Lost In The Nightmare

Lost In The Nightmare
The Preparations


__ADS_3

...NIGHTMARE 2...


...The Preparetions...


Di Rumah –lebih tepatnya didalam kamar- masing-masing. Setelah mandi dan mempersiapkan barang bawaan untuk esok hari. Mereka menyempatkan diri untuk berselancar di dunia maya, tepatnya disebuah website yang dibuat oleh Novi untuk geng mereka.


Satu persatu dari mereka mulai online di laptopnya masing-masing. Dan satu persatu anggota-geng-tujuh-orang itu memasuki grup nya. Pertama-tama mereka saling menyapa satu sama lain, hingga pada akhirnya sampailah pada bahasan topik utamanya.


...ChatRoom...


Kurnia : Saa… Gyus. Skrang aku akan mengumumkan urutan penjemputannya.


Sendi : Seeehhh… sampe ada urutannya sgala.


Sandi : Kenapa gak random aja?


Novi : Benar. Knpa hrus pake urutan sgala.


Jihan : Mungkin maksud Kurnia agar kita tdk sling tunggu-mnunggu.


Rizal : Hn.


Novi : Zal! Akhirnya kau pnya wktu u/ online jga.


Fitri : ini adl sbh mjizat Qta smua dpt b'kmpul didunia maya.


Kurnia : yg pstiny tnpa dsruh.


Jihan : iya. Hahahaha


Kurnia : baiklah aku beritahu urutannya.


Kurnia : Sendi pertama menjemput Sandi, kedua Novi, dan ketiga adl Fitri.


Kurnia : Lalu Rizal. Pertama kau harus menjemput ku, lalu Jihan.


Jihan : walah… knpa aku slalu dijmpt pling t'akhr nyo.


Rizal : Krna kau pelupa.


Kurnia : Hm Hm. Aku mnmptknmu pling t'akhr dijmput agr kau pnya wktu u/ mmrksa kmbli bwaan mu, Ji.


Jihan : yah… Ok lah.


Novi : Poor Jihan.


Jihan : jahat kau, Nov.


Rizal : …


Sandi : knpa kau zal?


Rizal : tdk…


Sendi : Rizal sdg mnunjukan kp'htianny kpd shbt prmpuan kclnya… wkwkwkwk


Rizal : diam kau!


Sandi : seeehhh…


Kurnia : ? Bnr itu Zal?


Rizal : Ap kau prcy kpdny?


Jihan : Weiii! Udah lah… Sendi sih manas-manas-in Rizal dluan.


Jihan : Sudahlah, guys…


Fitri : lebih baik Qta smua sgra tdur u/ mngmplkn tnga bwt esok.


Sendi : hmm… Aku stju.


Sandi : Ya sudah...


_All friends offline_


.......


...+++~Lost~+++...


.......


Pagi hari, tepatnya masih jam setengah tujuh pagi. Sendi mengeluarkan mobil Volvo XC90 berwarna coklat metalik nya dari gerbang pintu rumahnya dan bergerak mengarah ke jalan raya yang masih sedikit renggang dan leluasa walau telah terlihat orang-orang yang berlalu lalang disana.


Ia mengikuti aturan main jemput-jemputan nya Kurnia. Pertama ia ke rumah Sandi. Dengan tanpa mempedulikan aturan lalu lintas ia menancapkan gas nya dengan metode mengebut-level-dewanya dan menuju ke kediaman keluarga Sandi.


PIMP PIMP PIMP


Bunyi klakson mobil Sendi didepan kediaman keluarga Sandi pun membuat sang putra keluarga itu keluar dari pintu rumah dan segera menuju gerbang rumahnya yang telah dibuka kan oleh pelayan rumah setianya.


"Selamat jalan, Tuan Sandi." Salam perpisahan dari pelayan prianya dengan membungkuk dengan sangat hormat menghadap tuannya yang berlalu melewatinya.


"Hah." respon Sandi singkat. Hei, hei Sand… walau kau seorang tuan muda tetapi hormatilah sedikit pelayanmu yang selalu setia ada saat kau membutuhkan mereka.


