Lost In The Nightmare

Lost In The Nightmare
Who Is It?


__ADS_3

...NIGHTMARE 16...


...Who is 'it'?...


"Ji, ada yang ingin aku konsultasikan denganmu." Rizal menaruh mangkuk kosong yang berada di tangannya ke atas lemari kecil dimana mangkuk milik Kurnia juga berada.


Tepat setelah Rizal mengucapkan kalimatnya, sekelompok petir yang berada di langit hitam yang bebas menyambar satu sama lain—berlomba menghasilkan suara yang paling besar dan hebat. Beberapa kilatan cahaya berhasil menyelusup masuk melalui jendela-jendela kamar, dan suara menggelegar yang terdengar hingga menusuk gendang telinga membuat seorang perempuan yang bernama Jihan terkejut setengah mati.


"KYAAA!"


Secara reflek, Jihan menutup daun telinganya dengan menggunakan kedua tangannya yang kecil. Jantungnya berdebar-debar tak karuan. Kepalanya tertunduk dalam. Dan kelopak matanya menutup dengan sangat erat, sehingga tidak ada secercah cahaya yang mampu memaksa masuk ke dalam matanya.


Melihat Jihan yang bereaksi seperti itu, tiba-tiba Rizal teringat akan suatu peristiwa masa lalu yang menyatakan bahwa Jihan takut dengan suara petir yang seakan-akan marah kepadanya.


Entah ada angin apa, Rizal langsung memeluk Jihan dengan sangat erat. Tangan kanannya bergerak untuk mengelus pelan rambut dark brown Jihan yang halus. Berusaha untuk menenangkannya. Di pikirannya kembali berputar pertanyaan mengenai reaksi Jihan terhadap suara petir yang belakangan ini ia hiraukan.


"Kenapa belakangan ini kau tidak ketakutan saat ada petir?" tanya Rizal langsung to the point.


Badan Jihan bergerak untuk melepaskan diri dari pelukan Rizal. "Karena Fitri pernah bilang, sebenarnya hujan itu sangat menenangkan dan membuat semua merasa bahagia. Sedangkan petir itu bersuara kencang bukan karena marah kepada kita, tapi karena suatu kejadian alam yang dimana kedua angin barat dan timur saling bertabrakan satu sama lain sehingga menghasilkan cahaya kilat dan suara yang memekakkan telinga."


Kini Rizal hanya memandang gadis di depannya dengan tatapan tidak mengerti mengapa perkataan Fitri sungguh berpengaruh besar bagi masalah ketakutan Jihan terhadap petir. "Lalu, mengapa tiba-tiba kau tidak takut terhadap petir?"


Jihan menjepit dagunya di antara jari telunjuk dan ibu jari tangan kanannya. "Karena jika dipikir-pikir lagi perkataan Fitri itu ada benarnya juga." Jihan mengedikkan bahunya. "Yah, menurutku."


Keduanya terdiam di dalam ritme backsound rintikkan hujan yang mulai menderas seketika. Hingga suara Jihan yang sudah kembali normal seperti biasa memecah keheningan yang terbentang luas di antara mereka.


"Zal? Kau bilang ada sesuatu yang ingin kau tanyakan padaku. Apa itu?" Jihan memasang tampang polosnya kembali, sehingga membuat dia bertambah imut.


"A—" Bibir Rizal terasa kaku. Ingin berkata, tapi tidak bisa berkata. Seperti ada suatu perasaan yang mengganjal pikiran dan perbuatannya. Sulit. "Tidak. Tidak jadi. Lupakan."


Perkataan Rizal membuat Jihan memiringkan kepalanya ke kanan. "Kenapa kau tidak jadi bertanya? Padahal kau yang bilang ingin mengkonsultasikan sesuatu kepadaku."


