Luka Seorang Perempuan

Luka Seorang Perempuan
Bab 15


__ADS_3

Krisna menghentikan langkahnya melihat Rakan menghampirinya. Rakan menatapnya khawatir hal itulah membuat Krisna bingung. Kenapa Rakan harus khawatir? Memang apa yang terjadi? Hingga pria itu harus mengkhawatirkannya.


"Lihat ini." Rakan menunjukkan sebuah kertas. Krisna langsung meremas dan membuangnya setelah membaca itu.


"Brengsek! Aku akan membunuh ******** itu." Krisna marah, ia tidak percaya jika Andre tega melakukan ini kepada Ariana. Pria itu memutar balikkan fakta, membuat artikel jika Ariana menggoda Andre demi uang. Ariana pasti akan sangat terluka melihat ini. Krisna baru ingat jika tadi pagi Ariana pergi ke kampus karena ada jadwal. Pasti gadis itu sudah melihatnya.


"Kau melihat Ariana?" Tanya Krisna dengan nada khawatir. Rakan menggelengkan kepalanya tidak tahu.


"Ada apa?" Rakan menatap kebingungan di wajah Krisna.


"Gadis itu ada di kampus." Ucap Krisna.

__ADS_1


"Siapa?"


"Ariana." Ucap Krisna khawatir seharusnya ia tidak membiarkan gadis itu sendiri ke kampus. Andai saja ia tahu jika Andre selicik ini. Ia tidak akan melakukan kebodohan seperti ini.


"Kau harus mencarinya cepat. Pasti Ariana sedang dalam kesulitan. Aku juga akan membantu mencari. Kau cari di sekitar gedung A-C aku akan ke gedung D-F." Ucap Rakan. Krisna langsung mengangguk, ia berlari meninggalkan Rakan. Hatinya dipenuhi rasa khawatir tentang keadaan gadis itu. Krisna takut ia terlambat dan gadis itu akan terluka.


Nafasnya tersenggal, kakinya berhenti berlari. Gadis yang ia cari berada di depan gedung B mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari para mahasiswi dan istri Andre.  Mereka melempar telur ke Ariana tanpa henti. Krisna mengeram marah, matanya tak sengaja melihat selang yang biasa di pakai tukang kebun untuk menyirami tanaman di sekitar gedung. Krisna menyalakan kran dan menyiram orang-orang itu hingga mereka berhenti melempar telur.


Krisna membuat selang itu setelah memeluknya. Berlari ke arah kerumunan mencari keberadaan Ariana. Gadis itu sedang berlutut sambil menangis. Krisna membuka Almamater jasnya dan mengenakannya pada tubuh Ariana. Lalu memeluk gadis itu erat. Ia tidak mempedulikan bau amis yang melekat di bajunya.


"Kau itu yang lancang menyiram kami. Lagipula gadis itu pantas mendapatkan itu karena merusak rumah tanggaku."

__ADS_1


"Benar *******! *******." Sorak para mahasiswi. Krisna merasakan isakan Ariana dalam pelukannya gadis itu pasti sangat terluka.


"Diam! Kalian! Sekali lagi jika ada yang berani menghina Ariana. Kalian akan berurusan denganku. Atau kalian mau aku siram lagi!" Teriak Krisna membuat orang-orang diam. Baju mereka sudah basah dan mereka tidak menginginkan hal itu lagi.


"Bubar!"


"Kau juga termasuk!" Krisna menatap tajam Karin. Kemudian semua orang pergi meninggalkan Krisna dan Ariana.


"Maaf aku datang terlambat." Ujar Krisna ia mengecupi kening Ariana. Ia menuntun Ariana ke mobilnya yang dibawa Rakan.


"Tolong bawa Ariana ke rumahku. Aku masih ada urusan." Ujar Krisna. Rakan hanya mengacungkan jempolnya.

__ADS_1


"Maaf." Ariana masih terdiam. Pikirannya kosong ia seperti mati rasa. Hal itu menambah kemarahan Krisna pada Andre. Krisna berjanji akan membunuh pria itu.


Krisna berlari menuju gedung rektorat. Kemudian ia menggulung lengan kemeja putihnya yang sedikit basah karena tadi. Ia tidak mempedulikan orang-orang yang melihatnya aneh. Mengingat kemejanya bau, basah, dan kotor karena perlakukan tadi.


__ADS_2