
Lalu setelah beberapa saat kemudian, maka Anggi mulai masuk ke dalam rumah Bayu, dan dia segera bertemu dengan tiga orang teman Bayu yang lain di tempat tersebut.
Lalu setelah itu, mereka semua segera duduk bersama...
Kebetulan ruang tamu rumah Bayu itu, sebelumnya sudah di "Disain" sedemikian rupa oleh Bayu.
Di mana kursi-kursi yang sebelumnya tertata rapi di ruang tamu itu, maka saat itu kursi-kursi tersebut dipindahkan dari tempat semula, yaitu ke pojok ruangan.
Lalu setelah kursi-kursi itu dipindahkan, maka tengah-tengah ruangan tersebut diberi alas berupa karpet, untuk mereka mengadakan belajar bersama saat itu.
Jadi dengan kata lain, mereka semua akan mengadakan belajar bersama di lantai, dengan beralaskan karpet...
Sebelum mereka memulai dengan belajarnya itu, maka saat itu Anggi mulai bikin ulah...
Anggi yang pikirannya sedang kacau saat itu, dia terlihat agak salah tingkah...
"Anggi merasa bingung..."
Karena di satu sisi, Anggi merasa gengsi dengan keberadaannya di rumah Bayu tersebut.
Karena jika dia mengingat akan dirinya yang bermusuhan dengan Bayu itu, maka Anggi serasa tidak percaya, bahwa dirinya akan sedekat itu dengan Bayu saat itu.
Sedangkan di sisi lain, Anggi merasa apa yang dilakukan oleh Bayu, termasuk cara menyambut dan memperlakukannya dengan baik dan secara sopan tersebut, dia merasa agak tidak enak hati atau sedikit merasa malu.
Anggi merasa, bahwa Bayu yang selama ini Ia benci dan musuhi itu, ternyata bukan hanya di Sekolah saja dia berbuat baik, atau berkelakuan baik.
Akan tetapi, di rumahnya-pun dia sangat sopan...
Itu terbukti dengan cara dia menyambut, dan menghormatinya di rumahnya saat itu.
Oleh karena itu, demi menjaga gengsi yang ada di benaknya, maka seketika itu juga Anggi membuat ulah, dengan berkata kepada Bayu dan ketiga temannya di ruangan tamu tersebut.
"Anggi berkata."
"Ih... Ini tempat apaan sih...!?
"Duduk di bawah lagi.!
"Ini karpet bersih nggak sih.!?
"Jangan-jangan, kotor kali.!
"Sorry ya, gue nggak terbiasa di tempat kotor soalnya.!
"Nanti kulit gue kenal gatal-gatal, dan gue jatuh sakit lagi..." "ucap Anggi, dengan menyindir Bayu di ruangan tamu rumahnya tersebut."
"Bayu yang mendengar ucapan Anggi itu, dia terlihat tersenyum."
Bayu sadar, bahwa Anggi saat itu sedang kacau...
Ucapan yang keluar dari mulutnya-pun, itu hanyalah basa-basi belaka.
Menurut Bayu, ucapan tersebut hanyalah sebagai tanda pelampiasan salah tingkah yang dirasakannya saat itu.
Maka untuk menanggapi ucapan tersebut, Bayu meresponnya dengan baik.
"Bayu berkata kepada Anggi."
"Tenang aja Anggi...
"Ini tadi udah gue cuci kok...
"Jadi, karpet ini udah bersih...
"Jadi, elu nggak usah khawatir..."
"ucap Bayu terhadap Anggi dengan nada lembut."
"Lalu salah satu teman Bayu yang bernama "Saiful" menambahkan, dan berkata kepada Anggi."
"Dia berkata."
"Alaah... Udahlah Anggi...
"Elu gak usah bikin ulah lagi deh.!
"Kalau elu emang nggak mau bertempat di rumah Bayu ini, ya kita ke tempat lu aja...
"Gimana...??" "ucap Saiful kepada Anggi, dengan nada basa-basi pula."
Anggi yang mendengar ucapan teman Bayu tersebut, kemudian dia terdiam seketika...
"Anggi tidak bisa berbicara apa-apa lagi..."
__ADS_1
Rupanya, ucapan si "Saiful" teman Bayu tersebut, merupakan kata-kata "SkakMat" bagi Anggi...
Maka seketika itu juga, Anggi terlihat mukanya memerah, dan Anggi merasakan malu yang sangat luar biasa...
