Lost In The Nightmare

Lost In The Nightmare
That Nightmare will Begin Now


__ADS_3

...NIGHTMARE 7...


...That Nightmare Will Begin Now...


Perjalanan yang panjang pun kembali mereka tempuh selama beberapa jam lamanya. Dua sampai tiga kali peristirahatan pun mereka jalani dengan senang hati.


Tidak terasa sumber cahaya alam pun bersinar lemah. Sinar matahari yang tadinya sangat terang benderang disertai dengan hantaran panasnya yang dapat membakar –bahkan menembus kulit manusia yang rapuh, secara perlahan cahayanya memudar dan berubah menjadi warna orange yang dapat membuat mata terpukau atas ciptaan Tuhan yang luar biasa hebatnya.


Laki-laki berambut seperti nanas yang –kita kenal bernama Sandi Saputra- sedang memperhatikan sang raja cahaya yang mulai menghilang dari pandangan, akhirnya mengambil sebuah keputusan yang sejak lama ia pikirkan di dalam otaknya yang mempunyai IQ lebih dari 200 yang tidak terlalu ia banggakan itu.


Sandi membalikkan tubuhnya menjadi berhadapan dengan teman-temannya yang berada tepat di belakangnya. "Ok, Semuanya! Kita akan bermalam disini." Matanya berkeliling melihat keadaan di sekelilingnya. "Ku rasa… ini adalah tempat yang cukup luas dan pas untuk kita beristirahat menunggu pergantian hari." gumam Sandi dengan suara yang lumayan jelas sehingga dapat didengar oleh temannya yang lain.


"Yap! Akhirnya kita akan tidur disini!" Tangan Kurnia menjatuhkan semua barang bawaannya yang bisa dibilang berat itu dan mulai merenggangkan otot-otot yang melekat pada tubuhnya.


"Hhhh… melelahkan sekali perjalanan ini," Novi melirik Jihan yang berada di belakangnya, "Apa lagi bersama gadis yang menyebalkan." gumam Novi dengan senyum meremehkan.


Gadis yang dimaksud pun mulai merasa tersinggung dan membalas, "Apa salahku? Bukankah tadi sudah jelas akhir permasalahannya? Aku dan Rizal itu tidak-" Belum Jihan menyelesaikan perkataannya, Novi memotongnya. "Halah… mana ada 'maling' mengaku?" cibir Novi sambil membalikkan badannya hingga dapat melihat Jihan.


"Woi! Sudahlah… kalian ini mau beradu mulut sampai kapan? Novi, kau juga salah… tiba-tiba saja kau bersikap seperti itu kepada Jihan... Ada apa denganmu?" lerai Sendi dengan muncul ditengah-tengah mereka dan merentangan kedua tangannya. Bermaksud memisahkan.


Mendengar perkataan Sendi yang seperti membela Jihan secara tidak langsung, Novi mulai naik pitam. "Kenapa selalu aku yang salah? Kenapa selalu dia yang dibela?" Suaranya meninggi, "Memangnya apa keuntungan dan bagusnya membela wanita seperti dia?" Jari telunjuk Novi mengacung tepat di depan mata Jihan.


Hati Jihan merasa perih dan sakit, dikatai oleh Novi –teman baiknya –seperti itu membuat pelupuk mata Jihan mulai dibeningkan oleh air mata. "A-a-aku…" Isakkan tangis yang berusaha ia tahan mulai terdengar keluar dan ditangkap oleh gendang telinga setiap orang yang berada di tempat yang sama.


Rizal yang sudah tidak tahan dengan permasalahan itu pun mulai geregetan, dan…


GREP!


Rizal memegang pergelangan tangan Novi dengan sangat kencang dan erat, sehingga membuat sang empunya tangan merasa kesakitan luar biasa hebatnya. "Aaaawwww…! Le-lepaskan! Lepaskan tangan ku Rizal… S-sakit…" rengek Novi yang sekarang dapat dilihat sedikit dari air matanya mulai memenuhi pelupuk matanya.


Rizal tidak bergerak dalam posisinya, melainkan semakin mempererat cengkraman tangannya di tangan Novi. Membuat raungan Novi semakin menjadi-jadi dibuatnya.


Jihan yang tadi hanya bengong melihat ulah Rizal yang bisa dibilang sangat gesit, sekarang mulai tersadar dari alam sadarnya. "Ri-Rizal, sudah, lepaskan Novi…" mohon Jihan kepada Rizal dengan sangat.


Beberapa detik kemudian Rizal menoleh kepada Jihan yang berada persis disisinya. "Kau tidak marah telah dibentak olehnya?" ucap Rizal kepada Jihan karena kepolosannya yang sangat terlalu.


"Rizal, lepaskan Novi! Jangan berbuat onar disini!" bentak Sandi yang sedari tadi sudah geram dengan adegan yang terpampang jelas di depan matanya ini.