Rizal merangkai kata-katanya sejenak. Kepalanya sedikit tertunduk, iris matanya menatap lembut seprei ranjang yang berwarna putih. "Tidak. Tadi aku hanya berpikir bahwa walaupun aku ini genius, tapi aku langsung menjadi orang bodoh jika sudah berhadapan dengan—"


"Cinta?"


Kepala berambut seperti pantat ayam itu menengadah untuk menatap Jihan yang sedang menatapnya sembari tersenyum kecil. "Dari mana kau tahu?" tanya Rizal terkesiap.


Suara tawa kecil keluar dari pita suara Jihan. "Dari kalimatmu itu sudah terlihat dengan jelas, tahu! Aku juga pernah membaca sebuah buku yang ada kalimat seperti yang kau bicarakan tadi."


"Oh... Yah, seperti itulah."


"Jadi, kau bermasalah dengan cinta?"


"Tidak bermasalah, hanya bingung." Rizal menggaruk-garuk kepalanya, berusaha menutup-nutupi kenyataan bahwa ia bodoh dalam hal cinta.


Jihan menarik nafas dan menghembuskannya dengan sangat kencang. "So, kau jadi berkonsultasi denganku?"


Iris onyx-nya menatap Jihan dengan lembut. "Tidak."


Jihan mengernyitkan dahinya. "Kenapa? Bukannya kau tidak mengerti mengenai kata cinta?" Ia sedikit menggoda Rizal agar mau menceritakan hal apa yang membuat ia bingung akan cinta.


"Tidak apa-apa, aku hanya ingin belajar dan memahaminya sendiri. Dan... bukannya kau bilang kau juga tidak begitu mengerti mengenai apa itu cinta?"


Skakmat. "Yah, tapi 'kan aku juga membaca beberapa buku mengenai hal yang seperti itu, jadi... aku juga sedikit mengerti mengenai apa itu perasaan cinta, yah... walau tidak pernah merasakannya, sih..." jelas Jihan bertele-tele.


Rizal mengangkat sebelah alisnya. "Itu artinya kau kurang profesional karena kau sendiri tidak pernah merasakannya." Rizal membuang tatapan matanya dari Jihan sembari melipat kedua tangannya di depan dadanya. "Aku tidak ingin berkonsultasi dengan orang yang tidak profesional." Keangkuhan keluarganya yang mengalir di dalam tubuhnya mendadak keluar begitu saja.


Jihan menyipitkan matanya dan memasang wajah cemberut. "Baiklah, Tuan Muda Dokter Rizal! Aku memang tidak profesional, tapi aku lebih mengetahui bagaimana ciri-ciri perasaan cinta."


Rizal terkekeh kecil akan panggilan-buatan-dadakan yang diberikan Jihan untuknya. Seketika tawa mereka meledak di dalam kamar karena sifat mereka yang sama-sama keras kepala itu.


.......


...+++~Lost~+++...


.......


Kurnia terus berjalan menelusuri lorong kamar villa yang berada di lantai dua hingga kakinya berhenti melangkah di depan sebuah pintu yang berjarak tidak jauh dari pintu kamar yang baru saja ia sandarkan tadi. Ia mengetuk daun pintu itu pelan.


Tak lama, munculah sebuah suara laki-laki yang berasal dari dalam sana. "Masuk saja, tidak dikunci."


Kurnia membuka pintu yang ada di depannya setelah menghembuskan nafas panjang. "Hai, San! Lama tidak bertemu!" sapa Kurnia dengan semangatnya seraya memasuki ruangan dan menutup kembali pintu yang telah dibukanya.


"Bukannya kita baru saja bertemu saat kau memberikan semangkuk bubur ke sini, hah?" tanya Sandi yang sedang sibuk mengatur bantal kepala Fitri agar perempuan yang tertidur di kasurnya merasa nyaman.


"O-oh, iya, ya..." Kurnia menggaruk bagian belakang kepalanya sembari tersenyum renyah.


