Lost In The Nightmare

Lost In The Nightmare
Is This Triangle Love?


__ADS_3

...NIGHTMARE 15...


...Is This Scene Was Named Triangle Love?...


Suara hujan yang semakin lama semakin lebat membuat petir dari berbagai arah menggelegar hingga ke gendang telinga siapa saja yang berada di bawahnya. Sedangkan di dalam villa menghasilkan suara langkah kaki seseorang yang sedang berjalan cepat menelusuri setiap bagian ruangan yang ada yang bermula dari pintu masuk seseorang berambut raven sedang menggendong seorang perempuan bermahkota kan dark brown sambil berjalan cepat menuju kamarnya.


Jika kita melihat ke arah belakang pemuda emo itu, kita dapat menangkap sesosok pemuda berambut jabrik kuning dengan tiga buah garis di pipinya dan sedang mengikuti arah jalan teman yang berada di belakangnya. Dan di belakang pemuda itu terdapat seorang pemuda yang berambut seperti nanas—karena diikat satu ke belakang—sedang menggendong seorang perempuan juga yang berambut hitam panjang di balik punggungnya.


Mereka berlima terus menelusuri setiap lekuk villa yang diiringi dengan nafas yang terenggal-senggal, naik ke lantai dua dengan menggunakan tangga, dan tibalah mereka di lorong lantai dua.


Rizal—pemuda berambut raven yang berada di posisi depan—menolehkan kepalanya ke arah temannya di belakang. "San, kau rawat Fitri di kamarmu. Setelah mengurusi Jihan, aku juga akan memeriksa Fitri dan memberikan obat yang kubawa." Mata elangnya melihat ke arah Kurnia. "Kur, kau ikut aku."


"Merepotkan."


"Ok!"


Dan mereka pun berpencar ke dalam ruangan yang sudah dikomando kan oleh Rizal tadi. Sandi menuju ke kamarnya untuk merawat Fitri, serta Kurnia dan Rizal menuju ke kamar mereka untuk merawat Jihan.


Saat mendekat ke arah pintu masuk, Kurnia membukakan pintu kamar tanpa disuruh oleh Rizal terlebih dahulu. Setelah masuk ke dalam kamar, Rizal segera menidurkan Jihan di atas tempat tidur lalu menutupi kaki hingga lehernya dengan selimut sehingga membuat badan Jihan tetap hangat walau suhu tubuhnya telah menurun drastis dari biasanya karena hujan—atau bisa dibilang badai yang menimpa lingkungan sekitar mereka tanpa ampun.


Melihat Rizal telah menempatkan Jihan di atas tempat tidur, Kurnia menutup pintu kamar dari dalam. Secara perlahan, ia berjalan mendekat ke arah Jihan yang dimana Rizal sedang sibuk dengan kotak P3K yang ia bawa untuk situasi yang tidak dapat diduga seperti ini.


"Tenanglah, Ji... kau pasti tidak apa-apa, kau hanya pingsan... nanti pasti akan segera sadar," kata Kurnia sembari membiarkan tangan kanannya bergerak sendiri untuk menepuk pucuk kepala Jihan serta menatapnya dengan tatapan penuh arti.


Tanpa disadari oleh Kurnia sedikit pun, Rizal menepuk sebelah pundaknya dari belakang. Membuat pemuda jabrik kuning ini terkesiap.


"Permisi, Kur. Aku akan menanganinya."


"Oh, ya, tentu." Kurnia menggeser posisinya dan duduk di tepi ranjang—di samping kaki Jihan yang tertutupi selimut hangat.


Tanpa memperhatikan sahabat sejak kecilnya yang sering bertingkah konyol itu, Rizal langsung memberi sedikit minyak angin di wajah putih mulus milik Jihan. Berharap ia akan segera sadar. Saat tangannya bergerak untuk memberi minyak angin di dahinya, Rizal merasa ada keganjalan pada tubuh Jihan.


