
...NIGHTMARE 21...
...That Time has Come...
"KAPAN MAKAN MALAMNYA SELESAI?"
Teriakan suara baritone terdengar hingga ke seluruh sudut villa yang ada. Tak terkecuali masuk ke dalam gendang telinga Rizal yang sibuk dengan tablet-nya. Dirinya masih duduk diam di ruangan terakhir. Bedanya dengan sebelumnya, kini sepasang headset tangah menggantung di kedua telinga Rizal.
Setelah teriakan itu, tak lama kemudian terdengar secara sayup-sayup suara derap langkah kaki menuruni tangga yang semakin lama semakin jelas.
Setelah suara orang menuruni tangga dengan tergesa-gesa itu menghilang, Rizal menggerakkan mata onyx-nya untuk beralih pandang menuju asal suara napas tersebut. Yang tertangkap oleh matanya adalah Kurnia tepat berada di bawah tangga. Napasnya berderu kencang.
Rizal melepaskan sebelah headset-nya. "Bisa kau kecilkan suaramu itu, Kur? Bahkan teriakanmu itu berhasil menembus masuk ke telingaku yang sedang memakai headset ini," ucap Rizal dengan sejujurnya. "Ada apa denganmu?"
"Aku hanya tidak sabar menunggu makan malam terakhir kita di sini. Kau tahu? Makanan yang disediakan di sini sangat menggugah selera..." celoteh Kurnia panjang lebar dengan penuh penghayatan.
Berhubung Rizal sudah mendapat inti jawaban dari Kurnia, salah satu tangannya kembali bergerak kembali untuk memasang sebelah headset yang ia lepas tadi.
Kurnia melanjutkan celotehannya yang masih berlanjut, "...Makanan di sini sungguh berbeda dari semua makanan yang pernah kucoba di berbagai restoran. Hei, Zal! Menurutmu masakan di sini bagaimana?" Ia menolehkan kepalanya menuju pemuda itu—sahabatnya. Betapa kecewanya ia saat mengetahui seorang Rizal mengabaikan seluruh perkataan yang sudah susah payah ia rangkai dan ucapkan.
Kurnia menghela napas dalam. "Zal," panggilnya dengan nada suara biasa.
"Rizal!" Ia meninggikan sedikit nada panggilnya dari sebelumnya.
Baiklah, kini dia sudah mulai geram dengan semua ini. Dengan langkah pasti, Kurnia berjalan mendekat ke arah Rizal yang sibuk berkutat dengan tablet-nya. Sebelah tangannya bergerak untuk menarik paksa headset sebelah kiri Rizal.
"Zal! Mengapa kau tidak mendengar perkataanku, hah?" kata Kurnia dengan nada tinggi. Kurnia berbicara tepat di depan telinga Rizal.
Dengan reflek, Rizal menutup telinga yang baru saja diteriaki—menurutnya—oleh Kurnia. "Apa yang kau lakukan, Kur? Kau ingin merusak gendang telingaku?" balas Rizal tak terima dengan apa yang dilakukan Kurnia.
Kurnia mendecih. "Kenapa jadi kau yang kesal? Yang menjadi pihak yang terabaikan itu 'kan aku, kenapa jadi kau yang lebih galak?" ucap Kurnia merasa aneh dengan keadaan mereka sekarang.
Pemuda itu menghela napas panjang. "Untuk apa aku mendengar pembicaraanmu yang tidak berguna itu?"
"Zal, jawabanmu sangat menusuk." Pandangan Kurnia yang menatap Rizal berubah kaku.
Perasaan sedikit bersalah menghampiri Rizal. Jika dipikirkan kembali, ia memang lebih galak dari Kurnia, padahal dia sendiri yang mengabaikan Kurnia. Tapi, dia juga tidak bersalah karena dia hanya menanyakan keadaan, bukan menawarkan tempat bercuhat.
Karena Rizal tidak ingin ada masalah antara dia dan Kurnia sebagai dua dari tiga orang yang tersisa. Ia pun menanyakan berusaha mengucapkan kata maaf.
"Kurnia..." Rizal menarik nafas, "Kur, aku..."
"Aku tak menyangka," selak Kurnia akan kalimat Rizal yang belum selesai terucapkan.
