
Maaf ya teman-teman jika cerita ini jelek wkwk,
BAB 7
Biarkan Berjalan Semestinya
"Karena Aku Mencintaimu," Ulang Krisna sekali lagi dengan sorotan mata yang tajam. Sorotan mata yang membuat beku tubuhku.
"Aku mencintaimu,"
Mataku menatap Krisna dalam, aku diam mendengar ucapannya. Jantungku berdegup kencang, angin yang tadi gemerisikpun ikut diam. Hanya sunyi dalam keheningan, ini pertama kalinya ada pria yang menyatakan cinta padaku, orang yang menginginkan menjadi pelindungku. Orang yang bahkan tidak tahu siapa aku, di hatiku ada rasa bahagia. Karena baru pertama kali ini, aku dilindungi,biasanya kaum pria yang mendekatiku mereka hanya ingin merusakku. Aku hidup di sekelilingi pria yang hanya memanfaatkanku mulai dari ayahku hingga Andre ah,,, andai aku tidak terlahir cantik. Mungkin tidak akan terjadi seperti ini, tapi aku mau berbuat apa semuanya sudah terjadi. Aku tidak bisa menolaknya dan aku hanya bisa menerimanya sepenuh hati.
Tiba-tiba air mataku jatuh, aku ingin menangis. Hatiku terharu, dan tersedu. Malam ini aku semua rasa menjadi satu dalam kalbuku, senang, sedih, menyiksa dan sebagainya. Jujur aku masih tidak percaya dengan ucapan Krisna. Tidak mungkin pria itu mencintaiku, tidak mungkin karena aku hanya wanita rendahan yang tidak pantas dicintai siapapun. Pria itu berbual, kalau ayahku saja bisa menyakitiku apalagi pria ini yang bahkan tidak aku kenali siapa dirinya. Aku menggelengkan kepalaku pelan sambil mundur melangkah.
"Tidak mungkin,"
"Lelucon macam apa yang kamu buat kepadaku,"
"Kamu bohong."
"Apakah kau tidak mempercayaiku?" tanya Krisna dengan mata sayu. Aku menutup mulutku sambil mundur ke belakang tanpa perkataan. Mataku redup akan cahaya, aku tidak boleh mempercayainya.
'semua pria sama, mereka adalah berengsek."
Krisna melangkah mendekatiku, aku mengisyaratkannya untuk berhenti tapi nyatanya dia tidak mendengarkan aku. Krisna berjalan mendekati setiap langkah mundurku. Krisna malah menarikku dan membawaku ke dalam pelukannya. Aku ingin memberontak, tapi hatiku berkata lain ia dengan sembarangan bersandar di dada bidang milik Krisna. Kehangatan itu menyerbak ke dalam tubuhku, kehangatan yang belum pernah aku dapatkan dari siapapun.
"Kenapa?" ucapku sendu.
"Karena aku mencintaimu,"
"Tidak ada alasan untuk mencintaimu, aku orang yang berpikir objektif namun ketika aku bertemu padamu aku tidak lagi menilai orang dari sisi objektifku, tapi aku mulai menilai orang dengan menilai subyektifnya. Aku menilai karena orang itu kamu, dan kamu"
"Pernahkah kamu berpikir, kenapa akhir-akhir ini tuhan sering mempertemukan kita tanpa sebab?"
__ADS_1
"Pernahkan kamu berpikir, jika ada alasan dibalik takdir yang Tuhan ciptakan."
"Kau tahu sejak saat itu, aku tahu apa tujuan Tuhan mengirimku padamu."
"Apa itu?"
"Untuk menjadi pelindungmu, karena aku selalu hadir di setiap kamu kesulitan." Aku terdiam mendengar ucapan Krisna, pria itu benar mulai pertemuan pertama di atap gedung pria itu berusaha menghiburku, lalu pertemuan kedua ketika demo pria tu menolongku keluar dari kerumunan dan pertemuan ketiga ketika Andre ingin menciumku, kehadiran Krisna yang datang tiba-tiba menghentikan itu lalu terakhir saat ini Krisna hadir menawarkan menjadi pelindungku. Lalu apa yang harus aku khawatirkan lagi, mungkin ini jalan yang harus aku pilih. Mungkin Krisna adalah pria yang selalu aku sebutkan setiap malam di doaku yang akan menjadi perantara Allah untuk membawaku keluar dari gelapnya duniaku.
