Luka Tak Termaafkan

Luka Tak Termaafkan
Bab 31 - Alasan (Dandy) Pergi


__ADS_3

Dandy telah menyelesaikan semua administrasi anak lelaki yang tadi ditolongnya itu. Dandy ingin segera pergi, tapi didalam hatinya menginginkannya untuk tetap tinggal disana dan menunggu setidaknya sampai keluarga anak itu datang.


Dandy merasa aneh, ada rasa nyeri dan sakit didadanya ketika melihat anak tadi kritis. Rasanya sedih dan ingin berbuat sesuatu tapi entah apa itu.


Dandy duduk didepan ruang UGD, tak lama kemudian seorang anak gadis muncul dengan tergesa dan langsung menangis. Anak gadis itu melirik Dandy dan bertanya kepadanya, dia siapa.


Dandy berpikir mungkin gadis itu adalah teman anak itu. Dandy menjawab bahwa dia yang mengantarkan anak itu, tak lama ruang operasi dibuka, dokter keluar dan memberitahukan kepada mereka bahwa anak itu sedang kritis.


Anak lelaki itu kehilangan banyak darahnya dan menanyakan pada mereka apa ada diantara mereka yang punya golongan darah AB+.


Gadis itu menggeleng, tangisnya semakin menjadi. Dandy melihatnya juga merasa kasihan. Maka tanpa pikir panjang Dandy mengatakan bahwa dia yang akan mendonorkanya kebetulan darahnya juga sama AB+.


Dandy sudah diruangan bersama anak lelaki itu, setelah suster selesai dengan biodatanya, Dandy melirik anak yang sedang terbaring lemah didekatnya.


Wajah itu, sangat mirip dengan seseorang, dengan perpaduan manis dan tampan. Dandy seperti sudah mengenalnya lama. Hati Dandy terenyuh ketika menatapnya.


Selesai dengan transfusi itu Dady keluar, tapi separuh hatinya enggan pergi. Ingin rasanya melihat anak itu lebih lama. Dia keluar ruangan, lalu seseorang memanggilnya. Ketika Dandy menoleh, dia mendapati wajah familiar yang juga menatapnya dengan tatapan terkejut, juga dirinya yang sama terkejutnya dengan mereka.


Mereka adalah, Serumi yang sedang menutup mulutnya sendiri dengan tanganya, Jerendra yang sedang menatapnya sengit, dan terakhir Seira yang hanya mematung dia berharap yang didepanya hanyalah ilusi. Dan juga anak gadis tadi yang sedang menatap polos tidak mengerti situasi apa ini karena mereka semua yang mendadak hening.


...*****...


Sudah hampir satu bulan Aaron koma, dengan Seira juga tetap disisihnya. Dia tidak pernah meninggalkan Aaron sendiri. Setelah Daewi menceritakan alasan Aaron yang kabur dari sekolah, Seira merasa sangat menyesal karena menjadi Ibu yang paling tidak berguna.


Sedangkan Dandy, terlepas kejadian itu dia tidak pernah muncul lagi. Mungkin sudah kembali ke luar negri. Untung mereka sudah dewasa jadi tidak ada kekerasan waktu itu.


"Mama Seira...makan dulu ya? Tadi Dede bawa dari panti titipan Bibi." Ucap Daewi yang baru masuk ke dalam ruang rawat Aaron.


Daewi sudah tahu semuanya tentang siapa Seira dan Dandy. Seira yang menceritakan semuanya pada Daewi. Dia juga disuruh memanggil Seira dengan sebutan mama.


Walau semua cerita dari sudut pandang Seira, Daewi tidak bisa tidak ikut membenci Dandy. Dia sangat salut dengan perjuangan Seira selama ini. Dan ikut menyumpah serapahi Dandy seperti ajaran pamannya.

__ADS_1


Seira mengajak Daewi pindah ke Apartemen, mereka akan tinggal bertiga nanti ketika Aaron sudah sembuh.


"Iya...nanti mama makan." Jawab Seira masih menggenggam tangan Aaron.


"Kemarin juga bilangnya begitu. Nanti kalo mama Seira sakit, siapa yang jagain Aa?" Daewi pura-pura mau merajuk. Akhirnya Seira mengalah karena tidak mau melihat wajah manyun Daewi.


