Luka Tak Termaafkan

Luka Tak Termaafkan
Bab 32 - Alasan (Dandy) Pergi, Part 2


__ADS_3

Dandy sedang melamun dibalkon kamarnya. Menyesali semuanya, andai waktu bisa diputar kembali. Waktu kejadian kemarin Dandy sangat syok dan tidak menyangka ternyata anak yang ditolongnya merupakan darah dagingnya sendiri, yang telah ia sia-siakan selama 17 tahun itu.


Flash back tujuh belas tahun yang lalu.


Dandy sedang mengeringkan rambutnya sehabis mandi. Tiba-tiba ponselnya bergetar menandakan ada notif pesan.


Drtt...drtt...drtt...


Dandy langsung mengambil ponselnya dan membaca dari siapa. Ternyata itu dari kekasihnya Seira.


^^^❣️Baby Sei❣️^^^


^^^Dandy, bisa keluar sebentar? Aku mau ngomong penting. Aku udah didepan rumah kamu. ^^^


Dandy cepat-cepat menemui Seira, untuk apa malam-malam begini pacarnya datang ke rumahnya, padahal dia masih sakit.


Dandy membuka pintunya, orangtua Dandy sedang ada pertemuan penting, mereka belum pulang. Dia melihat Seira yang sudah menangis. Dandy panik dia langsung memeluk Seira dan mengajaknya untuk masuk.


Setelah tangisan Seora reda, Dandy menyuruh Seira untuk cerita ke Dandy dia kenapa? Siapa yang udah membuat dia menangis, apakah ulah bibinya lagi.


"Aku, nggak papa Dan, cumaa—" Ucapan Seira masih serak sehabis menangis.


"Iya...bilang aja sama aku ya…" Dandy menggenggam tangan Seora yang agak dingin itu.


Seira menggigit bibir bawahnya kencang dengan perasaan gugup dan langsung mengungkapkan hal yang diluar dugaan Dandy.


"Aku...aku hamil, Dan."


Bahkan Seira membawa hasil tes dari dokter langsung yang menyatakan dia positif sedang mengandung darah dagingnya. Dandy tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Senang tentu tapi dia juga gelisah.


Oh ayolah, mereka bahkan masih dibawah umur. Dandy akan bertanggung jawab, tentu tapi bagaimana dia akan menghidupi Seira sedangkan semua fasilitas yang dia punya milik orangtuanya.


Dandy mengantarkan Seira pulang. Setelah memastikan kepada Seira bahwa semua akan baik-baik saja, dia bergegas pulang dan merenungi apa yang harus diperbuatnya sekarang?


Dandy menunggu orang tuanya dan tak lama mereka pulang, mereka mendapati Dandy yang sedang duduk dengan raut gelisah. Dandy ingin bilang kepada orangtuanya tentang hal ini tapi dia takut. Dengan mengumpulkan keberanian akhirnya dia memberitahukan hal ini.


"Eehh, kamu belum tidur sayang?" Tanya ibunya dan langsung mendatangi Dandy.

__ADS_1


"Ayah, ibu, Dandy mau bilang sesuatu." Ucap Dandy dengan takut-takut.


Mereka lalu duduk dan memperhatikan Dandy yang sepertinya akan mengatakan sesuatu yang serius karena dia sangat gugup.


"Ayah, Ibu, Seira hamil anak Dandy." Ucap Dandy sambil menunduk. Dia tak berani lihat tatapan keterkejutan orang tuanya.


Orang tuanya tentu kaget dengan apa yang baru saja diucapkan anaknya. Mereka bahkan tidak bisa berkata-kata. Betapa kecewanya mereka pada Dandy.


Ayah Dandy tidak berekspresi apapun, dia memilih langsung pergi dari sana. Sedangkan ibunya menatapnya dengan kecewa, tapi bagaimanapun juga Dandy adalah anaknya sendiri. Dia lalu mengusap punggung anaknya untuk menenangkanya, dan menyusul suaminya.


Dandy tidak bisa tidur semalaman. Disinilah dia, diruang tamu sedang berhadapan dengan ayahnya yang menatapnya dingin tanpa ekspresi, hanya kata-kata datar penuh penekanan yg ayahnya lontarkan kepadanya.


"Baliklah ke Kanada lagi. Buktikan kau sukses baru boleh pulang dan ayah dengan ibu akan menemui orangtua Seira!"


Dandy tersentak, "T—tapi ayah anak itu–"


"Gugurkan anak itu!" Ucap ayahnya dingin.


Dandy juga ibunya membelakan matanya menatap ayah Dandy, bagaimana bisa dia berkata seperti itu.


Dandy ingin menangis sekarang, "T-tapii ayah…."


Dandy menunduk mengusap air matanya, dia harus bertanggung jawab, tapi disisi lain dia tidak ingin mengorbankan masa depanya. Tapi masa depannya juga ada Seira disana.