Entah kenapa, Sandi merasa aneh dengan melihat senyuman yang terpampang dari wajah Kurnia. "Apa yang sedang terjadi denganmu? Biasanya jika kau sedang memikirkan sesuatu, pikiran dan senyumanmu pasti menjadi kacau seperti itu."


Walau hati Kurnia sedikit terkejut mengapa Sandi mengerti mimik wajahnya, tapi yang pasti sekarang ini ia tidak dapat menahan perasaannya lagi. Kurnia menatap Sandi dengan tatapan berkaca dan sedikit terisak. "Sandi..."


Sandi membelalakkan matanya. "Tu-Tunggu dulu," pasti dia akan melakukan seperti yang waktu itu lagi, lanjutnya dalam hati.


Tangis Kurnia tidak dapat terbendung lagi. "HWAAA! SANDI!" rengek Kurnia seraya langsung berlari dan menerjang Sandi. Lebih tepatnya, memeluknya.


"Kur! Bisa 'kah kau lepaskan tanganmu dari badanku?" seru Sandi dengan nada tinggi sembari berusaha untuk melepas kedua tangan Kurnia yang sedang melingkar di pinggangnya, sedangkan wajah Kurnia terbenam di dadanya. Membuat Sandi merasa jijik seketika.


Setelah beberapa lama Sandi berkutat dengan kedua tangan Kurnia, pada akhirnya Sandi berucap, "OK, aku menyerah, jadi, ceritakan lah apa permasalahanmu sekarang."


Kurnia menengadahkan kepalanya ke arah Sandi yang sedang menatapnya dengan wajah yang bercahaya kembali. "Benar, 'kah?"


"Iya," jawab Sandi malas-malasan.


"Yeah! Mari kita mulai!" sahut Kurnia antusias sembari menarik sebuah kursi dan mendudukinya. Kurnia berpikir sejenak. "Kita mulai dari mana, ya?"

__ADS_1


Sandi menatap geram Kurnia. "Mau cerita, atau tidak?" katanya dengan menekankan dua kata di dalam kalimatnya.


"Baiklah, aku akan bercerita."


Kurnia saat ini sedang bertarung dengan hati dan pikirannya. Ia ingin bercerita, tetapi dalam satu sisi ia merasa tidak enak dengan perasaan hatinya. Perasaan bingung melanda dirinya sekarang.


Di arah yang berlawanan dengan Kurnia, Sandi tengah mengamati sikap Kurnia yang berbeda dari biasanya—dan jarang terlihat ini. Entah kenapa, ia jadi teringat akan suatu momen dimana Kurnia pernah menampilkan ekspresi wajah seperti sekarang ini saat mereka sedang berdua di suatu tempat.


"Kau pasti sedang memikirkan Jihan, ya?"


Kurnia langsung menatap Sandi dan membelalakkan iris aquamarine-nya. "Dari mana kau tahu? Kau bisa membaca pikiran orang, ya?" ucap Kurnia ceplas-ceplos.


Dengan perasaan kesal, Sandi menyentil dahinya sekeras mungkin. "Jangan asal bicara. Aku hanya menduga karena kau pernah menunjukkan wajah seperti ini saat kita membahas perasaan kau kepada Jihan beberapa hari yang lalu, sebelum kita terjebak di pegunungan yang menyebalkan ini."


"Oh, jadi aku pernah seperti ini di depannya, ya?" tanya Kurnia kepada dirinya sendiri. Membuat Sandi yang mendengar pertanyaan Kurnia yang seperti itu menjadi kesal serta mengeluarkan aura gelap.


Untuk menghindar dari cengkraman gelap aura Sandi, Kurnia mengambil langkah aman—yaitu menampilkan senyuman menawannya sembari tertawa cengengesan. "Bercanda, kok."


Sandi menghela nafas, berusaha sabar. "Jadi, apa permasalahanmu dengan Jihan sehingga dapat membuatmu seperti ini?" tanya Sandi langsung ke inti.


