Lost In The Nightmare

Lost In The Nightmare
The Discussion


__ADS_3

...NIGHTMARE 4...


...The Discussion Into The Nightmare...


Setelah beberapa lama berjalan –karena rumah penginapan yang terbuat dari kayu itu sangat luas dan megah –walaupun terlihat dari luar hanya sebatas sederhana. Rizal dan Jihan dapat menyusul kawan-kawan nya yang sudah terlebih dahulu sampai di mobil mereka.


"Yo! Dua orang yang sedang kasmaran. Cepat pindahkan barang kalian kedalam! Hari sudah semakin gelap." ejek Kurnia kepada dua orang sahabatnya itu dengan nada tidak senang di awal kalimatnya. Mungkin lebih banyak mengarah kepada sang Tuan Muda.


"Diam kau, Kur." jawab Rizal karena tidak senang dengan ucapan Kurnia. Terlintas di otaknya yang genius itu untuk menggoda Kurnia sedikit. "Bilang saja kalau kau iri kepadaku, Heh?" Rizal tersenyum licik dengan sorot mata yang meremehkan kepada Kurnia.


Wajah Kurnia langsung memerah seperti kepiting rebus. "T-tidak kok! K-kau nya saja yang ke ge-er an." balas Kurnia dengan terbata-bata.


"Hmm…?" Tampang Rizal masih sama.


"B-beneran!"


"Masa'?"


"S-siapa juga yang iri!"


"Oh ya? Yakin?" Tampang licik Rizal semakin menjadi-jadi.


"Terserah kau lah!" ujar Kurnia menyerah.


Terdapat seringaian kepuasaan mengembang di bibir Rizal.


"Sudahlah kalian berdua jangan ribut saja. Cepat bawa barang kalian sedikit-sedikit kedalam." kata Novi seraya berkacak pinggang.


Perlahan tapi pasti, mereka membawa barang-barang mereka yang memenuhi bagasi mobil masing-masing.


"Sandi, Novi, Fitri! Barang-barang kalian menutupi barangku yang berada di bawah tahu!" tegur Sendi yang sedang menatap bagasi mobilnya yang penuh dengan barang-barang yang acak-acakan.


"Oh… maaf,maaf." jawab Novi dengan seenaknya.


"Merepotkan." ucap Sandi juga seenaknya.


"M-maaf Sen. A-aku tidak sengaja." ujar Fitri sembari membungkukkan badannya kepada Sendi.


Melihat peristiwa itu Sendi langsung menepuk pundak Fitri dan berkata. "Sudahlah Fit, jangan membungkuk seperti itu, kita kan Sahabat." Senyuman terukir di wajahnya.


"I-iya." kata Fitri malu-malu menatap Sendi.


"Hahahaha… sudah lebih baik kau juga bawa barangmu sedikit-sedikit," bujuk Sendi.


Kemudian mereka semua pun mengangkat barangnya yang-bisa-dibilang-tidak-sedikit itu.


Mereka berhasil memindahkan semua barang dengan sekali balik saja. Percaya nggak percaya. Sebenarnya saya(Author) juga percaya. OK kembali ke cerita.


Orang terakhir yang memindahkan barang adalah Sendi dan Jihan. Wah! Ada apa dengan gerangan mereka berdua.


Jihan sedikit melirik kearah Sendi yang sedang mengangkat barang bawaannya yang terakhir.


Kanvas?, pikir Jihan dalam hati.


"Hm… Sen? Kau membawa kanvas kesini?" Jihan bertanya dengan nada ragu-ragu.


"Iya. Juga peralatan gambarku." Sendi tersenyum sambil menunjukkan peralatan gambarnya. "Kurasa kau juga membawa sebuah laptop… dan buku musik?"


"Oh. Iya, tapi tidak semerepotkan barang bawaanmu yang bisa dibilang seukuran raksasa itu."


"Yah… mau gimana lagi. Tidak ada yang ukuran kecil sih."


Tawa mereka berdua menggema dan tanpa mereka sadari telah masuk ke dalam indra pendengaran seseorang selain mereka berdua.


"Sudah selesai memindahkannya?" Suara baritone tiba-tiba terdengar di telinga mereka berdua.


