Lost In The Nightmare

Lost In The Nightmare
The Bodies Have Been Found


__ADS_3

...NIGHTMARE 11...


...The Bodies Have Been Found...


Secercah cahaya mencoba menerobos masuk melalui kelopak matanya yang menutup dengan rapatnya. Karena tidak dapat menahannya, pada akhirnya kelopak mata itu membuka secara perlahan –untuk beradaptasi dengan cahaya yang masuk, sehingga iris matanya yang hitam kelam dapat terlihat dengan sangat jelas.


Selain cahaya yang mengganggu tidur dan matanya yang sudah menutup, suara seseorang pun turut meruak di gendang telinganya.


"Ah, Zal, kau sudah bangun?"


Mendengar ada yang menyebut namanya, Rizal menoleh ke sumber suara.


"Jihan..." Dengan seksama, ia membenarkan posisinya menjadi duduk, dan membenamkan kepalanya di punggung sofa yang empuk. "Jam berapa sekarang?"


Jihan melihat jam dinding di belakangnya. "Sudah jam 10.52 sekarang," Ia kembali menatap Rizal. "Kau tidak apa-apa?" Nada suaranya terlihat khawatir.


"Tidak apa-apa."


"Jika kau kurang tidur, tidur saja... aku sudah tidak apa-apa, kok," Jihan menunjukkan senyuman manisnya.


Rizal menghela nafas berat. "Aku sudah tidak mengantuk, lagian aku sudah tidur hampir lima jam lamanya,"


Setelah beberapa lama mereka bercakap-cakap, sebuah suara yang baru pun terdengar di telinga mereka berdua.


"Hoam!"


Kurnia merenggangkan badannya yang pegal karena tidurnya dan terlalu lelah mencari Novi tadi pagi, lalu ia pun mulai mengedarkan pandangan di sekelilingnya. "Oh, Pagi, Jihan, Zal!"


"Hn." jawab Rizal dengan malas-malasan.


"Pagi, Kur." jawab Jihan sembari tersenyum.


Iris Sapphire-nya bergerak-gerak mencari sesuatu. "Dimana Sendi... dan Fitri?"


"Mereka sedang berada di lantai atas untuk mengambil barang-barang yang mungkin akan kita butuhkan nanti," tukas Jihan dengan sangat lugas dalam pembicaraannya. Emeraldnya menatap Onyx di sebelahnya. "Terima kasih, ya, Zal... kau sudah mau merawatku tadi, maaf sudah merepotkan!" Jihan sedikit membungkuk.


"Tidak apa-apa, itu sudah menjadi kewajibanku." ucap Rizal seraya menyuruh Jihan untuk menegakkan kembali badannya.


Melihat adegan seperti itu, Kurnia hanya dapat menatap dan memanyunkan bibirnya. Sehingga nampaklah wajahnya yang semakin ancur dibuatnya.


"Wah, wah, tampaknya sudah ada dua orang yang terbangun dari tidurnya!"


Semua kepala menoleh kearah bawah anak tangga. "Sendi!" seru Jihan dan Kurnia berbarengan. Kecuali Rizal, ia hanya menatap Sendi beserta Fitri di sampingnya yang telah membawa banyak barang di masing-masing tangan mereka.


Sendi dan Fitri melangkah maju mendekati meja dan menaruh semua barang yang dibawanya.


"Ba-bagaimana tidur kalian?" tanya Fitri malu-malu.


"Sangat menyenangkan pastinya!" jawab Kurnia dengan semangat yang tinggi.


Mendengar seruan Kurnia membuat Fitri menunduk sedalam-dalamnya, berusaha menyembunyikan wajahnya yang telah bersemu merah.


"Ka-kau kenapa lagi Fit?" Kurnia kembali was-was dengan kondisi Fitri.


"Ti-tidak apa-apa, kok, Kur,"


"Masa'? Yakin?" Kurnia tambah was-was.


"B-benar!"


"Bisa 'kah kalian tenang sedikit? Suara kalian mengganggu acara tidur nyenyak ku, tahu?"


Sendi menatap sang empunya suara. "Pagi, San!" tidak ketinggalan pula dengan senyum andalannya.


