Luka Seorang Perempuan

Luka Seorang Perempuan
Bab 23


__ADS_3

Andre awalnya ingin mengambil beberapa dokumen yang harus ia tanda tangani. Anehnya ia menemukan beberapa map yang tidak ia miliki. Tangannya dengan terampil membuka map itu, raut wajahnya menegang melihatnya. Semua bukti kejahatannya berada di sana termasuk perselingkuhannya, ia merutuki kebodohanya yang sempat menyewa seorang ******* di bar. Tamatlah riwayantnya, ia mengumpati siapapun orang yang telah berani melakukan hal ini padanya.


Baru saja Andre ingin melempar dokumen tersebut. Ia melihat sebuah. Kertas tersalip di sana berisi pesan yang ditunjukkan untuknya. Awalnya ia ragu membaca itu, namun melihat nama Krisna tertera di sana mengundurkan niatnya.


"Brengsek!!"


" Pasti bocah tengik itu yang mengirim ancaman ini. Dia pikir aku selemah itu, akan aku pastikan kamu juga akan mendekam di penjara atau mati dalam keadaaan yang tidak kamu inginkan. Aku akan memastikan jika kita akan sama-sama menderita." Guman Andre dengan seringai miliknya.


Andre tidak suka jika ada orang yang berani menentangnya. Ia akan membuat orang itu menderita bersamanya. Andre menekan nomer anak buahnya.


"Kau sudah menemukan apa yang kucari?"

__ADS_1


"Sudah bos,"


"Besok sore pria itu akan ada Demo memperingati Hari Tani." Ujar suara di sebrang, Andre terdiam pantas saja anak kecil itu memintanya bertemu besok pagi. Karena sudah di pastikan besok sore Krisna akan sibuk mengurusi persiapan Demo bersama anggota BEM lainnya.


"Bagus sabotase acara besok jangan sampai gagal." Perintah Andre.


Andre tersenyum kecil, membayangkan apa yang akan terjadi besok. Kita lihat saja siapa yang akan menang. Dirinya atau anak kecil itu.


"Kau yakin akan menemui orang itu sendirian," Rakan berulang kali meyakini Krisna. Ia memiliki perasaan buruk kali ini, entahlah apa itu.


"Tidak perlu, lebih baik kamu menyiapkan teks orasi untuk nanti sore." Krisna menepuk pundak Rakan menenangkan. Rakan menghembuskan napas kesal, rasanya percuma berbicara dengan oramg yang keras kepala seperti Krisna.

__ADS_1


"Jaga dirimu baik-baik. Aku tidak ingin melihatmu kenapa-kenapa, awas saja jika kamu salah langkah. Aku tidak akan berteman denganmu lagi."


"CKCKCK," Krisna berdecak.


"Padahal kita baru berteman setahun, itu juga tidak sengaja karena organisasi ini. Tapi sikapmu seperti keluarga dekatku saja bahkan keluargaku tidak ada yang peduli denganku." Guman Krisna.


"Kamu sudah saya anggap seperti adik saya sendiri." Ujar Rakan lirih.


Krisna menghentikan pergerakan tangannya yang hendak melepas sabuk pengaman. Ia menatap Rakan tidak percaya, tapi pria itu membalasnya dengan senyum sendu yang membuat siapapun akan larut didalamnya. Terasa begitu menenangkan dan menghangatkan hati Krisna. Ia terharu pada ucapan Rakan baru kali ini ia diperlakukan sehangat ini. Rakan pria itu selalu ada untuknya, pria yang memberikan arti kehidupan padanya. Krisna tersenyum kecil lalu membuka pintu mobil tanpa menatap Rakan kembali. Ia merasa senang hari ini.


Krisna melangkah menuju ruangan rektor. Ia tidak sabar untuk menemui Andre. Ia ingin menuntaskan semua masalahnya dengan cepat. Walaupun sebenarnya ini adalah masalah Ariana, tapi baginya ini adalah masalahnya juga. Karena ia tidak akan sanggup melihat wanita yang ia cintai terluka, jika wanita itu terluka maka ia juga harus ikut terluka bersama wanita itu. Krisna tidak akan membiarkan Ariana terluka sendiria. Ia ingin segera membahagiakan Ariana dan membuat gadis itu tersenyum. Ia ingin menunjukkan pada Ariana bahwa hanya dialah yang pantas untuk gadis itu.

__ADS_1


__ADS_2