
Terhitung sudah hampir satu bulan Seira dan Dandy pacaran. Teman-temanya juga sudah pada tahu, bahkan satu sekolah sempat gempar gara-gara berita ini.
Mereka nggak nyangka aja orang sekeren Dandy akhirnya mendapat orang manis seperti Seira. Mereka itu memang sama-sama populer.
Walau begitu tidak menutup kemungkinan Seira masih sering digodain sama kakak kelasnya. Biasa si tiang sama Alien masih gencar menggoda Seira. Tapi untungnya sudah tidak separah dulu.
Kak Chrish malah akhirnya pacaran sama ketua cabai. Lega Dandy tapi cuma sedikit. Kayak sekarang mereka sedang duduk berdua ditaman belakang sekolah. Dandy yang mengajak, kebetulan guru-guru sedang sibuk rapat.
Kenapa tidak pulang saja? Mereka belum diijinkan pulang. Merka disuruh pada ngerjain tugas. Tapi kebanyakan dari mereka pada nggak ngerjain. Malah pada nongkong dikantin, diatap, main bola, ngerumpi ya pokoknya digunain buat main.
"Ra nanti pulang sekolah kerumah aku ya. Aku kenalin ke ayah sama ibu." Seira yang sedang menguncir rambutnya terkejut.
"Hah? Nanti?"
"Iya nanti, haha nggak usah tegang gitu, orangtua aku nggak gigit kok." Dandy mencubit hidung Seira dengan gemas.
"Aku cuma malu aja."
Dandy terkekeh atas jawaban Seira dan mengenggam tangannya. "Nggak usah malu. Mereka cuma mau kenal sama kamu. Orang tua aku ramah kok, mau ya! Ya! Ya!"
Dandy mencoba merayu dengan menggoyangkan tangan Seira dan mengedip-ngedipkan matanya. Seira tersenyum melihat tingkah Dandy yang imut.
"Hahaha... iya-iya aku mau."
...*****...
Seira sedang mengatur detak jantungnya yang sudah tidak karuan sejak tadi. Seira sekarang sedang berdiri didepan rumah Dandy dan sangat gugup saat ini, dia juga menggenggam tangan Dandy dengan sangat erat.
Padahal Dandy cuma mau mengenalkan dia ke orangtuanya saja, dan orangtuanya mau kenalan saja sama Seira, tapi bagi Seira seperti mau persiapan perang.
Seira malah sudah berkeringat dingin karena membayangkan nanti orangtua Dandy tidak suka dengan Seira, karena dia tidak sekaya Dandy dan teman-temanya. Bagaimana nanti kalau dia disuruh menjauh dari Dandy.
__ADS_1
Atau nanti malah Dandy yang disuruh pergi ke Kanada lagi, tidak sanggup Seira membayangkanya. Dandy yang disebelah Seira cuma tersenyum jahil. Lucu banget pacarnya kalau sedang gugup begitu. Dandy langsung mengajak Seira untuk masuk.
"Duduk dulu disini, aku panggilin ibu dulu."
Dandy mempersilahkan Seira untuk duduk. Seira mencoba untuk tenang, tak lama seseorang perempuan datang yang diyakini Seira dia adalah ibunya Dandy.
"Ah ini yang namanya Seira itu ya?" Sapa ibunya Dandy dengan ramah.
Seira berdiri dan salim ke ibunya Dandy. "Iya bu, saya Seira."
"Waah kamu aslinya lebih cantik ya daripada difoto. Manis banget." Ucap ibunya Dandy memuji.
"Em?"
"Oh itu Dandy kemarin nunjukin foto kamu ke saya dan bilang kamu itu pacarnya, yaudah ibu suruh saja buat datang kesini."
Seira mengangguk-anggukan kepalanya. Mereka lalu duduk dan berbincang-bincang. Seira senang sekali dugaannya selama tadi salah. Ternyata ibunya Dandy itu ramah banget. Malah dia disuruh menganggapnya seperti Ibunya sendiri.
Ibunya Dandy sudah mengetahui bahwa orangtua Seira sudah tidak ada. Dandy yang bercerita, dan itu membuatnya iba mereka sedang tertawa diruang tamu.
Dandy menggoda Seira yang membuatnya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ibu Dandy tertawa melihat Seira yang sangat manis. Nah ibunya saja gemas apalagi anaknya.
"Heh ini tamunya nggak kamu kasih minum?" Dandy cuma cengengesan dan bilang bahwa dia lupa. "Kamu ya kebiasaan, tunggu ya Seira, ibu bikinin minum dulu."
"Nggak usah repot-repot bu."
"Udah nggak papa, ibu tinggal dulu." Dia berlalu pergi meninggalkan dua pasangan itu.
Dandy pindah duduk didekat Seira. "Ngobrol apasi sama ibu kok seru banget."
"Urusan cewek ya, cowok nggak perlu tahu haha." Seira tertawa dan berhasil membuat Dandy memanyunkan bibirnya pura-pura ngambek.
__ADS_1
*****
Sekarang sudah malam, Seira mau pamit pulang tapi ibunya Dandy menahannya. Dia menyuruh Seira untuk makan malam sekalian sambil menunggu ayahnya Dandy pulang.
Seira sebenarnya mau menolak tapi tidak tega sama ibunya Dandy yang memasang muka memelas persis seperti Dandy. Sekarang Seira paham dari siapa sifat rayuan Dandy itu berasal.
Tidak lama setelah itu ayahnya Dandy pulang. Dia sempat melirik ke arah Seira sebentar. Seira mengenalkan dirinya dengan sopan ke ayahnya Dandy yang menganggukan kepalanya.
Mereka sekarang sedang duduk didepan meja makan. Mereka makan dengan tenang. Sesekali ibunya Dandy memintanya untuk nambah, Seira sempat melirik kearah ayahya Dandy dia sangat mirip dengan Dandy.
Akhirnya Dandy mengantarkan Seira pulang, sebelumnya Seira sempat pamit dulu ke ayah dan ibunya Dandy. Ibunya Dandy memeluk dia dulu, dan ayahnya hanya bersikap biasa saja.
"Gimana Ra asik nggak orangtua aku?" Tanya Dandy diperjalanan.
"Iya, ibu kamu baik banget. Tapi aku masih takut sama ayah kamu." Ucap Seira dengan jujur.
"Haha, nggak papa santai aja Ra, ayah aku memang begitu orangnya. Dia sebenernya ramah kok. Nanti lama-lama juga akan akrab sama kamu."
Dandy menggenggam tangan Seira dan mengecupnya. Lalu Seira menyenderkan kepalanya kepundak Dandy.
Mereka sudah sampai didepan rumah Seira, Seira bilang makasih ke Dandy sebelum Seira turun Dandy mencegahnya.
"Tunggu Ra."
Dandy mendekatkan wajahnya, Seira dapat merasakan nafas Dandy yang cuma beberapa centi di depan wajahnya. Seira langsung menutup matanya. Dandy semakin mendekat dan—
Klik!
Dandy membukakan sabuk pengaman Seira, dia lalu tertawa jahil karena tingkah lucu Seira. "Hahahaha."
Seira membuka matanya dan menatap Dandy datar menahan perasaan malu. Seira lalu turun sambil memegang mukanya yang sudah memerah karena malu. Jahil banget asli Dandy, untung Seira sayang. Tapi belum juga turun sudah ditarik lagi sama Dandy.
__ADS_1
Cup!
Dandy mencium pipi Seira. "Udah sana masuk pacarnya Dandy." Dia mengusak rambut Seira. "Good night my Princess."