Tanpa basa-basi, Sandi memasukkan barang ke bagasi mobil Sendi yang sudah dibuka kan oleh pemiliknya dengan menekan sebuah tombol dari dalam mobil bagian kemudinya. Setelah selesai memasukkan semua barangnya, ia pun melesat masuk kedalam mobil. Tepatnya disebelah kursi sang empunya mobil cokelat metalik tersebut.


"Yo! Man." sapanya setelah masuk kemobil sambil membentuk tinju disalah satu tangannya.


"Heh…" Sendi pun tersenyum lalu meninjukan tinjunya dengan tinju Sandi."OK . Kita akan langsung ke rumah Novi, setelah itu kita berlalu ke rumah Fitri."


Sandi melihat jam arloji yang terpampang jelas pergelangan tangan kirinya. "Yah… lebih baik seperti itu," Sandi menatap kembali wajah Sendi. "Ayo, kita cabut!"


Sendi memutar kepalanya, yang tadinya mengarah ke Sandi, sekarang sudah menatap kejalan yang lurus didepannya, dan kembali menancapkan gasnya. Mereka pun melesat dengan laju rata-rata seratus kilometer per jam kerumah selanjutnya.


SkipTime

__ADS_1


"Hai, guys." sapa Novi saat Sendi tiba di depan rumahnya hanya dalam waktu beberapa menit saja. Luar biasa kencangnya mobil Volvo yang dia kemudikan itu.


Novi menaruh barangnya di bagasi sama seperti yang dilakukan Sandi beberapa waktu yang lalu, dan bergegas masuk kedalam mobil Sendi.


Novi mendudukkan dirinya dengan bebas dibarisan belakang kemudi. "Wah, ademnya AC ini!" Novi menghela nafas beberapa kali. "Kalian tahu? Aku hampir saja kekeringan. Aku menunggu kalian didepan gerbang rumahku sudah kira-kira sepuluih menit yang lalu, tahu!"


"Lagian… siapa yang suruh menunggu diluar. Semangat sekali." balas Sandi dengan seenaknya tanpa memedulikan sebab akibat setelah ia berkata seperti tadi.


Mata Novi sudah menatap Sandi dengan tajam. Aura gelapnya mulai menguar dari tubuhnya. Jemarinya sudah ia bunyikan satu persatu, pertanda ia sudah siap menerkam orang yang telah menjawab ungkapannya dengan seenak jidatnya.


Menyadari hal itu, Sandi langsung mengangkat kedua tangannya keudara dan berkata, "Baiklah, baiklah, aku menyerah." ucapan penangkal setan-yang-mengamuk yang sangat hebat, bukan? Cocok dengan tipe Sandi yang malas berurusan dengan perempuan, karena menurutnya makhluk-ciptaan-Tuhan-yang-sangat-indah itu sangat me-re-pot-kan.


Alhasil? Memang ucapan penangkal setan itu sangat ampuh untuk Novi yang sedang mengamuk. Hanya dengan mengangkat kedua tangan, berkata menyerah, maka kalian akan mendapatkan hasil yang sangat memuaskan diri anda. Silakan dicoba. Semoga anda selamat!


Sendi yang sedari tadi meliat dan mendengarkan tingkah dan percakapan mereka, kakinya mulai berpindah menginjak pedal gas –yang sedari tadi berada diposisi pedal rem –secara tiba-tiba, sehingga penumpang lain yang menduduki kursi didalam mobilnya terpental kebelakang. Dan dari perbuatan Sendi itu dapat terdengar kata-kata yang keluar memanggil namanya dengan dua intonasi nada yang berbeda.


SkipTime


"A-Hai, Gyus." ucap Fitri dengan ragu-ragu sambil menunduk menatapa tanah yang tidak ada bagus-bagusnya dilihat oleh matanya.


Dengan sangat perlahan, hati-hati, dan lemah gemulai, Fitri meninggalkan tempat dimana ia berpijak tadi mengarah ke bagasi belakang mobil Volvo yang sudah terlihat didepan matanya. Karena tahu gerakan Fitri sangat lamban maka Sendi keluar dari mobilnya dan langsung mengangkat barang bawaan Fitri ke bagasi mobilnya.


'Gantle sekali' pikir Fitri dalam hati.