Rizal menautkan kedua alisnya. Menunggu Kurnia menyelesaikan kalimatnya.
Wajah Kurnia memasang raut wajah yang serius. "Aku tak menyangka... kalau seorang Rizal itu mudah ku bodohi," ucap Kurnia dengan nada ringan di kalimat terakhirnya.
Alhasil, kini kegeraman Rizal tidak dapat ditahan lagi dan Kurnia pun mau tak mau siap menjadi korban. Melihat Rizal yang sudah mengeluarkan aura hitam di sekeliling tubuhnya, Kurnia berusaha menenangkan hati Rizal yang sudah gelap. Walaupun ia sendiri juga tahu kalau persentase keberhasilannya hanya sedikit.
"Kurnia! Kubunuh kau!" teriak Rizal dengan lantang, walau masih sedikit ditahan.
Rizal dengan cepat menarik tangan Kurnia dan memutarbalikkan badan sang korban. Salah satu lengannya mencekik leher Kurnia yang sedang berteriak tidak jelas karena sudah berada dalam kondisi yang genting. Berbagai usaha untuk melepaskan diri terus dilakukannya seraya berharap semoga ada keajaiban yang datang membantunya.
"Tuan Muda, makan malam sudah siap," ucap seorang pelayan—bernama Rizki—dengan sopan. Berbagai pertanyaan terlintas dibenak Rizki saat melihat apa yang dilakukan Rizal dan Kurnia di sana.
Mendengar suara seseorang yang telah mengatakan kabar gembira ini, tiba-tiba Kurnia mempunyai kekuatan penuh untuk melepaskan diri dari Rizal. Dengan sigap, Kurnia bangkit berdiri dari jeratan maut Rizal. "Baiklah, kami akan segera ke sana!" jawab Kurnia dengan lantang.
Suara Kurnia menyadarkan Rizki dari segala hipotesis yang dimilikinya. "Hah? Oh, baiklah, saya akan menunggu Anda semua di ruang makan. Saya permisi." Rizki pun membalikkan badannya dan berjalan menjauhi ruangan terakhir.
"Hn," respon Rizal singkat sebelum Rizki berjalan menjauh dari mereka. Lalu, ia berdiri dari tempat duduknya setelah ia mematikan tablet miliknya dan melepas kedua headset yang menyangkut di telinganya.
"Baiklah! Mari kita makan!" seru Kurnia sekeras-kerasnya. Pada akhirnya, saat yang ia tunggu-tunggu pun tiba.
Ketika Rizal dan Kurnia berjalan beberapa langkah dari tempat mereka sebelumnya, tiba-tiba Kurnia teringat akan suatu hal. "Oh iya, Jihan masih ada di atas. Kalau begitu akan kupanggilkan dia. Zal, kau duluan, ya!"
Saat Kurnia hendak menaiki anak tangga pertama, tangan Rizal menarik baju belakang Kurnia hingga Kurnia hampir terjerembab ke belakang kalau saja salah satu kakinya tidak bergerak reflek menahan beban tubuhnya.
Jantungnya berdebar kencang karena saking shock-nya. "Zal! Kau ingin membunuhku, hah?" Kurnia kembali berteriak akan apa yang telah Rizal lakukan terhadapnya.
"Biar aku yang memanggil Jihan, kau ke ruang makan duluan saja," perintah Rizal dan diberi sebuah tatapan menginterogasi dari Kurnia.
Rasa cemburu—jika memang bisa dibilang begitu—menyelimuti hati pemuda berjabrik kuning itu. "Memangnya harus kau yang memanggil Jihan? Aku 'kan juga bisa." Kurnia memberengutkan wajahnya, tidak suka.
"Bukan begitu, masalahnya aku juga ingin ke atas untuk menaruh benda ini di kamar." Rizal menunjukkan tablet beserta headset yang berada di tangannya.
Iris Aquamarine Kurnia memandangi benda di tangan Rizal dan wajah sahabatnya itu secara bergantian. Ia tidak menemukan kecurigaan mendalam. Tunggu, mengapa ia menjadi khawatir seperti ini.
"Baiklah, lakukan sesukamu." Sebelum Kurnia membalikkan badannya dan berjalan meninggalkan ruangan, ia berkata, "Aku tunggu kalian di ruang makan, ya! Jangan lama!" Lalu, ia berjalan sembari menyenandungkan nada-nada perasaan gembiranya.