Bukan sulap, bukan sihir. Dalam sekejap, Rizal melepaskan eratan tangannya di pergelangan Novi dengan hentakan keras ke bawah. Lihatlah Rizal, kau membuat tato alami berwarna merah –ralat, berwarna biru –di pergelangan tangan perempuan itu. Puas 'kah kau?


Sendi menghela nafas panjang sambil menyengir tidak jelas. "Wow, Zal! Kau bisa saja mematahkan pergelangan Novi tadi. Itupun jika kau mau." Sendi terkekeh kecil setelah menyudahi kalimatnya.


Kurnia berjalan mendekat ke arah Rizal, Jihan, dan Novi berada. "Kau tahu, Nov? Kau tidak perlu berkata dengan nada yang memekakkan telinga kepada Jihan. Kau 'kan tahu kalau Jihan itu perasaannya mudah tersinggung," Kurnia melipat kedua tangannya di depan dadanya. "Jangan bilang kau lupa bahwa Jihan berasal dari fakultas musik, Hm?" Matanya memandang rendah Novi.


"Su-sudah, Kur… jangan memperpanjang kejadian yang tadi," lerai Fitri dengan suara kecilnya dari kejauhan.


"Sudahlah, kawan… bagaimana kalian semua berbagi kelompok dan tugas? Kurnia, Rizal, dan Jihan mencari ranting di pohon atau kalau bisa carilah ranting yang sudah jatuh dari pohonnya, nanti kita akan menggunakan ranting tersebut untuk api unggun kita." Iris Sandi memperhatikan Novi, Sendi, dan Fitri secara bergantian. "Sedangkan kalian… membantuku mendirikan tenda yang akan kita tempati selama semalam nanti."


Sandi mendongakkan kepala untuk melihat langit yang sudah berubah menjadi orange, pertanda sinar matahari akan menghilang dari pandangannya. "Sebentar lagi sudah mulai gelap." Sandi kembali menatap teman-temannya yang sedang tertegun melihat tingkahnya. "Cepat! Sudah mulai gelap tahu!"


Nada suaranya yang menggelegar menyelundup masuk ke setiap pasang telinga yang ada. Akibatnya, mereka semua langsung menggerakkan badannya untuk beraktifitas sesuai dengan apa yang diperintahkan ketua Sandi, sang pemimpin mereka dalam kegiatan hiking ini.


Jihan dan Rizal berjalan mendekat ke arah Kurnia untuk berkumpul, meletakkan semua barang bawaan, dan Rizal bergegas mengambil sebuah kapak yang berada dalam barang bawaan Kurnia, lalu dengan secepat mungkin beranjak dari tempat perkumpulan menuju ke daerah hutan sekitar yang lain.


Novi, Fitri, dan Sendi segera mendekati Sandi yang sedang mempersiapkan perlengkapan dan peralatan yang akan digunakan nanti dalam membangun tenda-tenda.


Dan… mereka semua pun sibuk dalam kegiatan mereka masing-masing.


.......


...+++~Lost~+++...


.......


Suara hewan malam mulai bermunculan untuk menyambut sang dewi malam menggapai tahtanya. Tidak hanya hewan malam saja yang sibuk dengan kegiatannya. Ketujuh anak manusia yang sedang bersenang-senang juga ikutan sibuk dengan kegiatan santai mereka.


Mereka bersenang-senang disekeliling api unggun yang menyala sangat besar dan terang, serta membuat hangat orang-orang yang berada disekelilingnya.


Saya akan jelaskan kegiatan mereka satu-satu. Kurnia sedang bernyanyi-nyayi tidak jelas dengan suara yang sangat lantang. Tambahan, dan sedikit false di beberapa bagian, tentunya.


Di samping kanan Kurnia ditemani oleh Sendi yang serius berkutat dengan buku sketch ukuran A5 dengan sebuah pensil 2B yang menggoresi kertas putih polosnya, dan pastinya tidak ketinggalan dengan penghapusnya. Hei, Sen… bahkan dalam kegiatan hiking pun kau tidak bisa lepas dari peralatan menggambarmu.


Di sebelah kanan bagian api unggun terdapat Novi yang sedang asyiknya berceloteh ria, dengan Fitri disebelah kirinya yang sepertinya mau tidak mau harus mendengarkan 'bacot' teman disebelah kanannya itu.


Arah Timur Laut ditempati oleh ketiga insan yang tidak ada kerjaan, yakni Rizal yang sedang duduk bersila seraya melekatkan jari-jari kedua tangannya yang ia letakkan diatas kakinya yang bersila.


Jihan. Dia berpose galau dengan menekuk kedua kakinya ke atas dan kedua tangannya memeluk kakinya yang ia tekukkan, serta kepalanya ia letakkan di atas lututnya, menerawang jauh ke dalam api unggun yang berkobar.