"Izal," kata Jihan. Emeraldnya menatap onyx Rizal dengan diselipkan senyuman menawan khas Jihan Aulia.


"OK!" Sendi pun mengambil remote pengunci mobil dari saku celananya lalu menekan tombol 'lock' dan 'alarm' secara bergiliran, sehingga menghasilkan dua bunyi yang berbeda, dan lampu yang berkedap-kedip pertanda bahwa alatnya sudah bereaksi pada mobilnya itu.


"Dah! Duluan ya…" Sendi pun berlalu meninggalkan Rizal dan Jihan di belakang.


Setelah Sendi masuk kedalam, Rizal segera beranjak keluar mendekati Jihan yang masih melakukan 'sesuatu' pada barangnya tersebut.


"Sudah?" tanya Rizal dengan suaranya yang datar itu.


"Hmm… Tunggu…" Tangan Rizal masih berkutik dengan barang bawaannya. "Sudah!"


Melihat barang Jihan yang lumayan banyak tersisa itu, Rizal langsung mengambil sebagian besar barang Jihan ke kedua tangannya yang kokoh itu.


"I-izal, tidak apa-apa, aku bisa sendiri!" tukas Jihan yang tidak ingin merepotkan orang lain itu.


"Hn? Kau bisa sendiri? Kau lupa bahwa kau tidak boleh membawa barang-barang yang berat?" Rizal menatap Jihan dengan tatapan intens miliknya. "Kuharap kau tidak lupa."


Jihan diam. Tidak bisa membalikkan perkataan Rizal yang beruntun tadi. Skakmat kau, Jihan.


"Iya! Dokter…" ucap Jihan pasrah dengan posisinya sekarang.


Rizal tersenyum puas. "Bagus. Itu yang kuinginkan. Cepat kau tutup bagasi mobil, aku ingin segera mengunci dan memasang alarm mobil."


Jihan pun menuruti apa yang dikatakan sang empunya mobil dengan segera. Dan Rizal pun mulai melakukan hal yang sama dengan yang Sendiblakukan.


Kaki mereka berdua pun mulai melangkah memasuki villa mereka yang menurut mereka nyaman itu.


.......


...+++~Lost~+++...


.......


Sesampainya di ruangan terakhir. Tempat dimana mereka mengumpulkan barang bawaan mereka.


Sandi dan Kurnia mendiskusikan pembagian kamar berdua, sedangkan Rizal dan Sendi membicarakan apa yang akan mereka lakukan nanti, sedangkan ketiga perempuan sisanya sibuk pada kegiatannya masing-masing.


Novi sedang merapikan riasan make-up nya yang sudah mulai rada hilang. Fitri melihat-lihat ponselnya, entah apa yang ia lihat. Jihan bersandar di sofa yang untuk satu orang dengan santai dan memejamkan matanya sebentar.


Tidak lama mereka bersantai-santai, akhirnya Kurnia dan Sandi mulai beraksi dengan suaranya yang lantang.


Kurnia menepukan tangannya sebanyak tiga kali.


Prok Prok Prok!

__ADS_1


"Baiklah aku dan Sandi akan membacakan pembagian kamar, yang dimana semua kamar tidur terdapat di lantai atas," Jari telunjuk Kurnia mengacung ke arah atas. "Pembagian kamar akan dibicarakan oleh Sandi."


"Hah? Kenapa tidak kau beritahu sekalian saja Kur? Merepotkan sekali," Tanya Sandi yang sepertinya kurang minat itu.


"Tidak apa-apa, biar kau dapat kerjaan." Salah satu mata Kurnia mengerjap sekali.


"Hhhh…" Helaan nafas pasrah Sandi. "Diatas terdapat tiga kamar yang cukup luas di masing-masing kamar,"


Sandi mulai membaca dan menyebutkan. "Kamar pertama dekat tangga ditempatkan oleh dua orang, yaitu Sendi dan aku sendiri,"


"Kamar kedua dekat kamar mandi ditempatkan oleh tiga orang, yaitu Fitri, Jihan, dan Novi."


"Yeey! Kita sekamar Ji!" teriak Novi kegirangan.


"Ya iyalah, Novi. 'kan perempuan cuma kita bertiga." jawab Jihan simple.


