Luka Tak Termaafkan

Luka Tak Termaafkan
Bab 40 - Selamat Tinggal


__ADS_3

Keira sedang berjalan dengan tertatih, dia kabur dari rumah sakit untuk menemui Seira. Di jalan hampir saja dia terserempet mobil seseorang, untung saja orang itu sempat mengerem mendadak.


Ckit!


Tidak lama mereka keluar dari mobil itu. Dan langsung melihat keadaan Keira yang sangat pucat, ditangannya dia memegang sebuah surat.


"Oh ya tuhan…."


Pemilik mobil terkejut dan langsung membantu Keira berdiri. Keira hanya menggeleng dengan lemah.


"Kita bawa ke rumah sakit aja mah." Ucap satu anak yang ikut keluar.


Mereka adalah Bela dan Melisa yang baru saja belanja. Melisa yang menyetir sendiri, dia sangat khawatir dan merasa bodoh karena sudah menyerempet anak itu.


Keira menggeleng dengan lemah, dia malah meminta tolong ke mereka untuk mengantarkanya ke alamat ditangannya. Waktu itu Seira sempat memberikan alamatnya ke Keira.


Walau dengan khawatir dan terpaksa mereka mengangguk dan mengantarkan Keira ke alamat yang dimintanya. Sampainya di lobi Keira berterimakasih kepada mereka lalu dengan cepat menuju ke unit apartemen Seira.


Keira memencet pintu apartemen rumah Seira. Begitu dibuka, Seira nampak terkejut dengan kehadiran Keira. Dia ingin menghindari Keira tapi anak itu dengan cepat menahan pintu.


Bruk!


Belum sempat berkata, Keira sudah pingsan tepat di hadapan Seira. Seira panik dan langsung membawanya ke rumah sakit dibantu oleh Daewi yang sama terkejutnya dengannya.


Dandy dengan terburu-buru langsung putar arah ke rumah sakit. Setelah mendengar kabar dari mamanya bahwa Keira sudah berada disana.


"Ma bagaimana keadaan Kei? Seira—"


Seira hanya menatap sekilas pada Dandy dan langsung membuang muka. Seira menyambar tangan Daewi dan beranjak meninggalkan tempat itu sebelum Dandy mencegahnya.


"Tolong tunggulah sebentar saja demi Keira." Dandy memohon dengan putus asa.


Seira melirik ke arah Daewi yang menganggukan kepalanya. Dia lalu mengurungkan niatnya untuk pergi. Dia boleh membenci Dandy, tapi tidak dengan Keira.


Anak itu tidak salah apa-apa dan Seira juga sudah terlanjur menyanyanginya.


Tak lama pintu ruangan terbuka membuat mereka semua langsung berdiri.


"Tuan maaf putri anda—" dokter itu menggantungkan kalimatnya.

__ADS_1


"Kenapa dengan Keira dok?" tanya Dandy dengan cemas. Seira juga tidak kalah cemasnya.


"Dia menolak untuk dioperasi, mohon bujuk dia, karena ini terakhir kesempatanya untuk hidup." Penjelasan Dokter membuat mereka semua syok.


Dandy dengan cepat masuk ke ruangan, dibuntuti Seira dari belakang. Sedangkan ibunya terduduk lesu dan Daewi menemaninya sambil memberi kabar ke Aaron.


Di dalan ruangan Keira sedang terbaring lemah dengan beberapa alat medis di sekujur tubuhnya, tapi anak itu masih tersadar.


Dandy mengusap air matanya dan menatap putri kecilnya, "Kei….."


"Papa! Eh, ada mama Sei!" Sambut Keira dengan sangat ceria.


Jujur hati Dandy maupun Seira terasa sakit melihat senyuman kesakitan itu.


"Kei, memangnya nggak mau sembuh heumm?" Dandy mengusap wajah anaknya yang terbaring tak berdaya itu. "Kei mau ninggalin papa sendiri gitu aja?"


Dandy sedang mati-matian menahan air matanya. Karena Keira pernah bilang dia sangat sedih melihat ayahnya menangis hanya karena dirinya.


Sedangkan Seira sudah menangis dalam diam dari tadi dengan bersembunyi dibelakang Dandy.


"Pa, Kei sudah lelah, maafin Kei yang sudah ngingkarin janji Kei buat nemenin papa sampai tua." jawab Keira parau masih sambil tersenyum.


"Ya Kei," Seira berjalan pelan mendekati Keira.


Keira memegang pipi Seira, "Maafin Kei juga ya, gara-gara sibuk ngurusin Kei, papa jadi nggak bisa ketemu sama kalian."


"Enggak sayang, bukan karena kamu." Seira terisak, dia sudah tak bisa menyembunyikan air matanya lagi sekarang. Seira menangis didepan Keira yang malah menghapus air matanya.


"Mama Sei jangan menangis, hehe tersenyum dong seperti Kei.''


Seira menganggukan kepalanya, Dandy yang gantian menangis dibelakang Seira.


"Tolong kalian kembali lagi, kasihan kak Aa, Kei tahu rasanya jadi kak Aa, bedanya kalian bisa sama-sama lagii—"


Setelah mengucapkan semuanya detak jantung Keira melemah.


"KEI...KEI...KEIRA...!" panggil Seira dengan panik.


Dandy langsung berteriak memanggil dokter.

__ADS_1


"DOKTER!"


...*****...


Setelah mendapat kabar dari Daewi bahwa Keira sedang kritis, Aaron langsung cepat menuju ke rumah sakit. Dia sangat khawatir, apalagi dengan penjelasan Dandy bahwa harapan hidup Keira sangat kecil jika dia menyerah.


“Daewi, gimana keadaan Kei?” Aaron masih mengatur nafasnya yang habis berlari.


Daewi menggelengkan kepalanya, ibu Dandy yang merupakan neneknya menatap Aaron dengan sangat intens. Dialah Aaron? Anak Dandy dan juga merupakan cucunya yang mereka sia-siakan?


Nyonya Atmajaya mendekati Aaron dan mengelus pundaknya, “Kau Aaron?”


Aaron menganggukan kepalanya dan menatap Daewi yang mengisyaratkan bahwa dia merupakan neneknya. Neneknya tiba-tiba menangis merasakan penyesalan yang luar biasa dalam untuknya.


“Maaf, maafkan aku…” neneknya menangis sambil berlutut dikaki Aaron. Tentu saja Aaron kebingungan dan langsung membantu neneknya itu berdiri.


Dia membawa neneknya untuk duduk, Aaron berkata bahwa dia telah memaafkan neneknya. Aaro menenangkan neneknya, tak lama mereka mendengar dari dalam jeritan Seira dan beberapa dokter yang berlari menuju ke ruangan.


Selang beberapa menit, Seira keluar dengan mata bengkak dan hampir saja pingsan jika Aaron tidak segera menangkapnya.


“Kei, dia…” Seira menggenggam tangan Aaron erat, “Sudah tidak ada…” setelah mengatakannya, Seira pingsan karena kelelahan dan syok.


Semua orang disana sangat terpukul, Dandy masih didalam ruangan tidak mau meninggalkan Keira yang sudah ditutup oleh kain. Dia tidak bisa menerima semua itu. Kenapa? Tuhan sangat tidak adil kepadanya?


Ibunya mengelus pundak Dandy sambil terisak, “Relakan dia nak, saatnya kita melepaskannya..”


Pemakaman dilakukan secara tertutup hanya keluarga dan kerabat yang hadir. Dandy sangat pendiam, dia masih belum merelakan kepergian Keira sepenuhnya.


Seira hadir dipemakaman itu dengan Aaron dan juga Daewi. Mereka bertiga melihat peti Keira dari jauh. Seira sengaja tidak mendekat, dia juga masih tidak sanggup untuk melepaskan Keira.


Senyuman anak itu dan tingkahnya masih terngiang-ngiang dibenaknya. Jika saja Seira tahu bahwa Keira tak memiliki banyak waktu, dia tidak akan menjauhi Keira. Dia hanyalah anak kecil dan tidak ada hubungannya dengan kesalahan masa lalu Dandy.


Ketika Seira akan berbalik untuk pergi tangannya sudah digenggam oleh Dandy.


Suara Dandy masih terdengar serak. “Ra, aku ingin meminta maaf atas segala yang kuperbuat selama ini.”


Seira masih menatap Dandy datar, “Kau bisa melepaskan tanganku.”


Dandy menggelengkan kepalanya dan malah makin mempererat genggamannya pada Seira, “Aku tidak akan melepaskannya sebelum kau memaafkanku.”

__ADS_1


Seira mendecih, “Kau masih sangat egois, selalu memaksakan kehendakmu sendiri. Kau tahu Dan, luka yang kau buat dulu itu tak akan pernah termaafkan!”


__ADS_2