Luka Tak Termaafkan

Luka Tak Termaafkan
Extra 7 - Om Dokter (Dava & Yura)


__ADS_3

“Kak jangan pergi lama-lama ya…” Alina mendadak manja dengan Dava. Soalnya kakaknya itu akan ditugaskan diluar kota. Otomatis Alina akan tinggal sendirian dirumah, walau ada bibi tetangga yang kadang mengurusnya, tapi Alina masih enggan ditinggal lama oleh Dava.


“Kakak pergi cuma dua minggu kok dek, nggak bakalan lama.” ujar Dava sambil menyeret kopernya menuju stasiun.


Alina masih merengek enggan ditinggal lama oleh sang kakak. Soalnya skarang dia lagi libur, malah ditinggal oleh sang kakak yang jarang banget dirumah. Padahal waktu libur mau Alina habiskan dengan kakaknya.


“Dek, jangan manyun gitu ah. Nggak malu apa diliatin sama pacar tuh!” ledek Dava seraya melirik ke—Ravan pacar adiknya itu.


Sedangkan Ravan hanya menggaruk lehernya yang tidak gatal atas kelakuan Alina yang masih gencar merayu Dava agar tidak pergi.


Ternyata kekasihnya punya sisi manja juga yang hanya ditunjukan ke orang yg tersayang, kalau disekolah mana ada Alina yang bersikap kayak gitu. Yang ada senggol dikit langsung bacok, kan setipe sama sahabatnya si maung aka Kirana.


Akhirnya dengan terpaksa Dava bisa lepas dari adik manjanya dengan tenang. Setelah meletakan kopernya diatas, Dava duduk sambil menikmati pemandangan didalam kereta yg akan membawanya ke Bandung.


Kriet!


Atensi Dava teralihkan ketika merasakan ada seseorang yang akan duduk didepannya. Dia seorang remaja tanggung yang sedang kesusahan menyeret koper yang lumayan besar menurutnya, karena melihatnya kesusahan Dava berinisiatif membantunya.


“Eeh—terimakasih Om.” ucap remaja itu dengan sopan.


Sedangkan Dava merasa sangat tua dipanggil dengan sebutan om, padahal wajahnya masih duapuluhan menurunya. Remaja tanggung itu duduk didepan Dava sambil mengeluarkan ponselnya.


Drtt\~drtt\~drtt


“Halo nek... iya Yura sudah didalam kereta kok.”


‘......’


“Oke, nanti jemput distasiun saja.”


‘......’


“Baik nek, nanti Yura kabarin lagi…”


Lalu sambungan terputus dan menyisakan keheningan disana. Remaja tanggung itu—Yura, memutuskan untuk melihat pemandangan sore diluar kereta sambil mendengarkan musik dengan erphone nya.


^^^Cling ||^^^


^^^Seira ^^^


^^^Nanti kalau udah pulang jangan lupa oleh-olehnya ya Yuu..^^^


Yura


Haha...beres Ra!

__ADS_1


...******...


Dava sedang membaca proposal yang akan dia kirimkan dimana tempat ia akan ditugaskan. Sebenarnya itu bukan tugasnya, tapi karena rekanya sedang cuti hamil otomatis Dava yang membantu untuk mengantarkan proposal itu sekaligus membantu bertugas disana selama dua minggu.


Dava melirik ke depan, ternyata anak itu sedang tertidur dengan pulas. Lucu dimata Dava, ia lalu membenarkan selimut anak itu dan melanjutkan membaca proposalnya.


Setelah beberapa jam akhirnya kereta berhenti dan mereka telah sampai. Karena Dava lagi-lagi melihat anak itu kesusahan membawa keluar kopernya karena ukuranya sangat besar, ia membantunya membawakan sampai depan gerbang stasiun.


“Terimaksih ya om, sudah membatu saya lagi.” ucap Yura dengan sopan.


Walau agak terganggu dipanggi om, Dava tetap bersikap ramah. “Iya sama-sama saya duluan. Hati-hati membawanya.” Dava berlalu menuju mobil jemputanya.


Yura tersenyum dan melambaikan tanganya ke arah om baik hati itu.


“Paman, disini!” teriak Yura ketika melihat pamanya sedang celingukan didepan sepertinya sedang mencarinya.


“Yura. Sudah besar ya ternyata kamu. Eh, kamu bawa koper besar banget.” Setelah memeluk Yura, pamannya kagum dengan barang bawaan Yura yang tidak sedikit. Terlebih dengan koper yang lumayan big itu.


“Hehe ada hadiah didalemnya buat kalian semua. Ayo, paman! Yura udah kangen sama mereka semua.” pamanya hanya tersenyum dan mengikuti keponakan kesayanganya itu.


Baru saja Dava akan terlepap tidur karena perjalanan panjangnya, namun getaran ponselnya memaksanya untuk membuka matanya kembali, ia melihat nama Dr. Hana terpampang dilayar ponselnya, tak butuh lama Dava langsung mengangkatnya.


“Hallo……..”


Srek!


