
Krisna datang menemui Bayu Nasution yang nampak santai di teras rumahnya. Pria paruh baya itu tersenyum penuh arti seakan-akan senang dengan kehadirannya.
"Bagaimana?" Tanya Bayu sambil menyambut anak muda itu. Seperti biasa Krisna terlihat seperti seorang aktivis walau di luar kampus dengan Almamater BEM yang masih melekat di badannya.
"Kamu dari kampus?"
"Ada rapat mendadak, besok mau ada demo peringatan hari buruh." Bayu hanya menganggukkan kepala.
"Tugas saya hanya memasukan pria itu ke dalam penjara bukan." Bayu mengangguk kemudian memberikan semua bukti kejahatan Andre.
"Saya ingin kamu yang memasukkan pria itu ke penjara. Saya hanya tidak ingin adik saya terluka karena tahu kakaknya memasukkan suaminya ke dalam penjara."
"Ternyata anda pria yang sayang keluarga."
"Ya begitulah karena hanya mereka yang saya miliki. Saya sudah berjanji pada orangtuanya saya untuk melindungi mereka."
__ADS_1
"Saya pikir anda kejam, tapi nyatanya anda kejam pada tempatnya hahaha." Krisna tertawa.
"Gunakan itu baik-baik jangan sampai salah langkah. Karena kesempatan tidak datang hanya sekali."
Krisna mengangguk, ia melihat-lihat dengan teliti berkas itu. Nanti ia akan mempelajari terlebih dahulu bersama Rakan. Ia tidak ingin salah langkah dan menuruti hawa nafsunya untuk membunuh pria itu.
"Bolehkah saya menggunakan ini untuk suatu hal?"
"Maksud kamu?"
"Saya ingin mengancam Andre untuk mentalak Ariana secepatnya. Saya ingin menikahi gadis tersebut." Ujar Krisna ia ingin Ariana segera lepas dari apapun yang berhubungan dengan Andre. Ia tidak ingin gadisnya terluka lagi.
"Bagaimana keadaan gadis itu?" Tanya Bayu mengingat Ariana mencoba bunuh diri kemarin. Pasti rasanya menyakitkan sekali mengingat anaknya dulu juga menggunakan cara tersebut untuk mendapatkan Rakan cinta pertamanya. Untung saja anaknya selamat.
"Baik, tapi dia belum sadar." Krisna mengucapkan hal itu dengan nada sedih. Sudah dua hari namun gadis itu belum menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Padahal Krisna sangat merindukannya hingga ia tidak bisa tidur nyenyak setiap malam. Bahkan ia merasa tak nafsu makan. Untung saja ada Rakan pria itu membantunya mengurus kematian ibu Ariana. Ia juga belum sempat mengunjungi makam ibu gadis itu, ia hanya sempat menyolatkannya. Nanti jika Ariana sudah sadar ia akan mengajak gadis itu kesana bersama.
__ADS_1
"Disana juga ada bukti bahwa Andre mengancam pihak rumah sakit untuk menghentikan perawatan ibu Ariana. Karena Andre adalah pemilik rumah sakit tersebut, jadi tidak ada yang tidak mungkin bagi pria itu." Mata Krisna menajam ia sudah menduganya. Ia benar-benar tidak akan melepaskan Andre sekalipun kali ini. Ia akan membuat pria itu mendekam di penjara lengkap dengan hukuman yang harus di bayar pria berengsek itu.
"Ternyata kamu sama Rakan mirip sekali walau tak serupa." Ucap Bayu ketika melihat tatapan Krisna yang terlihat seperti ingin membunuh seseorang ketika orang yang dicintainya disakiti oleh orang lain.
"Maksud anda?"
"Kalian sama-sama merasakan bagaimana rasanya hampir kehilangan wanita yang kalian cintai karena saya."
"Hahahaha." Krisna hanya diam menantikan ucapan Bayu. Ia sudah mendengar semua cerita Rakan tentang pria ini. Ia hanya perlu diam tanpa berbicara hal yang tidak penting agar hidupnya tidak terlalu jauh bersama pria itu.
"Kalian begitu menyayangi wanita yang kalian cintai. Kalian mencoba melindungi mereka dengan cara yang begitu aneh. Rakan yang mengabaikan istrinya untuk melindungi gadis tersebut dan kamu menyakiti orang yang mencoba menyakiti Ariana. Kalian sama-sama mempunyai rasa sayang yang tulus. Kadang saya iri."
"Iya." Ujar Krisna singkat.
"Kalau begitu saya pamit."
__ADS_1
"Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam."