
Rakan mengantar Ariana masuk ke dalam rumah Krisna. Rumah itu nampak sepi. Ia menyuruh Ariana untuk membersihkan diri. Lalu Rakan ke dapur untuk membuatkan minuman hangat dan makanan untuk gadis itu. Ia jadi teringat Savira yang berada di rumah, semoga gadis itu baik-baik saja.
"Nanti setelah mandi kamu ke ruang makan. Saya akan menyiapkan makanan untuk kamu." Pinta Rakan, tapi gadis yang bernama Ariana itu hanya diam. Rakan merasa aneh karena sejak tadi gadis itu tidak mengatakan hal apapun selain diam memandang dengan tatapan kosong. Ia sempat khawatir namun ia mencoba menghapus rasa itu. Mungkin gadis itu lagi menenangkan diri.
Rakan baru saja menuangkan teh hangatnya ke cangkir. Krisna datang menghampirinya dan mengangetkannya dengan suara teriakannya itu memenuhi ruangan.
"Dimana Ariana?" Tanya Krisna.
"Dia ada di kamar sejak tadi, aku menyuruhnya untuk membersihkan diri."
"Sudah berapa lama?"
"1 jam yang lalu." Krisna mengeram, ia takut jika Ariana melakukan hal yang tidak seharusnya. Karena gadis sendu seperti Ariana bisa nekat melakukan hal apapun ketika jiwanya terguncang.
__ADS_1
"Sial!"
"Hey kau mengapa mengumpat emang kenapa kalau satu jam. Para wanitakan kalau berdandan memang lama." Ucap Rakan melihat Krisna seperti orang kesetanan meninggalkannya. Rakan hanya menggelengkan kepalanya.
****
Krisna membuka pintu kamar Ariana. Untung saja tidak di kunci, tapi anehnya tidak ada tanda kehidupan disana. Krisna menyipitkan matanya melihat ponsel Ariana yang tergeletak di lantai.
Mata Krisna membulat membaca sebuah pesan dari rumah sakit yang mengatakan bahwa ibu Ariana meninggal. Sontak Krisna langsung membuang ponsel itu dan mencari keberadaan Ariana. Ariana pasti terpuruk setelah membaca ini. Sialnya itu Ariana tidak ada di kamar. Krisna membuka pintu kamar mandi tepat dugaannya pasti Ariana akan melakukan hal yang aneh.
"Rakan! Rakan tolong aku Ariana bunuh diri." Teriak Krisna hal itu membuat Rakan panik. Rakan langsung menyiapkan mobil untuk ke rumah sakit.
Krisna terus memeluk tubuh Ariana mengecup keningnya dan menghentikan darah yang mengalir disana.
__ADS_1
"Bodoh! Apa yang kau lakukan sayang? Kenapa kamu melukai diri kamu sendiri? Tak tahukah kamu betapa aku tidak ingin kehilangan kamu."
"Bertahanlah Ariana." Ucap Krisna.
"Aku mencintaimu,"
Rakan terdiam, ia jadi teringat peristiwa dimana ia hampir kehilangan Savira. Dan sahabatnya juga harus merasakan hal yang sama dengannya.
"Semoga Allah memberikan yang terbaik untukmu sahabatku." Ujar Rakan dalam hati.
*****
"Bagaimana dokter keadaan Ariana?" Krisna benar-benar kacau ia belum membersihkan diri. Kemejanya kotor dengan darah dan telur. Bau amis darah, keringat dan telur menjadi satu. Dokter yang di ajaknya bicara merasa khawatir dengan Krisna yang terlihat kacau itu.
__ADS_1
"Dia baik-baik saja. Malah sepertinya anda yang kurang baik. Lebih baik sebelum menemuinya anda membersihkan diri terlebih dahulu." Dokter itu mencoba menenangkan Krisna ia prihatin melihat kondisi Krisna yang sangat mengenaskan. Krisna meringis mendengar itu. Ia tidak sempat membersihkan diri, yang ada di pikirannya hanya Ariana. Ia tidak mempedulikan dirinya yang terpenting Ariananya tidak terluka lagi.