"Bisa 'kah kau berhenti tersenyum seperti itu, Sen? Senyumanmu semakin lama semakin memuakkan, kau tahu?" Sandi menautkan sebelah alisnya.


Sendi tambah memperlebar senyumannya. "Dengan senang hati, teman."


Sesaat adegan konyol itu berlalu, suara para pelayan pun ikut menghiasi dengungan suara di ruangan terakhir tersebut.


"Selamat pagi, Tuan dan Nona Muda!" ujar para pelayan yang mulai memasuki ruangan tersebut dengan senyuman tulus nan hangat di wajah mereka. "Kami membawa makanan yang dapat dicerna dengan mudah oleh anda sekalian yang masih belum pulih sepenuhnya."


Dengan perut yang hampa dan belum diisi makanan apapun, mereka pun dengan antusias mendekatkan diri ke meja, baik yang berada tepat di depan sofa yang mereka duduki maupun yang berdiri dekat dengan meja. Menanti-nantikan makanan yang akan disajikan di depan mata.


Ketika para pelayan satu persatu meletakkan makanannya, bau makanan yang menggugah selera pun dapat tercium melalui setiap hidung manusia yang berada di dalam ruangan tersebut.


Jika dilihat lebih seksama dari enam macam makanan yang disediakan mempunyai jenis yang berbeda-beda: dua mangkuk Chicken Porridge, dua mangkuk Corn Cream Soup, dan 2 mangkuk Asparagus. Jadi lapar.


Usai mengucapakan kata 'Selamat makan!' sebelum makan, tangan mereka langsung menyerbu makanan yang ada di depan mata dengan selera sesuai masing-masing.


Ajaibnya, dalam memilih makanan mereka tidak mengalami ritual berebutan-makanan, karena mungkin dalam keluarga mereka telah biasa salam bersikap sopan dalam hal makan.


Satu-persatu dari mereka pun mulai memakan makanan yang telah dibuat pelayan Villa tersebut dengan sopan dan sangat menikmati.


Tidak beberapa lama kemudian setelah makanan habis, minuman yang berupa teh tawar hangat pun disajikan oleh para pelayan yang dibawakan dengan sebuah nampan perak.

__ADS_1


Secara bersamaan pula mereka menyesap teh hangat yang cocok diminum pada saat hujan lebat kembali melanda di luar sana setelah hanya beberapa lama berhenti.


"Apakah anda semua sudah mulai baikkan dari kondisi sebelumnya?" Suara tanya Deni memecah keheningan yang terjadi sesudah dentingan sendok dengan mangkuk makanan yang memenuhi ruangan.


Sendi mengangguk sekali dan berkata, "Ya, seperti yang kalian lihat, kondisi kami telah menjadi lebih baik dari sebelumnya. Terima kasih atas bantuannya." Sendi memejamkan mata dan menunduk. Tingkah laku Sendi mewakilkan temanya yang lain.


"Ah, anda sekalian tidak perlu sungkan, itu semua sudah menjadi tanggung jawab dan tugas kami sebagai pelayan Villa ini." ucap Rizki dengan mengangkat tangannya setengah keatas hingga punggung tangannya membelakangi wajahnya yang tersenyum tulus.


Kurnia meletakkan tangannya ke belakang kepala sambil menyenderkan punggungnya kembali ke sofa. "Tidak apa-apa, jika tidak ada kalian... siapa lagi yang akan menolong kami, ya 'kan, Fit?" Mata Kurnia melirik ke arah Fitri.


Saat iris Sapphire dan Amethyst bertemu pandang, membuat wajah Fitri mengeluarkan guratan merah di wajahnya. "I-iya, Kur!" Wajahnya tertunduk karena malu ditatap Kurnia dengan cara seperti itu.


Indra memandangi tamunya secara hati-hati. " Hmm... Tuan dan Nona sekalian, maaf jika saya lancang, tapi saya juga tidak bermaksud menyinggung ataupun mengingat kejadian yang telah berlalu, tapi..."


"Langsung saja ke inti." ucap Rizal dengan nada tidak sabar tapi tetap datar.