Lalu, Sandi… tanpa diberi tahu pun sepertinya kalian juga sudah pada tahu, ya? Tidak lain, tidak bukan, dan tidak salah lagi, ia membaringkan tubuhnya yang selalu merasa lelah itu dihantaran tanah hutan yang tertutupi tumpukan daun kering berwarna coklat yang telah jatuh tertiup angin dari pohonnya.


Jika diperhatikan secara saksama mereka bertiga tampak sedang membicarakan pembicaraan yang ringan. Berhubung Saya suka Rizal Jihan… So, kita dengarkan saja apa yang mereka bicarakan. Yah, mungkin lebih baik daripada mendengarkan celotehan Novi yang panjang kali lebar kali tinggi dan tiada batasnya itu.


Hening. Diantara mereka masih belum ada yang membuka pembicaraan satu sama lain. Sibuk dengan pemikiran mereka sendiri. Tidak termasuk suara teriakan Kurnia yang tidak jelas itu.


"Hm… San, kenapa Novi marah sekali padaku, ya? Memangnya salahku itu apa sih?" Jihan masih menerawang jauh ke dalam api unggun.


Sandi membuka matanya sedikit untuk melihat Jihan dan kembali memejamkan matanya. "Kau tidak salah. Mungkin Novi nya saja yang sedang jelek mood nya."


Tiba-tiba sebuah tangan menepuk bagian pucuk kepala Jihan. "Sudahlah… kau tidak melakukan kesalahan apapun. Tidak perlu kau memikirkannya, nanti juga kalian berbaikkan lagi… ya?" Rizal mencoba untuk menenangkan hati Jihan yang berkecamuk tidak jelas itu.


Pada akhirnya, usaha Rizal membuahkan hasil yakni muncullah seulas senyuman tipis di bibir Jihan. "Thanks, Rizal… Sandi."


Ucapan Jihan membuat kedua pria disebelah kiri dan kanannya tersenyum. Sandi tersenyum sambil tetap memejamkan matanya, sedangkan Rizal tersenyum kecil sambil masih menggerakkan tangannya di atas kepala Jihan. Bukan ditepuk-tepuk melainkan telah berubah menjadi sebuah elusan tangan yang lembut.


Tanpa mereka sadari, sepasang iris mata berwarna Aquamarine memandangi adegan tersebut dengan tatapan tidak suka. Ralat, sangat tidak suka.


.......


...+++~Lost~+++...


.......


Waktu terus berjalan tanpa mengenal kata 'henti' di kamusnya. Tanpa terasa lolongan sang Serigala menghiasi indahnya malam yang berubah menjadi suasana yang mencekam. Coba bayangkan, mereka sekarang tengah berada ditengah-tengah hutan yang ditumbuhi oleh tanaman yang lebat, gelap pula.


Mendengar lolongan Serigala tersebut, Sandi langsung terbangun dari tempat berbaringnya dan segera mengecek jam arloji yang berada di tangan kirinya. 'Sudah pukul sepuluh malam.', pikir Sandi dalam hati.


"Teman-teman, lebih baik sekarang kita tidur agar besok pagi tidak telat bangun untuk melanjutkan perjalanan!" seru Sandi memerintahkan teman-temannya yang masih semangat dalam melakukan kegiatan mereka.


"Yah… padahal aku masih ingin mengobrol panjang lebar dengan Fitri… Benar 'kan Fit?" tanya Novi kepada Fitri yang tentunya hanya dijawab dengan sebuah anggukan yang terlihat sangat terpaksa.


"Hhh… itu 'kan bisa dilanjutkan besok hari," gumam Sandi dengan suara yang nyaris tidak terdengar. "Kalian bebas memilih tenda mana yang akan kalian pakai. Maksimal satu tenda dua orang."


Seluruh pasang mata melihat keempat tenda yang sudah terpasang, dan langsung memilih teman satu kelompoknya. Novi dengan Fitri, Sendi dengan Sandi. Sedangkan sisanya…

__ADS_1


"Oi! Kita satu tenda, ya?" teriak Kurnia sambil mendekat kepada Rizal dan Jihan yang berada disebelahnya, dengan merentangkan kedua tangannya seakan-akan ingin memeluk Rizal jika ia sudah di dekatnya nanti.


Rizal bergidik melihat tingkah dan cara berlari Kurnia yang menyerupai banci kaleng yang sedang dilanda kisah romansa bergenre dramatis nan lebay. So, tanpa pikir panjang lagi, ketika Kurnia hendak memeluk Rizal yang sudah berada di depan matanya, Rizal langsung menyerangnya dengan beberapa serangan cepat dan ajaib nan jitu yang mampu membuat Kurnia terkepar tak berdaya dengan gaya tidak elit. Pastinya.


