Luka Tak Termaafkan

Luka Tak Termaafkan
Bab 28 - Lil Sis Lil Bro


__ADS_3

Aaron sedang main basket dengan semangatnya. Dia juga berkali kali nabrak si tiang tapi masa bodoh. Aaron sengaja juga kali. Si tiang sebut aja Felix dia juga sebel banget, kalau nggak inget dia kakak kelas udah dilawan tuh si bantet. Lagian bantet gitu nyalon jadi kapten.


Hosh! Hosh! Hosh!


"Capek istirahat dulu lah." Kata Aaron keteman-temanya minus Felix. Aaron lalu mengambil air yang sudah disediain, menenggaknya dengan rakus.


"Uhukk!" Nah keselek kan.


"Tenang aa yang sabar, pelan-pelan!" Ledek Jovan sambil ngakak. Dia manggil Aaron dengan panggilan masa kecil.


"Heh!” Aaron menyiram Jovan yang langsung ngehindar.


"Gitu aja capek, gimana mau jadi kapten." Sindir Felix yang masih megang bola basket.


Aaron yang merasa tresindir langsung ngeladenin adik kelas songongnya itu. "Apa kamu bilang?!"


"Aku bilang kakak nggak pantes buat jadi kapten, bantet." Wah luar biasa berani si tiang ini.


Mereka yang sudah meliat ada kilatan petir dan awan hitam yang mengelilingi bantet dan tiang langsung memisahkan mereka. Tapi paling bentar lagi—


"DASAR TIANG NGGAK GUNA!!"


"BANTET SOMBONG!"


"BERANI SAMA KAKAK KELAS HAH?!"


"KENAPA HARUS TAKUT?!!"


"SINI MAJU TIANG!"


"KITA UDAH BERHADAPAN BANTET!"


Dan bacotan nggak penting lainya. Mari kita tinggalkan debat nggak guna itu. Beralih ke Princess Daewi yang lagi nunggu pangeranya sambil nebelin bedak sama gincu. Nah yang ditunggu dateng juga akhirnya.


"Muel…" Panggil Daewi dengan centil.


"Tebel banget tuh gincu, mau mangkal?" Samuel namanya, dia temen sekelas Daewi murid pindahan sebenernya.


"Iiihhhhh\~Muel kok gitu." Mulai gilanya si Daewi ini.

__ADS_1


"Ngambek aku tinggal nih!" Ancam Samuel yang udah males ngladenin Daewi.


Daewi nggak jadi ngambek lah, daripada gagal jalan, udah malak abang bantetnya juga tadi. Walau nanti bakalnya Samuel yang bayarin si tapikan buat pencirtaan lho.


"Yaudah ayo." Walau dengan cemberut yang dibuat-buat mereka tetep jalan.


Mereka cuma muter-muter mall aja si, coba-coba beli kagak. Yah itumah Daewi. Kirain Samuel mau beliin eh nyatanya bener cuma jalan-jalan. Tau gitu tadi ajak gembul aja kan. Udah cape muter-muter mereka makan dong.


Tenang ini Samuel yang nelaktir kok. Daewi sama Samuel itu ya temen biasa nggak ada status pacaran atau apa. Cuma waktu Samuel pertama masuk sini emang temanya cuma Daewi, soalnya cuma dia yang lancar ngomong bahasa inggris sama Samuel.


Sama-sama bule dan jadi akrab banget. Daehwi itu nggak dari kecil di panti, Daehwi gabung disana waktu umurnya 10 tahun. Tepat enam tahun yang lalu Daewi dibuang sama orangtua kandungnya sendiri di negara orang.


Daewi itu korban kekerasan orangtuanya. Untungnya Jerendra yang menemukan Daewi dijalan tapi dengan keadaan yang mengenaskan. Dengan luka ditubuhnya juga tangan kananya yang patah. Makanya Daewi itu kidal.


Untung Daewi cepat mendapat pertolongan, dan juga Daewi pernah dua bulan di rawat di rumah sakit jiwa karena depresi yang berlebih. Bayangkan dari lahir harus mengalami konflik batin dan kekerasan mental, terlebih orangtua kandungnya dendiri yang melakukan itu.