Indra berdeham sebentar. "Begini, bagaimana–"


"Bagaimana kalau anda sekalian mulai menceritakan kejadian hilangnya Nona Novi kepada kami?" potong Deni dengan senyuman ularnya yang mematikan.


Hening sejenak.


"Mohon maaf 'kan kami, jika kami lancang." pinta Adam dengan membungkuk, diikuti dengan semua pelayan yang berada di dalam ruangan tersebut. Termasuk sang kepela pelayan, Deni.


Jihan yang melihat sikap formal, ralat –sangat formal para pelayan pun berbelas kasihan. "Tidak apa-apa, kok, kami juga sangat butuh orang lain untuk bercerita tentang masalah ini,"


"Kalau begitu, boleh 'kah kami mendengar cerita dari anda sekalian?" tanya Deri dengan suara sehalus mungkin.


Masing-masing dari tiap tamu Villa tersebut termenung mengingat kejadian yang menimpa salah satu sahabat mereka, tadi pagi buta.


"Kejadian itu terjadi begitu saja..."


Tiap kepala yang ada di ruangan tersebut menoleh secara serempak kearah sang empunya suara itu.


Sandi yang tadinya tertunduk, sekarang mengangkat kapalanya dan berkata, "Aku akan mulai bercerita saat ia berbicara dengan ku, sebelum ia menghilang dari hadapan kami semua..."


Iris matanya menatap mata Deni, para pelayan, dan teman-tamannya secara bergantian. "Pagi itu,"


Dan Sandi pun mulai menceritakan reka adegan yang ia ketahui sebelum hilangnya Novi dari kelompok mereka kepada Deni dan para anak buahnya.


.......


...+++~Lost~+++...


.......


Deni beserta anak buahnya yang mendengar adegan yang miris itu mulai paham dengan perasaan mereka dan perasaan iba pun mulai merambati hati mereka yang mendengar pernyataan pahit itu.


Zaki pun mulai memasang tampang iba diwajahnya. "Maaf 'kan kami, karena permintaan kami, anda sekalian harus mengingat kembali kejadian itu." Kepalanya ia tundukkan sedikit.


"Saya tidak menyangka bahwa kejadian yang biasa akan berubah menjadi luar biasa, sungguh terlalu." Deri melipatkan tangannya di depan dada seraya memejamkan mata dan menggeleng-gelengkan kepalanya, pertanda ikut merasa prihatin.


Sendi tersenyum simpul. "Bukan 'kah sudah kami bilang? Tidak apa-apa, justru kamilah yang merasa bodoh tidak dapat menjaga salah satu teman dari kami."


"Mendengar cerita dari anda membuat saya merasa turut bersedih," ucap Adam pada akhirnya saat sekian lama ia berdiam diri mendengarkan cerita.


Selintas senyuman terpampang di bibirnya. "Bukan 'kah nona Novi masih menghilang?" Zaki melirik ke arah Indra yang sedari tadi menatapnya.


Seolah tahu apa yang dipikirkan Zaki, Indra pun menimpali perkataan Zaki. "Bagaimana jika anda sekalian mengizinkan kami untuk mencari nona Novi di sekitar tempat perkemahan kalian?" tawar Indra kepada para tamunya yang terheran-heran atas tawarannya secara tiba-tiba seperti itu.


Rizal menautkan sebelah alisnya. "Yah... jika kalian dengan senang hati membantu kami untuk mencarinya, maka tidak ada masalah, bukan?" onyx Rizal menatap beberapa pasang mata temannya yang lain.


Kurnia menganggukkan kepalanya. "Tentu. Kalian boleh membantu kami untuk mencarinya." Senyuman khas Kurnia mengembang kembali pada tempatnya.


"Baiklah, kalau begitu kalian semua ikut aku!" perintah Indra kepada para anak buahnya dengan tegas.


Perasaan bingung pun mengharuskan Fitri menanyakan suatu hal. "A-apakah kami tidak ikut?" suaranya sedikit bergetar.