"Apa yang akan kau lakukan kepadaku, Kurnia?" geram Rizal yang disertai deathglare sambil menatap Kurnia yang sedang terkepar di atas tanah. Bahkan saking geramnya, Rizal tidak memanggil Kurnia dengan nama panggilan 'Dekat'nya melainkan nama aslinya.


Mata Kurnia berubah menjadi bening. "Hwaaanggg… Zal, kenapa kau memukulku sekeras itu? Padahal 'kan aku hanya ingin tidur satu tenda denganmu." jawab Kurnia seraya memegang kepala dan pipinya yang sakit akibat serangan Rizal yang hampir tidak terlihat itu.


Jihan, Sandi, Sendi, Fitri, dan Novi yang melihat adegan kisah-romansa-bergenre-dramatis-nan-lebay hanya ber-sweatdrop ria di tempat mereka sekarang. 'Kisah dramatis yang sangat memprihatinkan', ucap mereka dalam hati.


"Berhentilah mengajakku dengan gaya yang tidak enak dipandang itu. Dan…" secara tiba-tiba mata Rizal yang tadinya berwarna hitam berubah menjadi berwarna merah. "…Apa-apaan kalimat terakhirmu itu, hah?" Perlahan tapi pasti, Rizal melangkahkan kakinya mendekati Kurnia dengan di kelilingi aura gelap yang hendak mencabik-cabik makhluk malang berambut pirang itu.


Kurnia yang melihat Rizal berjalan mendekat kepadanya dengan reflek menggerakkan badannya mundur ke belakang dalam kondisi masih terduduk di tanah. "Eh… Zal, aku hanya bercanda kok… Jangan marah, ya… Peace man! Ok?" Dengan sigap Kurnia langsung berdiri dan berlari tertunggang langgang.


Tidak mau 'buruan'nya lepas, Rizal yang ahli dalam segala bidang termasuk olahraga mengejar Kurnia yang telah kabur dari hadapannya dengan berlari secepat kilat. Yang pastinya dengan memasang tampang yang menyeramkan –bagi makhluk malang yang dikejarnya.


Kurnia yang berlari dengan sangat kencang sekuat tenaganya, sesekali melihat kebelakang. "Wah! Zal, tampang mu menyeramkan!" teriak Kurnia sekuat tenaga, walau ia sendiri tahu bahwa usaha berteriak seperti itu tidak akan berpengaruh sama sekali.


Semakin lama, Rizal semakin dekat dengan Kurnia yang sudah berada beberapa centimeter di depannya. Tidak membuang waktu lagi, Rizal langsung mencengkram kerah baju Kurnia dari arah belakang dan menariknya dengan kuat.


"GYAAAA!" teriak Kurnia sekuat tenaga dicampur dengan rasa terkejut dan shock berat yang melanda dirinya.


Dengan cepat dan lihai Rizal langsung membekap mulut Kurnia dengan menggunakan kain putih yang diikat ke belakang kepala sang korban, dan tidak lupa untuk mengikat tubuh Kurnia yang tidak bisa diam itu dengan tali tambang yang ia bawa di tangannya. Entah dari mana tali tambang itu ia dapatkan dan sejak kapan tali tambang itu berada di tangannya. Author nya sendiri saja tidak tahu.


Setelah selesai mengikat dan membekap mulut Kurnia, Rizal menggotong Kurnia dan melemparnya ke dalam salah satu dari empat tenda tersebut, dan menutup tendanya.


Rizal kembali membalikkan badannya dan berjalan mendekat ke arah temannya yang lain dengan disertai seringaian puas di bibirnya yang dingin.


"Ri-Rizal… kau seram sekali sih jika sedang marah…" komen Fitri terhadap perbuatan Rizal.


"Hn… masa'? Padahal tadi sudah aku kurangi sedikit tenagaku," seringaian Rizal tetap bertahan di parasnya yang tampan.


"A… ahahahaha…" tawa Novi garing sabil tersenyum sumbing.


"Lebih baik kau hentikan seringaian mu itu…" ucap Sendi dengan sedikit takut-takut.


"Dan… matamu." tambah Jihan sambil menunjuk mata Kurnia yang masih berwarna merah, nama dari evolusi mata Rizal yang awalnya berwarna hitam kelam menjadi berwarna merah.


"Oh… ya…" balasnya santai. Sadar bahwa matanya masih berwarna merah, Rizal langsung merubahnya kembali menjadi mata normalnya.


"Hhhh… memang susah ya jadi keturunan klan bergaris golongan darah khusus." ucap Sandi lega dan kembali merilekskan tubuh serta otot-otot nya yang tegang sedari tadi.


"Yah… beruntunglah kau tidak sama sepertiku." cetus Rizal yang sepertinya tersinggung sedikit oleh perkataan Sandi.


Menyadari suatu hal dari perkataan Rizal, Sandi langsung mengambil langkah aman tahap pertama. "Maaf, jika perkataanku menyiggung mu. Aku tidak bermaksud seperti itu."