"Ayo, masuk!" ajak Sendi. Kepalanya ia goyangkan sedikit kearah mobilnya.


"H-hai!" jawab Fitri singkat, bermaksud membalas ajakkan Sendi kepadanya.


.......


.......


.......


Kita kembali ke waktu sebelumnya versi Tuan Muda kita yang tersayang, tercinta, terkeren, tertampan, terkaya, terdingin, terseksi, terdiam, terdatar, dan masih banyak berderet-deret ungkapan 'ter-' lainnya untuk hanya sebuah nama, Rizal Ardiansyah.


Rizal terlihat sedang berada didalam rumahnya yang megah nan luas itu. Sibuk memerintahkan para pelayannya untuk mengemasi, mengangkut, dan memasukkan barang bawaannya kedalam bagasi mobilnya.


Dan pastinya tidak ketinggalan bantal kesayangannya agar ia bisa tidur dengan sangat nyenyak disana. Sebuah bantal yang sangat berarti dan disukai oleh pangeran kita satu ini. Jujur. Seorang Rizal tidak dapat tidur jika tidak menggunakan bantal kesayangannya ini. Termasuk OOC 'kah ia?


Catatan: Rizal ardiansyah tinggal sendiri dirumah luas nan megah nya itu. Dan rumah itu dibuat dari hasil jerih payah Rizal selama ini. Walaupun jelas terlihat Rizal seperti tidak melakukan apapun. Dan 'Author' sendiri tidak bisa menjelaskan bagaimana atau dengan apa cara ia melakukannya. Sama seperti hasil pengenalan tokoh, 'Banyak rahasia didalam hidupnya. Misterius.'


"Tuan Muda. Barang dan mobil yang akan anda pakai sudah siap." Ucap salah satu pelayan rumahnya dengan jarak beberapa meter dibelakang Rizal.


"Hn. Terima kasih. Kau boleh pergi." Balas Rizal yang sedari tadi repot dengan pakaian yang ia kenakan ditubuhnya yang, err- ideal. Tenang saja Rizal, kau tetap tampan walau memakai baju dengan sedikit berantakan.


"Sesuai dengan perintah mu, Tuan." sang pelayan pun melangkahkan kaki nya menjauhi Rizal dan segera pergi keluar, tempat dimana mobil Rizal berada.


Rizal pun memutar balikkan tubuhnya sehingga berhadapan dengan pintu rumahnya yang besar dan elit, lalu melangkahkan kakinya maju kedepan mendekat kearah pintu. Sebelum Rizal sampai, pintu rumah dibuka kan oleh kedua pelayannya disebelah kiri dan kanan pedal pintu.


Didepan pintu rumahnya terpampang jelas mobil Porsche Panamera berwarna silvernya yang seperti keluar dari Salon mobil itu.


Rizal memasuki mobilnya setelah mengambil kunci dari atas nampan yang dipegangi oleh salah seorang pelayannya yang lain, dan mulai menghidupkan mobilnya. Tertera jelas bahwa bensin terisi penuh, sesuai permintaan sahabatnya, Kurnia.


Rizal tersenyum kecil melihat 'fuelmeter'nya. Lalu mulai mengendarakan mobil keluar pagar rumahnya yang tinggi dan klasik –sesuai dengan rumahnya yang klasik –yang telah terbuka lebar seperti mempersilakan Tuan Muda nya itu untuk pergi dan bersenang-senang.


"Jaga rumah saat aku pergi. Aku percaya pada kalian." Rizal tersenyum sedikit, tapi sangat terasa mimik mukanya berbeda saat ia tersenyum.


Pelayan pria itupun terkesima melihat Tuan Muda nya yang sedang tersenyum –walau kecil –itu.


Tangan Rizal bergerak untuk memindahkan gigi mobilnya menjadi gigi 3 setelah kaki kirinya menginjak pedal kopling. "Oh, ya. Nanti aku akan pulang dengan membawakan sesuatu untuk kalian." tambah Rizal sebelum ia menekan tombol menaikkan kaca mobilnya agar tertutup kembali.


Muncul semburat merah pucat diwajah pelayan tersebut, "B-baik, Tuan Muda." ucap pelayan tersebut pada akhirnya sambil membungkuk sedalam-dalamnya.


