
Hari-hari berlalu dan kondisi Aaron semakin membaik walau masih belum boleh pulang. Mereka juga semakin akrab karena Keira sering main ke kamar Aaron, kebanyakan karena ingin bertemu dengan Seira.
Aaron juga sudah menganggap Keira seperti adiknya sendiri. Mereka menyambut Keira dengan senang, karena anak itu sangatlah ceria dan menyenangkan. Tanpa tahu bahwa Keira merupakan anak dari Dandy.
Keira juga sudah akrab dengan teman-teman Aaron, sering main dengan Daewi. Zoe malah jadi sering banget menjenguk Aaron soalnya modus mau lihat Keira dedek gemes. Keira bercerita bahwa dia tak punya teman banyak soalnya dia home schooling.
Dandy sampai heran sama Keira, biasanya Keira selalu mengeluh merengek ingin pulang karena bosan di rumah sakit, juga selalu meminta Dandy agar jangan lama-lama dikantor. Tapi sekarang Keira seperti biasa saja ditinggal lama oleh Dandy.
"Haii belum tidur nih anak papa." Ucap Dandy sambil membawa beberapa baju Keira. Dia sangat lelah seharian ini tapi melihat Keira menyambutnya dengan hangat membuat lelahnya hilang.
"Eh, papa...” Keira tersenyum, “Kei belum ngantuk, oh iya Kei lupa cerita sama papa."
"Hem cerita apa?" tanya Dandy sambil membenarkan selimut Keira.
"Kei sudah punya teman lho disini. Mereka baik banget sama Kei." Keira terlihat sangat antusias.
"Oh iya?" Dandy ikut senang mendengarnya.
Keira mengangguk sambil menguap, "Iyaa pa, kapan-kapan Kei kenalin ke mereka ya."
"Boleh, sekarang Kei tidur dulu ya." Dandy mencium kening Keira yang mulai memejamkan matanya.
Ketika membereskan baju Keira, Dandy tidak sengaja melihat mantel dan syal asing. Seingatnya Dandy tidak pernah membelikan Keira barang itu. Pasti juga bukan milik bibi penjaga karena desain dan merknya yang terkenal.
Dengan siapa anak itu berteman?
Tapi, mengingat Keira sangat bahagia dan tidak kesepian lagi membuat Dandy tersenyum. Orang itu pasti baik, biarkanlah saja asal Keira bahagia.
...******...
Aaron hari ini keluar dari rumah sakit dan itu membuat Keira sangat sedih. Dia akan kehilangan teman juga sosok ibu. Keira mengantarkan Aaron sambil terus membuntuti Seira.
"Kak Aa, jangan lupa jengukin Kei ya nanti." ucap Keira dengan sedih.
__ADS_1
"Siap, jangan sedih dong Kei." jawab Aaron sambil memeluk Keira.
Seira baru menyadari sesuatu, ternyata Aaron dan Keira memiliki kesamaan. Jika sedih mereka akan reflek menggaruk alis. Bahkan bentuk bibir mereka juga sama ketika sedang manyun dan merajuk.
Dia pernah melihat itu semua pada diri seseorang tapi, ah Seira! Dia menggelengkan kepalanya kuat-kuat untuk mengusir hawa setan disekelilingnya.
Seira lalu mendekat sambil memeluk Keira, "Kei tenang saja ya, mama pasti akan sering main kesini. Jangan sedih oke."
Mereka lalu meninggalkan rumah sakit setelah pamit ke Keira. Sebenernya Keira terlihat tidak rela ditinggal, soalnya dia baru ngerasain lagi bagaimana punya ibu dan saudara, tapi dia nggak boleh egois.
Mereka sudah sampai tapi bukan ke panti, Seira membawa Aaron ke apartemen mereka. Aaron sudah tahu. Seira sudah meminta ijin dulu sama Aaron mau mengajak dia tinggal di apartemen. Seira mengajak Daewi juga, mereka tinggal bertiga disana.
Soal Dandy kemarin Daewi dimaafkan tapi dengan syarat dia tidak boleh memberi tahu Aaron bahwa Dandy merupakan ayah Aaron dan masih hidup. Tentu Daewi mengiyakan, dia juga mengaku salah dan sangat menyesal.
"O iya tadi bibi Serumi nggak bisa jemput kamu, katanya hari ini Nana ada lomba." kata Seira sambil membereskan koper Aaron.
"Iya nggak papa, eh iya. Aa belum kasih hadiah buat Nana ma." Aaron lupa.
"Tadi mama udah nitip ke Dede kok tenang aja. Yaudah kamu istirahat dulu sana" perintah Seira yang dianggukin Aaron.
Lihat saja gambar tom jerry itu, sangat Daewi sekali. Tapi setidaknya Aaron senang karena Daewi ikut tinggal bertiga dengan mereka. Serasa dia memiliki keluarga yang diimpikannya selama ini. Walau tetap saja kurang karena tidak ada ayah-nya.
Aaron sebenarnya ingin bertanya dimana ayahnya, tapi setiap Aaron tidak sengaja menyinggung pertanyaan yang menyerempet tentang ayahnya, Seira selalu mengalihkan pembicaraan atau pura-pura tidak mendengar.
Jadi, Aaron tidak mau bertanya lagi. Biarkalah saja, sekarang dia harus menikmati apa yang sudah ada dihadapannya jangan terlalu serakah. Jika ayahnya masih hidup dia pasti akan muncul dengan sendirinya. Seperti ibunya.
Seira masih sibuk menata barang bawaan Aaron, tadi Aaron kekeuh ingin membantu tapi dia omeli. Jadi Aaron menurut dan mungkin sedang tidur sekarang. Tiba-tiba Handphone nya bergetar, ternyata Keira yang menelponnya.
"Hallo Kei ada apa?" Seira meloudspeaker panggilan itu.
"Hehe nggak papa kok ma, cuma kangen aja,"
Seira tersenyum sedang membayangkan wajah Keira yang sedang terkiki, "Dasar... papa kamu udah disana?"
__ADS_1
"Belum ma, bentar lagi kayaknya."
Seira, "Oh ya, kamu udah makan?"
"Udah tadi."
Seira, "Anak pinter."
"Mama Sei, janji ya besok kesini jengukin Kei,"
Seira mengangguk walau Keira tidak melihatnya, "Iya pasti..."
"Oh itu papa, yaudah Kei matiin dulu ya ma dada."
Klang!
“Dede, kamu udah pulang?” Seira menyambut Daewi yang kelahan baru pulang dari sekolah.
Daewi mengguk sambil mengipasi wajah dengan tangannya, “Iya, habis telvonan sama siapa ma?”
Seira memberikan air untuk Daewi minum, “Sama Kei, oh ya gimana lomba Nana?”
Daewi mengangguk, “Nana menang, tapi ya ampun Nana tantrum kita semua lelah banget suruh lari-larian buat ngerayain. Kaki dede pegel banget.”
Seira malah tertawa, “Pasti gemes.”
Daewi memutar bola matanya, “Aa mana? Kok tumben sepi.”
“Tidur, mama omelin karena ngotot tadi mau ikut beresin.”
Daewi melihat sekeliling, ya bener mereka emang baru pindahan seminggu yang lalu. Tapi Aaron baru pindah kesini tadi, jadi barangnya masih banyak yang belum diberesin.
“Yaudah, dede ganti baju dulu nanti dede bantu beresin.” Daewi berlari menuju kamarnya.
__ADS_1
“Iya, tapi kamu makan dulu.” Teriak Seira yang seperti tidak didengar oleh Daewi. “Aih, dasar anak itu.”