Fitri tertawa kecil melihat kedua teman sekamarnya itu.


"Selanjutnya kamar ketiga dekat teras depan atas ditempatkan oleh dua orang, yaitu Rizal dan Kurnia."


"Kenapa harus dekat teras, heh?" tanya Rizal seraya melipat kedua tangannya didepan dada.


"Tidak apa-apa, Zal. Jadi nanti kita bisa melihat ke arah jalanan yang hijau." Mata Kurnia tampak berbinar-binar.


"Hhhh…" Helaan nafas panjang Rizal, Kurnia anggap sebagai tanda kepasrahan teman kecilnya itu.


"Hah~ Ayo, kita ke kamar sambil membawa barang kita masing-masing ke dalam kamar." Ajak Sendi yang sudah berdiri untuk bergegas mengambil semua barangnya.


Ajakannya itu membuat yang lainnya ikut mengambil barang dan segera melangkahkan kakinya menelusuri anak tangga –yang memang berada di dalam ruangan terakhir itu.


Setelah mereka menaruh sebagian barangnya ke dalam kamar, mereka segera turun lagi untuk membawa barang sisanya.


Seperti sebelumnya, Rizal membawa barang bawaan jihan yang juga disertai dengan perbincangan-singkat-tapi-lumayan-panjang mereka.


Tanpa mereka sadari dari kejauhan mata, Kurnia melihat tingkah laku kedua teman kecilnya itu. Terutama Rizal yang tingkahnya berbeda jika bersama Jihan.


.......


...+++~Lost~+++...


.......


Rembulan menjemput Matahari dan menyuruhnya untuk berganti posisi tahta dengannya. Bulan menduduki singgasananya dengan diikuti oleh hujan yang mengguyur Bumi dengan amat deras dan lebatnya.


Terlihat seorang pemuda berwarna rambut kuning dan berdiri, seperti duren yang duduk di kursi yang ia tarik agar dapat melihat kearah luar jendelanya yang dibasahi oleh air hujan yang jatuh dari langit.


"Hujannya lebat sekali…" ucap rambut berwarna kuning tersebut. Pikiran dan tatapan matanya melayang entah kemana.


"Hn. Kau tahu, Kur? Sebelum kita berangkat aku melihat ramalan cuaca di siaran televisi, katanya beberapa hari hujan akan turun dengan sangat lebat dan kemungkinan besar akan datang badai di daerah dataran tinggi." jelas Rizal yang entah sejak kapan sudah berada di sebelah Kurnia.


Tercipta kesunyian yang –lumayan panjang- diantara mereka berdua sebelum ada seseorang masuk kedalam kamar mereka.


"Kur, Zal, makan malamnya sudah siap. Ayo, turun!" ajak Jihan yang tiba-tiba hanya memunculkan kepalanya ke dalam dari depan pintu kamar mereka.


"Hn. Ayo!" Jihan menepuk pundak Kurnia lalu pergi bersama Jihan mendahului Kurnia.


Kurnia pun bangkit berdiri dari tempat duduknya dengan masih melamun –entah memikirkan apa, lalu terdapat senyuman yang aneh –tidak seperti biasanya di bibir Kurnia.


"Mungkin akan terjadi sesuatu yang menarik." ucap Kurnia sambil berjalan menuju luar pintu dan menutupnya.


Blam!


"Ayo, cepat, Kur! Perutku dari tadi sudah meronta-ronta ingin makan tahu." ujar Jihan –secara tiba-tiba- yang sedari tadi menunggu Kurnia keluar dari kamarnya, dengan direspon oleh raut wajah Kurnia yang setengah membelalakkan matanya. Mungkin karena terkejut.


Tanpa pikir panjang, Jihan menarik tangan Kurnia dan menyeretnya dengan kecepatan seribu langkah. Saat diseret, kepala Kurnia tidak bisa diam mencari sesuatu di sekelilingnya. "Izal kemana?"


