
...NIGHTMARE 10...
...The Arrival of the Servant...
Jarum jam menunjukkan pukul setengah lima pagi. Satu setengah jam telah mereka lewati dengan berdiam diri di dalam tenda masing-masing setelah mempersiapkan barang-barang mereka dengan sangat rapi, dan mungkin sedikit berantakan di dalamn ranselnya.
Suara pembawa ketenangan hati yang mereka tunggu-tunggu pun hadir, menyapa dengan sangat hangat di telinga mereka masing-masing.
"TUAN, NONA, APA KALIAN TIDAK APA-APA?"
Tidak hanya suara seseorang, melainkan seperti suara sekelompok orang yang ikut meneriaki kalimat tersebut dengan nada yang sangat khawatir di telinga mereka. Tunggu. Dan suara deru mesin?
Sandi, selaku ketua dalam acara hiking mereka –yang mulai mengantuk karena terlalu lelah berjalan dan menunggu pun membuka matanya selebar-lebar mungkin karena telah mendengar suara yang ramai di luar tendanya.
Tanpa pikir panjang lagi, ia langsung menuju keluar dari tendanya. Disini sangat terlihat beberapa orang yang berpakaian sama seperti pelayan di Villa telah mendatangi lingkungan perkemahan mereka dengan menggunakan dua buah mobil rally yang tidak dapat dilihat dengan jelas bentuk dan merekanya apa dikarenakan pencahayaan yang tidak mendukung.
Lampu salah satu mobil tersorot tepat di wajah Sandi sehingga membuat tangannya terangkat di depan matanya untuk menghalau sinar yang masuk secara berlebihan
"SEMUANYA, PERTOLONGAN DATANG!" teriak Sandi dengan lantangnya, sehingga membuat temannya yang berada di dalam tenda yang berbeda-beda tersontak kaget mendengarnya.
Satu-persatu dari mereka keluar dari tenda dengan raut wajah yang senang dengan kehadiran para bala bantuan.
"Akhirnya kalian datang juga!" Wajah Kurnia berseri-seri melihat penolong nyawanya tepat di depan matanya.
Dengan melihat para tamu terhormatnya yang telah lelah menghadapi rintangan di hutan ini, para pelayan pun mulai turun dari mobil Rally dan menghampiri mereka satu-persatu.
"Anda tidak apa-apa, Tuan?" Salah satu pelayan yang bernama Adam menghampiri Sandi dan Sendi.
Terlintas seulas senyuman di wajah Sandi yang letih. "Tidak apa-apa, hanya sedikit lelah," suaranya sedikit bergetar.
"Terima kasih kalian sudah ingin datang menjemput kami." ucap Sendi dengan sangat 'berterimakasih' di nadanya.
Ucapan Sendi membuat Adam merasa grogi. "Ti-tidak perlu berterima kasih, ini sudah menjadi kewajiban kami!" balasnya dengan sangat tidak enak hati.
"Biarkan kami membawa barang anda ke dalam mobil, Tuan Rizal, Nona Jihan!" tawar salah seorang pelayan yang telah menghampiri Rizal dan Jihan.
Rizal mengernyitkan dahinya. "Siapa kau?"
"Ah, saya selaku wakil dari Pak Deni yang tidak bisa ikut hadir dalam penyelamatan ini karena sibuk memerintah pelayan yang lainnya untuk mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan ketika anda sekalian sampai di Villa nanti."
"Nama mu?" tanya Jihan dengan lembut dan sedikit gemetar. Tangannya di genggam erat dengan Rizal yang berada di sisi kanannya.
"Nama saya Indra, nona." jawab pelayan berambut putih dan berkacamata yang ternyata bernama kecil Indra itu. "Bolehkah saya mulai memindahkan barang anda sekarang, Tuan dan Nona?"
"Hn."
Indra tersenyum ramah. "Terima kasih," Kepalanya menoleh kebalik pundak kanannya dan berkata, "Der, kau bantu aku untuk membawa barang Tuan dan Nona!" Kepalanya kembali menoleh kearah kiri. "Hen, tolong bantu Adam untuk membawa barang Tuan Sandi dan Tuan Sendi! Sedangkan Ikmal, tolong bawakan barang Tuan Kurnia! Serta Erik dan Rezki, tolong bawakan barang Nona Fitri dan Nona..." terdapat jeda di pembicarannya. "Maaf kalau lancang, dimana Nona Novi?"