Melihat tingkah Kurnia membuat Rizal menghela napas singkat dan ia bergegas menaiki anak tangga hingga mencapai lantai dua villa tersebut. Tanpa berhenti, kakinya langsung melangkah menuju kamarnya.
Sesampainya di sana, ia menangkap sesosok Perempuan yang tengah terduduk di tepi jendela kamar. Ia duduk menyandar ke belakang dengan tenang. Kepalanya tertoleh ke arah luar jendela, entah apa yang ia lihat.
Apakah sedari tadi ia berada dalam posisi seperti itu?
Rizal berjalan mendekati meja kecil yang berada tepat di samping kasur untuk menaruh tablet dan headset-nya terlebih dahulu, lalu setelah itu ia mulai beranjak mendekati Jihan yang masih duduk diam tidak bergeming sedikit pun.
Apakah ia tidak menyadari kehadiran Rizal?
Karena penasaran, Rizal mencari posisi yang tepat agar dapat melihat wajah Jihan yang masih tidak bergeming. Tetap tak terlihat. Beberapa helai rambut seperti berusaha menghalangi wajah yang bersembunyi di dalamnya.
Rizal mulai merasa sedikit geram. Tapi, tunggu. Ada yang aneh dengan Jihan. Ia sama sekali tidak merasakan keberadaan Rizal. Apakah ia benar-benar tidur?
Untuk memastikannya lebih lanjut, jemari Rizal pun beraksi. Ia membungkuk, lalu memindahkan helaian rambut Rizal dengan cara menyapunya ke samping dan menyelipkannya di belakang daun telinga Jihan.
Seketika tangan Rizal berhenti bergerak. Jantung Rizal berdegup kencang. Iris onyx-nya terus memandang wajah Jihan yang sedang tertidur itu. Dirinya mematung sesaat. Entah kenapa ia merasa jika melihat Jihan dari sudut pandang yang berbeda, ia menjadi lebih cantik dari biasanya.
Rizal tidak tahu harus berbuat apa, yang ia hanya bisa lakukan adalah mengamati wajah Jihan dengan gaya mematung nya. Tanpa disadari, jemarinya yang dingin menyentuh pipi Jihan.
Suara lenguhan terdengar dari pita suara gadis berambut dark brown di depannya. Kelopak matanya perlahan membuka memperlihatkan iris mata yang sewarna dengan batu jade di dalamnya. Jihan terusik dari alam mimpinya karena merasakan sesuatu yang dingin menjalari wajahnya.
Saat Jihan menoleh untuk melihat apa sesuatu dingin yang membuat ia terbangun itu, mata Rizal dan Jihan saling bertumbuk kan satu sama lain.
Onyx dan emerald pun bertemu.
Jihan terkesiap melihat wajah Rizal yang bisa dibilang dekat dengannya dan langsung mereflekkan kepalanya dengan cara mundur ke belakang. Alhasil, kepala yang bermahkota kan rambut berwarna dark brown itu membentur dinding tepat di belakangnya.
Jihan meringis kesakitan sembari mengelus-elus kepalanya yang sakit. Jantungnya berdebar keras.
__ADS_1
Melihat kejadian cepat di depannya, Rizal pun tersadar dari lamunannya. "Ji, kau tak apa?" tanya Rizal dengan nada yang terdengar sedikit kacau. Rizal mengulurkan tangannya untuk menolong Jihan.
"Tidak," jawab Jihan seraya menangkis pelan tangan Rizal, "aku tak apa. Aku baik-baik saja. Sungguh."
Oh, sial. Kenapa juga Rizal bisa melakukan hal seperti itu? Ia merasa seperti berada di antara menyesal dan tidak.
"Maaf," Rizal berdiri tegak dari posisi membungkuknya, "aku sama sekali tidak ada niat jahat denganmu. Aku hanya..." Otak Rizal berputar cepat untuk mencari sebuah alasan yang logis, "...ingin memastikan apakah kamu sedang tidur atau tidak. Itu saja."
"Lalu?" tanya Jihan lagi dengan sedikit gagap. Ia merasa suasana antara ia dan pemuda itu di depannya itu terasa canggung.