Rizal melihat sekilas kelakuan pelayannya itu melalui ekor matanya, lalu menginjak pedal gas yang menghasilkan deritan ban mobilnya sesaat. Dengan cepatnya mobil itu melaju kencang melebihi kecepatan kuda menuju ke rumah Kurnia.


SkipTime


"Yo, Zal!" sapa Kurnia sambil mengangkat satu tangannya ke udara. Sangat terlihat jelas senyuman sumringah Kurnia seakan-akan sedang memamerkan giginya yang bling-bling.


"Hn." responnya seperti biasa, "Tumben kau, Kur… Biasanya kau paling malas bangun pagi." ungkap Rizal karena melihat Kurnia sudah berdiri didepan Gerbang rumahnya.


"Hahaha…" tawa Kurnia lantang, "Kau tahu, Zal? Hanya di hari-yang-ku-sukai saja aku bangun paginya semangat." tangannya menenteng barang bawaannya


"Hn." Tidak heran dia semangat bangun pagi, pikir Rizal.


"Sudahlah, Zal… cepat kau buka bagasimu aku sudah pegal nih menenteng barang bawaanku."


"Hn." salah tangan Rizal bergerak untuk menekan tombol pembuka bagasi nya. Dan bagasinya pun terbuka.


Dengan sigap Kurnia memasukan barang bawaannya kedalam bagasi, yang pastinya sudah terisi barang bawaan Rizal yang tersusun rapi sejak tadi.


Setelah selesai, Kurnia bergegas masuk kedalam mobil dan duduk disebelah Rizal. Matanya melirik sedikit sebagian dari 'Speedometer' didepan Rizal. Tepatnya 'fuelmeter'. "Zal, sepertinya kau sudah mengisi bahan bakar yang kau perlukan nanti."


"Heh… sudah kubilang berapa kali, Kur? Mobilku ini selalu terawat daripada mobilmu." balas Rizal dengan sedikit kesombongan tertera diwajahnya yang tampan.


"Hah… kurang ajar kau, Zal… Masih untung ku peringatkan." cetus Kurnia dengan rasa kecewa dan tidak mau kalah dari sahabatnya yang –well, semua orang tahu itu –populer didominasi dari kalangan perempuan di seluruh jagat raya ini. ( Ya bayangin aja Rizal ni sosoknya kaya Levi Ackermen )


"Iya, iya…" kata Rizal mengalah. "Aku mengisi bensin karena ingat peringatan dari sahabatku yang satu ini." terlihat jelas pengakuan semacam ini dibuat-buat. Catatan: Ini kali pertama Rizal mengalah kepada sahabatnya terutama laki-laki yang berambut seperti durian ini.


Senyum Kurnia pun mengembang, "Wah… Kau baik sekali Zal." ucap Kurnia manja, dan tangannya sudah ia rentangkan selebar-lebarnya untuk memeluk sahabatnya yang pendiam itu.


Rizal yang sudah tahu apa yang akan dilakukan Kurnia berkata, "Berhenti melakukan aksi gila mu itu, Kur. Lebih baik kita menjemput Jihan yang sudah menunggu kita."


Rizal menginjak kopling dan mengatur gigi mobilnya dan menekan pedal gas sedalam-dalamnya. Alhasil, perlakuannya itu membuat Kurnia terjengkang ke belakang dengan gaya yang tidak elit.


"Dasar kau, Rizal… !" teriak Kurnia selantang-lantangnya saat mobil melaju kencang.


SkipTime


Saat Rizal menginjak rem tepat dirumah terakhir yang ia jemput, terlihat seorang gadis polos sedang menunggu didepan gerbang rumahnya dengan satu pelayannya.


Rizal pun bergegas keluar dari mobilnya untuk membantu Jihan menaruh barang bawaannya kedalam bagasi mobilnya. Melihat kelakuan sahabatnya yang satu itu, Kurnia juga tidak mau kalah dan beranjak dari tempat duduknya menuju keluar mobil.


"Hai." sapa Rizal datar. Dan ia langsung mengambil sebagian barang bawaan Jihan untuk dimasukkan ke dalam bagasi mobil.