Serumi yang melihat kondisi Daewi tidak tega dan meminta agar Daewi dibawa ke panti saja dan dirawatnya. Pertama yang mau mendekati Daewi juga cuma Aaron, soalnya mereka takut dengan tatapan kosong Daewi.


Aaron terus mendekti Daewi sampai Daewi mau berbicara. Ketika pertama Daewi bicara Aaron yang malah kelabakan soalnya Aaron nggak tahu apa yang dikatakan Daewi waktu itu.


Daewi itu phobia kekerasan dan bentakan, makanya Aaron itu sayang banget sama Daewi. Aaron juga sengaja menjahili Daewi untuk membuat dia emosi dan bertengkar terus sama Aaron agar menghilangkan traumanya itu.


...*****...


"Heh cabe, dari mana aja baru pulang?" Tanya Aaron diteras sambil mandangin Daewi yang baru pulang dan senyum-senyum kayak kena sawan.


"Huuuu, ngedate dong!" Pamer Daewi langsung masuk kedalam.


"Sombong banget! Tunggu gue juga bisa kaya lu!-"


"Hmmm kapan tapi?" Yah ngenes juga kan. Daripada galau kaya jomblo mending masuk, susulin Daewi yang udah heboh didalem.


"Pamannnnm...kapan pulang btw." Tanya Daewi alay setelah meluk paman yang udah dia anggep ayahnya sendiri. Setelah itu ya fokus milih oleh-oleh dari pamanya.


"Tadi pagi. Kamu kemana dulu kok nggak pulang bareng sama Aa?" Jerendra melihat gerak-gerik Daewi dan mengangkat alisnya.


"Hehe biasa jalan-jalan dulu sama pac-"


"Halah, temen aja tuh sombong." Sambar Aaron yang langsung motong perkataan Daewi.

__ADS_1


Tahan Daehwi, tahan. Jangan ladenin bacotanya si gembul, nanti nggak diberi jatah oleh-oleh. Soalnya kalo pamanya lihat Daewi sama Aaron tengkar yang rugi Daewi, jatah jajanya dikurangin sama pamanya. Aaron si ada yang lain enak diamah.


"Wahh, makasih paman ini bagus banget." Daewi milih nggak ngeladeni Aaron. Setelah milih barang pesenanya Daewi ngacir ke kamar.


"Aa, gimana sekolah?" Tanya Jerendra sambil ngopi.


"Baik kok paman."


"Sukurlah, udah ada gebentan?"


"Belum."


"Tapi kata Dede kamu lagi ngincer adik kelas, tapi ditolak bener?"


Aaron udah sumpah serapahin Daewi, selain cabe ini bakat Daewi yang satunya tukang ngadu, udah itu nggak bener lagi. Malu-maluin Aaron aja didepan pamanya.


"Kamu lupa sama ajaran paman?"


Aaron udah neguk ludahnya kasar. Aaron menggelengkan kepalanya dan mengangguk, lalu menggeleng lagi.


"Kamu itu harus—"


"Ekhmmm...mau ngajarin Aaron yang aneh-aneh?" Deheman istri tersayangnya ngurungin niat Jerendra buat ngasih pencerahan lelaki sejati, sejatinya lelaki sama Aaron.


"Enggak kok yang, cuma tanya sekolahnya Aa aja kok." Bohong Jerendra udah bercucuran keringat.


Aaron yang melihat pamannya yang katanya lelaki sejati, sejatinya lelaki itu takut istri jadi mau ngakakin, tapi nanti durhaka, yaudah Aaron ngacir aja ke kamar.


...******...


"Nona sekertaris tolong kosongkan jadwalku segera."***


"Baik..."


"Aku akan terbang ke Indonesia secepatnya."


Seseorang itu lalu menatap foto yang terpasang apik dimeja kerjanya. Serta beberapa laporan paket yang di tuliskan untuk dikirim ke Indonesia dengan nama dan alamat yang sama bertahun-tahun.


"Kita akan bertemu sebentar lagi, aku janji."

__ADS_1


...*****...


__ADS_2