
Krisna segera berangkat ke lokasi Demo yang berada di perempatan tugu jalan raya. Setelah berhasil menemui Andre yang ternyata begitu angkuh, Krisna pergi ke kelas untuk kuliah. Ia tidak bisa berkonsentrasi penuh gara-gara itu.
Krisna memosisikan diri di depan barisan. Terlihat banyak sekali mahasiswa yang ikut demo di hari tani. Mulai dari HMI, KAMMI, IMM dan PMII mereka ikut bergabung selain itu juga perwakilan dari BEM kampus selain universitasnya. Krisna tersenyum melihat itu ternyata masih ada yang peduli dengan nasib petani di negeri ini. Banyak sekali hal yang membuat negara kita sebagai negara agraria tidak semaju dulu, beras yang masih impor padahal kita punya lahan sendiri. Dan kebijakan-kebijakan lainnya yang merugikan petani.
Krisna berdiri di depan membawa megaphone. Sedangkan teman-temannya membentuk barisan. Perempuan melingkar di tengah sedang laki-laki melingkar melindungi perempuan di barisan depan. Banyak sekali polisi yang berjaga disana untuk mengawasi jalannya demo.
Krisna bersuara. "Sudahkah petani Indonesia sejahtera……?"
"Sudahkah petani Indonesia memiliki tanah yang cukup untuk diolah…..?" Teriak Krisna dengan lantang membuat orang-orang ikut bergema membentuk kan omongan Krisna.
"Sudahkah petani cukup makan…..?"
__ADS_1
"Pertanyaan di atas inilah yang harus kita jawab bersama baik sebagai petani, aktifis petani, pengurus organisasi tani, ataupun pemerintah yang mayoritas penduduknya kaum tani. Dan kalau kita melihat data dan fakta, kita sepakat menjawab dengan kata “belum”. Ini fakta yang ada di Negara agraris yang kita cintai ini. Berdasarkan data Biro Pusat Statistik mengemuka bahwa sebagian besar penduduk miskin berada di pedesaan."
"Petani kita Miskin, rakyat kita miskin. Bawa Presiden kemari suruh dia jadi petani!"
"Benar!" Teriak orang-orang.
Disaat itulah penyusup masuk mericuhkan jalannya demo. Krisna berhenti dia mulai mewanti-wanti untuk tetap tenang jangan ikut terprovokasi oleh orang-orang itu. Tapi semua di abaikan, polisi juga ikut melerai. Suasana demo kisruh, Krisna kembali ke barisan berusaha menenangkan sampai saat itu ia merasa punggungnya di pukul.
Mata Krisna melotot disaat orang itu mengeluarkan pisau ingin menusuk perutnya. Inikah ancaman yang disebutkan Andre tadi. Bahwa pria itu tidak ingin menderita sendirian. Krisna tersenyum lemah. Apakah ini akhir dari hidupnya? Bahkan ia belum sempat membalas perbuatan jahat Andre. Tapi lihatlah disaat ia lengah, pria itu berhasil mengusik hidupnya.
Mata Krisna terpejam, namun tidak ada rasa sakit yang ia rasakan. Ia merasa ada sesuatu yang menindihi tubuhnya. Mata Krisna terbuka lebar. Ia terpaku melihat Rakan tersenyum padanya. Pria itu terbaring tidak berdaya di atas tubuhnya.
__ADS_1
Jantung Krisna seperti diremas. Melihat orang yang sudah ia anggap seorang kakak merelakan dirinya tertusuk untuk dirinya. Lalu Krisna melihat polisi berjalan ke arahnya. Membawa Rakan pergi ke ambulan dan juga membawanya pergi terpisah dengan Rakan.
"Kamu saya tangkap karena telah melakukan penusukan dengan benda tajam." Krisna menggeleng cepat, ia berusaha memberontak di tengah ketidak berdayaannya. Lalu Ia mengamati Rakan yang di bawa paksa menjauh darinya.
"Rakan.." Krisna menangis, bukan dia yang menusuk Rakan. Dia tidak akan melakukan hal itu pada orang yang dianggap saudara. Krisna berteriak seperti orang gila.
"Lepas,, leppppass.. rakannnmn." Ia ingin melihat keadaan Rakan. Ia ingin memastikan jika pria itu baik-baik saja. Ia ingin memastikannya. Rasanya ia begitu menyesal tidak membalas Rakan tadi pagi. Bahkan ia belum sempat mengatakan jika ia menyayangi pria itu seperti seorang kakak.
Krisna menangis sambil di bawa polisi ke kantor polisi. Rasanya sungguh sial, semua rencananya berantakan padahal ia kira sebentar lagi semuanya selesai. Tapi semuanya kacau, ia terlalu sombong seharusnya ia tahu apa yang ia rencanakan tidak akan bisa berjalan dengan lancar tanpa Ridha Allah. Krisna menangis menyesali semuanya, apa yang Allah lakukan tentu saja tidak bisa ia lakukan. Inilah takdirnya yang mungkin akan berakhir di dalam penjara.
"Ariana maafkan aku,"
__ADS_1
"Rakan maafkan aku."