Rizal melipat kedua tangannya di depan dada, berusaha menghilangkan kegugupan yang tiba-tiba memenuhi kepalanya. "Berhubung kau sudah bangun, bagaimana kalau kita segera makan malam? Kurnia sudah menunggu kita sedari tadi di ruang makan." Secara tidak sadar, tatapan matanya menatap tulus Jihan.
Jantung Jihan berdebar lebih kencang saat ditatap seperti itu oleh Rizal, perlahan wajahnya bersemu merah. "Baiklah, aku membasuh wajahku terlebih dahulu," jawab Jihan dengan sedikit gagap di awal kalimat.
"Hn. Aku akan menunggumu di luar."
Rizal membalikkan badannya. Baiklah, ini gila. Debaran jantung Rizal tidak melambat sedikit pun. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan, yang ia tahu hanya ia harus segera bergegas keluar dari kamar itu dan langsung berbuat sesuatu: menjernihkan isi otaknya.
Ketika pintu kamar tertutup, Rizal langsung melekatkan punggungnya dengan dinding tepat di sebelah kiri pintu. Ia mengatur ritme napasnya yang berantakan sembari memejamkan kedua matanya dan setelah tarikan napasnya teratur, ia meneguk air liurnya sendiri.
Matanya terbuka. Sial.
.......
...+++~Lost~+++...
.......
Kurnia terus berjalan pelan menuju ruang makan dengan tatapan mata redup. Sesekali ia menggertakkan giginya. Entah perasaan apa yang sedang ia rasakan, rasanya semua kegundahan, kekecewaan, dan penyesalan campur aduk menyelubungi hatinya. Begitu pula dengan pikirannya yang menerobos masuk begitu saja. Jujur, sebenarnya ia tidak mau memikirkan hal negatif mengenai apa yang terjadi dengan Rizal dan Jihan di atas sana. Sungguh tidak mau.
Ia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan keras ke kiri dan ke kanan sambil berdoa semoga pikiran yang menggerayangi otaknya yang pas-pasan itu lekas pergi dan jangan kembali lagi. Merasa yakin dengan positive thinking yang ia miliki, Kurnia pun menambah sebuah tamparan keras di kedua pipinya dengan tangannya sendiri.
"Yosh! Jangan memikirkan hal yang tidak berguna! Yang terpenting adalah makanan telah menungguku! Ayo!" teriak Kurnia penuh semangat seraya mengepalkan sebelah tangannya, lalu berlari kecil menuju ruang makan sembari menghitung satu-dua-tiga berulang kali seperti sedang jogging.
Pada akhirnya tibalah ia di ruang makan yang sudah ditunggu oleh para pelayan yang biasanya memang bekerja di bidang penyediaan makanan.
"Selamat datang, Tuan Muda! Silakan menikmati hidangan yang sudah tersedia," kata pelayan ber-name tag Zaki dengan suara ramah dan terdengar sedikit riang. "Anda bisa duduk di tempat yang sudah tersedia."
"Terima kasih."
Kaki jenjang Kurnia segera beralih menuju salah satu kursi yang berada di tengah meja makan berbentuk persegi panjang itu. Tak lama kemudian, datanglah pelayan bernama Rizki mendekati Kurnia yang sedang memajukan kursi makannya—mencari posisi nyaman.
"Selamat malam, Tuan Muda," Kepala Rizki tengah melihat ke sekitar Kurnia, mencari sesuatu, "kalau boleh tahu, di mana Nona Jihan dan Tuan Muda Rizal berada?"
"Ah, mereka." Kurnia meletakkan kedua tangannya lemas di atas meja makan yang berkain putih. "Tadi Rizal pergi ke lantai dua untuk memanggil Jihan untuk makan malam. Tunggu sebentar lagi saja, nanti mereka juga akan datang."
Rizki tampak menghela napas sesaat, seperti melegakan suatu hal. "Ternyata seperti itu."
Tatapan mata Kurnia menerawang jauh ke arah jemarinya. "Apakah aku boleh memberitahu suatu hal?"
Mendengar pertanyaan Kurnia, Rizki merasa bingung sesaat. "Tentu, apa itu?"
"Itu... Nanti kami akan—"
"Selamat datang, Tuan Muda Rizal dan Nona Jihan! Silakan menikmati hidangan yang sudah tersedia."