Salah satu dari para pelayan membalikkan badannya dan berkata, "Tidak perlu repot-repot, Nona... Kami bergerak dalam jumlah yang sebanding dengan jumlah anggota teman anda." Rizki terlihat sedang tersenyum kecil walau mulutnya ditutupi oleh sebuah masker berwarna hitam gelap.


"Tapi, apakah kalian tahu dimana lokasi kami mendirikan kemah?" tanya Jihan meneruskan pertanyaan Fitri.


"Tenang saja, Nona Jihan... Salah satu dari kami memiliki daya ingat yang kuat." Sebelah matanya yang tidak tertutup memicing ke arah Zaki, yang direspon dengan sebuah anggukkan pertanda bahwa perkataan Rizki itu benar.


'Wow, kemampuan khusus', pikir Jihan dalam hati. Ia menolehkan kepalanya ke arah Rizal yang berada di sebelahnya. 'Kalau begitu sama seperti Rizal, ya?'


Rizal yang merasa di tatap seseorang mulai melirikkan matanya ke sumber tatapan mata tersebut. "Dia berbeda dengan ku, Ji." Ucap Rizal dengan memperdalam kata 'berbeda' di kalimatnya.


"Aku tahu."


Rizal dan Jihan pun kembali menatap wajah penghuni ruangan terakhir yang lainnya.


"Baiklah, Kita berangkat sekarang!" seru Indra yang mulai berjalan dan menghilang dari pandangan kepada para tamu dan Deni di belakangnya mewakili anak buahnya yang lain.


"ngg, kau tidak ikut, ngg, kepala pelayan?" tanya Fitri kebingungan dalam penyebutan nama kepala pelayan satu itu.

__ADS_1


Deni menatap Fitri dan tersenyum. "Tidak, cukup mereka, aku harus mengatur anak buahku yang lainnya untuk melaksanakan tugasnya." Matanya yang setajam ular melihat jam pada dinding di sebelah kirinya. "Kalau begitu aku harus segera pergi, permisi, Tuan dan Nona."


Dengan santai ia pun melangkahkan kakinya keluar dari ruangan terakhir yang hangat dan nyaman tersebut.


Sebelum terlalu jauh, ia menolehkan wajahnya ke belakang tepat ke arah para tamu. "Oh iya, dan satu lagi... silakan memanggilku Deni saja, permisi!" Sebelum memalingkan wajahnya ia tersenyum sesaat.


Dan sekarang ia pun benar-benar menghilang dari pandangan mereka setelah para pelayan yang lainnya.


.......


...+++~Lost~+++...


.......


Berjam-jam telah mereka lewati dengan sangat gelisah, oleh karena menunggu sebuah kabar yang mereka nanti-nantikan dengan sangat was-was dan dibumbui dengan rasa sedikit panik.


Hanya tedengar sebuah rintikkan hujan kecil dari luar sana, sepertinya hujan sudah mulai berhenti.


Masing-masing dari mereka yang berada pada ruangan terkahir itu terhanyut oleh pikiran yag berada dalam kepala mereka sendiri. Hingga pada akhirnya seseorang pelayan beserta suaranya yang nge-bass memecah keheningan yang ada.


"Tuan, Nona, mereka sudah kembali. Silakan menuju keluar untuk mengetahui kabar dari mereka."


Sontak mereka semua –yang tadinya sedang duduk santai diatas sofa yang empuk –bangkit berdiri secara bersamaan dari tempatnya. Berbarengan saat pelayan pria itu kembali meninggalkan mereka menuju ke luar Villa.


Sandi menatap yang lainnya secara bergantian, dan saling mengangguk satu sama lain. Tanpa aba-aba, mereka pun menyerbu ke luar Villa demi melihat sesosok sahabat mereka yang telah menghilang sejak setengah hari yang lalu.


DRAP DRAP DRAP DRAP DRAP!


Dengan tidak sabaran, mereka berjalan dengan setengah berlari menuju teras depan, menuruni anak tangga yang berada di depan Villa, dan bertatap muka dengan seorang pelayan yang bernama, Rizki.


"Rizki, bagaimana dengan keadaan Novi?" tanya Sandi dengan intonasi yang tinggi di pertanyaannya.


