Luka Tak Termaafkan

Luka Tak Termaafkan
Extra 2 - Berlari (Theo & Kirana)


__ADS_3

Theo lari ngos-ngosan karena masih dikejar sama adik kelas maungnya itu. Padahal udah hampir jam masuk pelajaran, tapi mereka masih betah tuh kejar-kejaran. Untung saja bel masuk menyelamatkan Theo dari Kirana.


“AWAS LU ALIEN! JANGAN HARAP NANTI BISA LEPAS DARI GUE!”  teriak Kirana sambil menghentakkan kakinya dan menuju kelasnya.


Soalnya jam pelajaran pertama itu Nenek sihir, mau nggak mau dia harus stop ngejar-ngejar kakak kelas aliennya itu. Walau nggak ngaruh buat Kirana sih mau siapapun gurunya, tapi tetap saja dia harus menghormati mereka.


Theo langsung duduk dengan keringat membanjirinya, sebelumnya dia ngerampas kipas yang lagi dipake sama Jema teman sebangkunya itu. Jema menghela nafas pasrah disebelahnya.


Untung temen kan ya, mau nggeplak kepala Theo tapi nanti takut nggak diberi contekan, gila begitu Theo anaknaya cerdas loh.


“Tumben lari-larian, lo kan benci olahraga.” Komentar Jema basa-basi dan langsung ngerampas buku yang baru aja dikeluarin sama Theo.


Theo hanya berdecak sudah biasa melihat kelakuan perempuan itu. “Ah basa-basi ternyata mau nyontek lo!”


“Ye kaya nggak biasa gue contekin! Eh seriusan lo ngapain lari-larian sampai ngos-ngosan gitu?” Jema masih fokus sama contekannya.


“Habis dikejar maung gue!” Theo menelungkupkan kepalanya ke meja dengan lesu.


“Oh—“ Jema menganggukan kepalanya tak peduli, tapi tak bertahan lama Jema baru ngeh dan reflek berteriak, “EH APA? SI MAUNG KIRANA KAN? JADI LO YANG NYIRAM DIA DI PESTA KAK CHR—hhhhhmmmpppttt.” 


Theo langsung membekap mulut Jema yang lagi teriak itu. Karena sekarang satu kelas kompak sedang menoleh ke dia dengan tatapan membunuh. “Brisik sat!”


“Goblok Theo! Lo jadi orang bodo banget sumpah! Udah tau Kirana kayak gitu bentuknya. Masih cari gara-gara sama dia heran!” Perempuan itu tak habis pikir sama kelakuan Theo.


Theo menghela nafas, kan tambah takut dia, “Terus gue kudu gimana? Bantuin gue dong, masa iya gue harus lari tiap ketemu dia.”


Jema noyor kepala Theo kesel. “Ya lo bego! Harusnya minta maaf bukanya lari!”


Theo jadi mikir eh bener juga ya, kenapa nggak minta maaf aja. Kenapa malah lari-larian nggak jelas si. Theo sudah memutuskan akan meminta maaf sehabis ini, kalau nggak hujan.


...*****...


Kirana mengehembuskan nafasnya kesal disebelah Luna yang lagi mainin ponselnya sambil senyum-senyum. “Eh Lun, lo ada kenalan dukun nggak?”


“Buat apaan emang?” Luna bertanya acuh tanpa ngalihin tatapanya pada layar ponselnya.


Kirana menaruh tasnya dan narik kursi buat duduk, “Nyantet si alien.”


Luna langsung menirukan nada bicara Lala bocil gemas yang lagi viral. “Ada-ada saja.”

__ADS_1


Luna memutar bola matanya malas dengan jawaban Kirana yang mustahil itu, alien segala mau disantet. Dia aja nggak pernah lihat langsung alien itu kayak apa. Tapi tunggu, apakah yang dimaksud dengan alien itu kakak kelas mereka? Soalnya hanya ada satu alien di bumi ini yaitu dia.


“Wait, maksud lo kak Theo?” Kirana mengangguk dengan malas. Luna sekarang menatap Kirana dengan penasaran, “Lo ada urusan apa sama dia? Apa dia cari gara-gara sama lo?”


Kirana menjepit poninya yang sudah kepanjangan dengan wajah datar, “Dia yang nyiram gue dipesta kak Chris.”


“Woow, dan dia masih hidup sampe sekarang. Hebat!” Luna berdecak kagum. Soalnya dia masih lihat muka Theo aman-aman saja sampai sekarang nggak ada yang lecet atau apapun.


“Gue juga baru tahu itu kemarin kalo dia orangnya. Dia selalu kabur kalo ketemu sama gue. Benci banget gue sama dia, dendam gue harus terbalaskan. Nggak mau tau dia harus abis ditangan gue.” Mata Kirana penuh dengan amarah.


Brak!


Semangat Kirana menggebu-gebu sampai menggebrak meja dan satu kelas langsung istighfar didalam hati, tidak ada yg berani menegur atau sekedar melirik. Mereka pura-pura fokus dengan dunia masing-masing, padahal jantung tadi rasanya mau copot.


“Woy kalem. Jangan terlalu benci ntar kayak temen lo tuh, anak sebelah benci jadi cinta juga kan.” Luna fokus ke ponselnya lagi mengabaikan raut wajah Kirana yang langsung bergidik ilfeel, teringat betapa Alina sangat membeci Ravan malah sekarang mereka jadian.


“IH NGGAK SUDI JANGAN SAMPE!” Teriak Kirana tiba-tiba lagi yang membuat satu kelas mendadak kompak memegang dada mereka termasuk Luna yang disebelahnya ikut kaget.


