
-Bukan kecantikan yang tersembunyi tapi kecantikan yang dilindungi. Ia adalah jilbab.-
-
-
Ariana duduk di taman, keadaannya sudah pulih dan ia dibiarkan untuk jalan-jalan. Kata dokter ia juga harus terkena sinar matahari, agar tulangnya tidak lemah dibuat bergerak. Ariana menatap langit biru, matahari tidak seterik biasanya.
Ia mengenakan baju rumah sakit dan kerudung pink panjang menutupi tubuhnya sepunggung. Berulangkali ia memikirkan masalalunya. Ia jadi teringat alasan ia menutup auratnya. Ia melakukan itu hanya untuk menutupi kekotorannya, agar tidak ada satupun orang yang tahu dan dia terlihat baik dengan jilbab ini. Memang benar kenyataan orang yang menutup aurat akan terlihat baik di mata siapapun apalagi berpakaian syar'i. Semua orang akan memandangnya cantik. Tapi nyatanya ia tidak secantik itu.
Ariana menjadi bersalah kepada Tuhannya. Ia merasa membohongi semua orang. Ia tidak pantas untuk menggunakan pakaian ini lagi. Ia memutuskan untuk membuka jilbabnya saja. Ia tidak ingin membohongi dirinya sendiri dengan penampilannya hanya agar terlihat baik di depan semua orang.
Tangan Ariana bergerak ingin membuka jilbab langsingan itu. Namun ada tangan yang menggenggam tangannya menghentikan itu. Ia kira itu Krisna, tapi merasakan tangan itu halus selembut kapas membuatnya ragu. Ariana membuka matanya ia terkejut mendapati seorang wanita yang duduk di kursi roda. Wanita yang sangat cantik dengan kerudung merah dan gamis berwarna hitam. Bajunya sederhana tapi wanita itu nampak anggun seperti seorang putri raja.
"Savira." Panggil Ariana. Wanita itu tersenyum manis kemudian menggenggam erat kedua tangannya.
__ADS_1
"Jangan lakukan itu." Pinta Savira pada Ariana.
"Jangan pernah membuka auratnya dengan alasan apapun."
"Aku tidak pantas." Elak Ariana.
"Jilbab bukan hanya untuk orang yang suci. Tapi dia adalah pelindung untuk wanita. Semua wanita berhak menggunakan jilbab. Tidak ada yang tidak pantas. Jilbab itu bukan untuk menyembunyikan kecantikan kita tapi untuk melindungi kecantikan kita, akhlaq kita, moral kita, dan hati kita. Karena kita adalah sebaik-baiknya perhiasan didunia. Karena pilihanmu sudah tepat memilih jilbab untuk melindungi dirimu."
"Tapi," elak Ariana sekali lagi.
"Semua orang berhak belajar menjadi baik. Termasuk kamu."
"Terimakasih,"
"Kamu kenapa ada disini?" Tanya Ariana.
__ADS_1
"Menemui Rakan." jawab Savira, gadis itu tersenyum.
"Apa yang terjadi pada Rakan?" Ariana bingung, karena seharian ini ia tidak bersama Rakan. Jadi ada kemungkinan jika Rakan ke rumah sakit bukan untuk menemuinya tapi karena pria itu sedang sakit.
"Dia tertusuk karena menyelamatkan Krisna disaat demo." Ujar Savira dengan tersenyum tidak ada kesedihan di matanya. Itu terlihat mengagumkan di mata Ariana. Savira nampak seperti jelmaan bidadari yang berhati kuat, walau sebenarnya wanita itu nampak menyimpan luka.
"Krisna dimana?" Tanya Ariana panik, jika Rakan di rawat lalu bagaimana dengan Krisna. Apa pria itu juga terluka dan di baw ke rumah sakit. Ariana tidak bisa membayangkan itu. Pria yang ia cintai terluka hanya karena Demo.
"Penjara." Jawaban itu membuat tubuh Ariana lemas di kursi taman. Ia seakan menatap sekelilingnya kosong. Hatinya terasa hampa dan kehilangan.
"Apa?"
"Tapi kenapa bisa?"
"Dia tertuduh karena telah menusuk suamiku. Lucu bukan," ujar Savira gadis itu tertawa. Bahkan disaat suaminya hampir mati ia masih bisa tertawa. Hal yang aneh bukan, ariana jadi khawatir dengan Savira takut wanita itu kondisi jiwanya terguncang.
__ADS_1