Luka Tak Termaafkan

Luka Tak Termaafkan
Bab 22 - Menghilang


__ADS_3

Ini sudah hampir satu minggu sejak Dandy pindah dan Seira yang tidak masuk ke sekolah. Dia seperti hilang tidak memberi kabar pada siapapun. Para sahabatnya mulai khawatir karena Seira juga sangat susah dihubungi.


Melisa yang sangat kelabakan, dia malah sudah mau lapor polisi saja. Ketika mereka berencana ke rumah Seira, malah Jerendra mencegahnya. Dia satu-satunya anak yang sangat santai dan kalem.


Soal kejadian di bandara mereka sempat menginterogasi Jerendra, kenapa mereka bertengkar. Malah Jerendra menjawab itu semua hanyalah akting. Sebagai kenangan katanya agar Dandy tidak melupakan mereka.


Tentu saja Jerendra diamuk para cewek-cewek karena alasan konyol itu. Jerendra juga membuat alasan mencegah mereka ke rumah Seira, karena bibi Seira tidak menyukai orang asing dan dia tidak ramah.


Mereka tidak bisa memaksa walau tidak seratus persen mempercayai perkataan Jerendra. Karena Seira juga sudah menceritakan tentang keluarganya.


"LIHAT INI GAES!" Teriak Ayunda dengan hebohnya mereka semua lagi ngumpul dikantin.


Ayunda datang-datang membawa surat yang dia dapat dari Yura tadi didepan ruangan kepala sekolah. Melisa dengan Milka langsung mendekat.


"Seira kenapasi? Kok tiba-tiba gini!" Komentar Melisa yang sudah membaca surat itu dengan kesal.


Nggak lama Yura datang dan langsung merebut surat itu dari tangan Melisa. “Kok dibuka, kalian nggak sopan banget si, ini kan buat Seira."


"Yu jadi itu bener?" Tanya Melisa masih tidak percaya dengan apa yang dibacanya.


Yura menghela nafasnya dan menceritakan semuanya. Tadi waktu rapat osis, Yura dipanggil ke ruang kepala sekolah. Karena Yura sahabatnya Seira, juga anggota osis yang dikenal kepala sekolah.


Beliau menitipkan surat untuk walinya Seira, soalnya walinya tidak bisa dihubungi. Kepala sekolah bercerita bahwa Seira meminta untuk mencabut beasiswanya karena dia mengundurkan diri dari sekolah ini.


Yura juga awalnya tidak menyangka Seira akan seperti itu, dia bahkan tidak pamit ke para sahabatnya yang sudah merasa kecewa dengannya sat ini.


“Apa ini ada hubungannya sama kepergian Dandy?” Ayunda merasa ada yang janggal. Karena setelah kepergian Dandy, Seira seperti menghilang.


Jerendra yang sedari tadi nyimak merasa panas dingin setelah ucapan Ayunda. Karena memang itu alasanya. Sebenarnya Jerendra merasa bersalah karena menutupinya tapi dia juga sudah berjanji pada Seira untuk tidak bilang apapun.


“Nggak mungkin cuma masalah itu. Seira bukan orang yang terlalu obses dengan cinta. Kalian tahu sendiri gimana dia selalu mengutamakan nilai dari pada itu.” Ucapan Melisa membuat Jerendra merasa tenang lagi.


Mereka semua tentu tahu bagaiamana ambisinya seorang Seira dengan nilai akademiknya.


“Aku mau jenguk Seira!” Ucap Yura dia juga mau mengatarkan surat itu. Sekalian dia mau tahu apa alasan Seira mengundurkan diri.


“Aku ikut.” Ucap Melisa yang disusul sama Ayunda dan juga Milka.


“Tapi apa Seira mau ketemu sama kalian?” Ucapan Jerendra membuat para semangat cewek-cewek jadi meredup.


Benar juga apa kata Jerendra, belum tentu juga Seira mau bertemu dengan mereka. Semua panggilan tidak pernah di angkat, chat juga tidak pernah dibalas oleh Seira.

__ADS_1


“Dia sebenernya ngganggep kita sahabatnya nggak sih.” Melisa menundukan kepalanya dengan sedih.


“Ayang mungkin Seira butuh waktu. Dia mungkin punya alasan buat sendiri saat ini.” Haikal mencoba menghibur Melisa.


Sebenarnya dia memiliki pikiran yang sama dengan Ayunda. Haikal juga sedikit curiga dengan Jerendra. Kelakuan Jerendra di bandara itu sangat alami kalau dikatakan sebagai bercandaan.


