
Ada satu hal yang tidak dapat dipungkiri Krisna. Ia menyukai Ariana, setiap senyum yang terukir dari gadis itu adalah kebahagiaannya. Krisna tersenyum melihat gadis yang ia cintai berjalan di depannya bersama Savira. Gadis itu membalas senyumnya.
Krisna lari menyusuri lorong. Ingin cepat menggapai gadis itu. Membawanya ke dalam pelukan. Mendekap tubuh mungil itu dan memberikan perlindungan. Lalu mengatakan "aku baik-baik saja, sekarang" Krisna yakin jika Ariana mencemaskannya. Karena dia di penjara.
Padahal baru sebentar, tapi Krisna merasakan rindu yang begitu dalam. Rindu yang ingin segera ia tuntaskan.
Krisna berlari rasanya jauh padahal hanya tinggal beberapa langkah lagi. Bahkan napasnya tersenggal. Ia merasa lelah setelah seharian penuh waktunya di habiskan di penjara untuk menuntut Andre. Agar pria itu berada di tempat yang semestinya. Tentu saja ia tidak lupa meminta pria itu untuk mentalak Ariana. Karena bagaimanapun ia tidak akan bisa menikah jika status Ariana masih istri orang. Wanita hanya bisa menikah dengan satu pria tidak dengan pria yang bisa menikah lebih dari satu wanita.
Krisna baru saja ingin memeluk Ariana. Tiba-tiba Rakan datang entah dari mana muncul dari hadapannya. Menghentikan langkahnya bahkan Krisna hampir terjungkal kalau saja ia tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri.
__ADS_1
Rakan berdiri di tengah antara Krisna dan Ariana. Lalu pria itu menghadap Krisna "Belum Mahram jangan main peluk-peluk sembarangan. Makannya cepat dihalalin." Savira dan Ariana tertawa kecil melihat itu.
Krisna menatap Rakan sebal. Sialan! Padahal Krisna pernah lebih dari pelukan yaitu mencium wanita itu. Krisna merasa kecewa, tapi yang dibilang Rakan benar. Jika ia melakukan itu pada Ariana lalu apa bedanya dia dengan Andre. Mereka sama-sama melecehkan gadis itu. Pasti Ariana akan mengganggap jika ia sama rendahnya dengan Andre yang sering melecehkannya. "Apa kamu tidak suka?" Delik Rakan pada Krisna.
"Aku kira kamu sudah mati." Ujar Krisna melihat Rakan yang ternyata baik-baik saja.
"Jadi kamu mendoakan aku mati. Dasar sahabat kurang ajar!" Rakan langsung menjewer Krisna menggeret Krisna ke dalam kamarnya.
"Rakan sakit apa yang kamu lakukan?"
__ADS_1
"Kamu ingin membuat telingaku lepas."
Sedang Savira dan Ariana mengikuti kedua lelaki itu dari belakang. Mereka tertawa melihat kelakuan dua orang itu. Entah kenapa mereka menjadi sangat dekat padahal mereka tidak pernah berteman sebelumnya.
"Kamu tidak merindukanku?" Tanya Krisna sambil menatap Ariana. Ia ingin mendekat tapi Rakan melarangnya. Ia tidak ingin Krisna melewati batasan antara pria dan wanita yang belum menikah. Krisna harus bisa menjaga Ariana bukan hanya dalam bahaya tapi juga melindungi kehormatan wanita itu dari bentuk pelecehan.
Pipi Ariana bersemu ia malu. Apalagi ada Savira dan Rakan disana. Sekarang mereka duduk di sofa kamar inap Rakan. Sedang Rakan terbaring di ranjang. Pria itu meminta Savira untuk menyuapi makan.
Ariana diam ia tidak berani menjawab. Krisna terkekeh melihat tingkah malu-malu Ariana.
__ADS_1
"Aku ingin pernikahan kita dipercepat setelah selesai massa Iddah mu." Ujar Krisna hal itu membuat semua orang disana menatap Krisna. Krisna benar-benar tidak sabar untuk menikah dan hidup bersama dengan Ariana. Gadis yang begitu ia cintai. Gadis yang sanggup membuat jantung nya berdetak kencang. Dan membuatnya merasakan rindu yang sesak sepanjang hari hanya karena tak berjumpa.