Luka Tak Termaafkan

Luka Tak Termaafkan
Bab 8 - Yang Sebenarnya Terjadi


__ADS_3

Masih ingat waktu Jerendra tidak masuk sekolah yang Haikal bilang sedang kondangan. Sebenarnya Jerendra sedang disuruh oleh ayahnya untuk mewakilinya, melihat perkembangan pabrik material ayahnya yang jauh dari kota.


Jerendra itu walau kelakuanya absurd, tapi kalau sudah menyangkut pekerjaan, dia pasti akan sangat serius dan patuh. Padahal dia masih sangat muda. Maka dari itu Jerendra kesana sendiri dan melihat langsung perkembagan pabrik ayahnya itu. Tapi di tengah perjalanan pulang, Jerendra tidak sengaja menyerempet seseorang.


Sedang hujan pula, maka Jerendra segera menolongnya. Kalau dilaporin kepolisi kan bisa panjang urusanya. Dia segera keluar dari mobilnya dan membantu orang itu. Jerendra terpana denganya, karena orang itu sangat cantik. Jerendra masih terus memandanginya mengabaikan pakaian mahalnya yang basah, hingga sebuah suara menyadarkanya.


"Aduuhh!" Rintih seseorang yang diserempetnya itu.


"Ehh maaf-maaf sini aku bantu." Jerendra membantunya masuk kemobilnya. "Aku antar kerumah sakit ya." Jerendra merasa bertanggung jawab karena telah menabraknya.


"Eh nggak usah mas, tolong antar saya kerumah saja." Dia menolak dengan halus.


"Eh tapi itu luka kamu kan harus segera diobatin." Jerendra membungkuk untuk mengecek luka dikaki orang itu.


"Enggak papa mas enggak usah, ini luka kecil aja kok. Lagian saya tadi juga nggak lihat-lihat waktu mau menyebrang."


Jerendra seperti disihir dengan kata-katanya yang lembut. Wah nggak kalah manis sama Seira ini mah kata Jerendra dalam hati. Akhirnya Jerendra menurutinya. Dia mengantar orang itu kerumahnya tapi ketika sampai digerbang Jerendra menyernyit.


Karena membaca plang PANTI ASUHAN.


Oh jadi dia anak yatim toh, batinya. Jerendra segera memapahnya masuk kepanti itu. Lalu disambut oleh anak-anak panti yang terlihat cemas dengan kakak tertuanya yang dipapah seperti itu. Seorang wanita paruh baya datang dan langsung menanyainya kenapa.


"Kamu kenapa Rumi?" Tanya wanita itu ke mereka, yang ditanrak Jerendra adalah Serumi sahabat Seira dari kecil.


"Ibu, nggak ini tadi cuma keserempet sedikit aja." Serumii berusaha untuk duduk masih dibantu oleh Jerendra.


Ibu panti melirik ke Jerendra, "Dan kamu-?"


"Oh iya saya Jerendra ibu. Maaf saya yang tadi nyerempet Serumi." Jerendra merasa tidak enak hati.


Ibu panti mengangguk dan berterimakasih karena sudah membawa Serumi. Dan Jerendra menjawab kalau itu sudah kewajibanya dan harus bertanggung jawab. Jerendra disuruh untuk ganti baju karena baju mereka basah.


Awalnya Jerendra menolak tapi karena dipaksa oleh ibu panti terpaksa Jerendra menurutinya. Waktu makan malam juga Jerendra masih berada disana, dia belum beranjak pulang karena diluar hujan makin deras.


Jerendra malah bermain dengan anak-anak panti sesekali mengobrol dengan Serumi. Jerendra merasakan kebahagiaan disana, walaupun mereka tidak punya orang tua lengkap, tapi setidaknya mereka masih bisa tertawa bahagia seperti tidak ada beban.


Jerendra pamit untuk pulang karena sudah semakin malam, hujan juga sudah reda. Tapi ketika diperjalanan Jerendra seperti melihat seseorang yang dikenalnya sedang berboncengan.

__ADS_1


Karena penasaran, Jaerendra mengikuti mereka, dan benar tebakanya dia adalah Seira. Dia bersama ketua osis mereka kak Ravan yang sedang mengantarnya.


Apa mereka sudah berpacaran? Batin Jerendra, karena untuk apa kakak kelasnya repot-repot mengantarnya kalau tidak ada hubungan apa-apa. Bahkan jarak dari Kota kesana kan juga jauh.


Jerendra ingin berpikiran positif saja mungkin memang kebetulan Ravan ada urusan disana dan mereka tidak ada apa-apa.


Jerendra awalnya ingin melupakanya saja, tapi ketika Haikal bercerita bahwa Dandy menyukai Seira dan ingin mendekatinya, Jerendra berkata bahwa mungkin Seira sedang dekat dengan Ravan.


Karena belum lama ini dia melihat Seira diantar oleh Ravan. Awalnya Dandy memang tidak percaya tapi saat melihat Seira sedang mengobrol sesekali bercanda dengan Ravan, sudah hancur harapan Dandy.


Apalagi ketika melihat Seira memberikan minumanya kepada Ravan waktu itu dikantin. Dia memilih menjauhi Seira karena pikirnya Seira sudah berpacaran dengan Ravan. Padahal semua itu tidak benar.


Makanya itu adalah alasan Dandy selalu menghindari Seira setiap berpapasan dijalan, dan Dandy juga akan memalingkan wajahnya. Karena kalau tidak, Dandy akan sulit untuk melupakanya.


Setiap kali Dandy melihat interaksi Seira dengan Ravan, Dandy selalu merasa marah dan cemburu. Tapi Dandy sadar diri, dia tidak berhak memang dia siapanya Seira?


...*****...


Dandy sekarang sedang berada diperpustakaan, karena tadi waktu di pelajaran bu Irina, Dandy melamun dan langsung mendapat hukuman untuk mencari rumus matematika diperpustakaan.


Wah, mana Dandy buta matematika lagi. Mana tahu, rumus yang dimaksud bu Irina itu yang mana. Lengkaplah sudah penderitaannya. Dandy mencatat semua rumus matematika dengan asal. Yang penting ditulis lah.


"Eumm ini bukan materi kelas 10 Dan." Dia memeriksa catatan Dandy.


"Heumm." Dandy hanya berdehem menanggapi. Dia adalah Seira.


"Sini aku bantu. Kamu hanya perlu cari buku yang sampulnya warna biru, disana ada semua rumus buat bahan pelajaran kita."


Dandy masih diam tak bergeming bahkan ketika Seira berbalik untuk mencari buku itu. Tak lama dia kembali dan menyerahkanya kepada Dandy.


"Nih ini yang benar, itu buku kelas 11 yang kamu bawa. Coba salin yang ini aja." Ucap Seira lalu duduk lagi disebelah Dandy.


Dandy masih diam saja mencoba mengabaikan keberadaan Seira. Tapi Seira tidak menyerah, jika dia ada salah maka Seira akan berusaha untuk meminta maaf.


"Aku sudah lama juga belajar yang ini sekitar dua bulan dan buku ini emang akurat. Bahkan disana ada rumus yang nggak ada dipelajaran kita tapi membantu. Aku suk—"


"Udah berapa lama?" Dandy yang sedang larut dalam pikirannya sendiri memotong perkataan Seira.

__ADS_1


"Oh, sudah dua bulan." Seira tersenyum ceria menanggapi Dandy tanpa tahu mengarah kemana pertanyaan Dandy.


Dandy menyalah artikan dan beranggapan bahwa berarti selama ini cinta Dandy bertepuk sebelah tangan. Dandy mengiranya Seira sudah pacaran dengan Ravan selama dua bulan.


"Oh kalo gitu selamat. Langgeng ya!" Dandy tersenyum dengan miris.


"Maksudnya? Langgeng sama buku matematika?" Seira menunjuk buku matematika didepannya dengan polos. Sungguh tidak menangkap omongan Dandy barusan.


"Sama kak Ravan." Dandy menekankan kata Ravan dengan gondok. Raut wajahnya sangat tidak enak dilihat, tapi bagi Seira malah terlihat lucu.


Seira lalu tertawa, beruntung perpus sedang sepi dan tawanya Seira tidak seperti tawanya Jerendra, bisa ditendang nanti Seira.


"Kok ketawa? Ada yang lucu memang?" Dandy melirik Seira dengan sinis.


Seira langsung menunduk dan meminta maaf. "Maaf."


Dandy merasa sudah kelewatan karena melihat perubahan wajah Seira yang sedih. Dandy langsung merasa bersalah. Harusnya dia tidak usah seperti itu, mau mereka pacaran atau tidak itu urusan mereka. Dandy tidak berhak untuk marah atau menghakimi.


"Ekhmm...iya nggak papa kamu nggak salah kok. Aku yang kelewatan tadi." Dandy mulai mengalihkan topik. "Tapi kamu ngapain disini Ra, nggak ikut pelajaran?"


"Enggak, lagi jam kosong makanya aku ke perpus. Tadi sama Melisa kok tapi dia lagi ke toilet." Jelas Seira nampak tidak terlalu memikirkan ucapan ketus Dandy tadi dan balik bertanya, "Lah kamu disini dihukum?"


"Haha ketahuan banget ya." Dandy menggaruk kepalanya dan Seira mengangguk. "Kenapa nggak nyamperin pacar kamu aja aku lihat tadi dia lagi main basket dilapangan."


Dandy menunjuk ke arah jendela yang mengarah ke lapangan. Seira masih bingung dengan apa yang diucapkan oleh Dandy, namun dia langsung paham dan ketika melihat kearah jendela.


"Kak Ravan?" Ucap Seira menunjuk kearah Ravan yang membuat Dandy mengangguk, "Yaampun Dan, kamu masih mengira aku sama kak Ravan pacaran?"


"Tadi kamu bilang kalian sudah dua bulan pacaran." Malah sekarang Seira yang jadi gemas dengan Dandy. Bisa-bisanya Dandy berpikir seperti itu.


"Aku kan jawab buku itu aku udah aku pelajarin selama dua bulan. Bukan aku sama kak Ravan yang udah pacaran dua bulan."


Dandy masih berpikir dan mencoba mencerna kata-kata Seira barusan.


Berarti! Berarti! Berarti! Seira masih single. Yes! Dandy masih ada kesempatan. Begitulah kira-kira isi otak Dandy saat ini. Dandy tersenyum bahagia sekali. Dia memandang Seira lama sekali, mereka bertatap-tatapan sampai—


"Ekhhmmmmm....!" Deheman Melisa membuyarkan mereka. Seira langsung menunduk malu. Sedangkan Dandy langsung berpura-pura sibuk dengan catatanya.

__ADS_1


"Aku cariin malah asyik berduaan disini. Ayo Ra, balik ke kelas bentar lagi bel nih." Melisa menggandeng Seira keluar.


Menyisakan Dandy yang masih berbahagia sendiri disana. Dia malah melupakan tugas yang disuruh bu Irina. Doakan saja semoga Dandy bisa selamat dari siksaan bu Irina yang sadis jika tidak menyelesaikan tugasnya!


__ADS_2