"Ya, ya… aku tahu." timpal Rizql dengan nada malas.


"Hmmmpphhff… hmphf… hmmpphhff!"


Semua mata tertuju pada asal suara aneh itu berasal. Ya, siapa lagi kalau bukan Kurnia yang telah di bekap oleh Rizal dan sekarang telah berada di dalam salah satu tenda mereka.


"Aishh… si Kurnia itu walau sudah diikat dan dibekap seperti itu oleh Rizal tetap saja tidak bisa diam." ujar Novi sambil berkacak pinggang.


"Yah… bukan Kurnia namanya kalau tahan berdiam diri dan tidak melakukan apa-apa." sahut Fitri menambahkan tuturan Novi.


Beberapa detik kemudian mereka semua tertawa ria. Perasaan senang menghiasi aura mereka.


"Jadi… Zal, kau ingin satu tenda dengan Kurnia?" tanya Sandi seraya menatap mata Rizal yang kelam.


Jawaban dari Rizal membuat semua orang ber-jawdrop ria. Tak terkecuali Jihan.


"K-k-k-ka-ka-ka-kau…" ucap Sandi sambil terbata-bata.


Sendi berusaha menelan ludahnya sendiri. "haha…Zal, kau bercan-"


Belum selesai ia berbicara, Rizal sudah memotongnya. "Aku se-ri-us."


Hening.


Rizal menghela nafas panjang. "Kalian ingin aku yang satu tenda dengan Jihan, atau Kurnia?" kedua tangannya ia lipatkan di depan dadanya. Menunggu pernyataan dari teman-temannya.


"Kalau pilihannya seperti itu… lebih baik Jihan satu tenda dengan mu daripada dengan Kurnia yang tidak bisa dipercaya." tutur Sendi singkat dan jelas.


"Tapi, alangkah lebih baiknya jika Jihan tidur sendiri daripada tidur dengan salah satu diantara kalian." protes Sandi secara halus yang lebih terdengar menjadi sebuah saran.


Rizal menelengkan kepalanya ke arah Sandi. "Pilihannya hanya dua. Tidak ditambah, dan juga tidak dikurang." ucap Rizal tegas.


Sandi tampak berpikir keras, terlihat dari tingkahnya yang sedang mengernyitkan dahinya. "Baiklah, kalau itu keinginan mu, Zal. Sepertinya kau lebih bisa dipercaya daripada Kurnia."


"Tu-tunggu, tunggu, tunggu…" Novi merentangkan kedua tangannya ke depan seolah-olah sedang mencari perhatian kaum laki-laki yang sedang berdebat. "Rizal dengan Jihan? Heh… yang benar saja, Rizal itu lelaki dan Jihan itu perempuan. Dan…" Novi melihat ke arah kedua orang yang sedang ia bicarakan. "…mereka bukan anak kecil lagi."


"Tenanglah. Aku tidak akan melakukan hal sembrono seperti itu," Rizal menatap iris Novi. "Kau percaya padaku?"


Semburat merah pun muncul di wajah Novi akibat ditatap oleh Rizal secara tiba-tiba. "T-tentu saja. Aku percaya padamu." kata Novi dengan ucapan yang di percepat karena berusaha menahan malunya.


"Kalau begitu, tidak ada masalah 'kan?" Iris onyx nya memandang teman-temannya secara bergilir. "Kalau Jihan satu tenda dengan Kurnia..." Rizal mendengus sesaat. "...Aku tidak tahu masa depan Jihan nanti itu jadi seperti apa." ujar Rizal secara frontal.


Jihan meninju lengan atas Rizal dengan sekuat tenaga. Yah, sekuat tenaga menurut ukuran Jihan.


"Aaww!"


"Kau tidak boleh berkata yang tidak-tidak tentang Kurnia, Zal. Bagaimanapun juga Kurnia itu juga teman kita dari kecil." Jihan membuang muka dari tatapan Rizal. "Yah… walau ia sedikit mesum."


Mendengar hal itu Rizal menahan tawanya yang ingin meledak itu.


"Jangan tertawa." Perintah Jihan yang hanya direspon sebuah anggukan oleh Rizal.


"Baiklah sudah ditentukan, Rizal satu tenda dengan Jihan." putus Sandi pada akhirnya. "Ayo, cepat kalian tidur! Besok kalian semua akan bangun pagi-pagi sekali."


Mereka semua pun berjalan ke arah tenda yang belum terisi oleh satupun makhluk hidup.


Saat berjalan menuju ke tenda Novi menarik tangan Jihan. "Jihan, aku minta maaf atas sifatku tadi. Sungguh, aku lepas kendali pada saat itu." Kepalanya tertunduk karena perasaan bersalahnya.


Jihan tersenyum mendengar permintaan maaf Novi yang sangat mendalam, menurutnya. "Tidak apa-apa. Aku sudah memaafkan mu beberapa jam yang lalu."