"Dia sudah duluan. Katanya dia turun duluan karena malas menunggu." jawab Jihan sambil kakinya perlahan-lahan menuruni anak tangga yang lumayan banyak dan tinggi itu. "Kau sendirikan tahu sifat Rizal itu seperti apa,"


Saat langkah kaki mereka sampai di lantai dasar selepas anak tangga yang sudah mereka lalui, suara rendah seorang laki-laki menyambut kedatangan mereka di bawah. "Akhirnya orang yang sudah kutunggu-tunggu telah datang,"


Sontak Kurnia dan Jihan menolehkan kepalanya ke arah sumber suara itu berasal. "'Tunggu-tunggu'? Bukannya kau sudah turun lebih dulu dari kami karena malas menunggu?" tukas Kurnia sambil berjalan mendekati Rizal –sang pemilik suara baritone- dengan diikuti Jihan di belakangnya.


"Hn. Tidak lama kau keluar aku baru saja beranjak dari tempatku," jawab Rizal sambil tetap mempertahankan posenya yang bersandar di tembok –tepat di belakang punggungnya sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya. "Hanya berselisih beberapa detik." Lanjutnya.


"Oh…" respon Kurnia singkat. Sedangkan Jihan hanya melihat kedua sahabatnya bercakap ria dengan diam.


"Daripada berbicara yang tidak jelas… bagaimana kalau kita langsung menuju ruang makan, sepertinya yang lain telah jenuh menunggu kita sedari tadi." Ajak Jihan mengalihkan pembicaraan yang ada.


"Hn."


Sejenak Kurnia berpikir dengan pose yang membuatnya sok pintar –mengapitkan dagunya dengan jari telunjuk dan ibu jarinya- itu. "Bukannya di villa tempat kita menginap ini tidak ada ruang makan, ya? Kita tidak melewatinya saat mengelilingi seisi villa ini,"


"Hhh… Memang tidak ada di dalam bagian tempat sekarang kita menginap ini. Tapi–" belum sempat Jihan melanjutkan kata-katanya, Rizal memotong pembicaraannya.


"Berada terpisah dari penginapan ini. Lebih tepatnya berada dekat dengan dapur yang juga terpisah dari sini."


"Ahh… betul. Lebih tepatnya lagi berseberangan dengan sebelah utara villa ini." Senyum Jihan terhadap kedua sahabat kecilnya itu.


"Baiklah. Kalau begitu, ayo kita cepat kesana perutku sudah lapar. Let's Go!" Kedua tangan Kurnia mengambil salah satu tangan kedua temannya. Tangan kanan Kurnia menarik tangan kiri Rizal dan tangan kirinya menarik tangan kanan Jihan.


"Uwaaahhh…! Pelan-pelan, bodoh!" teriak Jihan dengan nada setengah oktaf.


"Heh! Dasar idiot kau, Bodoh!" ucap Rizal dengan diawali perasaan sedikit terkejut. Tapi tetap dengan tampang stoic nya yang tidak berubah.


.......


...+++~Lost~+++...


.......


Di ruang makan, hidangan yang kelihatannya lezat dan masih panas –seperti baru saja disajikan- diletakkan begitu rapi di atas meja berbentuk persegi panjang yang tertutupi oleh sehelai kain berwarna putih sebagai alas meja tersebut.


Makanan yang dihiasi oleh beberapa bahan pelengkap lainnya membuat semua makanan itu terlihat cantik. Bau makanan yang harum menyerbak membuat ruangan itu penuh dengan bau makanan yang pastinya sangat menggoda selera. Apalagi jika yang mencium bau tersebut sedang mengalami masa lapar yang berat.


Terlihat beberapa orang sedang duduk rapi di masing-masing kursi yang mengelilingi meja makan. Yang pastinya dengan ekspresi yang berbeda-beda menghiasi wajah mereka yang tampan dan cantik itu. Mungkin.


Seorang perempuan berambut kuning diikat satu tinggi ke belakang –yang kita kenal dengan nama Novi itu –memecah keheningan yang tercipta di ruang makan dengan tampang yang sudah kesal setengah mati. "Argh! Kemana Jihan yang ku suruh untuk memanggil Kurnia dan Rizal? Dia tidak tahu apa kalau kita semua yang menunggu disini menahan rasa lapar yang mendalam?"


"Sudahlah. Sabar sebentar Nov mungkin mereka sedang perjalanan menuju kesini." Sandi menguap lebar. Sebenarnya dia lapar atau kantuk?