__ADS_1


"Hai juga." Jihan balas tersenyum. Melihat Rizal membawa sebagian barang bawaannya untuk dimasukkan ke bagasi, Jihan berkata, "Ah… Zal, jangan repot-repot membawa barang ku 'kan disini sudah ada-"


"Tidak apa-apa." sela Rizal dengan ucapan dan tatapan mata yang datar sedatar-datarnya.


'Hh… kalau sudah begini sudah tidak bisa di lawan.' pikir Jihan.


"Hello, Jidan!" sapa Kurnia selanjutnya setelah berdiri tepat didepan Jihan.


"Yo!" balas Jihan lagi dengan sepenuh hati.


"Sini biar aku bawa barang bawaanya." Kurnia mengangkat barang bawaan sisaan Jihan yang telah dibawa Rizal tadi, dan berjalan mendekati bagasi mobil, yang dimana Rizal berada sekarang.


"Jahat kau, Zal. Giliran Jihan barangnya dibawain sedangkan aku tidak." Kurnia tampak berpikir sejenak. "Jangan-ja-"


"Karena kau laki-laki. Sedangkan Jihan badannya lemah." jawab Rizal singkat dengan ketus seraya berhenti memasukkan barang bawaan Jihan hanya untuk menatap Kurnia dengan penuh kesinisan. Keheningan pun tercipta diantara mereka berdua yang hanyut didalam pikiran mereka sendiri.


"A… Terima kasih. Maaf sudah merepotkan." ucap Jihan malu yang tanpa disadari telah berada disamping mereka berdua.


"Ah… tidak apa-apa, Jihan. Kita 'kan sahabat." kata Kurnia meyakinkan. "Ya 'kan, Zal?" mata Kurnia mendelik kearah Rizal yang telah kembali melakukan kegiatannya yang tertunda karena ucapan Kurnia.


"Hn."


"Sini biar ku masukkan." tangan Rizal terulur untuk meraih barang bawaan Jihan dari tangan Kurnia yang sedang berdiam diri.


"Jangan, Ini berat. Kau takkan kuat…biar aku saja." Rizal terdiam. Menatap tajam Kurnia.


"Kenapa?" tanya Kurnia yang perasaanya sudah tidak enak karena ditatap seperti itu oleh Rizal.


"Tidak." arah pandang Rizal beralih kearah bagasi yang dimana sudah dipenuhi oleh barang bawaan mereka semua. Melihat jenis-jenis barang bawaan mereka yang beragam satu persatu.


"Hm… Han, kau membawa Laptop… dan juga buku?" tanya Rizal. Salah satu alis Rizal terangkat.


"Hah?" Jihan melihat arah pandang Rizal. "Oh, iya… agar tidak bosan saja di sana." jawab Jihan dengan penjelasan yang cukup masuk akal. Agar-tidak-bosan.


"Hn."


Setelah Kurnia selesai memasukkan barang bawaan Jihan kedalam bagasi, pintu bagasi pun ditutup rapat-rapat oleh kedua tangan kekar Kurnia. "Yosh! Sudah selesai. Ayo, kita masuk!" ajak Kurnia seraya melenggang pergi menuju tempat duduknya.


Mereka bertiga pun masuk kedalam mobil. Rizal dan Kurnia didepan sedangkan Jihan mengambil tempat duduknya dibaris belakang kemudi, seorang diri.


"Hmm… Kur, lebih baik kau menelpon Sandi atau Sendi agar kita ketemuan di suatu tempat. 'kan kita tidak tahu tempatnya." tutur Jihan mengusulkan ide yang sangat cemerlang ke sahabatnya yang rada telmi.


"Ah. Benar juga." Kurnia pun mengambil telepon genggamnya dari saku kanan celananya, menekan tombol-tombol di handphone nya dan mencari nama Sandi lalu menekan tombol berwarna hijau. Nada sambung pun berbunyi. Tidak ada Nada Sambung Pribadi (NSP) yang khusus. Biasa.


Terdengar suara yang berasal dari sebelah sana. "Hello Everbody."


"Oi, Sandi! Sendi sudah menjemput yang lainnya 'kah?" punggungnya ia senderkan kebelakang dimana jok mobilnya berada.


"Sudah."


"Hei… kita ketemuan di cafe tempat diskusi kita kemarin malam, ya… Soalnya kita tidak tahu jalannya."


"Oh, ya sudah." telepon pun tertutup yang diawali dengan Sandi.


"Huh… dasar Sandi. Menutup telepon tidak ada salam perpisahannya." gumam Kurnia kesal yang sudah terbiasa dengan sifat Sandi saat bertelepon.


"Heh… jangan heran." sahut Rizal membalas pernyataan fakta Kurnia. Ia mulai menekan pedal gas dengan kakinya dan melaju menuju tempat pertemuan kemarin.


.......


.......


.......


Beberapa menit setelah menelpon Sandi. Rizal, Kurnia, dan Jihan pun sampai di tempat pertemuan mereka. Terlihat Sandi dan yang lainnya sudah menunggu lebih dulu dari mereka.


Rizal mengarahkan mobilnya mendekati mobil Sendi yang sedari tadi telah terparkir disana, ditepi café kemarin malam.


Sendi melihat mobil Rizal dari kaca spion kanannya, "Lihatlah si 'Kurnia and friends'nya itu baru datang!" ledek Sendi dari mobilnya sambil menyunggingkan senyuman mautnya.


Kaca jendela Lamborghini Rizal perlahan terbuka kebawah, "Yo! Maaf kita baru datang. Sudah lama 'kah?" tanya Kurnia kepada para temannya yang berada disebelah mobilnya dengan mengangkat tangan kanannya hanya untuk sekedar menyapa.


"Sudah dari tadi tahu!" jawab mereka berempat kompak dengan nada yang berbeda-beda. Terlihat dengan jelas Fitri disini OOC, benar?


"Ahahaha… maaf maaf. Habisnya lokasi kita tadi jauh dari sini sih…" Kurnia mencoba mengutarakan alasannya seraya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal itu.


"Maaf deh kalau rumah ku kejauhan." gumam Jihan dengan suara kecil yang mungkin tidak dapat didengar oleh orang lain.


"Tidak jauh juga."


Jihan menggerakkan kepalanya untuk melihat sang empunya suara yang menjawabnya.


BINGO!


Rizal lagi yang menjawabnya. Pastinya dengan nada yang datar dan dingin.


Entah hanya halusinasi Jihan atau apa itu, Jihan melihat Rizal tersenyum –bukan senyum kecil atau senyuman yang nyaris datar, melainkan senyuman yang melengkung sempurna yang dilihat mata kepala Jihan tersebut. Walaupun hanya melihat melalui kaca spion tengah sih.


Jihan bingung. Tapi ia tetap memasang wajah yang cemberut dan menjawab pernyataan Rizal tadi, "Tapi tetap saja rumahku-yang-jauh itu sebuah fakta yang sudah tak terelakkan lagi."


"Benar juga." jawab Rizal yang pada akhirnya menyetujui ucapan Jihan.


Beberapa menit berbincang, Kurnia kembali menaikkan kaca jendela mobilnya keatas.


"Sudah selesai bicaranya?" tanya Jihan dengan nada yang sedikit malas karena bosan didalam mobil yang tidak melaju jua ini.


"Sudah." Kurnia bertatapan mata dengan Rizal, "Kita ikuti mobil mereka dari belakang, jika salah kita ingin membeli sesuatu, ingin buang air kecil, mengisi bensin, atau apapun itu kita harus menghubungi mereka terlebih dahulu. Begitu juga mereka." jelas Kurnia panjang lebar.


"Hn." melihat Sendi mulai menjalankan mobilnya bergerak dari pinggiran café menuju jalan raya, kaki Rizal juga mulai menginjak pedal gasnya setelah memasukan gigi mobilnya.


Mobil mereka jalan beriringan dan mulai memasuki jalan tol yang mungkin cukup membuat kelelahan dan membosankan.


Istirahat yang panjang dan berkelimpahan pun akan dimulai.


Catatan: Bukan sebuah petualangan. Hanya kenangan yang tidak akan bisa dilupakan dalam memori mereka.

__ADS_1


...~Lost In Nightmare~...


...To be Continued…...


__ADS_2