Novi menganga lebar mendengar jawaban dari Jihan yang sangat baik hati. "Makasih, Ji." Mulutnya yang menganga lebar berubah menjadi sebuah senyuman yang tulus.


"Un." Jihan menganggukkan kepalanya dan melambaikan tangan ke arah Novi pertanda mengucapkan 'selamat tidur' atau 'sampai jumpa' kepada teman baiknya itu. Dan kembali membalikkan badannya ke arah Rizal yang sedang berjalan menuju ke arah tenda Kurnia berada sekarang.


Tanpa basa-basi lagi Jihan mendekat ke belakang Rizal dan menepuk punggungnya. "Hei, mau apa kau?" tanya Jihan yang membuat Rizal sedikit terperanjat dan menenggokkan kepalanya ke belakang untuk melihat siapa yang menepuk punggungnya itu.


Rizal menghela nafas. "Ternyata kau. Aku ingin melihat keadaan si Bodoh sekarang. Kurasa perbuatan ku tadi sudah keterlaluan." ucap Rizal mengakui kesalahannya. Mendengar pengakuan Rizal yang tanpa ditanya, Jihan tersenyum dan mengangguk setuju.

__ADS_1


Tangan Rizal bergerak untuk membuka resleting penutup tenda tersebut. Dan… voila! , Kurnia tampak tertidur pulas dan mungkin arwahnya sudah pergi entah kemana.


Melihat Kurnia yang tertidur begitu pulasnya, Rizal dan Jihan hanya bisa ber-sweatdrop di tempat. "Kurasa aku menyesal telah mengkhawatirkannya," tutur Rizal dengan nada penyesalan.


"Hei, kau lupa? Kau telah membekap Kurnia sehingga ia tidur dengan kondisi memprihatinkan seperti itu,"


"OK, OK!"


Tanpa diperintahkan Rizal segera melepaskan ikatan yang berada di tubuh Kurnia secara perlahan agar sang korban tidak terbangun dari mimpi indahnya. "Biar ku bantu, agar cepat." tawar Jihan dan langsung bergerak membantu membukakan ikatan Kurnia secara perlahan juga.


Beberapa saat kemudian Kurnia pun terbebas dari ikatan di sekujur tubuhnya dan bekapan di mulutnya. Lalu Rizal dan Jihan pun menutup tenda Kurnia, dan segera kembali ke dalam tenda mereka sendiri dan tidur dengan terlelap.


.......


...+++~Lost~+++...


.......


"Nnngghh…" Novi terbangun dari tidurnya secara tiba-tiba, ia sedikit merenggangkan tubuhnya yang pegal-pegal karena tidur dengan tidak menggunakan alas yang empuk dan nyaman seperti di rumahnya. Matanya melirik kesamping tempat ia berbaring –melihat jam arlojinya yang ia lepas sebelum tidur. "Baru jam setengah dua pagi? Oh God, kenapa waktu berjalan lama sekali?"


Secara perlahan dan sangat hati-hati, Novi merangkak melewati Fitri yang sudah tertidur pulas di sebelah sisi tenda –yang digunakan sebagai jalur akses masuk dan keluar orang ke dalam maupun keluar tenda –setelah mengambil sebuah senter di ranselnya.


Karena merasa ada sesuatu yang bergerak-gerak di sekitarnya, Fitri tersadar dari mimpi indahnya dan matanya tertuju pada 'sesuatu' yang bergerak itu. "Nov? Kau sedang apa?" Salah satu tangannya menopang tubuhnya yang hendak merubah posisinya yang berbaring menjadi pose duduk seraya mengucek-ngucek kedua matanya.


Novi memberhentikan aksinya sebentar dan menelengkan kepalanya menghadap lawan bicaranya. "Oh, Fit… maaf ya karenaku kau jadi terbangun dari tidurmu." Salah satu tangannya bergerak untuk menggerakkan resleting tenda hingga terbuka sepenuhnya.


"Kau ingin kemana?" tanya Fitri yang sudah mulai melihat wajah Novi dengan jernih seperti biasa.


Tangan dan kaki Novi kembali bergerak untuk merangkak ke luar tenda. "Aku ingin buang air kecil sebentar." Setelah berhasil keluar dari dalam tendanya, tangannya mulai menggerakkan resleting tendanya kembali.


Sebelum tenda tertutup sempurna, Novi memberi saran kepada Fitri yang padahal ingin menawarkan diri agar dapat menemani teman setendanya itu. "Kau kembali tidur saja, aku akan segera kembali."


Suara langkah kaki Novi perlahan menjauh dari tenda tempat Fitri berada. "Hati-hati, Nov." gumam Fitri sebelum ia kembali membaringkan tubuhnya dan segera melanjutkan mimpinya yang sempat tertunda.