"Suhu tubuhnya panas."


Tatapan mata Kurnia langsung terfokus ke arah Rizal. "Hah? Kok bisa?"


Rizal langsung memeriksa Jihan dengan cara yang ia pelajari dari kecil, yakni membuka kedua bola mata Jihan dengan salah satu tangannya, menaruh telunjuknya di depan hidung Jihan—untuk mengetahui temperatur tubuh dan tekanan nafasnya, serta meletakkan salah satu tangannya di dahi Jihan dan satunya lagi di dahinya.


Setelah selesai memeriksa, tangan besar Rizal memegang pucuk kepala Jihan—sama seperti yang dilakukan oleh Kurnia tadi, dan menatap wajah Jihan yang masih terbaring di atas ranjang. "Dia demam,"


Arah pandangannya masih menuju ke arah Rizal berada. "Bukannya ia hanya pingsan? Kenapa tiba-tiba jadi demam seperti ini?"


Rizal memejamkan matanya dan menggeleng-gelengkan kepalanya seraya menunduk. "Mungkin salah satu faktor pendukungnya adalah karena kondisi dan daya tahan tubuh Jihan yang lemah, jadi ia tidak dapat menahan lebih lama serangan dari berbagai penyakit dari lingkungan sekitarnya. Ditambah ia pingsan, maka leluasalah 'mereka'."


Kurnia mengangkat sebelah alisnya. "Mereka?"


"Iya, penyakit yang ingin menyerang tubuh Jihan maksudnya."


Dapat dilihat sekarang mulut Kurnia berubah bentuk yang dapat diduga ia sedang berkata 'oh', tapi tidak mengeluarkan suara baritone-nya.


Kurnia melihat Rizal yang sedang mengambil sebuah termometer dari dalam kotak P3K-nya dan memasukkan ujungnya untuk mengukur suhu tubuh Jihan sekarang ini. Rizal bergegas ke dalam kamar mandi yang berada di dalam kamar villa-nya untuk mengambil beberapa air dingin yang ditaruh di suatu tempat beserta sebuah handuk kecil berwarna putih yang masih di tangannya.


Tangan Rizal merendam handuk kecil tersebut ke dalam air, memerasnya hingga air dingin yang meresap ke handuk itu keluar—menyisakan sedikit air di dalamnya, melipatnya hingga membentuk persegi panjang yang sedikit tebal, dan meletakkannya di atas kening Jihan yang panas.


Rizal menengok ke arah Kurnia yang sedari tadi memang melihatnya. "Kur, kau jaga Jihan dulu sementara aku akan pergi ke kamar Sandi untuk melihat keadaan Fitri," perintah Rizal kepada sahabatnya.


"OK," jawab Kurnia seraya menganggukkan kepalanya secara pasti mengenai jawaban yang ia berikan.


Dengan sigap, Rizal pergi meninggalkan kamarnya sambil membawa kotak P3K di tangan kanannya setelah menyerahkan Jihan kepada Kurnia saat ia pergi memeriksa keadaan Fitri yang berada di kamar Sandi.


"Tenanglah, Ji. Selama Rizal memeriksa Fitri, aku akan menjagamu sebentar," ucap Kurnia seraya mengelus pipi mulus Jihan perlahan dengan disertai tatapan kasih sayang yang sepertinya dalam melebihi apapun.


Dan adegan tersebut tertangkap oleh sepasang mata onyx yang kelam dan setajam elang sebelum pintu kamar tertutup dengan rapat, sempurna.


.......


...+++~Lost~+++...


.......


Di dalam kamar Sandi, Fitri sedang terbaring di atas ranjang dengan tatapan mata yang sayu. Mulutnya terbuka seperti sedang bercakap kepada Sandi yang menemaninya. Duduk di sebelahnya. Percakapan mereka tidak berangsur lama sebelum seseorang datang membuka pintu kamar mereka.


"Permisi, semoga aku tidak mengganggu perbincangan kalian."