Sekejap semua terdiam seribu bahasa. Tidak ada yang bisa untuk menjelaskan reka adegan Novi menghilang yang tidak diketahui penyebabnya ia bisa menghilang dari kelompoknya. Yang mereka tahu hanya Novi meminta izin dan... lenyap.
Mulut Sandi berusaha mencari jawaban dari pertanyaan yang dilontarkan oleh Indra. "Dia..."
"Dia tiba-tiba menghilang tanpa bekas setelah meminta izin untuk membuang air kecil di sekitar hutan yang juga tidak kami ketahui dimana letak pastinya." Secara tiba-tiba Rizal menjawab pertanyaan Indra dengan sangat lancar untuk menggantikan temannya yang sedang kesulitan dalam mencari untaian kata-kata.
Sandi hanya bisa tersenyum yang mengartikan, 'Thanks, Rizal...' kepada temannya tersebut.
Mendengar jawaban dari Rizal membuat Indra puas atas jawabannya. "Saya rasa ini adalah masalah serius yang harus segera ditangani secara langsung," Indra sedikit tertegun mendengar kenyataan yang sudah tidak dapat diputar kembali itu.
"Kita akan menjelaskan masalah ini setelah kita sampai di Villa nanti, yang terutama selamatkan orang yang sudah selamat dulu." Sendi berusaha mempercepat waktu yang telah terbuang atas penjelasan mengenai hilangnya Novi.
Indra sedikit tersenyum dan mengangguk. "Tentu, anda sekalian wajib menceritakannya sesampai di Villa nanti."
__ADS_1
"Terima kasih banyak, Ndra."
Merasa terpanggil oleh suara lemah yang memanggilnya, ia pun menoleh kearah sumber suara dan tersenyum. "Terima kasih kembali, Nona Fitri!"
Setelah itu pun para pelayan mulai bertindak dengan cepat untuk memasukkan barang bawaan para tamu besarnya satu persatu ke dalam dua dari tiga mobil Rally secara satu persatu. Setelah semuanya siap pun mereka, para korban dalam hutan yang tersisa, mulai masuk ke dalam mobil Rally dengan dibantu para pelayan yang lain.
Para pelayan pun mengambil posisi duduk mereka dengan teratur dan rapi. Mobil mulai dihisupkan dan dijalankan secara perlahan dan sangat hati-hati.
"Mereka tidak pergi berbarengan bersama kita?" tanya Fitri yang satu mobil dengan Sandi dan Sendi seraya menengok kan kepalanya ke belakang, tepatnya kearah mobil Rally terakhir itu tersisa.
"Tidak, mereka akan membongkar seluruh peralatan tenda yang tersisa terlebih dahulu sebelum kembali ke Villa nanti, Nona Fitri." jawab Rizki dengan sangat ramah. Walau mulut sampai hidungnya tertutupi oleh masker, tapi sangat terlihat dari matanya bahwa ia tersenyum kepada Fitri melalui kaca spion tengah.
Fitri yang mendengar jawaban yang logis dari Rizki pun hanya termengung karenanya.
Dengan perlahan dan sedikit dipercepat di keadaan tertentu, kedua mobil Rally itu pun menjauh dan menghilang dari pandangan.
Meninggalkan sosok Novi yang telah lenyap di belakang mereka.
.......
...+++~Lost~+++...
.......
Setelah kurang lebih dua jam lamanya berjalan menyususuri hutan yang luas. Pada akhirnya pagar putih Villa yang besar pun menyambut pandangan mereka tepat di depan mata.
Kedua mobil tersebut semakin melaju mendekati pagar itu, sehingga pagar putih yang telihat kecil di jarak yang jauh sana terlihat semakin membesar di depan mata mereka.
KRIEETT!
Gerbang pun terbuka lebar, seolah mengetahui bahwa kedua mobil Rally itu akan masuk ke dalamnya. Tanpa berhenti, Rally tersebut terus melaju mendekat dan mulai melewati pagar Villa.
Sebelum menjauh dari pagar Villa, Rizki dan Adam, yang mengendarai kedua mobil Rally tersebut ber-'give me five' kepada keempat pelayang lainnya yang telah membukakan pagar, sebelum mereka berbalik badan dan menutup kembali pagar Villa tersebut.
Semua pintu kedua mobil itu pun terbuka. Para pelayan pun turut membantu para tamunya yang sedang mengalami kesulitan, kesusahan, bahkan depresi berat.