"Entahlah, tidak tahu kenapa tiba-tiba aku merasa nyeri saat aku melihat Rizql meng-geng-gam tangan Jihan tadi," ujar Kurnia seraya memaksa mengeluarkan kata 'menggenggam' yang sulit diucapkan olehnya.


Otak Sandi bekerja untuk menganalisis perkataan Kurnia. "Lalu?"


"Lalu..." Kurnia kembali berpikir sejenak. "Lalu aku cepat-cepat menghabiskan makananku dan pergi ke sini," kata Kurnia dengan disertai senyuman bagaikan sinar matahari miliknya.


Sandi menggeram sedikit. "Kau ini..." rutuknya kepada Kurnia yang masih cengengesan. Setelah sejenak berpikir, Sandi memutuskan untuk mengucapkan sebuah pertanyaan kepada Kurnia.


"Sekarang, aku yang akan bertanya kepadamu." Kedua tangannya ia lipat di depan dadanya. "Apakah kau menyayangi Jihan?"


"Menyayangi? Tentu saja, aku sangat menyayanginya! Jihan itu satu-satunya teman perempuanku yang sangat berharga!" seru Kurnia dengan semangat membara.


Sandi menyipitkan matanya. "Kalau itu aku sudah tahu!" Ia berusaha menjelaskan kata menyayangi yang ia bicarakan tadi. "Maksudku, kau menyayangi Jihan dengan sepenuh hati, bahkan kau pernah berpikir untuk memilikinya. Itu maksudku."


Seketika Kurnia mematung hingga ia lupa bernafas. "K-Kalau itu, sih..." Kurnia ragu untuk mengucapkan kalimatnya. Kini pikirannya yang lamban sedang sibuk untuk memikirkan jawaban yang tepat dari perkataan Sandi.


Tahu 'kah kau, Sandi? Kalimatmu itu hampir membuat Kurnia tidak bernafas.


Sandi menggaruk belakang kepalanya. "Bagaimana? Iya, atau tidak?"


"Kau ingin aku berkata jujur atau tidak?"


"Jujurlah."


Kurnia berdeham keras. Berusaha mengubur rasa malunya sedalam mungkin. "Sejujurnya, iya." Kurnia menambahkan, "Bahkan aku merasa malu karena aku pernah berpikiran untuk mendapatkannya." Hati Kurnia bergemuruh dan berdebar-debar.


Sandi menjentikkan jarinya. "Kalau begitu, berarti kau jatuh cinta kepadanya!" putusnya kemudian.


Kurnia membelalakkan matanya. "Apa maksudmu? Aku selama ini terus menganggap bahwa Jihan adalah sahabat perempuanku yang sangat ku sayangi dan selalu ingin ku lindungi!" elak Kurnia.


"I-iya, sih..." jawab Kurnia terbata-bata. "Tapi, apakah aku benar-benar jatuh cinta kepadanya? Jihan? Sahabatku sedari kecil yang berambut dark brown dan mempunyai wajah imut dan putih serta menggemaskan itu?"


"Dari penjabaran kalimat akhir pertanyaanmu saja sudah ketahuan bahwa kau suka padanya, Kur..." gumam Sandi seraya mengusap dahinya dengan jemarinya yang telah mendingin. "Itu tandanya dirimu mencintai Jihan tanpa kau sadari sedikit pun."


Kurnia mengangkat alisnya tak percaya. "Apakah benar-benar ada perasaan cinta yang seperti itu?"


"Tentu ada," jawab Sandi singkat.


"Contohnya?"


"Kau."


Kurnia tertawa meremehkan seraya membuang wajahnya. Ia kembali menatap Sandi. "Selain diriku."


"Hatimu."


Kurnia mendengus kesal. "Selain itu?"


"Pikiranmu."


"Aish... Bisa 'kah kau tidak menjawab semua hal yang berhubungan denganku? Aku 'kan bertanya selain diriku."


