.
Kecuali Rizal yang sedari tadi sudah memperhatikan gerak-gerik Jihan di belakangnya.
"Wah… Jihan mempunyai teman baru tambahan rupanya." ucap Novi yang membuat Jihan terkejut dan menoleh kepada Novi.
"Ah! Oh. Iya… hehehehe" ucap Jihan sambil menahan rasa malu yang bergejolak di dalam dirinya.
"Asyik! Untung kita punya teman yang bisa bermain musik jadi ruangan ini pasti tidak akan pernah sepi." celetuk Kurnia tiba-tiba.
Suara gelak tawa pun menghiasi ruangan tersebut.
"Baiklah, para Nona dan Tuan Muda! Bagaimana kalau sekarang kalian membawa masuk barang yang anda bawa ke kamar anda?" ajak Deni pada akhirnya.
"Hm. Ayo kawan, kita masih harus menurunkan barang-barang kita," ajak Sandi kepada kawan-kawan nya.
"Ok! Ayo!" sahut Kurnia.
Deni dan Sandi berjalan didepan yang disusul oleh yang lainnya.
"Jihan, ayo kita turunkan barang." ajak Rizal kepada Jihan.
"Iya." Jihan pun mulai menurunkan penutup tuts piano yang tadi terbuka sekarang tertutup kembali.
Pada akhirnya, ruangan terakhir itupun sepi. Tapi anehnya terkesan ramai. Dan dingin.
Tidak lama menjauhi ruangan tersebut bunyi lah seperti suara yang sengaja di jatuhkan dari arah ruangan itu…
PRAAANG!
Rizal dengan sekejap membalikan badannya kearah ruangan terakhir tadi. Dan matanya terlihat berkeliling untuk mencari sesuatu yang terdengar seperti barang jatuh itu.
"Hn? Ada apa Zal?" tanya Jihan yang terlihat bingung karena Rizal tiba-tiba membalikkan badannya untuk menengok ke belakang.
"Hn? Apa kau tidak mendengar sesuatu… Hm… seperti barang pecah belah yang jatuh?" Rizal menaikkan salah satu alisnya. Perasaan bingung, heran, dan penasaran yang luar biasa pun bercampur aduk di dalam dirinya.
"Hah? Tidak. Sudahlah Zal, jangan membuatku merinding." Jihan mengelus-ngelus lengan tangannya, upaya untuk menurunkan bulu kuduknya yang sudah berdiri. Merinding.
"Yah… Lupakan. Mungkin cuma perasaanku saja. Ayo, kita mulai jalan lagi." Mereka berdua pun kembali melangkahkan kakinya yang telah terhenti tadi.
Sebelum terlalu jauh dengan ruangan terakhir yang menghasilkan suara yang aneh itu. Sekali lagi. Rizal menolehkan kepalanya ke arah ruangan itu sekilas dan memalingkan kepalanya kembali.
Apa arti ucapan Rizal yang berkata 'sesuatu yang menarik' akan terjadi disini ?
Ada apa di ruangan terakhir tersebut?
Apakah yang Rizal dengar barusan?
Apa iya cuma perasaan nya saja?
Tampaknya ruangan terakhir itu mempunyai arti tertentu….
Tapi apa iya? Kalau begitu…
Kau percaya hantu?
Mungkin di 'Lost In Nightmare' selanjutnya akan terjadi suatu kejadian yang seru, ya...?
...~Lost In Nightmare~...
...To Be Continued…...
__ADS_1