Novi melangkahkan kakinya mantap menuju ke sebuah tenda yang dimana Sendi dan Sandi berada sekarang. Kakinya berhenti melangkah tepat di depan tenda mereka. Kakinya ia tekukkan agar ia dapat berpose jongkok secara sempurna.


"San, aku minta izin ingin buang air kecil, ya?" pinta Novi dengan sedikit berteriak, tapi tetap menjaga nadanya agar tidak meninggi.


Merasa ada yang menyebutkan namanya, Sandi membuka matanya secara perlahan, dan membalasnya. "Iya. Kau tidak minta ditemani oleh Fitri?"


"Tidak. Aku tidak ingin mengganggu tidurnya yang pulas."


Sandi menautkan alisnya yang sudah jelas tidak dapat dilihat oleh Novi itu. "Kalau ada apa-apa denganmu, bagaimana?" Dengan seksama ia menunggu jawaban dari teman perempuannya yang berada di luar tenda. Rasa khawatir melanda pikirannya.


"Tidak akan terjadi apa-apa padaku. Percayalah."


Suara Novi meyakinkan Sandi agar tidak khawatir terhadapnya. Senyuman kecil pun menghiasi wajahnya yang setengah sadar. "Iya, ya. Aku lupa kalau kau itu menyeramkan dan saking menyeramkannya makhluk gaib pun tidak berani menyerangmu."


Di kepala Novi muncul tiga buah siku yang berkedut-kedut –jika ini adalah sebuah Anime –Perasaan kesal pun menyelimuti hatinya. "Awas kau, San!" Dengan perasaan yang masih seperti itu, Novi melangkah meninggalkan tenda yang tadi dihampirinya dan juga yang telah membuat perasaannya kesal.


Ia berjalan menjauhi daerah perkemahan mereka untuk mencari tempat yang pas untuk membuang uretra yang sudah tidak bisa ia tahan lagi. Senter yang berada di tangan kanannya ia nyalakan sebagai salah satu penerangan yang ada, karena cahaya api unggun yang sudah mulai mengecil tidak bisa lagi menembus kegelapan malam disekelilingnya.


Beberapa langkah berjalan menjauhi lingkungan perkemahan mereka, akhirnya ia menemukan tempat yang pas untuk dirinya. Tangannya mulai bergerak untuk membuka kancing celana dan resleting jeansnya, dan mulai melakukan kegiatan 'sakral'nya itu. Senter yang ia pakai, ia selipkan diantara lengan atas dengan tubuhnya.


Catatan: Maaf, adegan selanjutnya di 'skip' karena manurut saya sangat berbahaya bagi pembaca dibawah umur. Bagi para pembaca yang berumur cukup silakan membayangkan sendiri adegan apa yang Novi lakukan selanjutnya.


Setelah selesai melakukan 'tujuan'nya dan mengancingkan kembali celananya, ia segera melangkahkan kakinya untuk menjauhi tempat ia singgahi tadi.


Kresek Kresek


Telinganya menangkap suatu suara yang ganjil di sekitarnya, suara semak-semak yang bergerak dengan sendirinya. Tidak ada angin, tidak ada makhluk malam di sekitarnya karena tempat yang ia pilih terlalu damai, dan tenang nan sepi.


Jika memang ada hewan buas yang sedang memantaunya dari kejauhan dan mengincar dirinya, kenapa tidak pada saat ia sedang melakukan 'kegiatannya' dan langsung menerkamnya? Setidaknya hipotesis itulah yang melanda dipikiran Novi.


Karena rasa penasaran yang menjunjung tinggi, Novi menekatkan diri mendekati semak-semak yang –dapat dibilang lumayan tinggi –tadi sempat bergerak dengan sendirinya itu.


Selangkah demi selangkah ia mendekat dengan cahaya penerangan dari senter ia arahkan ke arah semak-semak itu. Tangannya ia tempatkan di salah satu sisi semak-semak, dan dengan sigap ia membuka hantaran semak-semak yang sekarang terlihat jelas apa yang ada di balik semak-semak itu.


Kosong. Ya, perasaan Novi sedari tadi cukup tegang mulai menghilang setelah mengetahui tidak ada hal yang perlu ditakuti lagi. "Hah… mungkin hanya perasaanku saja." Tubuhnya berbalik dan mulai melanjutkan langkahnya kembali.


Baru beberapa langkah ia berjalan sesuatu yang aneh pun terjadi lagi. Senter yang senantiasa menerangi jalan yang dilewati Novi secara tiba-tiba mati dipertengahan jalan menuju daerah perkemahan mereka.


"Aduh, kok mati sih?" Kepala Novi berkeliling melihat hamparan Hutan yang gelap. "Mana gelap lagi,"


Ibu jarinya bergerak naik turun di atas tombol on/off senter, berusaha untuk menghidupkan kembali senter yang ia pakai. "Apa baterainya ada kesalahan, ya?" Kedua tangannya bekerja sama untuk membuka salah satu sisi senter yang digunakan untuk memasukkan baterai ke dalam senter.