Sandi mengedikkan bahunya tidak tahu. "Karena aku baru melihat dan mendengar secara langsung cinta tanpa kesadaran jiwa dan raga seperti ini." Ia mengangkat kedua alisnya sekilas, menagih jawaban atau sedikitnya respon yang akan dilontarkan oleh Kurnia.


Dan yang hanya dapat dilakukan oleh seorang Kurnia saat ini ialah menatap Sandi dengan tatapan bertanya: apakah perkataan dan prediksinya dapat dipercaya? Mungkin sekarang Kurnia sedang pusing tujuh keliling tentang perasaannya sendiri sekarang ini.


Apakah kalian pernah merasakan perasaan cinta seperti ini? Perasaan cinta yang telah tumbuh dan berkembang menjadi sebuah perasaan yang besar tanpa kalian sadari? Lalu... apakah kalian telah mengutarakannya? Atau masih kalian pendam di dalam hati kalian sedalam mungkin? Ingatlah, penyesalan selalu datang belakangan tanpa belas kasihan.


"Bagaimana?" tanya Sandi yang sudah tidak sabar menunggu reaksi dari Kurnia akan apa yang telah ia ucapkan tentang perasaan aneh Kurnia itu. "Apakah kau percaya dengan perkataanku?"


Kurnia menghembuskan nafasnya secara tegas. "Entahlah. Mungkin aku akan mendapatkan jawaban yang tepat mengenai benar atau tidaknya perkataanmu tadi. Cepat atau lambat."


Sandi menyunggingkan sebuah senyuman. "Kalau itu, sih, terserah kau saja." Sekelebat pertanyaan muncul di pikirannya. "Kur, apakah kau tidak pernah bertanya-tanya mengenai perasaan Rizal sendiri?"


Kurnia mengangkat sebelah alisnya. "Maksudmu?"


"Tidak ada apa-apa, aku hanya bertanya-tanya dengan diriku sendiri. Aku sempat berpikir, kalian bertiga: dirimu, Jihan, dan Rizal sudah berteman sejak kecil—"


"Sa-ha-bat sejak kecil," koreksi Kurnia.


"Iya, sa-ha-bat sejak kecil. Lalu, tanpa disadari kau menyukai Jihan yang adalah sahabat sedari kecilmu itu." Sandi menatap Kurnia dalam. "Apakah kau pernah berpikiran kalau Rizal juga memiliki perasaan yang sama kepada Jihan seperti perasaanmu kepadanya sekarang?"


Mata Kurnia mengeras. Bayang-bayang pikirannya kembali membawanya untuk mengingat suatu adegan yang tertangkap oleh mata telanjangnya dimana Rizal sedang menggenggam tangan Jihan saat Kurnia memasuki kamar villanya. Tapi dengan cepat, Kurnia menepis semua pikiran negatifnya sejauh mungkin dari ingatan di otaknya.


Kurnia tertawa renyah. "Mana kutahu? Aku saja tidak menyadari perasaanku yang sesungguhnya kepada Jihan, apalagi kalau disuruh menduga perasaan orang lain terhadap Jihan?"

__ADS_1


"Orang lain?" Sandi menegaskan, "Bukan orang lain, tapi dia ini adalah seorang Rizal Ardiansyah. Seseorang yang telah menjadi salah satu teman sepermainan mu sejak kecil. Dan juga Jihan."


Kurnia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ah, sudahlah! Untuk memikirkan perasaanku sendiri kepada orang lain saja sudah susah, apalagi juga memikirkan perasaan orang lain kepada orang lain? Otakku lama-lama bisa pecah."


"Yah, kalau begitu jangan dipikirkan. Aku sedang bertanya kepada diriku sendiri saja," ucap Sandi menyudahi percakapan di antara mereka.


Kurnia memajukan bibirnya. "Huh, ya sudah, aku ingin kembali ke kamarku saja!" seru Kurnia sambil bangkit berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju pintu keluar kamar itu.


