
Ariana diam ia tidak berani menjawab. Krisna terkekeh melihat tingkah malu-malu Ariana.
"Aku ingin pernikahan kita dipercepat." Ujar Krisna hal itu membuat semua orang disana menatap Krisna.
Krisna benar-benar tidak sabar untuk menikah dan hidup bersama dengan Ariana. Gadis yang begitu ia cintai. Gadis yang sanggup membuat jantungnya berdetak kencang. Dan membuatnya merasakan rindu yang sesak sepanjang hari hanya karena tak berjumpa.
"Pria itu sudah di penjara?" Tanya Rakan. Krisna mengangguk senang.
"Akhirnya." Rakan mendesah lega, ia sebenarnya juga kesal dengan Andre. Karena pria itu banyak sekali korban mahasiswa yang terluka karena demo itu. Padahal demo itu berjalan dengan baik tapi jadi berakhir ricuh. Hal itu bisa menimbulkan nama BEM di mata mahasiswa jelek dan tidak dipercayai lagi.
"Bahkan ia sudah mentalak Ariana." Lanjut Krisna.
__ADS_1
"Aku jadi tidak sabar ingin menikahi Ariana." Rakan terkekeh mendengar ucapan Krisna. Ia ikut senang melihat Krisna senang. Ia telah menganggap pria itu sebagai adiknya sendiri.
"Sebelum menikah, kamu urus masalah BEM dulu sampai tuntas sekaligus mengantikanku sementara. Lihat aku seperti ini gara-gara menolong siapa?" Rakan menyela ucapan Krisna. Krisna kesal dengan itu. Rakan menyudutkannya karena pria itu terluka karena melindunginya.
"Aku kira kamu sudah sembuh dan tidak perlu bantuanku untuk mengurus masalah internal kampus." Sambung Krisna sambil menaik turunkan alisnya.
"Enak saja! Aku ingin istirahat di rumah sakit 2 minggu." Rakan mengelak ia ingin menghukum Krisna. Karena kecerobohannya waktu itu.
"Kamu lupa Krisna? Aku itu sakit habis di tusuk pisau dan perlu perawatan intensif. Sedangkan kamu sehat-sehat saja. Jadi kamu harus menggantikanku karena kamu sudah berutang nyawa denganku." Putus Rakan mutlak. Ia menatap istrinya penuh cinta sejujurnya ini hanya alasan karena Rakan ingin menghabiskan waktu berdua dengan Savira.
"Kamu tidak sedih melihatku seperti ini. Sahabat macam apa kamu ini!" Rakan mengucapkan itu dengan nada melas. Hal itu membuat Krisna luluh. Ia tidak sanggup lagi membantah Rakan.
__ADS_1
Krisna menghembuskan napas lesu. Hal itu tak luput dari pengamatan Ariana. Gadis itu tersenyum senang. Akhirnya ia bisa merasakan hidup yang normal. Ia tidak pernah menyangka jika ia akan di pertemukan pahlawan seperti Krisna.
Pria yang rela berjuang untuknya.
"Oke aku akan menggantikan kamu. Lihat saja nanti kalau aku jadi Presiden BEM. Kamu akan lengser dan jadi bawahanku."
"Dasar bodoh!" Umpat Rakan kesal.
*Kamu jadi Presiden aku sudah habis masa jabatan dan tidak akan menjadi pengurus BEM" Krisna tersenyum kecut percuma saja berbicara dengan Rakan. Pria itu tidak ingin kalah. Padahal tadi niatnya kesini untuk bertemu Ariana ia malah tidak dapat kesempatan sama sekali berduaan dengan Ariana. Tapi ia sedikit lega karena Rakan tidak apa-apa.
Di dalam hatinya ia senang bisa berdebat kembali dengan Rakan. Padahal di penjara ia sudah berpikir jika Rakan sudah mati atau koma. Tapi syukurlah sahabatnya itu baik-baik saja. Krisna mendesah lega. Kemudian ia menatap Ariana yang duduk di hadapannya dengan malu-malu.
__ADS_1
Krisna tersenyum sambil menatap Ariana. Entah kenapa Ariana terlihat sangat menggemaskan. Krisna tidak sabar untuk memiliki gadis itu secepatnya. Krisna lalu memejamkan matanya ia lelah dan ingin istirahat. Lalu ia tertidur dalam alam mimpi.