
Krisna menghentikan pergerakan tangannya yang hendak melepas sabuk pengaman. Ia menatap Rakan tidak percaya, tapi pria itu membalasnya dengan senyum sendu yang membuat siapapun akan larut didalamnya. Terasa begitu menenangkan dan menghangatkan hati Krisna. Ia terharu pada ucapan Rakan baru kali ini ia diperlakukan sehangat ini. Rakan pria itu selalu ada untuknya, pria yang memberikan arti kehidupan padanya. Krisna tersenyum kecil lalu membuka pintu mobil tanpa menatap Rakan kembali. Ia merasa senang hari ini.
Krisna melangkah menuju ruangan rektor. Ia tidak sabar untuk menemui Andre. Ia ingin menuntaskan semua masalahnya dengan cepat. Walaupun sebenarnya ini adalah masalah Ariana, tapi baginya ini adalah masalahnya juga. Karena ia tidak akan sanggup melihat wanita yang ia cintai terluka, jika wanita itu terluka maka ia juga harus ikut terluka bersama wanita itu. Krisna tidak akan membiarkan Ariana terluka sendiria. Ia ingin segera membahagiakan Ariana dan membuat gadis itu tersenyum. Ia ingin menunjukkan pada Ariana bahwa hanya dialah yang pantas untuk gadis itu.
Krisna membuka pintu ruangan itu. Ia langsung berhadapan dengan Andre. Pria itu sedang duduk santai sambil menyesap kopi yang di genggamnya. Krisna menatap Andre tajam, ia tidak suka dengan sikap Andre yang sepertinya tidak cemas atau khawatir dengan ancamannya.
"Mau minum kopi?" Tawar Andre menaruh secangkir kopinya ke meja.
__ADS_1
"Tidak,"
"Duduklah dulu, pasti ada suatu yang penting hingga pagi-pagi kamu mau repot-repot kemari." Ujar Andre sambil mengamati langkah kaki Krisna yang menghampirinya.
"Soal ancamanmu, aku tidak tertarik." Andre berusaha tenang, ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan Krisna. Ia akan berusaha memancing emosi Krisna. Ia ingin Krisna berpikir bahwa ia tidak bisa di ancam. Faktanya benar, Krisna terlihat sedang menahan emosi, Andre bisa melihat dari gerakan tangan Krisna yang mengepal itu menandakan jika Krisna tidak menyukai arah pembicaraan ini.
"Benarkan, kalau begitu saya tidak akan membuang waktu lagi. Untuk memberitahu ke publik bagaimana citra rektor tercinta kita sebenarnya." Andre sedikit menegang, tapi ia berusaha mengendalikan dirinya. Ia tidak ingin Krisna tahu, jika ini hanyalah kedoknya saja untuk membuat pria itu menyerah.
__ADS_1
"Saya juga ingin kau mentalak Ariana," lanjut Krisna.
"Aku tidak akan melakukan apapun, perbuatlah sesukamu. Asal kau tahu aku juga tak akan membuat diriku menderita seorang diri. Kamu juga akan merasakan akibatnya jika kamu berbuat hal yang nekat" Ancam Andre.
"Kau tidak akan bisa berbuat itu, karena kamu akan mendekam di penjara. Bapak tahukan orang yang di penjara dan kehilangan harta bendanya tidak akan bisa berbuat apa-apa selain menangis seperti orang gila." Ucapan Krisna menekan ulu hati Andre telak. Andre terdiam ia mengepalkan tangannya.
"Baiklah, karena bapak tidak bisa diajak diskusi dengan cara yang baik-baik maka saya akan melakukan hal yang bapak mau. Ancaman ini tidak menarik bukan, Ayo buktikan setidak menarik apa semua berkas ini di kantor polisi." Krisna tersenyum kecil lalu pergi meninggalkan Andre yang terdiam tanpa bisa menjawab lagi. Andre diam menatap tajam setiap langkah Krisna dengan tatapan membunuh. Ia rasa ia tidak akan main-main dengan ancamannya sekarang, Andre juga tidak akan tinggal diam, ia akan melakukan suatu hal yang akan membuat anak kecil itu terluka menangis seperti orang gila bersamanya.
__ADS_1
"AHAHAHHAHAH" Andre bersunggh-sungguh dengan ancamannya.