Sebelum sepenuhnya ia keluar dari kamar, Kurnia mengucapkan suatu hal kepada Sandi yang kini sudah bergerak untuk mengamati Fitri, "San..."


Sang empunya nama menolehkan kepalanya ke arah sumber suara yang memanggil nama kecilnya.


"Terima kasih!" Kemudian, pintu pun tertutup secara sempurna setelah mendapat respon sebuah senyuman kecil dari Sandi.


Setelah Kurnia telah keluar dari kamarnya, Sandi kembali menatap Fitri yang sedang terbaring lemas di atas tempat tidur kamar Sandi. Mata Sandi menangkap suatu zat cair tengah keluar dan menjalari pipi Fitri dari matanya yang terbuka sedikit demi sedikit. Isak kan tangis yang tertahan terdengar pelan dan kecil. Pada saat inilah Sandi menyimpulkan bahwa... Fitri menangis.


Dengan perasaan iba, Sandi mengelus kepala Fitri. Berharap Fitri segera menyelesaikan tangisnya. "Maaf, padahal aku tidak ingin kau mendengar percakapan antara aku dan Kurnia barusan. Tapi saat kupikir lagi... ini juga demi kebaikanmu yang telah menyukai Kurnia dengan sepenuh hati."


Sandi menyeka air mata Fitri dengan jarinya. "Sebelum kau terlalu menggenggam Kurnia dengan erat, akan lebih baik jika kau mengetahui hal sebenarnya bahwa Kurnia tidak mencintaimu, dia tengah mencintai orang lain tanpa sadar. Bukan 'kah Kurnia itu bodoh, Fit?"


Sandi tersenyum. "Tidurlah. Dan lupakanlah dia."


Secara perlahan tapi pasti, kelopak mata Fitri mulai menutup dengan sendirinya. Badannya tak kuasa menahan lelah akan rasa sakit yang dirasakan, dan sisa kekuatannya sudah habis yang telah digunakannya hanya untuk menangis.


.......


...+++~Lost~+++...


.......


Jarum detik sebuah jam dinding di suatu kamar terus bergerak tanpa henti. Suara detik kan jam tersebut mengisi seluruh ruangan yang hening dan sepi. Tidak ada suara perbincangan. Tidak ada suara benturan dan pergerakan benda. Hanya detik kan yang terdengar.


Tampak seorang perempuan berambut indigo—bernama kecil Fitri—sedang menggeliat di atas tempat tidur, tidak bisa tidur. Beberapa kali ia mencoba menggulingkan badannya menghadap kiri lalu ke kanan, dan berbagai macam gaya telah ia lakukan, tapi tidak ada yang dapat membuatnya tenang.


Secara tiba-tiba, suara selain detik kan jam muncul tanpa aba-aba. Suara perut seorang Fitri yang sedang meminta untuk diisi makan. Karena tidak tahan dengan perutnya yang kosong, akhirnya Fitri memutuskan untuk membangunkan orang di sebelahnya yang nampak sedang tertidur pulas memunggungi Fitri.


"San, bisakah kau temani aku untuk mencari makan di dapur?" tanyanya dengan suara kecil. Takut mengganggu acara tidur seorang yang sedang terlelap.


Pemuda yang merasa terusik mimpinya itu menolehkan kepalanya untuk melihat sosok perempuan di balik punggungnya. "Memangnya kau sudah lapar?"


Dengan rasa malu, Fitri menganggukkan kepalanya sedikit. Tadinya ia ingin turun ke dapur sendirian, tapi entah kenapa ia malah membangunkan Sandi di sebelahnya.


Sandi menguap lebar yang ditutupi oleh salah satu tangannya. "Baiklah, ayo," ajak Sandi yang masih terkantuk-kantuk. Dilihatnya jam dinding menunjukkan jam dua lewat tiga belas dini hari.