Mereka pun mulai masuk ke dalam Villa dengan didampingi pelayan untuk jaga-jaga setelah Indra memberi perintah kepada pelayan yang lainnya untuk membawa mereka ke ruangan terakhir villa tersebut. Sandi, Sendi, Fitri, Kurnia, dan sisanya...
Rizki berdeham kecil. "Tuan Rizal, kurasa Nona Jihan telah tertidur dengan sangat pulas, jadi... izinkan saya untuk menggendongnya ke ruangan terakhir,"
"Tidak perlu, aku bisa menggendongnya sendiri," Rizal pun mengambil ancang-ancang sebelum mengangkat Jihan dengan kedua tangannya yang dingin.
"Ta-tapi, Tuan..."
"Aku tidak apa-apa. Lebih baik kau menolong mereka yang lebih membutuhkan bantuan di dalam sana. Biar Jihan aku urus sendiri." Rizal melirik Rizki melalui ekor matanya. "Pergilah."
Ditatap seperti itu oleh Rizal, Rizki langsung menjawab dengan seadanya karena tidak ingin mencari masalah dengan tamunya yang satu ini. "Baik, Tuan."
Rizki pun melangkahkan kakinya ke dalam Villa, meninggalkan Rizal dan Jihan di belakang.
Rizal menarik nafas sesaat, lalu mulai mengendong Jihan ala bridal style yang sebelumnya ia lakukan juga pada Jihan saat di dalam hutan.
Kakinya mulai melangkah menaiki anak tangga dalam jumlah yang sedikit, menyusuri sebuah koridor pendek dengan hiasan kerajinan tangan di sisi kiri dan kanan, serta melewati beberapa ruangan sebelum pada akhirnya samapi pada ruangan terkahir Villa.
Dapat dilihat oleh sepasang mata onyx ini teman-temannya yang telah kelelahan sampai tertidur nyenyak sekali setelah mengelap rambut mereka yang telah basah dari hujan deras yang masih melanda di luar sana.
Kecuali Sandi yang masih duduk membungkuk dengan kedua sikutnya menumpu pada kedua lututnya, dan kedua tangannya ia katupkan dan meletakkannya tepat di depan bibirnya yang tertutup rapat. Matanya memandang lurus ke depan.
Dan ruangan tersebut telah dihiasi dengan cahaya lampu kuning yang tidak terlalu kontras dengan mata. Membuat perasaan tenang dan rileks.
Setelah memasuki ruangan ini, Rizal merasa ruangan ini sangat hangat, dalam kata lain tidak dingin. Entah ini hanya perasaannya atau...
__ADS_1
"Selamat datang, Tuan Rizal."
Rizal sontak menengok ke belakang sumber suara itu berasal.
"Maaf jika saya membuat anda terkejut, anda dapat meletakkan Nona Jihan di sofa yang masih tersisa di sebelah sana," Tangan Deni, nama kepala pelayan yang sukses membuat Rizal terkejut, bergerak untuk menunjukkan sofa kosong yang tersisa untuk mereka berdua.
"Tidak perlu ditunjuk, aku sudah tahu."
Secara perlahan, Rizal mendekatkan diri ke sofa yang masih kosong itu, dan meletakkan Jihan duduk disana.
"Alat pemanas ruangan di ruangan terakhir ini telah saya aktifkan sehingga anda beserta teman-teman anda tidak merasa kedinginan dan tidak masuk angin," terdapat jeda sebentar, "Dan kaca yang mengelilingi ruangan ini sudah saya tutupi dengan penutup kaca yang seratus persen saya jamin tidak akan ada cahaya yang sapat menerobos masuk ke dalam ruangan ini."
Laki-laki berambut raven pun kembali membalikkan badannya hingga dapat melihat Deni dengan sempurna. "Hn." Rizal tampak mengernyitkan dahinya. "Jam berapa sekarang?"
Ditanyai seperti itu, mata president Villa itu langsung melihat kearah lengan kirinya, yang dimana terdapat sebuah jam arloji menghiasi pergelangan tangannya. "Jam 6.13," Ia kembali menatap Tuan Muda kembali.
"Terima kasih."
"Jangan sungkan, Tuan." Deni tersenyum. "Jika tidak lancang, dapat 'kah anda menceritakan kejadian yang sebenarnya mengenai hilangnya salah satu teman anda?"