"Kau lama sekali, Zal!" seru Kurnia girang, senyumannya mengembang di bibirnya.
"Tidak, aku hanya sebentar," elak Rizal dengan santainya.
Rizal dan Jihan berjalan di kursi kosong yang dekat dengan Kurnia. Entah hanya perasaannya atau tidak, tapi Rizal merasa bahwa tatapan Kurnia terarah ke arah Jihan dari ia masuk sampai ia duduk. Saat sadar ada seseorang yang memperhatikannya, Kurnia pun memalingkan tatapannya menuju makanan yang sudah tersedia di atas meja.
"Permisi, Tuan Muda, apa yang ingin Anda katakan sebelumnya?" tanya Rizki kembali mengingat perkataan Kurnia yang terpotong tadi.
Kurnia menggelengkan kepalanya singkat. "Tidak jadi, nanti saja akan dibicarakan setelah makan malam kami selesai."
Dan tentu saja perkataan Kurnia barusan menarik perhatian Rizal dan Jihan yang berada di sekitarnya.
"Kur, apa yang harus dibicarakan?" tanya Jihan yang hanya dijawab sebuah desisan pertanda diam dari pemuda jabrik kuning itu.
Dengan lapang dada, Rizki memaklumi hal yang dikatakan Kurnia. "Baiklah, kalau begitu selamat menikmati hidangan Anda." Ia pun dengan sopan memundurkan diri dan melangkah menjauhi meja makan.
"Kur, ada apa?" tanya Rizal dengan suara kecil.
Senyuman terukir di wajah Kurnia. Salah satu tangan Kurnia menarik pelan salah satu telinga Rizal dan membisikkan sesuatu di sana. Dan ia juga melakukan hal yang sama terhadap Jihan. Setelah mengetahui apa yang ingin dikatakan Kurnia tadi, mereka pun memulai acara makan malam mereka dengan diam dan tenang. Hanya dentingan peralatan makan saja yang terdengar di seluruh sudut ruangan makan.
Seusai memakan makanan penutup yang diantarkan Kepala Pelayan Indra di akhir, Kurnia pun berseru, "Aku kenyang sekali!" seraya menepuk-nepuk kan kedua tangannya di perutnya.
"Sudah kubilang kan, kalau sudah tahu tidak akan sanggup menghabiskan makanan, jangan dipaksa menelan habis seluruhnya," kata Jihan kepada Kurnia sambil menatap dengan perasaan kasihan dengan kondisi perut Kurnia yang sepertinya hampir ingin pecah atau mungkin meledak.
"Habisnya..." Kurnia mendekatkan diri ke arah Jihan dan berucap dengan suara kecil, "...ini kan terakhir kalinya kita makan di villa ini."
Kemudian Kurnia menarik badannya kembali dan kepalanya langsung beralih ke arah Rizal yang sedari tadi memang menatapnya dengan tatapan dalam. "Oi, Zal." Kurnia memberi kode sebuah gerakan singkat kepala ke arah para pelayan yang masih sibuk berbicara satu sama lain.
Rizal menghela napas sesaat dan berpikir sejak kapan ia menjadi turut akan dikatakan oleh Kurnia. " Indra, ada yang ingin kami bicarakan," panggil Rizal dengan lantang membuat suara bising suara para pelayan lenyap dengan sekejap.
"Ya, Tuan Muda! Ada yang bisa kami bantu?" balas Indra seraya melangkah maju—mendekati meja makan yang sudah tersapu bersih yang paling didominasi oleh Kurnia.
Rizal menelengkan kepalanya ke arah Indra. "Tidak ada hal penting. Aku hanya ingin bilang bahwa tepat jam dua belas malam nanti, kami akan meninggalkan villa ini."
Seketika pernyataan tegas Rizal mampu membuat seluruh suara tidak percaya para pelayan mengisi kekosongan ruang makan tersebut.
"Kalau boleh tahu, ada apa? Kenapa tiba-tiba?" tanya Indra dengan sedikit gagap.
Rizal menautkan kedua alisnya. "Memangnya ada malasah jika kami pergi dari villa ini?"
"Tidak! Sama sekali tidak." Indra mengatur napas sesaat. "Tapi, bukannya Anda menyewa villa ini untuk selama tiga minggu ke depan?"