Pemuda yang bernama Sandi menolehkan kepalanya ke arah pintu yang dibuka oleh seseorang dari luar. "Oh, Zal, silakan masuk."


"Hn." Rizal melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar setelah menutup pintu secara perlahan dan mendekat ke arah Sandi yang sedang duduk di sebuah kursi di sebelah Fitri. Ia berdiri dengan posisi menghadap teman satu geng-nya yang paling malas. "Boleh aku memeriksanya sebentar?"


Sandi mengangkat kedua alisnya sesaat. "Memangnya kau kemari dengan membawa kotak P3K ke sini untuk apa?"


Dengusan kecil dan pelan terdengar dari arah Rizal. "Kalau begitu... bisa menggeser sebentar?"


Mendengar pertanyaan Rizal membuat Sandi menggeser sedikit menjauh dari Fitri. Matanya mengamati cara Rizal menangani Fitri secara seksama.

__ADS_1


"Fitri, aku akan mengecek kondisimu terlebih dahulu, maaf jika lancang." Perkataan Rizal hanya dijawab dengan anggukkan lemah dari Fitri.


Tangan Rizal mulai bergerak untuk memegang dahinya dan memeriksa melalui bola matanya. Rizal pun memberitahu kesimpulan yang ia tangkap dari proses pemeriksaannya, "Dia tidak apa-apa. Badannya melemah karena tadi ia sempat mengeluarkan kembali makanan yang ia makan sehingga perutnya kosong dan kepalanya terasa pusing."


"O-Oh..." respon Sandi kagum akan sahabatnya yang dimana keahliannya tidak dapat diragukan lagi.


Rizal mengeluarkan sebuah obat dari kotak P3K-nya yang ber-indikasi meringankan sakit kepala, pusing, dan sebagainya, lalu memberikannya kepada Sandi. "Beri dia obat ini setelah perutnya terisi nanti, dan suruh dia istirahat yang lebih."


Sandi membaca sekilas keterangan-keterangan yang tertera pada kemasan obat itu.


"Baiklah, tugasku sudah selesai... Kalau begitu, aku permisi." Rizal melengos pergi menuju keluar kamar ini. Langkah kakinya terhenti ketika sebuah tangan menepuk pundaknya, sama seperti yang Kurnia lakukan di ruangan yang lain.


"Tolong temani Fitri sebentar, aku akan menyuruh pelayan villa ini membuatkan bubur untuk Fitri," ucap Sandi sembari menahan posisi tangannya yang berada di pundak Rizal.


Tangan kanan Rizal menepis pelan tangan Sandi yang berada di salah satu pundaknya. "Tidak perlu. Kau jaga saja Fitri, biar nanti aku menyuruh Kurnia untuk memesan pesananmu." Ia membuka daun pintu dan beranjak keluar ruangan.


Sandi memasang wajah bertanya-tanya. "Kenapa harus Kurnia?"


"Karena Jihan mendadak demam, jadi aku harus merawatnya sesegera mungkin agar lekas sembuh." Tidak lama kemudian, pintu tertutup secara sempurna. Meninggalkan Sandi yang masih belum dapat mencerna dengan sempurna perkataan Rizal yang singkat dan cepat tadi.


Senyuman canggungnya melengkung secara strategis di bibirnya. "Hee... thanks a lot." Lalu Sandi kembali duduk di tempat duduknya dan menemani Fitri yang sedang memejamkan matanya.


.......


...+++~Lost~+++...


.......


Rizal melangkahkan kakinya menuju kembali ke kamar—dimana Kurnia sedang merawat Jihan sebentar. Yeah, hanya sebentar. Ia tak mengerti apa yang sedang ia rasakan. Jantungnya berdebar-debar. Ingin rasanya ia menghancurkan apa saja benda di sekelilingnya karena melihat suatu adegan sebelum ia menutup dengan rapat pintu kamarnya.


