
Siapa sih yang tidak mengenal Ravan dan Alina. Musuh dari pertama mereka masuk ke sekolah itu, sampai saat ini sudah masuk tahun ke dua mereka. Setiap bertemu mereka itu selalu bertengkar perkara masalah sepele yang akan dibesar-besarkan. Parahnya mereka itu satu kelas, pusing jika mereka sudah sampai ribut.
Karena tidak ada yg bisa melerai dan tidak ada yg mau mengalah. Hanya guru yg bisa menghentikan aksi mereka. Sampai pernah ada yg bilang ke mereka kalau mereka terus-terusan bertengkar mereka akan lama-lama jadi suka dan berjodoh. Namun mereka akan selalu kompk bilang—
“Ait-amit ya gue jodoh sama orang kayak dia!” ucap Alina.
“Ye gue juga ogah jodoh sama nenek sihir kayak lo!” bales Ravan nggak terima juga. Dan berakhirlah mereka bertengkar lagi karena omongan itu kayak sekarang nih.
“Gue yg pertama dateng loh!” ucap Alina sambil menaruh uang dimeja kasir.
“Tapi kan lo pergi, jadi nggak ada salah dong ini udah jadi milik gue!” Ravan nggak mau ngalah.
“Nggak mau tau pokoknya frestea itu milik gue” kata Alina sambil mencoba merebut botol frestea itu dari Ravan.
“Ets...nggak kena!”
“Ravan, ngalah dong sama cewek!” Alina berucap malas.
Ravan memutar bola matanya malas. “Kalo cewek yang lain oke gue ngalah. Ini lo Lin, gak akan pernah gue ngalah sama lo!”
Ravan mengangkat botol frestea itu tinggi-tinggi, tapi Alina nggak mau ngalah sambil terus mau ngerebut minuman itu dari tangan Ravan.
Yang dikantin pun melihat pemandangan itu jengah sekali. Perkara minuman saja dibuat rebutan. Padahal minuman yang lain masih banyak. Tapi kalau mereka nggak ribut nggak rame kayak ada yang kurang.
“Nih kak Ravan, aku masih punya frestea belum diminum kebetulan.” seperti mendengar melodi indah dari surga Ravan menoleh ternyata Seira mau ngasih minuman ke Ravan.
Wah nggak boleh disia-siain nih. “Eh Seira makasih ya, kamu baik banget s.i” Ravan nerima minuman itu dari Seira dengan suka cita.
“Sama-sama kak aku pergi dulu.” kata Seira sambil berlalu pergi.
Ravan masih melihat kepergian Seira, mengabaikan Alina yang mau muntah lihat perlakuan manis Ravan ke Seira.
Sret !
Karena Ravan masih bengong terus Alina merebut frestea itu dari tangan Ravan. Ravan terlonjak kaget ketika melihat kepergian Alina sambil membawa satu minumanya.
“WOY NENEK SIHIR ITU PUNYA GUE!”
“BODO AMAT!”
__ADS_1
...*****...
Hari ini Bu Irina membagikan kelompok yang isinya akan membuat perang dunia ke tiga terjadi. Karena kali ini Ravan dan Alina satu kelompok, maka anak-anak yang berada dikelompok mereka sedang mengadu nasib. Kelompok yang lain juga ikut prihatin terhadap nasib anak-anak itu.
Baru pembagian saja mereka sudah berdebat untuk menunjuk siapa yang harus menjadi ketuanya. Tentu kandidatnya ya mereka berdua. Anak-anak disuruh memilih siapa yang berhak untuk menjadi ketuanya. Karena kelompok mereka genap maka hasilnya seimbang dan itu yang membuat mereka semua makin pusing.
Akhirnya karena teman-teman mereka udah nggak kuat sama adu bacotanya Alina sama Ravan, mereka mengadu ke Bu Irina. Dan Ravan lah akhirnya yang dipilih menjadi ketua karena dia laki-laki, sedangkan Alina wakil. Selalu berkhir seperti itu.
Dulu juga waktu pemilihan osis pun mereka bersaing, namun Ravan yang menang karena pidatonya. Namun Alina nggak mau ngakuin gitu aja, dan berakhirlah dia yang jadi wakil Ravan. Karena wakil Ravan ngundurin diri nggak kuat sama perdebatan mereka itu.
Semesta memang sudah menakdirkan mereka untuk bersama.
Kembali mereka yang lagi adu mulut lagi untuk nentuin mau dimana ngerjain tugas ini. Kali ini perselisihan mereka berakhir cepat karena Alina mengalah. Karena rumahnya jauh maka dia mutusin buat ikut ngerjain dirumah Ravan saja.