"Ya, memang begitu." Kurnia mengambil alih pembicaraan Rizal. "Tapi kami memilih untuk check-out dari villa sebelum waktunya dengan alasan yang sangat jelas; kami merasa tidak nyaman dengan villa ini setelah teman-teman kami meninggal dengan tidak wajar satu-persatu." Kecuali Sandi, lanjut Kurnia dalam hati.
"Tapi—"
"Apakah kau keberatan jika kami pergi sebelum waktunya, Kepala Pelayan Indra?" tanya Jihan untuk memastikan keganjalan di hatinya akan perilaku Indra.
Indra diam sejenak, berpikir keras mengenai apa yang harus diputuskannya—itu terlihat dari dahinya yang berkerut. Ia menghela napas. "Baiklah, jika itu keinginan Anda sekalian. Kami minta maaf atas kejadian yang tidak mengenakan—termasuk kejadian tragis kepala pelayan kami, Deni, yang terdahulu dan atas keempat teman kalian." Indra membungkukkan badan sedalam-dalamnya dan diikuti oleh seluruh pelayan yang ada di ruang makan. Salam perpisahan.
"Tidak perlu membungkuk seperti itu," ucap Jihan dengan perasaan tidak enak. "Kami hanya tamu di sini."
Indra dan para pelayan lain menegakkan badannya kembali. "Tidak apa, karena tamu adalah raja."
__ADS_1
Rizal mengecek jam arloji yang menggantung di tangannya. "Baiklah, kami juga akan menikmati waktu terakhir kami di sini sebaik-baiknya sebelum kami pulang nanti, mengingat sekarang sudah jam delapan malam."
Pemuda itu bangkit berdiri dari kursinya dan diikuti oleh Jihan dan Kurnia, lalu mereka bertiga berjalan beriringan keluar dari ruang makan itu. Meninggalkan sejumlah pelayan yang menatapi kepergian mereka walau hanya sebatas punggung belaka.
"Jangan sungkan memanggil kami untuk membantu Anda sekalian yang ke terakhir kalinya walau hanya membantu mengangkat barang dari kamar ke bagasi Anda!" seru Zaki dengan lantang sebelum Kurnia, Rizal, dan Jihan menghilang dari pelupuk mata.
Kalimat Zaki hanya direspon sebuah pengangkatan sebelah tangan oleh Kurnia sambil lalu.
Dan suasana ruangan makan dan tatapan mata para pelayan pun perlahan berubah menjadi sebuah batu es yang dingin dan tak bernyawa.
.......
...+++~Lost~+++...
.......
Seorang gadis berwarna rambut dark brown tengah berdiri di teras depan lantai dua villa seraya memandangi langit gelap yang tengah dihiasi oleh sebuah bulan sabit dan berbutir-butir bintang kecil yang bertebaran di angkasa, memperindah suasana malam ini. Tampaknya ia sedang senang hari ini; terlihat dari air muka dan mata hijau beningnya. Yah, tentu saja ia senang karena sebentar lagi mereka akan segera pergi dari villa.
Senyuman manisnya mengembang tulus di wajahnya. Ia melipat kedua tangannya untuk mengurangi rasa dingin yang menusuk jemarinya. Uap air keluar dari mulut kecilnya saat ia mengembuskan napasnya dalam-dalam. Perbedaan suhu yang sangat jauh.
Beberapa detik kemudian, ia menarik lengan kiri jaketnya dan melihat sesuatu yang menggantung di pergelangan tangan kirinya.
"Sudah jam sepuluh malam tepat."
Tiba-tiba terdengar suara lolongan hewan malam dari kejauhan, membuat suasana malam yang damai dalam sekejap berubah menjadi kengerian. Jihan bergidik mendengar hal menyeramkan itu. Ia tidak ingin lagi mengingat hal-hal tragis yang terjadi di sini, dan di dalam hidupnya.
"Sebaiknya aku segera ke kamar untuk memberitahu Kurnia dan Rizal agar bergegas mengemasi barang bawaan," ucap Jihan kepada dirinya sendiri.
Dengan santai, Jihan pun melangkahkan kakinya satu persatu menuju kamar villa kedua teman laki-lakinya yang berjarak tidak jauh dari teras yang sempat dihuninya. Sebelah tangannya memegang handle pintu dan membukanya.