Teman-teman Aaron juga sesekali menjenguknya. Zoe dan Jovan yang bertingkah alay sampai nangis histeris yang membuat mereka ditegur oleh suster. Setidaknya tingkah absurd mereka membuat Seira tersenyum.


Dan ada juga Felix yang ikut menjenguk sekalian mengantarkan Neira. Waktu ada Neira, Seira senang sekali dan mengucapkan terimakasih padanya. Felix yang melihat rivalnya terbaring lemah seperti itu malah menjadi iba. Jadi kangen pertengkaran mereka karena berebut Neira. Juga ada Samuel yang ikut menjenguk dan menyuport Daewi.


Daewi sekarang sedang duduk ditaman RS, dia sedang melamun disana. Pancaran kasih sayang yang Seira berikan pada Aaron membuat Daewi sedih, seandainya orangtua kandungnya memperlakukanya seperti itu juga. Daewi malah menangis.


Srek!


Ada yang menyodorkan Daewi sapu tangan. Daewi mengambilnya dan akan berterima kaih, namun ia langsung melotot ketika melihat siapa orang itu.


"OM! Untuk apa anda disini!" Bentak Daewi pada Dandy.


Alih-alih pergi Dandy malah memperkenalkan dirinya. Daewi tidak menggubrisnya dan berdiri ingin pergi.


"Hei, anak muda jangan dulu pergi kumohon." Minta Dandy dengan tulus.


Daewi akhirnya mengurungkan niatnya untuk pergi dan duduk lagi dengan terpaksa, bagaimanapun juga orang brengsek ini adalah ayah dari Aaron.


"Mau dengar sesuatu emm—?" Dandy bertanya namanya.


"Daewi... Daehwi Lyn." Jawab Daewi malas.


"Baiklah Daewi...akan aku ceritakan semuanya…"


/Flash back—end/

__ADS_1


Daewi menggelengkan kepalanya, bejat sekali lelaki yang bersetatus ayah dari Aaron ini. Tapi disisi lain dia merasa sedikit kasihan. Yah perbuatnya memang tidak bisa dikatakan baik, juga tidak bisa dikatakan—entahlah. Daewi pusing kenapa masalah orang dewasa serumit ini.


"Kenapa anda menceritakan semuanya kepada saya?" Tanya Daewi dengan raut aneh karena harus memproses apa yang baru saja dia dengar.


Daewi sudah dengar cerita ini dari sudut pandang Seira yang membuatnya membenci Dandy 100%. Malah ditambah dengan cerita dari Dandy asli ini. Walau semua cerita yang dia dengar dari Seira sama persis dengan yang diceritakan Dandy.


Tapi, Dandy juga menambah poin-poin untuk alasan dia pergi. Ditambah dengan dia melabeli dirinya sendiri dengan sebutan brengsek pengecut.


"Karena, aku ingin minta tolong satu hal padamu." Jawab Dandy.


"Bagaimana jika semua yang anda katakan adalah kebohongan?" Mata Daewi memicing curiga. Antara percaya dan tidak Daewi beri poin 50/50.


"Saya bersumpah tidak berbohong kepadamu, percayalah." Ucap Dandy dengan pasrah.


Daewi menatap orang yang lebih tua itu. Benar Daewi tidak menemukan adanya kebohongan. Daewi bingung, ingin membantunya atau tidak. Disisi lain dia sedikit percaya dengan apa yang dikatakan orang itu.


Daewi akhirnya memutuskan untuk membantunya. "Baiklah, katakan Om."


Secercah harapan untuk Dandy. "Tolong pertemukan saya dengan Aaron sekali saja."


"Tapi–"


"Kumohon, setelah itu saya tidak akan pernah muncul lagi."


Daewi masih menimang akan membantu atau tidak, namun dia melihat raut Dandy yang mengutarakan gurat kesedihan, kegelisahan, dan penyesalan, yang mendalam itu menjadi iba.


"Baiklah om akan saya usahakan, tapi tidak secepatnya."


Dandy langsung berbinar dan mengucapkan terimaksih ke Daewi. "Terimakasih Daewi, terimakasih banyak."


Daewi sedang bingung sekarang, ia sedang memikirkan bagaimana cara agar Dandy bisa bertemu dengan Aaron. Karena Aaron tidak pernah ditinggal sendirian.

__ADS_1


Jika dia mengatakan sebenarnya pasti tidak akan pernah diijinkan. Apa yang harus dibuatnya? Ayolah Daewi berpikir.


__ADS_2