
Seira niatnya mau pulang cepat, tapi karena hari ini dia ada jatah piket jadinya telat pulangnya. Sekarang bibinya sudah tidak terlalu mementingkan Seira mau pulang telat atau tidak, sudah dibiarkan. Tentu saja karena uang pastinya.
Jadi disinilah Seira, sudah sore dan terjebak hujan malah. Niatnya Seira mau menerobos hujan saja, tapi takut nanti malah sakit. Maka dia terpaksa menunggu sampai hujan reda disekolah dan sendirian pula. Teman-teman yang piket bersamanya sudah pulang duluan.
Beruntung Seira itu pemberani, mana sekolah sudah sepi banget dan hari makin sore. Tiba-tiba ada suara seperti benda berjatuhan dari ruang sebelah. Seira merinding horor dia memang pemberani, tapi kalau dihadapkan dengan situasi seperti ini ya merinding juga. Seira memantapkan langkahnya untuk memastikan ada apa diruang sebelah.
Tap! Tap! Tap! Tap! Tap!
Derap suara langkah kaki Seira menuju ke ruangan sebelah sambil memanjatkan doa dalam hatinya, semoga tidak ada apa-apa namun baru saja Seira sampai didepan pintu—
"Aaaaaaaaakhhhhhhh setannnnnnn!"
Bukan Seira yang menjerit tapi seseorang. Seira malah masih diam mematung disana.
"Eh kayak kenal sama suara tadi." Seira berpikir kenapa ia diteriaki setan, Seira masih berpikir sambil mengejar orang yang sedang lari itu.
Bagaimana tidak mau diteriaki setan, rambut panjang Seira yang terurai dan sebagian menutupi wajahnya. Dia berdiri disamping lampu yang remang-remang pula. Seira terenggah-enggah, dia berhasil meraih orang yang menjerit tadi. Tapi orang itu menutup matanya.
"Setan! Tolong jangan apa-apakan saya, saya masih perawan eh perjaka!" Suaranya bergetar seperti sangat ketakutan.
Lah cowok kok penakut sih, batin Seira dalam hatinya dan terkikik geli.
"Eh aku bukan setan!" Ucap Seira menahan tawanya.
"Mana ada setan mau ngaku!" Ucap orang didepan Seira masih menutupi matanya.
"Aku kan napak ini!" Seira geregetan juga lama-lama. Mana makin deras lagi hujanya. Orang didepanya melepaskan tanganya untuk melihat dengan teliti wujud Seira itu.
"Ehh iya ya hehe... Lah Seira." Ucapnya kaget dan langsung berdiri. Dia mendadak malu karena sudah bertingkah penakut didepan adik kelas manisnya itu.
__ADS_1
"Kak Ravan kok masih disini?" Kini mereka duduk didepan ruang kelas biologi dirak sepatu.
"Oh tadi anu, ada yang ketinggalan dikelas makanya balik lagi, tau-tau malah kejebak hujan aku parkirnya jauh lagi." Jelas Ravan, sebenarnya dia mengambil buku milik Alena yang tertinggal karena ulahnya. Jika dia tidak diteror pesan mengerikan Alena, tidak mau Ravan balik lagi.
"Ohh begitu." Seira mengangguk mengerti.
Ganti Ravan bertanya, "Lah kamu ngapain masih disini dek?"
"Hehe habis piket kak malah kejebak hujan juga." Mereka lalu mengobrol-ngobrol santai sampai hujanya reda sedikit.
"Udah reda nih pulang yuk." Ajak Ravan dan Seira mengikutinya. "Kamu pulangnya gimana?" Mereka sudah diluar gerbang sekolah.
"Nunggu bis dulu kak."
"Udah malem gini aku anter aja ya?" Sekarang memang sudah pukul setengah delapan.
"Udah nggak papa ayuk." Ajak Ravan lagi, dia tidak mungkin membiarkan adik kelas manisnya itu pulang sendirian malam-malam begini dan menunggu bis.
Mau ditaruh dimana mukanya, dia kan ketua osis yang harus menjadi panutan. Untungnya Seira tidak menolaknya lagi.