Di sana terlihat Rizal tengah memandang ke luar jendela dengan jendela terbuka dan Kurnia yang sedang uring-uringan di atas kasur.
"Zal, Kur, sekarang sudah jam sepuluh malam!" seru Jihan setelah masuk ke dalam ruangan. Pintunya masih dibiarkan terbuka sedikit.
Seketika Kurnia terduduk dari posisi tidurannya. "Sudah jam sepuluh?" Salah satu tangannya melempar sebuah bantal tinggi ke atas dan langsung ditangkapnya dengan cepat. "Akhirnya... Pada akhirnya aku ada kerjaan juga!" teriak Kurnia girang setelah sekian lama ia mendekam di dalam kamar bersama Rizal—yang menurutnya menyebalkan beberapa saat lalu—karena dilarang berkeliaran mengingat Kurnia adalah tipe orang yang tidak mudah dicari saat dibutuhkan dan tiba-tiba muncul jika perutnya lapar saja.
Rizal menolehkan kepalanya ke arah Jihan yang masih berdiri tidak jauh dari pintu. Hembusan angin malam yang menyelundup masuk dan meniup sejumput poni yang berada di sisi kiri dan kanannya.
Jihan tertawa kecil mendengar seruan Kurnia yang terlewat senang. "Selamat ya, Kur."
Untuk memastikan lebih lanjut, mata onyx Rizal melirik jam arlojinya sendiri. Jam sepuluh lewat dua menit. "Sekarang sudah jam sepuluh lewat. Jihan kemasi barang bawaanmu yang masih berada di sini dan yang berada di kamarmu dengan Novi. Dan Kurnia, kau di sini mengemasi barang bawaanmu denganku."
"Baiklah," sahut Jihan dengan nada biasa dan langsung bergegas keluar menuju kamarnya.
"Yes, sir!" jawab Kurnia tegas seraya meletakkan tangannya di pelipis—membentuk sikap hormat.
Rizal dan Kurnia pun langsung bergegas mengumpulkan seluruh barang beserta tasnya satu persatu dan meletakan semuanya di atas kasur. Mereka berdua sangat sibuk dengan bawaan mereka sendiri sehingga tidak ada percakapan yang terjadi di antara keduanya, yang terdengar hanya beberapa bait lagu terpotong-potong yang disenandungkan oleh Kurnia. Menggambarkan perasaannya sekarang.
Rizal sibuk melipat seluruh pakaian kotornya, lalu memasukkan semuanya dengan rapi ke dalam tas kosong yang sengaja dibawanya satu-persatu. Berbanding terbalik dengan yang Kurnia lakukan tepat di sebelahnya. Berhubung Kurnia adalah seorang pemuda yang terlalu simple hingga membuat dirinya tidak ingin mengambil repot, ia memasukkan segala barang miliknya secara sembarangan, yang penting masuk.
Iris Aquamarine Kurnia sesekali melirik ke arah Rizal yang masih sibuk dengan bajunya. "Zal, mengapa tasku tidak bisa di resleting? Padahal aku tidak menambah apapun di barang ku. Beli saja tidak."
Mendengar Kurnia memanggil namanya, Rizal pun terpaksa melirikkan mata ke arah Kurnia tanpa memberhentikan kegiatan tangannya untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Rizal pun menghela napas kesal. "Tentu saja kau tidak akan bisa meresleting tasmu itu, caramu memasukkan barang saja sudah salah. Apakah kau tidak bisa melipatnya terlebih dahulu?"
Pertanyaan Rizal direspon sebuah gelengan pelan oleh Kurnia. Mata Kurnia memandang Rizal dengan tatapan memohon secercah petunjuk darinya.
Rizal terpaksa memberhentikan kegiatannya ketika matanya menangkap sorotan mata Kurnia yang sudah ia tahu apa artinya.
"Keluarkan semua barangmu kembali, aku akan menunjukkan caranya. Ikuti aku," perintah Rizal kepada Kurnia dan langsung dilaksanakan secepat mungkin karena Rizal adalah tipe yang tidak suka menunggu.
Rizal mengajarkan Kurnia dengan perlahan bagaimana cara melipat pakaian yang baik dan benar, lalu menyuruh pemuda jabrik kuning itu menghafalnya dan melakukannya sendiri dengan perlahan tapi pasti. Di saat Kurnia bisa melakukannya sendiri Rizal pun mulai melepasnya dan kembali beralih ke pakaiannya yang terbengkalai beberapa menit yang lalu.