Apakah itu tandanya suka? Apakah yang ia rasakan sekarang ini adalah... perasaan cinta?


Ia sama sekali tak mengerti perasaan apa yang ia rasakan sekarang karena ia tak pernah merasakan yang namanya 'cinta' sebelumnya. Bingung. Ia menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal karena frustasi, kesal terhadap dirinya sendiri yang genius, tapi jika soal cinta... ia kalah. Tidak tahu. Tidak mengerti.


Tidak terasa pada akhirnya ia telah berdiam diri di depan pintu kamar villa-nya. Rizal berusaha melupakan dan membuang jauh-jauh apa yang ia rasakan dan ia pikirkan sedari tadi. Berusaha fokus akan apa yang akan ia lakukan kepada Jihan saat merawatnya nanti. Daun pintu pun ia buka dengan sopannya dan masuk ke dalam. Ia melangkahkan kakinya mendekat ke arah Kurnia.


Kurnia yang merasa ada seseorang mendekat ke arahnya, mereflekskan dirinya untuk menoleh ke belakang. "Zal, kau sudah kembali."


"Hn." Arah pandangan matanya beralih menuju tangan Kurnia yang menggenggam tangan Jihan. Rizal menaikkan sebelah alisnya. "Apa yang sedang tanganmu lakukan?"


Mendengar kalimat pertanyaan dari Rizal, Kurnia memandang apa yang telah dilakukan tangannya, lalu melepaskan genggaman tangannya. "A-Oh, ini, aku tadi hanya ingin menyesuaikan suhu tubuhku dengan Jihan saja." Otaknya memikirkan kata-kata yang tepat untuk dilontarkan. "Agar suhu tubuhnya sesuai denganku saja, biar cepat sembuh," ucap Kurnia dengan sedikit gemetar dalam kalimatnya.


Rizal memiringkan sedikit kepalanya ke kiri. "Menyesuaikan?"


"Hn." Rizal meletakkan kotak P3K-nya di atas sebuah meja kecil di samping kepala ranjang, lalu ia membalikkan badannya ke arah Kurnia. "Oh, lebih baik kau memesan dua mangkuk porridge kepada para pelayan villa ini. Yang satu untuk Jihan dan yang satunya lagi untuk Fitri."


"Yes, sir! Aku juga mau menjenguk Fitri untuk melihat keadaannya. Permisi." Dengan terburu-buru, Kurnia melesat pergi ke luar ruangan dan menutup pintu secara perlahan.


Setelah berada di luar, Kurnia menyenderkan badannya di daun pintu kamarnya. "Ada apa denganku?" Kurnia melipat tangan di depan dadanya. "Aku 'kan hanya memperhatikan sahabat kecilku yang sedang sakit, tapi kenapa aku sendiri merasa aneh dan berdebar-debar saat Rizal melihat tanganku yang..."


Seketika muka Kurnia bersemu merah, mengingat apa yang tadi tangannya lakukan terhadap tangan Jihan. Kurnia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ah... sudahlah, tidak perlu dipikirkan. Lebih baik memesan bubur untuk Jihan dan Fitri. Plus, untuk diriku sendiri." Dan Kurnia pun melenggang pergi menuju lantai satu villa untuk melakukan apa yang harus ia lakukan.


Kita kembali ke dalam kamar dimana Rizal tengah memandang Jihan yang sedang terbaring di atas ranjang dengan tatapan mata yang susah diartikan dengan rangkaian kata-kata manusia. Lalu, ia pun tersadar akan suatu hal dan memandang seluruh pakaiannya dari atas sampai bawah yang telah ternoda oleh 'suatu hal' dari manusia. Darah.


Rizal pun ber-inisiatif untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian yang berada di dalam tas yang ia bawa. Karena Jihan sedang tertidur dengan sebuah kompresan pereda demam di keningnya, jadi Rizal langsung melepas dan mengenakan pakaiannya tanpa masuk ke dalam kamar mandi. Ia memasukkan bajunya yang telah ternoda ke dalam tas kosong yang sengaja ia bawa untuk memisahkan baju kotor dengan baju bersihnya.