Iris Onyx Rizal menatap dalam-dalam mata Deni. "Tentu. Setelah aku dan teman-teman ku beristirahat tanpa gangguan apapun."
Pria berambut hitam panjang itu tertawa kecil. "Ya, setelah anda beserta teman-teman anda menikmati istirahat anda sekalian, yang pastinya akan saya usahakan tanpa gangguan apapun."
Seulas senyuman kembali menghiasi wajahnya yang berkulit pucat. "Baiklah, kalau begitu... selamat beristirahat, Tuan Muda."
Deni pun mulai membalikkan badannya dan berjalan menjauhi ruangan terakhir untuk mempersiapkan makanan bagi para tamu besarnya.
Melihat Deni yang sudah menghilang di pandangannya, Rizal mengambil handuk yang berada di atas meja ruangan tersebut dan beralih pandang menuju Jihan.
Ia mendudukkan diri di sebelah Jihan dan tangannya mulai bekerja untuk mengelap rambut Jihan yang basah karena terguyur air hujan kembali. Setelah kering, Rizal meletakkan handuk yang dipakai untuk mengelap Jihan ke atas meja dan mengambil handuk baru untuk dirinya sendiri.
Matanya sedikit melirik kearah temannya yang masih berdiam diri tanpa berbicara sepatah kata pun di salah satu sisi sofa yang lainnya. Dengan rasa lelah yang masih menyelimuti badannya, ia mulai bergerak mendekati Sandi dan menepuk pundaknya.
"Jangan dipikirkan, nanti malah membuat mentalmu tertekan dan membuat repot semua orang disini." Rizal berusaha menenangkan temannya yang sedang dalam depresi berat.
Sandi menoleh sedikit kearah Rizal dengan tatapan sayu saat temannya yang satu itu menempatkan dirinya untuk duduk tepat di sebelah kanannya.
"Aku tidak hanya memikirkannya,"
Pernyataan yang keluar dari mulut Sandi membuat Rizal menoleh kearahnya yang sudah kembali menatap lurus ke depan. "Lalu?"
Kepala penerus keluarga tersebut kembali menoleh sepenuhnya kepada teman yang berada di sebelahnya. "Tapi juga merasa amat sangat bersalah."
Rizal sangat mengerti apa yang dirasakan oleh Sandi. Perasaan bersalah atas hilangnya salah satu teman satu gengnya yang dimana ia memposisikan dirinya sebagai ketua penyelenggara ide gila, -eh, maksudnya ide hikingnya yang tiba-tiba.
Salah satu cara yang hanya dapat dilakukan Rizal hanya membantu menenangkan pikirannya. "Tenanglah, kawan..." Rizal kembali menepuk pundak temannya. "Yang hanya kita bisa lakukan hanya berdoa agar Novi dapat selamat dan bisa berkumpul kembali dengan kita disini." Tangannya bergerak untuk mengeringkan rambut uniknya dari air yang tadi membasahainya dengan sukses tanpa kendala.
Sepintas senyuman menghiasi wajahnya yang tampak sendu. "Terima kasih, kau memang teman yang sangat hebat."
Mendengar ucapan dari Sandi membuat Rizal merasa berhasil menjalani tugasnya untuk menghibur Sandi. "Lebih baik kau mengistirahatkan dirimu dulu, kawan... sebelum kita akan menceritakannya kepada para pelayan Villa ini, nanti."
"Ya, tentu saja."
Saat Sandi mulai merilekskan badannya di sofa dan memejamkan matanya, Rizal kembali ke sofanya dimana Jihan sudah melayang ke alam mimpinya di alam sana.
Tubuhnya ia dudukan di sebelah kiri Jihan setelah menaruh handuknya di atas meja di hadapannya. Ia menyenderkan tubuhnya –yang ternyata sedari tadi tegang –ke kepala sofa yang empuk tepat di belakangnya. Kelopak matanya sudah tidak dapat menahan rasa lelahnya yang luar biasa, sehingga matanya sudah tidak fokus dalam penglihatannya.
Sebelum ia pergi dan berlabuh ke pulau mimpinya, Rizal melihat Jihan sekilas, memegang kepala yang bermahkota kan rambut itu, dan menyenderkan kepala Jihan ke pundak kanannya, serta memiringkan kepalanya di atas kepala Rizal.
Tidak beberapa lama detik kemudian, Rizal pun terlelap dalam bunga tidurnya sendiri.
__ADS_1
...~Lost In Nightmare~...
...To be Continued…...