Sementara Bayu yang mengetahui perubahan sikap dari Anggi tersebut, dia kemudian segera memberikan "Kode" kepada ketiga temannya, untuk tidak lagi menanggapi ucapan Anggi, ataupun meledeknya.!
Karena Bayu tahu, bahwa Anggi sangat kacau, maka Bayu merasa sangat kasihan kepada Anggi saat itu.!
Sementara itu, diselah-sela obrolan mereka tersebut, tanpa mereka sadari ada dua pasang mata yang mengawasi mereka dari tadi dari balik Horden, antara ruang tamu dan ruang tengah rumah tersebut.
"Dan mereka rupanya adalah Pak "Sunarto" dan Ibu "Martini....."
Mereka berdua memang sengaja mengawasi dan mengintip mereka, mulai dari awal sejak kedatangan Anggi, sampai mereka semua ada di ruangan tamu tersebut.
Pak Sunarto dan Ibu Martini, mereka berdua menyaksikan tingkah laku mereka secara diam-diam.
Dan mereka merasa geli dan lucu bercampur gemas, dengan melihat dan menyaksikan tingkah laku Bayu dan Anggi mulai awal sampai akhir.
Sesekali mereka terlihat senyum-senyum sendiri, sembari saling pandang antara Pak Sunarto dan Ibu Martini.
Mereka sangat gemas dengan apa yang dipertunjukkan oleh anak-anak muda, yang ada di rumahnya itu.
"Bahkan mereka merasa, dengan melihat adegan tersebut, mereka serasa berada di zaman waktu muda dahulu, sewaktu mereka masih berpacaran."
Lalu setelah mengetahui mereka akan memulai dengan belajar bersama tersebut, maka Pak Sunarto dan Ibu Martini segera keluar dari ruangan tengah rumahnya...
Keduanya menemui mereka terutama Anggi dan ketiga teman Bayu, dengan menyapa satu persatu di antara mereka, sembari membawa minuman dan makanan kecil, untuk disuguhkan kepada mereka semua...
Lalu setelah Pak Sunarto dan Ibu Martini sampai ke ruangan tamu, dan bertemu dengan mereka, maka kemudian mereka segera menaruh makanan kecil dan minuman di tengah-tengah mereka...
Lalu kemudian, mereka berdua segera menyapa Anggi dan ketiga teman Bayu lainnya dengan ramah dan sopan...
"Lalu mereka-pun bersalaman satu persatu...."
Bagi ketiga teman Bayu tersebut, mereka memeang sudah terbiasa dan sering bertemu dengan orang tua Bayu.
Jadi mereka tidak begitu canggung terhadap keduanya...
"Akan tetapi lain halnya dengan Anggi."
Maka Anggi yang mendapat sambutan dan sapaan dengan lembut dan sopan dari kedua orang tua Bayu tersebut, dia menyambut sapaan itu dengan lembut pula, sembari bersalaman dengan keduanya...
Anggi berusaha keras menekan rasa egonya, sehingga dia tidak kuasa juga dengan sambutan yang baik terhadapnya, yang dilakukan oleh kedua orang tua Bayu di ruangan tamu tersebut.
Karena bagaimanapun juga, sekeras-keras wataknya Anggi dan seusil apapun kelakuannya, dia tetap seorang wanita, yang memiliki perasaan yang lembut pula.
Mereka serasa tidak percaya, bahwa Anggi yang mereka kenal sangat "judes" dan "pemarah" itu, dia saat itu luluh dengan sambutan dan sapaan yang dilakukan oleh orang tua Bayu.!
Maka sepintas Bayu memiliki perasaan yang haru bercampur senang, dengan melihat kejadian tersebut.
Bayu dan ketiga temannya baru tahu, bahwa watak Anggi tidak sekeras "Marvel" atau Kakaknya.
Jika Marvel, dia adalah seorang Anak muda yang tidak tahu sopan santun, dan tidak pernah menghargai orang lain, apalagi terhadap orang tua...
Sedangkan Anggi, walaupun mereka tahu saat itu Anggi merasa "JEALOUS" dan "Cemberut," akan tetapi dia masih bisa mengatasi rasa egonya, jika berhadapan dengan orang tua...
Maka dari itulah, akhirnya Bayu dan ketiga orang temannya menyadari, bahwa betapa Anggi masih bisa menghargai orang lain.
Bayu dan ketiga temannya serasa tidak percaya, bahwa Anggi masih bisa menghargai orang lain, terutama orang yang lebih tua darinya.