Tunggu. Bagaimana dengan Jihan?


Mata onyx Rizal memandang Jihan sesaat dan mengambil sepasang piyama yang berada di dalam tasnya, ber-inisiatif untuk mengganti pakaian Jihan. Ia mendekat ke arah Jihan—berdiri di samping tepi kasur, berpikir sejenak. Pada akhirnya, ia pun mengganti pakaian Jihan dengan hati-hati agar tidak membangunkannya dan... selesai sudah.


Ia mengambil kompresan yang sudah menghangat akibat suhu tubuh di kening Jihan, memasukkannya kembali ke air dingin, memerasnya, dan meletakkannya kembali di dahinya. Seketika, Rizal memperhatikan wajah Jihan yang agak pucat—membuat kulit putih Jihan semakin memutih dilihatnya.


Jari telunjuknya mengelus pipi Jihan sejenak. Halus. Lalu berubah menjadi memegang pipinya. Kecil. Dengan sigap, Rizal menarik tangannya dari pipi Jihan dan memerhatikan telapak tangan yang tadi ia gunakan untuk memegang pipi sahabat sejak kecilnya. Apa yang sedang ia lakukan? Dan apa yang tadi ia lakukan?


Rizal menarik sebuah kursi dan duduk di sana. "Ji, lekas bangun, ada yang ingin aku konsultasikan denganmu." Suara Rizal terdengar kecil dan sedikit gemetar. Hampir tak terdengar.


Kedua tangannya menggenggam tangan kanan Jihan dengan erat dan mendekatkan bibirnya yang tipis dan dingin pada tangan Jihan. Memejamkan matanya. Berharap yang akan menjadi konsultan segala pertanyaannya segera membuka mata atau minimal mengucapkan sepatah kata.


"Ri... Zal..."


Mendengar suara yang terdengar lemah, membuat kepala Jihan terangkat dan melihat ke arah sumber suara. "Ji, kau sudah bangun?"


Jihan menganggukkan kepalanya dengan lemah. "Seperti yang kau lihat," ucapnya dengan suara yang masih terdengar parau.


"Rizal! Buburnya sudah jadi!" ucap Kurnia sembari membuka pintu yang dimana salah satu tangannya sedang membawa sebuah nampan yang berisikan dua mangkuk bubur yang masih hangat. Suaranya membuat Rizal dan Jihan menengok ke arahnya.


Mata Aquamarine Kurnia melihat Jihan yang sedang melihatnya. "Hah, Ji, kau sudah bangun?" Ia berjalan mendekat menuju ke kedua temannya sesudah menutup pintu. Tanpa disengaja, Ia melihat kedua tangan Rizal yang sedang menggenggam erat tangan Jihan. "A-apa yang sedang tanganmu lakukan, Zal?"


Tanpa merasa bersalah sedikit pun, Rizal menjawab, "Sama seperti jawaban yang kau berikan sebelumnya. Menyamakan suhu tubuhku dengan Jihan agar lekas sembuh."


"A-ahaha... iya, ya," kata Kurnia sembari tersenyum dan tertawa renyah mendengar ucapan Rizal. "Oh, iya, ini buburnya." Ia memberikan semangkuk bubur kepada teman berambut raven-nya.


Rizal melihat semangkuk yang masih berada di atas nampan yang Kurnia bawa. "Satunya lagi tidak kau berikan kepada Fitri?"

__ADS_1


"Kalau punya Fitri sudah kuberikan kepada Sandi, kok," tutur Kurnia dengan percaya dirinya seraya mengacungkan ibu jarinya ke arah Rizal.


"Hn. Bagus."


Dapat dipastikan, sekarang Jihan sedang memancarkan raut wajah bertanya-tanya. "Kenapa? Ada apa dengan Fitri?" Suaranya masih parau.