“Bukanya prediksinya masih satu minggu lagi?” tanya Dava memastikan, dan seharusnya ibu itu melahirkan dengan cara normal.


“Keadaanya sudah tidak memungkinkan dok, ketubanya sudah pecah duluan dan ia mengalami pendarahan hebat. Kita harus segera mengoperasinya sebelum keduanya tak terselamatan.” Kata sang suster menjelaskan, mereka langsung masuk keruang operasi dan melihat seorang ibu yang sedang berbaring lemah sedang berada diambang kesadaranya.


“Baiklah kita mulai operasinya sekarang.”


Operasi berjalan dengan lancar dan Dava sedang duduk bersandar diruang kerjanya. Terlalu malas untuk pulang, karena menunggu beberapa jam lagi pasti akan pagi. Dava memutuskan untuk tidur diatas sofa ruang kerjanya.


...******...


“Hatchii—”


“Hatchii—”


Yura lagi-lagi menggosok hidungnya yang sudah memerah itu dengan tangannya. Mungkin karena efek dia kehujanan sedikit kemarin dengan pamanya. Pamanya malah masih asik membongkar-bongkar isi kopernya yang sudah sangat ia incar dari kemarin karena sangat penasaran dengan apa yang dibawa Yura.


“Nih, minum hangat dulu!” neneknya menyodorkan secangkir teh hijau untuk Yura sambil memakaikan jaket tebal ke Yura.


“Makasih nek,”

__ADS_1


“Kamu kok demam juga!” neneknya terlihat panik dengan tangan yang masih berada dijidat Yura.


“Yura nggak demam kok, cuma agak anget sedikit hehe.” Namun neneknya yang rempong itu langsung memaksa Yura untuk ke dokter.


“Nggak! Kamu harus ikut nenek ke dokter. Yohan, ayo cepat antar mama sama Yura ke dokter!” teriak neneknya sambil menyeret Yura beserta pamanya itu. Mereka hanya pasrah dan mengikuti sang nenek.


Setelah sampai dirumah sakit, nenek Yura yang terlalu panik hingga tak sadar ia memasuki ruangan yang salah.


“Ada yang bisa saya bantu nek?” Dava menatap bingung kedua orang itu, hingga dia mengerjap beberapa kali karena kebingungan, namun ia mengenali salah satunya si remaja dengan koper besar yang ditolongnya kemarin.


“Tolong cucu saya dok, dia sedang sakit!”


Yura yang berada disebelah neneknya terkejut ternyata om-om yang menolongnya itu adalah seorang dokter.


“Memangnya kenapa cucu anda nek?” tanya Dava dengan sabar.


“Cucu saya sepertinya demam dan pilek, dok.”


Namun dengan halus dan sopan Dava menggelengkan kepalanya. “Tapi maaf nek, saya tidak bisa membantu kalian.”


Nenek Yura langsung terkejut dan akan segera protes dengan tolakan dokter muda didepanya ini. “Tapi kenapa? Anda kan seorang dokter, kenapa anda tidak bisa mengobati cucu saya!” Protes sang nenek dengan nada tinggi.


“Maaf nek sebelumnya, saya adalah dokter spesialis kandungan jadi saya tidak bisa menyembuhkan cucu nenek.” jawab Dava sesopan mungkin sambil memperlihatkan pintunya yang terpampang jelas tag ‘DOKTER SPESIALIS KANDUNGAN’


Dengan canggung Yura meminta maaf atas perlakuan neneknya yang sudah marah-marah tidak jelas dengan om dokter itu.


Didalam mobil sang nenek masih menggerutu karena sikapnya yang sudah keterlaluan memarahi orang yang salah.


“Lagian mama harusnya lihat-lihat dulu kalau mau masuk.” ceramah Yohan yang sudah mendengar penjelasannya dari Yura. Tadi dia sempat ke toilet jadi tidak tahu persis keadaan yang sebenarnya.


“Mama kan panik, nggak mau sampai cucu kesayangan mama kenapa-napa!” bela sang nenek.


Yura hanya duduk anteng menyaksikan debat antara nenek dan pamanya.


“Panik juga ada batasnya ma, mana pake marah-marahin orang yang gak salah pula.” Yohan menggelengkan kepalanya dengan kelakuan ibunya itu.


“Lagian salah kamu juga, ngapain pergi pas mama lagi panik!” belanya nggak mau ngalah sambil menjewer telinga Yohan.


“Iya ma, aduh sakit nanti telinga Yohan putus!” Yohan mengelus telinganya yang memerah dan panas itu karena jeweran ibunya tersayang.


“Rasain! Cari istri aja sana!”


Yohan menoleh horor ke arah ibunya yang kalau apa-apa langsung mengkaitkan ke istri. Lagian menurutnya mencari istri itu mudah dijaman sekarang apa.


Yura dibelakang tersenyum geli dengan tingkah pamanya yang sudah mati kutu diskak oleh neneknya.

__ADS_1


“Ah mungkin besok-besok aku harus minta maaf sama om dokter yang baik hati itu” ucap Yura dalam hati.


...[End]...


__ADS_2