Rizki mengehela nafas sesaat. "Kami sudah menemukannya, dia..."


Tidak lama kemudian sebuah kantung jenazah hadir di depan mata mereka ber-enam. Tepat di depan kaki mereka.


Teman sekaligus sahabat mereka, Novi, berada di dalamnya dengan kondisi yang sudah sangat tidak wajar dan... sungguh-sungguh menggenaskan.


Jihan yang melihat dengan jarak yang sangat amat dekat merasa shock. Mulutnya yang ingin berteriak ia tutupi dengan kedua tangannya. Air mata yang sudah tidak dapat terbendung lagi pun mulai membasahi pipinya yang kering.


Beberapa detik setelah itu, berbagai teriakkan histeris menggelora ke seluruh Villa hutan di sekitar mereka, dengan berbagai jeritan yang kencang dan sekuat tenaga.


"NOVI!"


Fitri yang sudah tidak tahan dengan kenyataan di depan matanya, perlahan kakinya mulai melemas hingga membuat ia jatuh terduduk sambil menutup wajah dengan kedua tangannya.


Sandi merutuki dirinya dengan kata 'Damn it!' berulang-ulang kali beserta air matanya yang mengalir dari pipinya.


Rizal berusaha menahan air matanya hingga hanya sampai di pelupuk mata. Yang hanya bisa ia lakukan adalah memeluk Jihan yang telah merubah tangisan kecilnya menjadi sebuah jeritan yang tidak terima dengan kenyataan pahit yang dialami oleh sahabatnya saat Rizal memeluknya di dalam dada bidangnya.


Sedangkan Kurnia dan Sendi, mereka hanya dapat menangis di dalam diam karena terlalu shock akan apa yang ia lihat di depan matanya. Benar-benar kenyataan yang pahit.


Adegan tangis menagis pun berlalu dan berubah menjadi sebuah perasaan panik yang luar biasa. Jihan yang sangat dekat dengan Novi, dan juga melihat jasad Novi dengan jarak dekat tidak dapat lagi menopang berat tubuhnya hingga menjadi kehilangan keseimbangan dan...


"JIHAN!"


Teriak Rizal karena terkejut dengan hilangnya kesadaran Jihan yang berada di dalam pelukannya itu. Alhasil, teriakannya membuat para pelayan menoleh ke arah Jihan.


"Nona Jihan tidak apa-apa, Tuan?" tanya Deri dengan gelisah.


Rizal menggendong Jihan dan berkata, "Dia biar aku yang urus, tolong urusi yag lainnya!" perintah Rizal kepada semua pelayan yang berada di lokasi tersebut.


Sandi yang mengalami depresi berat dan mulai terhuyung-huyung pun ditopang oleh Zaki dan Adam, serta mengarahkannya agar masuk ke dalam Villa.


"Nona Fitri, saya akan membantu anda masuk ke dalam Villa." ujar Deri dengan sangat sopan seraya mengulurkan tangannya. Tiba-tiba tangannya dipegang oleh tangan yang lain.


"Tidak perlu repot-repot, Fitri biar aku yang tanganin."


"Ah, Iya!"


Dengan seksama, Kurnia membantu Fitri berdiri, dan berjalan memasuki Villa yang aman, diikuti dengan Sendi di belakang mereka.


Mereka yang masih hidup pun sudah masuk ke dalam Villa, berusaha untuk menenangkan diri dari kenyataan pahit yang melanda perasaan mereka sekarang.


Kantung jenazah Novi yang terbuka, sekarang ditutup rapat oleh para pelayan itu. Dengan hati-hati, mayat Novi yang sudah tidak bernyawa itu dibawa oleh para pelayan untuk disembunyikan di tempat yang aman.


Dan kesimpulannya, Novi pun menghilang... menghilang untuk selama-lamanya.


Sepertinya, Nightmare pertama sudah terjadi...


Pertama sama dengan Awal bukan?


Ini barulah sebuah awal dari Nightmare yang akan terjadi,


Apa yang akan terjadi dengan Nightmare berikutnya?

__ADS_1


...~Lost In Nightmare~...


...To be Continued…...


__ADS_2