Mereka sudah berada dirumah Ravan. Disambut hangat oleh mama Ravan yang langsung menyuruh mereka semua untuk duduk dan akan dibuatkan minuman.
“Rav, minjem kamar mandi dong gue kebelet.” Bisik Mia yang lagi menahan pipisnya.
“Oh yaudah gue anter sini.” Ravan jalan mendahului Mia, dia ngikut dibelakang sambil nyeret Alina.
“Temenin gue!” Mia narik tangan Alina untuk menemaninya. Alina pasrah dan ikut kebelakang jadinya. Alina nungguin Mia didepan kamar mandi rumahnya Ravan.
Karena jelas sekali disana terpampang seseorang yang sudah sangat dikenalinya, sosok yang paling dia cintai, dia banggakan, sedang berciuman mesra sama orang lain. Alina menitikan air matanya dan meremas dadanya yang terasa sangat sakit.
“Kak Joan!” Panggil Yeri.
Dua orang yang terciduk sedang berpangut mesra itupun menoleh. Joan tak mengira bahwa dia bisa kepergok oleh pacarnya sendiri.
Joan gelagapan, “Alina ini nggak seperti yang kamu lihat…”
“Stop! Jangan hubungin aku lagi! Kita putus!” ucap Alina disela tangisnya dan ninggalin mereka berdua.
Joan ingin mengejar Alina tapi ditahan oleh selingkuhanya.
“Yer, maaf ya lama—loh lo kenapa nangis?” Mia terheran melihat Alina yang tiba-tiba menangis.
“Nggak papa. Bilangin ke yang lain gue pamit. Gue titip tas gue.” Setelah ngomong itu semua Alina langsung pergi ninggalin Mia yang masih bingung sama tingkah Alina tapi tetap mengangguk mengiyakan.
Dan Ravan menatap kepergian Alina dengan perasaan campur aduk. Sebenarnya Ravan sudah memergoki Alina jalan ke arah taman belakang.
__ADS_1
Niat awal Ravan mau meledek Alina karena sudah seenaknya kelayaban dirumah orang sembarangan, tapi waktu lihat Alina mematung sambil menangis, dia jadi lihat semuanya.
Ternyata kakaknya itu pacarnya Alina, memang kakaknya itu selalu membawa pulang gadis yang berbeda setiap hari. Nggak menyangka juga ternyata Alina bisa jadi salah satu korban kakaknya itu.
...*****...
“Bangsxt!”
Bugh !
“Bajingxn!”
Bugh !
“Brengsek!”
Bugh! Bugh! Bugh!
“COWOK PLAYBOY AH BRENGSEK!”
Alina berteriak kencang sambil menangis dan memukuli samsak yang terpampang foto Joan disana. Dari pagi itu yang dilakuin Alina untuk melampiaskan rasa kesalnya terhadap pacarnya yang sekarang sudah berubah status jadi mantan itu. Karena tenaganya udah habis Alina memutuskan untuk jongkok sambil masih nangis.
Cklek!
“Alina makan dulu yuk—eh kamu kenapa?” Kakaknya kaget melihat Alina yang jauh dari kata baik.
“Kakak keluar dulu….” Alina langsung lari kekasur dan ngebungkus dirinya pake selimut. Malu diatuh ketahuan kakaknya lagi nangisin cowok.
“Sayang kamu kenapa?” Dava nggak nurut gitu aja, dia tahu bahwa adiknya pasti lagi kenapa-napa.
“Nggak papa kak, nanti kalo laper aku keluar.” jawab Alina dibalik selimut.
Malah itu yang membuat Dava makin penasaran. Dava mendekat dan narik selimut yang nutupin setengah badan Alina.
“Cerita sini sama kakak kamu kenapa?” ujar Dava sabar sambil duduk disisi ranjang Alina.
Alina membuka selimutnya dan nampilin mukanya yang sembab habis nangis. Dia milih cerita ke Dava semuanya. Alina itu sebenarnya anak yang manja banget malah, memang kelihatanya aja galak, judes, tapi sebenernya dia itu anak yang paling manja dan penurut sama kakaknya.
Berhubung orangtua mereka sudah meninggal, maka Dava lah yang mengurus Alina dari kecil. Dia kakak sekaligus orangtua bagi Alina. Karena Dava berprofesi jadi dokter nggak setiap hari dia bisa mantau Alina, tapi dia bersukur setidaknya Alina tumbuh jadi gadis baik, dan nggak pernah membangkang apa katanya walau sifatnya agak keras.
__ADS_1