"Apa kamu butuh bukti untuk menyajikannya padamu." Aku tersenyum kecil mendengar ucapannya yang begitu kaku.
"Aku hanya bingung,"
"Kamu harus membiasakan ini dari sekarang," bisik Krisna.
"Aku tidak pernah diperlakukan seperti ini oleh siapapun dan kamu orang pertama yang melakukan hal konyol ini terlebih kamu menawarkan diri untuk menjagaku. Bahkan ayahku sendiri, tidak pernah melakukan itu." ucapku sambil terisak, aku merasakan pelukan Krisna yang semakin merapat.
"Kalau begitu aku beruntung,"
"Aku beruntung,"
"Karena aku menjadi pria pertama di hidupmu. Sekarang kamu jangan berpikiran negative kepada orang. Lihat sisi positif mereka."
Aku diam tidak menjawab, dengan pelan aku mendorong pelukannya. Aku berjalan meninggalkannya, Krisna tidak menahanku seperti tadi, ia berjalan di belakangku. Aku tersenyum senang, aku benar-benar merasa seperti diinginkan. Untuk pertama kalinya ada seorang pria yang membiarkan aku berjalan di depannya, itu artinya dia menghormatiku sebagai seorang wanita, karena membiarkanku memimpin langkah kami.
Hembusan angin bergerak menemani kami, temaram lampu taman menjadi petunjuk langkah kami dan debaran hati kami menjadi alunan lagu pengiring sepi ini. aku bahagia dan tibak bisa menjabarkannya menjadi kata-kata.
****
"Untuk apa kita ke rumah sakit,"
"Aku ingin menunjukkan sesuatu sama kamu, kamu bilang kamu ingin mengetahui semua tentang aku." Ucapku sambil menarik tangan Krisna.
Aku membawanya ke kamar dimana ibuku di rawat. Sudah kuduga ia pasti kaget, Krisna menatapku meminta penjelasan. Aku menariknya duduk di sofa pojok ruangan, aku menatap matanya dalam.
__ADS_1
"Seperti yang kamu tahu, aku adalah anakangkat rektor di kampuskita," dalam batinku aku meminta maaf karena harus membohongi Krisna, aku tidak mungkin mengatakan jika Aku adalah wanita simpanan Andre, jika aku mengatakannya Krisna pasti akan langsung pergi dari kehidupanku.
Aku menarik napas, "Andrelah yang membiayai pengobatan ibuku,"
"Baik hati sekali pria tua itu, apa dia hanya sekedar membantumu? Apa dia tidak memanfaatkanmu atau meminta imbalan darimu? Aku paham betul dengan pria model Andre, dia itu tipe yang tidak akan memberi tanpa timbal balik." Aku terdiam, kenapa aku harus bertemu pria sepintar Krisna? Aku tidak mungkin memberitahu Krisna tentang rahasia yang kupendam ini. aku tidak ingin Krisna tahu, dan pada akhirnya dia akan menjauhiku. Apa sekarang aku sudah mulai tertarik dengan Krisna? Bisik batinku.
"Jawab Ariana,"
"Bilang jika pria itu tidak memanfaatkanmu,"
"Dia tidak memanfaatkanku," ucapku pelan.
"Dia murni kasihan padaku."
Krisna menatapku dalam, ia berusaha mencari-cari kebohongan di wajahku. "Ariana, mulai sekarang jika kamu berada di dalam kesulitan jangan segan-segan menghubungiku atau berkata padaku. Aku tidak pernah melakukan hal ini pada wanita manapun, kecuali kamu Ariana."
"Benarkah? Atau kamu hanya mencoba main-main denganku,"
"Jika aku hanya ingin main-main padamu Ariana, Aku tidak akan repot-repot datang padamu dan menjamin diriku sebagai pelindungmu."
"Aku jujur belum mempercayainya." ujarku.
Krisna menghembuskan nafas kesal, mungkin dia lelah karena aku menganggapnya tidak serius. Krisna memegang pundakku pelan, membuatku berhadapan dengannya.
"Aku tidak perlu melakukan apapun untuk bisa mendapatkan kepercayaanmu,"
"Maksud kamu?"
"Kamu hanya perlu berada di sampingku, untuk membuktikannya."
"di-sampingku"
"di-sampingku" ulang Krisna lagi dengan penuh penekanan, selanjutnya aku merasakan bibir Krisna yang menyentuh keningku lembut. aku terpejam dan menikmatinya, entahlah mungkin aku harus menjalani ini semua bersamanya.
__ADS_1