"Zal, sebenarnya aku masih merasa bersalah karena telah membunuh Sandi," ucap Kurnia seraya melipat pakaiannya dengan sekuat tenaga.
"Kenapa?" balas Rizal acuh tak acuh.
Kurnia terdiam sesaat. "Entahlah, aku sendiri juga tidak tahu."
Rizal melihat Kurnia sekilas melalui ekor matanya, lalu kembali menatap pakaian yang sedang dilipatnya. "Tidak apa, anggap saja kau membunuh tubuh Sandi yang dirasuki jiwa lain karena ia sudah lama mati."
Mendengar jawaban Rizal yang mampu membuat hatinya sedikit tenang, membuat senyuman Kurnia kembali mengembang. "Terima kasih, Zal!"
"Hn, aku juga ingin mengucapkan terima kasih kepadamu karena kau sudah membunuhnya untuk melindungi ku."
Belum saja Kurnia mengutarakan ekspresi senangnya karena Rizal mengucapkan kata terima kasih untuknya, Rizal sudah mendahuluinya terlebih dahulu.
"Tapi, aku merasa tersinggung saat kau menceritakan kebalikan fakta kematian Sandi di depan para pelayan dengan alasan 'wajahku babak belur dan lemas' yang nyatanya tidak."
Pikiran Kurnia kembali melayang ke waktu dimana ia menceritakan semua alasan konyolnya di depan para pelayan. "Ah, waktu itu... Maaf, Zal, saat itu aku sudah terdesak sekali dan aku terpaksa menceritakan hal dengan kata-kata pendukung yang ampuh untuk menarik simpati mereka untuk kita."
Rizal memutar bola matanya. "Aku sudah tahu. Dan apakah kau tahu bahwa perkataanmu masih memiliki kekurangan yang akan berakibat fatal untukmu? Pertama, tidak ada jari sidik Sandi di pegangan katana karena kau bilang Sandi-lah yang membunuh dirinya sendiri. Kedua, posisi pedang yang menembus Sandi dari belakang itu tidak masuk akal. Mana ada orang yang bunuh diri dengan katana tetapi menusuk dirinya dari belakang?"
Mendengar penjelasan Rizal membuat Kurnia sedikit bergidik ketakutan sehingga ia memberhentikan kegiatannya. "Aduh, benar juga. Kalau nanti sampai aku ketahuan masuk penjara bagaimana? Lalu aku makan apa di sana? Lalu—" Kurnia memberhentikan perkataannya karena tiba-tiba mengingat suatu hal yang sengaja dilupakannya beberapa saat lalu.
Rizal menaikkan sebelah alisnya. Kepalanya tertoleh ke arah Kurnia. "Lalu?"
"Tidak, tidak apa." Kurnia pun melanjutkan acara melipat bajunya dengan pelan. Begitu pula dengan Rizal.
Ketika Kurnia sedang sibuk memasukkan pakaian yang berhasil dilipatnya ke dalam tas dan mengambil baju lain untuk dilipat, pikirannya melayang di antara dua pilihan. Butuh beberapa setengah menit hingga pada akhirnya ia menghela napas panjang dan meyakinkan dirinya sendiri.
"Rizal, boleh aku ingin bertanya sesuatu?"
"Hn."
"Apakah kau mencintai Jihan?"
Perkataan Kurnia sukses membuat Rizal memberhentikan kegiatannya. Ia menatap Kurnia bingung. "Apa? Apa yang sebenarnya ingin kau katakan?"
Merasa Rizal tidak akan menjawab pertanyaannya, Kurnia pun mengganti pertanyaan yang dilontarkannya. "Zal, boleh aku mengatakan sesuatu?"
Baiklah, pertanyaan kedua Kurnia semakin tidak terbaca oleh Rizal—ke mana arah pembicaraan ini akan berlangsung.
"Rizal, aku..." ucap Kurnia tegas dan keras. Kepalanya tertoleh ke arah Rizal, tatapannya dalam, "...mencintai Jihan."
...~Lost In Nightmare~...
...To Be Continued…...
__ADS_1