Rizal mengedikkan bahunya. "Dia tidak apa-apa. Perutnya hanya kosong karena saat di ruang makan ia sempat memuntahkan kembali makanan yang ia makan, sehingga tubuhnya menjadi lemas seketika." Ia berusaha menjelaskan dengan sangat detail dan jujur.


Fitri menghela nafas lega setelah mendengar tuturan dari sang Dokter. "Mengerti..."


"Justru yang harus dikhawatirkan sekarang adalah dirimu, Ji," ucap Kurnia yang disetujui oleh anggukkan kepala Rizal.


"Memangnya apa yang terjadi padaku?" tanya Jihan dengan wajah dan polos.


"Ji, memangnya kau tidak merasakannya sendiri? Kau itu sedang demam, tahu?"


"Oh..." respon Jihan singkat terhadap pernyataan Kurnia. Dan itu membuat Kurnia menepuk dahinya dengan sangat kencang sehingga membuat kepalanya pusing sendiri.


Saat Kurnia sibuk menepuk dahinya sendiri, Rizal membantu Jihan merubah posisinya—yang tadi tidur menjadi duduk. "Kau harus makan ini," katanya yang menyerupai sebuah perintah singkat, padat, dan jelas.


Pemuda ber-iris onyx—bernama Rizal itu—mulai menyuapi Jihan secara perlahan. Tiba-tiba ia teringat salah satu adegan saat bercanda yang membawa suatu hal yang menyangkut dirinya. "Hn, satu hal yang ingin kuperjelas. Buah kesukaanku itu tomat, bukan apel."


Kurnia yang sedang serius melahap semangkuk buburnya tertawa kecikikan. "Oh, mengenai itu sebenarnya aku dan Jihan sengaja menyebut buah apel sebagai buah kesukaanmu hanya untuk mengerjainya." Ia tertawa. "Tapi tak kusangka ia mudah percaya begitu saja."


Rizal mendengus. "Kalian itu..."


Pemuda berambut jabrik kuning ber-inisiatif untuk menepuk pundak sahabat emo-nya. "Sudahlah, Bro... Kami juga tahu, kok, kalau buah kesuakaanmu itu tomat. Iya, 'kan, Ji?"


"Un." Jihan tersenyum.


"Ya sudah, lupakan. Kau harus menghabiskan buburmu ini dahulu baru bicara." Rizal kembali menyuapi Jihan dan begitu pula dengan Kurnia yang melanjutkan kegiatan makan makananannya yang tertunda.


Saat menyuapi Jihan satu sendok demi satu sendok, Rizal kembali memutar berbagai macam pertanyaan mengenai perasaan yang ia tadi rasakan beberapa saat yang lalu. Dan sepertinya, ia memang harus mengkonsultasikannya kepada Jihan.


Bola mata obsidian-nya memperhatikan pakaian Jihan yang tadi sempat ia ganti dengan piyama-nya. Yang menjadi pertanyaan Rizal sekarang adalah mengapa Kurnia tidak menyadari pakaian yang Jihan kenakan? Bukankan Kurnia pernah melihat diriku saat memakai piyama itu saat menginap di rumahku? Seharusnya saat Kurnia melihat Jihan memakai piyama Rizal, ia menanyai segala macam hal yang tidak wajar yang berada tepat di depan matanya. Bukankah itu Kurnia?


Tiba-tiba suara Kurnia membuat Rizal sedikit terkejut. "Bro! Aku mau ke kamar Sandi dulu, ya!" ucapnya seraya menaruh semangkuk bubur yang sudah ia telan semua isinya di atas sebuah lemari kecil tepat di sebelah kepala ranjang.


"Memangnya kau ingin apa ke sana?"


"Aku ingin berbincang-bincang sedikit dengan Sandi dan melihat keadaan Fitri tentunya." Kurnia memberikan senyuman sumringahnya.