Ketika Haikal bertanya itu ke Dandy, malah Dandy juga berkata bahwa Jerendra memukulnya sebagai lelucon untuk bentuk perpisahan, mereka tidak memiliki masalah apapun.


“Haikal benar Mel, Seira hanya butuh waktu.” Ucap Arbie yang sedari tadi menyimak. Dia sangat berpikiran tenang dan lurus, tidak seperti semua sahabatnya.


“Tapi suratnya—“


“Aku aja yang nganterin.” Sela Jerendra mengambil surat dari tangan Yura.


Melisa menatapnya dengan curiga. “Kamu tahu sesuatu kan?”


“Yah Mel, kalian tahu sendiri kan ayangnya aku tuh sahabat dari kecilnya Seira. Aku mau minta tolong ke ayang buat nganterin ke Seira. Kalau Seira ada kabar aku kasih tahu ke kalian deh.”


Melisa mendatarkan wajahnya melihat kelakuan Jerendra yang kumat gilanya. Yah, mereka memang tidak ada pilihan lain untuk saat ini.


...*****...


Cling!


Yura dengan gugup menggantinya dengan mode diam. Dia tadi lupa, tapi Yura melihat bahwa ternyata mamanya yang mengirimnya pesan.


...[ Pesan ]...


^^^Mama |^^^


^^^[ Sayang bisa pulang sekarang? ] ^^^


Me |


[ Kenapa ma? ]


^^^Mama |^^^


^^^[ Ketuban mama pecah. Papa kamu tidak bisa dihubungi ] ^^^


Me |

__ADS_1


[ Iya ma tunggu sebentar, Yura akan segera pulang ]


^^^Mama |^^^


^^^[ Oke mama tunggu. Jangan ngebut! ]^^^


Yura sangat panik tapi wajahnya santai, dia segera meminta ijin ke bu Irina karena urusan mendadak. Beruntung bu Irina memberinya ijin karena Yura termasuk murid teladan.


Dia berlari menuju tempat parkir untuk mengambil mobilnya. Mamanya memang bilang jangan ngebut tapi Yura sangat khawatir.


Sambil mencoba menghubungi papanya yang selalu berada diluar jangkauan. Yura menghela nafas. Papa dan mamanya jarang sekali akur, tapi sekali akur bucinya nggak ngotak.


Seringkali mereka berdua bertengkar karena masalah sepele. Usia mama dan papanya hanya terpaut 18 tahun dengannya. Mereka berdua menikah karena Accident.


Tentu saja Yura penyebabnya, walau mama dan Papanya menikah karena cinta. Tapi pengalaman juga perlu untuk pernikahan. Sifat Yura yang sangat dewasa itu karena keadaan.


Tidak mungkin dia bersikap manja sedangkan mama dan papanya juga masih sering bertengkar seperti anak kecil. Sungguh keajaiban mereka masih bersama hingga sekarang dan membuat adik untuk Yura.


“Ma?”


Yura membuka pintu dengan tergesa, ia berlari ke kamar mamanya dan melihat air yang menggenang di lantai. Pasti itu air ketuban.


“Disini.” Ucap mama Yura dari arah kamar mandi. Yura memapah mamanya dan membawanya dengan hati-hati ke rumah sakit.


Papanya datang sangat terlambat ketika bahkan Yura sudah menyelesaikan pendaftaran dan sebagainya. Papanya datang dengan baju dan rambut yang berantakan.


“Sayang, gimana keadaan mama kamu?”


“Tenang pa, duduk dulu. Mama masih didalem.” Yura menyodorkan minuman kearah papanya.


Baru saja papanya akan minum namun teriakan dari dalam membuatnya mengurungkannya.


“DARELL! AKU TAHU KAMU UDAH DATENG! KESINI! AKU MAU JAMBAK RAMBUT KAMU!”


“Iya beb aku dateng. Hiks mati aku.” Dengan muka pasrah papanya berjalan dengan gontai menuju ke ruang persalinan.


“Semangat pa!” Yura menyemangatinya.


Ketika Yura mau membeli makan, dia melihat seorang yang tidak asing dimatanya. Apakah Yura salah orang? Dia terlihat sangat mirip seperti sahabantnya.


Tapi apa yang sedang dilakukannya dirumah sakit? Apa dia sedang sakit?

__ADS_1


“Seira!”


__ADS_2