"Gimana tidak ingin sabar, kita sudah menunggu mereka hampir sepuluh menit lamanya." Novi yang tadinya duduk sontak berdiri karena ketidaksabarannya.

__ADS_1


"Hmm… bolehkah aku mencicipi makanannya terlebih dahulu?" tanya Sendi yang sedari tadi memperhatikan makanan yang menganggur tepat di depan matanya.


"Tidak!" jawab Novi singkat.


"Oh. Baiklah." Sendi masih melihat makanan tersebut. Tanpa berkutik sedikitpun dari posisinya.


Fitri yang hanya melihat reaksi dan mendengar pembicaraan mereka sedari tadi menggerakkan lehernya ke arah pintu masuk ke ruang makan satu-satunya itu. "Ah… Mmm… itu mereka."


Terlihat dari pintu ruang makan –yang bisa terbilang cukup tinggi dan lebar- itu ketiga orang yang sepertinya habis berlarian karena nafas mereka tidak teratur, "Yo! Finish!" seru Kurnia sambil mengepalkan kedua tangannya dan meninjunya ke udara yang bebas.


"Dari mana saja kau, hah?" ucap Novi sambil berjalan kearah mereka bertiga. Tepat di depan Jihan.


"Ah. Itu… tadi Kurnia menyeret aku dan Rizal yang ingin menuju kesini, tapi Kurnia salah jalan… sepertinya ia bingung untuk membedakan arah mata angin," jelas Jihan yang dasarnya adalah orang yang sangat jujur.


"Lagian siapa yang menyuruh kau untuk menjelaskan letak ruang makan dengan arah mata angin, hah?" Emosi Novi terlihat memuncak.


"Ah… maaf," ucap Jihan sambil menunduk yang melihat wajah Novi yang membuatnya ketakutan. Serem banget.


Tidak senang melihat sahabat kecil perempuannya dibentak dengan emosi yang seperti tadi, Rizal membela Jihan. "Sudahlah, yang penting 'kan sekarang kita sudah datang." kata Rizal dengan datar dan dingin. Sangat dingin. Sambil menarik tangan Jihan agar menjauh dari Novi yang jarak wajahnya tepat di depan wajah Jihan.


Mendengar teguran Rizal yang dingin tapi menghanyutkan itu, Novi langsung merasa bersalah di dalam hatinya.


"Heh, Nov. Apa kau tahu wajah dan nada suara bertanya mu itu membuat Jihan merasa bersalah?" balas Kurnia dengan bentakan kepada Novi. Tidak mau kalah dengan Rizal.


"Ma-maaf," Novi melihat Jihan yang masih menundukkan wajahnya, takut, yang sekarang berada diantara Rizal dan Kurnia. Terlihat jelas tangan Rizal dan Kurnia menggenggam tangan Jihan di kiri dan kanannya. Seakan-akan Jihan adalah sahabat yang sangat berharga bagi mereka berdua. Memang benar sih.


Prok!


Suara tepuk tangan satu kali seseorang itu membuat Novi, Kurnia, Rizal, dan Jihan menoleh kearahnya. "Daripada membahas yang tidak jelas, bagaimana kalau sekarang kita makan?" Tanya Sandi kepada para pendebat masalah Jihan.


"Benar. Cepatlah, aku sudah lapar setengah mati." ujar Sendi yang akhirnya menolehkan kepalanya dari makanan yang di atas meja ke arah pintu ruang makan.


Novi mengangguk sekali. "Ya, sebelum semua makanan itu dingin mengingat sekarang kita sedang berada di daerah yang dingin," Kepala Novi berpaling lagi kepada ketiga teman berdebatnya tadi. "Ayo, kita makan, Jihan!" ajak Novi seraya memegang lengan Jihan yang bebas tanpa tergenggam oleh tangan Rizal dan Kurnia. Berharap bahwa mereka berdua akan melepasnya.


Saat hendak menarik Jihan yang sedang diapit oleh kedua sahabat kecil laki-lakinya. Secara tiba-tiba tangan Kurnia dan Rizal yang menggenggam tangan Jihan menarik kembali Jihan yang hendak ditarik oleh Novi. "Jihan akan duduk bersama dengan kita." ucap mereka berdua kompak.