Rizal menaikkan sebelah alisnya. "Bukankah kau sudah ke sana?"


"Iya, tapi aku hanya memberikan semangkuk bubur untuk mereka." Sebelum Rizal bertanya lagi, Kurnia melanjutkan perkataannya—yang juga berupa jawaban dari pertanyaan yang Rizal ingin lontarkan. "Tadi aku lama karena aku melihat cara para pelayan menghidangkan sebuah bubur. Hitung-hitung... aku belajar dan mengetahui cara membuat bubur yang baik dan benar."


Melihat Rizal menganggukkan kepalanya—menangkap apa yang diucapkan olehnya, Kurnia bergegas keluar dari kamar—dengan sedikit terkesan buru-buru—sembari mengucapkan salam perpisahan. "By, Zal!"


Dan pintu pun tertutup.


"Apa maksudnya? Kenapa ia terburu-buru seperti itu? Dasar," gerutu Rizal yang mirip sebuah gumam semata.


"Pasti di dalam kepalamu kamu berpikir kenapa Kurnia tidak menyadari aku memakai piyama mu."


Rizal menoleh ke arah sumber suara yang memulai pembicaraan di antara mereka. "Ji.. Dari mana kau tahu?" tanyanya dengan nada yang datar.


Jihan tersenyum tipis yang sangat terlihat di wajahnya. "Karena itu semua terpancar dari raut wajahmu, Zal." Jihan sedikit menyombongkan diri. "Aku hebat, 'kan?" Sekarang keadaan Jihan sudah mulai membaik slow but sure.


Rizal memandang takjub seorang Jihan. "Ya, hebat. Sangat hebat." Rizal melanjutkan perkataannya, "Jadi menurutmu, kenapa Kurnia tidak menyadarinya? Apakah ia sudah rabun?"


Perempuan itu yang menjadi lawan bicaranya tertawa kecil mendengarnya. "Bukan seperti itu juga, Zal... Mungkin karena Kurnia sudah tahu jika ia bertanya kau akan menjawab seperti apa, maka dari itu ia tidak bertanya kepadamu."


"Heh, seperti bukan Kurnia saja." Rizal membuang pandangannya ke arah yang lain.


Jihan mengangguk setuju dengan perlahan. "Yah, memang seperti bukan Kurnia yang biasanya. Tapi itu juga pertanda bahwa ia tahu diri." Jihan mengacungkan jarinya ke Rizal.


"Yeah, sedikit perubahan." Rizal berpikir sejenak. "Memangnya Kurnia biasanya tidak tahu diri?" Rizal kembali bertanya. Kali ini benar-benar bukan pertanyaan yang seperti Rizal biasanya. Bisa dibilang, kali ini Rizal melontarkan pertanyaan polos yang mampu membuat Jihan tertawa.


"Sebenarnya dia itu bukan tidak tahu diri, tapi kurang mengoreksi diri sendiri."


Rizal kembali terhenyak di dalam pikirannya. "Mengoreksi diri, ya..."


Jihan yang merasa aneh akan raut wajah dan perkataan Rizal yang sulit diartikan maupun dijelaskan, secara cepat merubah raut wajahnya yang ceria menjadi was-was memperhatikan wajah tampan sahabat raven-nya.


"Kau tidak apa-apa, Zal?" tanya Jihan dengan hati-hati. "Ada yang bisa ku bantu?" Jihan kembali bertanya saat mata elang Rizal yang kelam menatap dalam emerald miliknya.


"Jihan," Rizal merangkai kalimatnya dengan sangat hati-hati di dalam otaknya yang genius. "Ada yang ingin aku konsultasikan berdua denganmu."


Bola mata Jihan melihat bola mata obsidian yang berada tepat di depan mata yang sedang menatapnya dengan serius dan penuh kasih sayang.


Tapi juga terlihat sendu. Dan kesepian.


...~Lost In Nightmare~...

__ADS_1


...To Be Continued…...


__ADS_2