"Kau tidak boleh membuat keluarga kita malu Dandy!"


Sekarang ini Dandy sedang berada didepan rumah bibi Seira, dengan orang tuanya juga disisinya. Awalnya Dandy bersikeras akan bertanggung jawab bagaimanapun caranya, tapi ketika ayahnya mengancam akan berbuat sesuatu kepada Seira, dia terpaksa langsung menuruti apa kemauan ayahnya.


Mereka disambut oleh bibi Seira yang heran dengan kedatangan Dandy sekeluarga dengan tiba-tiba. Mereka duduk diruang tamu, Seira juga sudah dipanggil. Dia melirik Dandy tapi Dandy malah membuang muka tidak mau menatapnya sekilaspun.


Hati Seira mencelos seketika itu, ketika ayah Dandy menyuruhnya untuk menggugurkan kandungannya. Apalagi ketika ayahnya mengeluarkan cek dengan nilai sangat besar. Sebegitu rendahkah dia dimata mereka.


Seira ingin meminta penjelasan kepada Dandy. Tapi laki-laki itu malah menunduk tidak berusaha menyela atau apa. Dandy juga setuju. Bahkan dia akan pindah ke Kanada lagi, dia juga memutuskan hubungan dengan Seira saat itu juga.


Flash back end!


Alasan sebenarnya Dandy pergi meninggalkan Seira, karena ancaman ayahnya. Tapi, sekarang Dandy menyesal jika dia tetap bertahan walau dengan hidup susah tidak apa. Dan sekarang dia yakin bahwa dia sedang menanggung karmanya.

__ADS_1


Dandy sudah berada di Indonesia selama sebulan, tujuh belas tahun dia habisakan dengan hidup di Kanada. Bisnisnya keluarganya hancur menyebabkan ayahnya sroke. Dia harus bekerja siang malam untuk melunasi hutang perusahaan.


Dandy sebenarnya dulu sempat kembali ke Indonesia untuk mencari Seira, namun dia sudah terlambat. Dia begitu dibenci oleh Jerendra dan berakhir dipukuli sampai babak belur.


Apalagi Jerendra mengatakan bahwa Seira dan calon anaknya sudah bahagia di Syurga. Jadi Dandy sangat putus asa dan kembali tanpa harapan. Dia tidak pernah tahu bahwa dia memiliki anak lelaki yang sekarang sudah remaja.


Dan untuk balasan perbuatannya kepada mereka berdua, Dandy diberi keluarga yang hancur. Istri dan anak sulungya meninggal, serta sekarang anak bungsunya sedang sakit parah.


Yah, Dandy sudah menikah sepuluh tahun yang lalu. Dan dengan tragis, istrinya meninggal karena kecelakaan dengan anak sulungnya, meninggalkan Dandy dengan anak bungsu yang sakit parah juga kekurangan kasih sayang.


Anaknya tidak pantas menanggung karmanya. Harusnya semua rasa sakit dan pembalasan itu dia terima sendiri. Tapi memang Tuhan itu adil. Membuat harta yang paling berharganya bisa direnggut kapan saja.


“Papa\~” Panggilan dari dalam membuat Dandy mengusap air matanya. Dia bergegas untuk melihat putri kecilnya yang terbangun.


“Kenapa, mimpi buruk?” Dandy mengelus kepala Keira, dan menarik selimutnya.


Keira menangguk lucu, “Tadi Kei mimpi dikejar sama monster biru.”


Dandy menyunggingkan senyum, dia tahu betul kalau itu merujuk pada dokter. Anak itu pasti tidak mau pergi besok.


“Kei, besok cuma cek rutin biasa.” Dandy membujuk.


“Tapi males disuntik. Kalau suntik pasti Kei harus nginep dulu. Makan obat pait heek, gaboleh makan es krim!” Celoteh anak berusia delapan tahun itu sambil merajuk lucu.


Dandy mengehela nafas, dia sungguh kasihan melihat anak seusianya yang harus keluar masuk rumah sakit. Bukan taman bermain maupun sekolah. Dari kecil tempat yang paling sering Kei kunjungi adalah rumah sakit, melebihi rumahnya sendiri.


“Oke besok papa bilang ke monter biru buat nggak suntik. Jadi Kei bisa makan es krim.” Ucap Dandy agak berbohong.


“Hm papa biasanya bohong.” Anak itu memang cerdik. Tambah usia jadi Dandy harus mengupgrade cara merayunya.


Akhirnya Dandy menghela nafas mengalah, “Oke. Besok papa free seharian buat nemenin Kei kemanapun Kei mau.”


Wajah Kei berbinar. “Janjiii….”


Dandy mengangguk dan menautkan jari kelingkingnya. Dia lalu mematikan lampu tidur dan menutup kamar Kei perlahan.


Drrtt… Drttt

__ADS_1


^^^Daewi\~^^^


^^^Om, aku punya rencana.^^^


__ADS_2