Seperti halnya kedua orang tua Bayu, yang saat itu menyapanya itu.
Maka dari itulah, saat itu timbul dalam benak Bayu dan ketiga temannya, bahwa bagi mereka, tidak ada alasan lagi untuk memperlakukan Anggi dengan kasar, walaupun hanya dengan kata-kata saja.
Lalu setelah Pak Sunarto dan Ibu Martini menyapa semuanya, maka kemudian mereka berdua kembali masuk ke dalam, dan melanjutkan pekerjaannya.
Mereka berdua melanjutkan kesibukannya, yaitu memasak bahan-bahan barang dagangan, yaitu "Bubur Ayam" yang akan dijual oleh Pak Sunarto besok pagi tersebut.
Sedangkan Bayu dan Anggi beserta tiga temannya yang lain, mereka mulai belajar di ruang tamu tersebut.
Dalam proses belajar itu, mereka mempelajari materi soal-soal yang diberikan oleh sang Guru, yang tadi diberikannya kepada mereka, untuk dipelajari bersama-sama, sebagai "PR" bagi mereka.
Sedangkan soal-soal itu sendiri bagi Anggi dan ketiga teman Bayu yang lain, mereka sangat kesulitan....
Akan tetapi bagi Bayu, soal-soal tersebut tidaklah begitu sulit.
Itu semua, karena memang Bayu adalah murid yang pandai dan cerdas.
Karena dia sangat rajin belajar di sela-sela waktu luang, jika dia berada di rumahnya.
Sedangkan bagi teman-teman lainnya terutama bagi Anggi, sesuai dengan apa yang telah diuraikan sebelumnya bahwa Anggi memang sangat malas untuk belajar, jika dia berada di rumahnya.
Maka tidak heran, jika Anggi ataupun yang lain merasa kesulitan, jika mendapat soal-soal yang rumit di Sekolahnya, apalagi saat itu.
__ADS_1
Sebenarnya, saat itu mereka semua merasa sangat beruntung, bahwa mereka bisa tergabung dalam kelompok yang diketuai oleh Bayu itu.
Karena sesulit apapun soal-soal yang diberikan, Bayu memang terkenal bisa mengatasi, dan selalu mendapatkan nilai yang sempurna di Sekolah.
Sehingga dalam situasi seperti saat itu-pun mereka bisa bernapas lega, karena ada Bayu di samping mereka semua.
Maka soal-soal yang tadi diberikan oleh sang Guru itu-pun, mereka saat itu bisa menyelesaikan dengan mudah.
Sementara Pak Sunarto dan Ibu Martini, mereka di sela-sela kesibukannya di dapur yang membuat masakan-masakan "Bubur Ayam" untuk dagangannya itu, mereka tidak henti-hentinya membahas tentang teman-teman Bayu, terutama Anggi.
Sebab selama ini, mereka berdua tidak tahu sama sekali tentang si "Anggi," Anak Ibu Ratna tersebut.
Jadi setelah mereka mengetahui secara dekat seperti saat itu, maka mereka tidak henti-hentinya membincangkan soal Anggi.
Yang mereka pikirkan, bukan masalah sikap dan perbuatan Anggi terhadap Anaknya saja...
walaupun mereka tahu, karena Bayu selalu bercerita tentang perbuatan Anggi dan Kakaknya di Sekolah kepada mereka berdua.
Dan walaupun mereka sempat agak merasa kecewa terhadap Anak Ibu Ratna yang bernama "Anggi" tersebut, akan tetapi setelah mereka berdua mengetahui secara dekat mengenai Anggi saat itu, maka semua perasaan itu hilang seketika.!
"Pasalnya..."
Pak Sunarto dan Ibu Martini sangat terkesan dengan sikap yang ditunjukkan oleh Anggi, terutama pada saat merespon sambutan dan bersalaman dengan mereka berdua tadi itu.!
Apa lagi setelah mereka tahu, bahwa Anggi berparas cantik dan berkulit putih serta berbadan tinggi, sehingga membuat Pak Sunarto dan Ibu Martini sangat senang kepadanya.
Sedangkan perasaan tersebut, bukan hanya dirasakan oleh Pak Sunarto dan Ibu Martini saja.!
Akan tetapi hal itu juga dirasakan oleh semua yang ada di ruangan tamu itu, "terutama Bayu."