Setelah merasa sudah mengecek kondisi keadaan baterai di dalam, Novi kembali berusaha menyalakan senter tersebut. "Aneh, kenapa tidak mau menyala?" Ia mengernyitkan keningnya. "Kalau baterainya habis… itu tidak mungkin, sebelum pergi aku sudah menggantinya dengan baterai yang baru," Novi berkacak pinggang. "Kalau memang aku salah memasukkan baterai baru yang ternyata sudah lama, pasti cahayanya tidak seterang cahaya yang tadi dihasilkan."


Tiba-tiba Novi tersadar dari semua pikirannya dan merasakan ada 'sesuatu' yang mengamatinya dari belakang sedari tadi. Novi bergeming di tempat ia berpijak, bulu kuduknya merinding dan menjalar ke seluruh tubuhnya. Mulut dan tenggorokannya ia usahakan untuk bekerja sama agar dapat menelan ludahnya sendiri.


Dengan bermodalkan nekat seperti sebelumnya, ia berencana untuk berbalik dan melihat 'sesuatu' yang sedang mengamatinya sedari tadi tanpa bosan-bosannya itu.


Novi memejamkan matanya sesaat, guna untuk mengatur perasaannya dan bayangan-bayangan negatif yang terus terlintas dipikirannya, serta mengatur nafasnya yang memburu karena ketegangan yang menyelimuti dirinya.


Novi menghela nafas dengan kencang, membuka matanya yang terpejam, membalikkan tubuhnya ke arah yang sedari tadi ia punggungi dengan satu hentakan kencang, dan…


"KYAAAAAAAAA!"


.......


...+++~Lost~+++...


.......


Fitri membalikkan tubuhnya yang berbaring dalam tidurnya yang nyenyak, dan tanpa di sengaja salah satu tangannya terhempas ke daerah yang seharusnya sedang ditiduri oleh Novi sedari tadi. Merasa ada sesuatu yang kosong di sebelahnya, Fitri membuka matanya yang semula terpejam dan mengerjap-ngerjapkan matanya berusaha beradaptasi dengan penglihatannya.


"Hm, Novi belum kembali?" Dengan inisiatif berlebih, Fitri mengecek waktu pada jam arloji yang berada disebelahnya. "Pukul tiga lewat empat menit," Fitri berusaha mengingat waktu yang ia lihat sekilas sebelum Novi pergi meninggalkannya. "Novi pergi sekitar pukul setengah dua… dan sampai detik ini ia belum kembali?" Suara Fitri meninggi. "Aku harus memberitahukan ini kepada Sandi."


Peristiwa belum kembalinya Novi membuat Fitri beranjak dari tempat ia berbaring dan langsung menuju tenda Sandi dan Sendi. Entah kenapa orang pertama yang harus ia beritahukan adalah Sandi, mungkin karena ia adalah kapten dalam kegiatan ini.


"Sandi, apakah kau tahu kemana Novi pergi?" tanya Fitri setelah sampai di depan tenda seseorang yang ingin ia tuju dengan nada penasaran pada suaranya yang bervolume kecil.


Suara Fitri membangunkan sang pemiilik nama yang ia sebut. "Katanya ia ingin buang air kecil… tenang saja sebentar lagi ia juga kembali," jawab Sandi dengan nada malas-malasan dan matanya yang masih terpejam.


"Masalahnya bukan itu," Fitri tampak sedang memilih kata-kata yang tepat untuk ia lontarkan. "Novi ingin buang air kecil sejak sekitar jam setengah dua… dan sekarang jam menunjukkan pukul tiga lewat, tapi Novi masih belum juga kembali."


Sandi memutar akalnya yang genius. Berarti sudah satu setengah jam Novi tidak kembali, pikir Sandi. Matanya terbuka –terbelalak –dan sedikit terperanjat. "SATU SETENGAH JAM?" Sandi berteriak dengan suara yang lantang nan jernih.


Efek dari teriakannya itu, Sendi, teman satu tenda yang dari tadi tertidur pulas di samping Sandi pun terbangun dari tidurnya yang tanpa bermimpi itu. "Hoam… ada apa denganmu, San? Kau mengigau, ya?" tanya Sendi seraya menyibakkan poninya ke belakang.


Sandi menolehkan kepalanya ke arah Sendi dengan disertai tatapan yang meyakinkan, membuat Sendi yang tadinya masih merasa mengantuk dibuat menjadi tertegun karena melihat ekspresi wajahnya yang sangat serius, sambil dipenuhi rasa ingin tahu dan berbagai pertanyaan mengisi seluruh otaknya.


"Novi menghilang!"

__ADS_1


...~Lost In Nightmare~...


...To be Continued…...


__ADS_2