Mereka berdua menuruni anak tangga untuk menuju lantai satu villa setelah bergegas keluar dari kamar pembawa mimpi mereka. Fitri yang sedari tadi melihat Sandi jalan terhuyung-huyung demi menemaninya makan, kini hatinya merasa tidak enak dan berbeban berat.


"I-itu, San, kau tunggu aku di sofa saja, ya?" titah Fitri yang berbentuk sebuah pertanyaan saat mereka tiba di salah satu ruangan lantai satu villa. Ruangan terakhir.


Sandi mengucek matanya yang masih tidak ingin bekerja sama dengan otaknya sembari menguap kembali. "Tidak apa, aku akan menemanimu hingga ruang dapur."


"T-tidak perlu, lebih baik kau beristirahat di sofa saja, nanti aku bisa meminta tolong pelayan villa ini untuk memasakkan suatu makanan untukku, kok... ya?"


Iris onyx Sandi menatap Fitri dengan perasaan khawatir. "Yakin tidak apa-apa?" tanya Sandi yang hanya dijawab sebuah anggukkan kepastian dari Fitri.


"Kalau kau memang mau seperti itu, baiklah, aku akan menunggumu di sini." Sandi melanjutkan perkataannya, "Jika ada apa-apa yang terjadi padamu panggil aku atau teriak saja, nanti pasti aku akan menyusul mu, OK?"


"Iya." Fitri melangkah menjauhi ruangan terakhir—meninggalkan Sandi di belakang sendirian—seraya berkata, "Terima kasih, San!"


Sandi tersenyum sekilas masih dengan wajah kantuknya. "Sama-sama."


Setelah menjawab ucapan terima kasih dari Fitri yang telah menjauh, Sandi memposisikan dirinya berbaring horizontal di atas sofa yang panjang. Dengan pasti, matanya cepat menutup karena beratnya rasa kantuk dan lelah yang menimpa dirinya.


Langkah kaki mungil Fitri terus bergerak menuju dapur villa yang berada terpisah—tidak jauh—dengan bangunan villa yang ditempati oleh dirinya serta Kurnia dan kawan-kawan. Saat tiba di lorong menuju dapur dan ruang makan, tidak ada seorang pelayan pun yang tertangkap oleh mata Fitri yang sudah puas dengan masa tidurnya. Apakah seluruh pelayan villa sudah tertidur nyenyak di kamar mereka masing-masing?


Fitri menghela nafas pelan. "Kurasa, aku yang harus mengambil dan membuat makanan sendiri," gumamnya pada diri sendiri dengan suara yang gemetar dan sedikit serak.


Ia terus melangkahkan kaki jenjangnya menelusuri lorong menuju dapur. Bulu kuduknya bergidik ngeri. Seluruh pikirannya telah dipenuhi oleh pikiran-pikiran negatif yang tiba-tiba terpikir bersamaan dengan rasa merindingnya. Beberapa kali ia berusaha untuk mengenyahkan pikiran negatif tersebut dari kepalanya dengan cara menggeleng-gelengkan nya dengan kencang. Sedikit membuahkan hasil.


Sekitar beberapa jarak dari pintu dapur yang ada di depan mata, Fitri merasa ada sesuatu yang sedang mengawasi dirinya dengan hati-hati di belakangnya. Ia memberhentikan langkah kakinya sesaat—dimana tepat di kanannya terdapat sebuah pintu ruang makan yang terbuat dari kaca yang memantulkan bayangan dirinya dengan sangat jelas di sana karena ruang makan tersebut gelap gulita. Fitri menundukkan kepalanya ke bawah, berpikir keras apa yang harus ia lakukan sekarang ini. Detik ini.


Dan akhirnya, satu-satunya jalan yang tersisa untuknya adalah menolehkan kepalanya ke belakang mau tidak mau. Fitri menarik nafas—mengumpulkan segenap keberaniannya yang ada, menghadapkan badannya seratus delapan puluh derajat ke belakang, dan...


Kosong.