Bayu dan ketiga teman lainnya yang biasa bertemu dengan Anggi sehari-hari di Sekolah, yang hanya berseragam Sekolah dan berpenampilan biasa saja, itu sudah lumrah menurut mereka.
"Akan tetapi hari itu, mereka merasakan hal yang lain..."
Yang mana Anggi yang datang ke rumah Bayu untuk belajar kelompok bersamanya itu, dia bukan hanya berpenampilan biasa saja.!
Akan tetapi dia berdandan sangat rapi, dan berpakaian bagus dan seksi...
Maka hal tersebut sangat memukau semua yang ada di ruang tamu itu, terutama Bayu sendiri.
Maka dengan berpenampilan seperti itu, itu sudah cukup membuat mereka semua terkesima terhadap Anggi.
Dan ditambah lagi, dengan sikap yang tadi ditunjukkan oleh Anggi terhadap kedua orang tua Bayu tersebut, sehingga membuat Bayu merasa ada perasaan yang lain saat itu, dibanding hari-hari sebelumnya.
Akan tetapi walaupun Bayu berada di atas angin saat itu, dia adalah orang yang tidak sombong dan cukup tahu diri, serta pandai menghargai orang lain.
Maka tidak gampang bagi Bayu, untuk membalas perbuatan Anggi di hari-hari sebelumnya, walaupun Anggi saat itu posisinya bagaikan ikan di dalam tempurung, yang bisa dipermainkan kapan saja.
"Artinya.."
Bayu adalah Anak yang terdidik dari keluarga "Religi," yang menjunjung tinggi harkat dan martabat dan juga kesopanan...
Dan ditambah lagi, dia sangat teguh memegang "Agama," walaupun dirinya terlahir dari kalangan keluarga yang tidak mampu.
Maka tidak gampang bagi Bayu untuk mempermainkan Anggi, dan membalas apa yang telah diperbuatnya dengan Kakaknya terhadapnya di Sekolah, apalagi mempermainkannya.
Padahal posisi Anggi saat itu, adalah posisi di bawah angin.
Jadi Bayu dan ketiga temannya bisa melakukan apa saja terhadap Anggi, untuk membalas perbuatan yang dilakukan kepada mereka semua saat itu.
"Anggi-pun demikian...."
Walaupun dia tahu, bahwa Bayu selalu bersikap sabar dan mengalah jika diganggu olehnya dan juga Kakaknya, akan tetapi selama ini Anggi tetap merasa jengkel terhadap Bayu.
Itu semua terjadi, karena Bayu selalu mendapatkan hal-hal yang positif di Sekolah, terutama masalah Pelajaran.
Sehingga Bayu selalu mendapatkan "Ranking" dan selalu menjadi bintang Kelas di Sekolahnya.
Maka dengan alasan itulah, dirinya dan Kakaknya selalu merasa iri terhadap Bayu, sehingga kerap kali dirinya dan Kakaknya itu berbuat kasar terhadap Bayu.
Apa lagi Anggi dan Kakaknya itu, selalu mengukur semuanya dengan uang.
"Dengan kata lain..."
Anggi dan Kakaknya tidak menerima dirinya kalah dari Bayu dalam segi pelajaran, karena menurutnya Bayu hanyalah seorang Anak yang dilahirkan dari keluarga miskin.
"Sedangkan dirinya dan Kakaknya, terlahir dari keluarga yang kaya raya."
Jadi mereka merasa, mana mungkin Bayu bisa mengalahkan dirinya dan Kakaknya dalam hal Pendidikan di Sekolahannya tersebut.
Maka setelah tahu bahwa kesabaran dan ketenangan dari Bayu itu tidak hanya di Sekolah saja, akan tetapi semua itu diterapkan di rumahnya, dan tahu kedua orang tuanya sangat baik dan sangat ramah dan juga sopan, maka perasaan tersebut sangat bertolak belakang dengan kenyataan yang Anggi rasakan sebelumnya..
Maka dari itulah, selama Anggi berada di rumah Bayu dengan belajar kelompok tersebut, maka selama itu pula dirinya merasa ada yang aneh yang menghinggapi benaknya.
__ADS_1
Bahkan perasaannya saat itu sangat bertolak belakang, dengan perasaan sewaktu dirinya berangkat dari rumahnya tadi, apalagi waktu kemarin-kemarin di sekolah.
Maka tidak heran, selama mereka belajar bersama di ruang tamu rumah Bayu tersebut, Anggi lebih banyak diam dan tidak bertingkah yang aneh-aneh seperti sebelumnya.