“Siapa yang teriak-teriak sampai kedengaran diluar kelas—ah Kirana duduk kamu!” paham sudah bu Irina. Bahkan diapun menghindari untuk berurusan dengan Kirana sepagi ini.


Sedikit rahasia bu Irina adalah ibu kandung dari seorang Kirana, dan yak otomatis sifat mereka tidak beda jauh. Namun tidak ada yg mengetahui itu sampai sekarang, karena setiap pengambilan rapor atau rapat wali murid suaminya yang selalu datang.


Walau begitu tak menutup kemungkinan Kirana masih tetap dapat hukuman dari ibunya tersebut.


...*****...


Theo sedang meneliti dibalik tembok kearah kantin yang terdapat Kirana dengan gengnya, mereka duduk bersebelahan dengan Dandy Seira squad. Jema yang memperhatikan teman sengkeleknya kayagitu jadi agak kasian. Tapi salahnya sendiri sih, dibilangin minta maaf aja malah lari-larian mulu.


“Ayo jalan!” suruh Jema sambil menyeret paksa Theo.


“Aaaaaaaaa…..” teriak Theo ogah-ogahan, tapi tetep aja jalan ngikutin Jema dibelakangnya.


Luna yang duduk didepan Kirana melihat Theo yang sepertinya sedang berjalan menuju kearah mereka, dia langsung menyenggol lengan Kirana dan menunjuk ke belakang.


“Hmmm?” tanya Kirana tak paham.


“Lihat di belakang lo!” Kirana ikut menoleh kebelakang dan melihat Theo sedang berdiri dibelakangnya sambil cengar-cengir.


Brakkk!

__ADS_1


Kirana langsung berdiri dan menggebrak meja, sedangkan Theo langsung lari buat sembunyi dibelakang Jema. Sekarang bukan satu kelas yang istighfar dalam hati, namun satu kantin yang istighfar dalam hati.


Sampai Jerendra yang lagi ketawa ngakakin lipstiknya Ayunda juga mendadak diam, satu kantin hening. Mereka sedang menantikan apa yang akan terjadi selanjutnya.


Kirana udah nglipet lengan bajunya dan mau ngehajar Theo buat ngebales perlakuan yang udah dia buat, kalau aja nggak ditahan sama Jema. Dia yang jadi tameng Theo malah sekarang, walau dalam hati Jema dia takut juga. Tapi dia mau bersikap dewasa sebagai orang yang lebih tua.


“Kirana lo tenang dulu bentar.” Minta Jema masih menahan lengan Kirana, sedangkan Theo dibelakangnya udah pasrah aja dia mau diapain sama si Kirana.


“Nggak bisa kak! Gue mau ngasih pelajaran ke dia, biar kapok!” ujar Kirana berapi-api sambil melototin Theo.


“Nggak harus pake kekerasan juga kan!” Jema sedikit membentak.


Sekarang malah Kirana menatap Jema didepannya dengan kesal. Buat apa sih dia ikut campur. “Minggir kak, lo nggak usah ikut campur ini masalah gue sama dia.”


Sekarang suasana semakin panas dikantin. Entah kenapa Jema malah makin berani ditatap begitu sama Kirana. Menurut Jema, jika bisa diselesin secara baik-baik kenapa harus pakai kekerasan coba.


“Gue tau ini masalah lo berdua dan gue nggak berhak ikut campur, tapi yang mau lo lakuin ke temen gue itu salah. Iya gue tau dia emang ada salah sama lo, tapi nggak harus gini juga ngebalesnya.”


Kirana langsung mendecih mendengar pembelaan dari Jema ke Theo yang lagi menunduk. Ah Theo nggak nyesel ngasih contekan tiap hari ke Jema, ada guanya juga.


“Lo nggak tau apa yg udah dia buat ke gue kak, mendingan lo minggir sebelum lo yang gue hajar!” ancam Kirana main-main.


Niatnya memang main-main karena Kirana tak pernah berkelahi dengan perempuan, namun Theo yang mendengar itu mendadak salah paham dengan ucapan Kirana.


Auranya berubah menjadi datar dan dingin, bukan seperti tadi yang asik sembunyi dengan tak tau malunya dibelakang Jema. Bukan juga seperti Theo yang biasanya. Theo langsung menarik Jema kebelakangnya dan menatap Kirana dengan dingin.


“Pukul gue dan kita impas.” Ucapan datar Theo malah membuat Kirana membeku.


Kirana mendadak canggung dengan apa yg akan dia lakukan. Padahal kan biasnya itu adalah saat-saat yang paling membahagiakan membalas perlakuan jahat ke orang lain, tapi Kirana merasa ragu.


Kirana agak sedikit ngeri dengan tatapan mata Theo yang mengintimidasi dia, memang benar kata pepatah ‘marahnya orang humoris memang menakutkan’ tapi kenapa dia harus takut, kan dia nggak salah.


Kring\~


Untungnya bel masuk menghentikan adegan panas itu. Penonton langsung merasa lega karena adegan berbahaya itu tertunda, namun ada juga yang kecewa karena tak melihat aksi Kirana.


“Yah gagal kan, pahal gue mau lihat Kirana mukul kak Theo.” ucap Ayunda kecewa.


Walaupun Kirana kakak kelas mereka umur Kirana itu sama dengan mereka. Kirana yang terlampau pandai dia ikut ujian dulu. Ingatlah ibunya adalah seorang guru matematika terkiller jadi anaknya otaknya juga cerdas.

__ADS_1


“Yah, next episode kayaknya.” timpal Milka yang ikut kecewa juga. Yura dan Melisa hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan dua sahabatnya yang sangat suka melihat pertengkaran. Heran mereka tuh.


__ADS_2