Iris mata lavender nya menjelajah setiap sudut lorong yang ada. Nafasnya memburu. Jantungnya berdebar kencang. Entah apa yang terjadi kepadanya, harusnya ia bernafas lega, tetapi jantungnya terus berdebar dan tidak mau bekerja sama.


Tiba-tiba bola mata Fitri mengeras. Ada sesuatu di sebelah kirinya. Sesuatu tengah mengamatinya, sama seperti di belakangnya tadi. Kini jantung berdetak lebih cepat dari sebelumnya sehingga membuat Fitri harus menambah pasokan oksigen dari mulutnya. Ia merasa pengamat yang berada di sebelahnya ini terasa lebih dekat dengannya.


Tanpa pikir panjang lagi, Fitri menolehkan kepalanya ke arah kirinya dengan takut-takut secara perlahan. Matanya membelalak lebar ketiak ia melihat bayangan yang terpantul dari pintu kaca ruang makan yang gelap berwujud Deni dengan kepalanya yang menggelayut lemas di sisa-sisa daging lehernya karena setengah terpenggal. Pisau yang kepala pelayan itu pakai masih menancap pada lehernya. Seluruh badan dan wajah Deni berlumuran darahnya sendiri yang masih segar. Bola matanya yang sedang menatap Fitri seperti ingin keluar dari tempatnya. Deni berjarak sangat dekat dengannya.


Dengan tergesa-gesa, Fitri berusaha melarikan diri dari bayangan Deni yang terpantul di pintu kaca ruang makan tersebut. Ia berlari tertatih-tatih ke dapur dan menyalakan sebuah lampu berwarna kuning setelah mengunci pintu dapur tersebut. Nafasnya terengah-engah luar biasa. Ia sulit berteriak karena saking ketakutannya, untungnya ia masih bisa berlari selain berteriak.


Fitri mengatur nafasnya sesaat sembari berjalan ke arah tempat pencuci piring berada dengan kaki yang sedikit gemetar. Sesampainya di sana, tangannya bergerak untuk membuka keran tersebut dan menangkupkan kedua tangannya di bawah air keran yang mengalir deras. Ia membasuh wajahnya dengan air dingin—berusaha mendinginkan kepalanya sesaat. Setelah merasa semua cukup, Fitri mematikan keran air serapat-rapatnya. Bibirnya berusaha membentuk sebuah senyuman guna untuk menghibur dirinya sendiri setelah mengalami hal mengerikan—yang berusaha ia lupakan—tadi.


Suara desingan pisau yang saling digesekkan satu sama lain, tiba-tiba terdengar dari balik punggung Fitri. Suara desingan itu semakin lama semakin mendekat. Jantung Fitri kembali berdegup kencang. Indra pendengarnya terpaku dengan suara desingan dari arah belakangnya yang kian lama kian membesar. Anehnya, gendang telinga Fitri tidak menangkap sama sekali adanya suara ketukkan sepatu seseorang. Jadi, apa?


Tiba-tiba suara desingan itu menghilang dengan sendirinya. Sunyi. Telinga Fitri tidak menangkap suara apapun. Ia meneguk air liurnya sendiri sembari memejamkan matanya, mengubur rasa takut yang ada pada dirinya. Hingga suatu ketika, sebuah suara gesekkan pisau itu kembali hadir. Walau hanya suara sekali gesekkan, tapi entah mengapa suara itu terdengar sangat dekat dengan telinga Fitri.


Mata Fitri kembali mengeras sesaat. Rasa penasaran dan takut bercampur aduk di dalam dirinya saat ini. Sekelebat bayangan Deni yang ia lihat tadi memenuhi seluruh pikirannya.


Lalu, Fitri pun membalikkan badannya secara tegas hingga tertangkap lah sesosok itu oleh retinanya lengkap dengan pisau di tangannya dan...


"KYAAAAAAA!"


...~Lost In Nightmare~...

__ADS_1


...To Be Continued…...


__ADS_2