
Ariana POV
Aku terdiam menatap jendela mobil kosong. Hari ini begitu menyakitkan untukku. Aku seperti tak punya lagi harga diri untuk hidup. Semua orang jadi membenciku. Aku memejamkan mataku, rasanya menangis tak ada gunanya lagi. Aku merapatkan almamater yang kugunakan. Bau amis menyelubungiku.
"Ariana kita sudah sampai." Ujar pria bernama Rakan itu. Dia adalah Presiden BEM di kampus entahlah kenapa pria itu begitu dekat dengan Krisna padahal Krisna hanyalah bawahannya tapi pria itu tidak risih diperintah oleh Krisna termasuk mengantarnya saat ini.
Aku diam mengikuti pria itu menuntunku ke kamar. Pria itu sangat perhatian pantas saja ia sangat terkenal di kalangan perempuan.
"Nanti setelah mandi kamu ke ruang makan. Saya akan menyiapkan makanan untuk kamu." Ujar pria itu. Aku diam merapatkan jas milik Krisna. Kemudian masuk ke dalam kamar. Saat itu aku baru menyadari jika ponselku tertinggal. Banyak sekali panggilan dari rumah sakit dan satu pesan dari seorang suster yang dekat denganku. Jantungku berdebar ada apa lagi ini. Aku berharap ibuku baik-baik saja. Sudah cukup peristiwa tadi menghancurkan hidupnya.
Tanganku bergetar membaca pesan itu. Orang yang selama ini aku jaga ternyata sudah tiada. Rasanya semua perjuanganku untuk membuatnya tersenyum kembali ke dunia sia-sia. Aku menangis kembali, kenapa tuhan begitu tidak adil bagiku? Apa aku tidak bisa mendapatkan kebahagiaan?
__ADS_1
Aku berjalan ke kamar mandi membersihkan tubuhku membiarkan air menyiraminya. Setelah kurasa cukup aku memakai kimono handuk duduk termenung di bath up yang tidak terisi air. Pikiranku menerawang kejadian hari ini.
Aku tidak pernah menyangka jika Andre akan menyakitinya begitu dalam. Pria itu memutar balikkan fakta membuatnya terlihat begitu murahan, memang bukannya aku itu sudah tidak ada harganya lagi. Aku membenci diriku sendiri lalu apa guna aku hidup.
Aku terpejam kata orang wanita adalah tulang rusuk pria. Pria bertugas untuk melindungi wanita. Tapi kenapa hidupku selalu dihancurkan oleh pria. Mulai dari ayahku yang seharusnya menjagaku sebagai anak, lalu Andre. Apakah Krisna pria itu juga pada akhirnya akan menghancurkanku?
Mengingat betapa sempurnanya Krisna di banding dirinya yang begitu hina? Aku menangis rasanya ajakan Krisna untuk menikahiku sudah tidak ada artinya lagi. Pria itu pantas mendapatkan cinta yang lebih baik dari aku. Dibanding aku yang tidak ada artinya lagi.
Aku mengambil Carter yang berada didekatku. Aku mendekatkan benda itu ke pergelangan tanganku. Lalu mengirisnya hingga darah keluar dari sana. Rasanya sakit tapi ada yang lebih sakit lagi ini. Aku memperdalam irisanku tak peduli rasa sakit yang kurasakan. Aku hanya ingin pergi dari dunia yang tidak menginginkan aku lagi. Setelah itu aku merasa duniaku gelap. Kegelapan menyelimuti pandanganku.
"Selamat tinggal Krisna." Ucapku lirih sebelum pemandangan ku menjadi kabur.
__ADS_1
Normal POV
Krisna datang menemui Bayu Nasution yang nampak santai di teras rumahnya. Pria paruh baya itu tersenyum penuh arti seakan-akan senang dengan kehadirannya.
"Bagaimana?" Tanya Bayu sambil menyambut anak muda itu. Seperti biasa Krisna terlihat seperti seorang aktivis walau di luar kampus dengan Almamater BEM yang masih melekat di badannya.
"Kamu dari kampus?"
"Ada rapat mendadak, besok mau ada demo peringatan hari buruh." Bayu hanya menganggukkan kepala.
"Tugas saya hanya memasukan pria itu ke dalam penjara bukan." Bayu mengangguk kemudian memberikan semua bukti kejahatan Andre.
__ADS_1