Mendengar hal itu Jihan langsung melihat ke arah wajah kedua sahabat laki-lakinya itu dengan tatapan bertanya dan berpaling kearah Novi secara bergantian. Bingung.


Melihat kelakuan Rizal dan Kurnia, Novi lebih memilih melepaskan genggaman tangannya di lengan Jihan karena tidak ingin mencari masalah dengan mereka berdua. Dengan catatan: jika mereka sudah mempermasalahkan Jihan dalam masalahnya.


"B-baiklah, Jihan akan duduk dengan mereka berdua." Novi mengangkat kedua tangannya ke udara, pertanda ia menyerah.


"Hn."


"Bagus."


Lalu mereka bertiga –eh, bukan. Maksudku berempat jika ditambah dengan Novi, berjalan menuju meja makan yang sudah ditunggui oleh ketiga temannya yang lain, yakni Sandi, Fitri, dan Sendi.


Setelah mereka sampai dimeja makan, mereka langsung menempati kursi yang kosong dan duduk dengan susunan yang seperti berikut jika dilihat dari sisi yang berlawanan dari ujung meja panjang yang berlawanan dengan posisi tengah:


Posisi tengah : Sandi.


Posisi Kiri : Sendi, Fitri, Novi.


Posisi Kanan : Rizal, Kurnia, Jihan.


Mereka makan dengan sangat lahap tapi sopan dan teratur. Sekitar setengah jam mereka semua sudah menyelesaikan makanan yang sudah tersaji di atas meja sampai tidak tersisa sedikitpun. Lapar apa lapar?


"Hmm… enakkan besok kita melakukan aktifitas apa, ya?" tanya Kurnia memecahkan keheningan yang menyelimuti ruang makan setelah perasaan kenyang melanda perutnya.


"Aku sempat berpikir untuk hiking besok… mau?" tawar Sandi kepada yang lainnya. Atau mungkin lebih tepatnya meminta persetujuan teman-temannya.


"Mau mau mau!" seru Kurnia lantang karena kesenangan mendengar ungkapan Sandi.


"Hiking? Tidak buruk juga." Sendi mengeluarkan pendapatnya dengan senyuman khasnya yang semakin lama dilihat semakin menyebalkan.


"Hentikan tersenyum seperti itu. Aku Up-stand." kata Jihan tidak yakin.


"Hn."


"'Hn' itu artinya apa?" tanya Sandi.


"Hn."


"Aku bertanya artinya."


"Hn."


"Hah. Sudahlah. Kur, kau tahu arti 'Hn' nya Izal tadi?" Sandi yang jenuh dengan jawaban Rizal tadi akhirnya memilih jalan alternatif.


"Artinya 'terserah kalian saja. Kalau kalian semua mau ikut aku akan ikut'. Ya 'kan, Zal?"


"Hn."


"Tuh 'kan benar." ujar Kurnia dengan senyuman sumringah andalannya.


Darimana ia bisa tahu arti jawaban Rizal tadi?, pikir Sandi.


"Karena kita sudah lama sekali berteman makanya aku tahu artinya." tukas Kurnia seakan-akan ia tahu apa yang sedang Sandi pikirkan dalam otaknya.


Sontak Sandi terkejut akan apa yang Kurnia lontarkan kepadanya. "Dari mana kau bisa tahu apa yang aku pikirkan?" tanya Sandi heran.


"Hanya sebuah 'insting'." jawabnya santai.


"Hhh… kalau Fitri dan Novi?"


Pertanyaan Sandi hanya dijawab dengan sebuah anggukan penuh keyakinan dari mereka berdua.


"OK. Sudah ku putuskan, besok pagi kita akan melakukan hiking di hutan sekitar villa ini." ucap Sandi lugas dan yakin dengan keputusannya ini.


"Yes, sir!" jawab mereka serempak. Minus Rizal yang hanya ber-'Hn' ria saja.


Hiking di dalam hutan?


Ide yang bagus…


Yah… bagus untuk adegan pertama NIGHTMARE bukan?


Dasar manusia…


...~Lost In Nightmare~...

__ADS_1


...To Be Continued…...


__ADS_2