Seira dibonceng oleh Ravan menuju ke rumahnya. Diperjalanan Ravan sempat bertanya. Apakah setiap hari Seira selalu naik bis? Diajawab iya oleh Seira.
Ravan terus bertanya, jadi Seira selalu bangun lebih awal agar tidak ketinggalan bis? Kenapa tidak pindah kekota saja. Dan Seira menjawab karena tidak diperbolehkan bibinya.
Ravan takjub dengan anak seperti Seira. Sudah cantik, manis, ramah, punya semangat tinggi untuk sekolah lagi. Tidak seperti teman sekelasya yang berinisial Alena itu. Sudah judes, cerewet, kasar, males banget Ravan kalau berhadapan denganya. Eh tapi tunggu kenapa malah dia sekarang memikirkan rivalnya itu sih.
Akhirnya mereka sampai dirumah Seira. Setelah mengucapkan terimakasih Seira masuk kerumah dan tidak lupa tersenyum sangat manis untuk Ravan. Ravan langsung terpana. Waah manisnya dalam hati. Lalu bergegas pulang dengan masih membayangkan senyum Seira untuk bekal diperjalanan.
"Eh tadi lewat jalan yang mana ya?" Ucap Ravan menggaruk tengkuknya. Kebanyakan membayangkan Seira sih. Akhirnya Ravan pulang kerumah dengan selamat dan tidak nyasar dengan bantuan google maps tentunya.
__ADS_1
...*****...
Pagi di sekolah seperti biasa. Waktu istirahat, Seira sudah dikantin sekarang seperti biasanya ngumpul sama temen-temenya, mereka sudah seperti squad. Tapi yang bikin mengganjal itu nggak ada Dandy yang nyempil disana.
Biasanya Dandy akan mencuri pandang ke Seira. Seira memang menyadari itu semua tapi Seira buat biasa saja. Sudah sekitar satu minggu Dandy tidak makan bersama mereka.
Waktu papasan sama Seira saja Dandy malah suka memalingkan wajahnya. Biasanya Dandy akan tersenyum duluan memperlihatkan gigi-gigi kelincinya, tapi sekarang tidak.
Haikal dengan Jerendra juga, bisanya Haikal akan memaksa mereka buat gabung satu meja, untuk caper sama Melisa. Walaupun masih suka caper sama Melisa tapi kalau sudah ada Seira, Haikal bakal bersikap biasa aja.
Yang paling kelihatan itu Jerendra, anak yang paling nggak bisa diam. Tapi kalau Seira sudah muncul dia mendadak diam. Seira jadi merasa ane dengan sikap mereka semua.
Walau teman-temannya kayak Melisa, Yura, Ayunda, Milka, Arbie biasa saja tidak terlalu memperhatiakan, tapi Seira merasa ada yang beda. Dan seperti sekarang ini. Dandy malah milih buat duduk jauh agar tidak satu meja sama Seira.
Padahal Haikal dan Jerendra ada disini bersamanya. Pernah Milka bertanya untuk mewakili Seira. Karena Milka pun agak sedikit peka dengan perubahan ini.
"Kal, kok Dandy sekarang jarang gabung sama kalian disini. Kalian lagi berantem?" Tanya Milka ke arah Haikal yang sedang meminum cola.
"Enggak kok. Kita nggak ada masalah. Tadi kamu liat aku sama Dandy bareng kan kesini."
"Dandy cuma lagi mau ngehindarin seseorang aja." Cletuka Jerendra langsung mendapat tatapan tajam dari Haikal.
Itu mulut apa ember bocor sih! Haikal mencela Jerendra dalam hati.
"Maksudku, dia lagi ingin sendiri." Jerendra gelagapan, seakan matanya telepati ke arah Haikal sambil bilang sori bro keceplosan.
Mereka mengangguk mengerti. Dan ada satu anak yang masih menundukan kepalanya. Seira yang menundukan kepalanya. Karena memang yang ditunjuk Jerendra itu dirinya.
Memangnya siapa lagi? Seira sedih kenapa Dandy harus menghindarinya? Memangnya ada apa? Apa Seira telag berbuat salah?
__ADS_1