Luka Tak Termaafkan

Luka Tak Termaafkan
Bab 12 - Jarak


__ADS_3

Dalam seminggu ini Seira sangat sibuk, bahkan untuk ketemuan sama Dandy saja jarang. Paling waktu istirahat saja cuma sebentar.


Karena Seira terpilih untuk mewakilkan SMA nya lomba fisika. Dan yang paling membuat Dandy kesal itu pembimbingnya Seira. Dia adalah si kakak kelas yang suka tebar pesona itu, kak Theo.


Dandy juga tidak menyangka ternyata orang kayak dia cerdas juga. Soalnya kelas 12 kan sudah pensiun dari segala macam lomba, makanya Seira yang terpilih.


Nah itu yang membuat Dandy akhir-akhir ini jadi galau. Ketemuan disekolah saja jarang, pulang sekolah kadang Seira bareng sama Melisa. Seira menginap dirumah Melisa karena lomba sudah dekat makanya dia menginap biar gampang belajarnya.


Melisa yang memaksa, karena orangtua Melisa jarang dirumah mereka sibuk dirumah sakit. Setelah banyak paksaan dan rayuan akhirnya Seira mau sekalian biar Melisa ada temanya.


Tentang bibinya Seira, tentu saja dia melarang tapi dengan diimingi hadiah lomba jika Seira menang kan lumayan, makanya diizinkan.


"Eh kamu nggak makan Dan, sini buat aku aja." Haikal daritadi memperhatikan Dandy yang hanya mengaduk-aduk makananya.


"Aku nggak selera makan Kal." Jawab Dandy dengan muka lesunya. Haikal dan yang lain prihatin dengan keadaan Dandy belakangan ini.


"Eh itu Seira." Ucapan Milka membuat Dandy menoleh. "Seira sini gabung!"


Haikal yang duduk disebelah Dandy langsung pindah dan membiarkan tempat duduknya untuk Seira.


"Hai semua." Seira menyapa semua orang yang ada disana mereka juga balik menyapanya.


"Aku pesenin aja ya Ra, kamu duduk sini aja."


Seira mengangguk dan Melisa berlalu pergi untuk memesan makanya. Keadaan jadi canggung disana, mereka menatap Dandy yang seakan tidak terusik dengan kedatangan Seira, dia masih asik mengaduk-aduk makananya.


"Kamu udah makan?" Tanya Seira yang dibalas gelengan oleh Dandy. "Kenapa? Nggak suka makananya? Mau pesen lagi?"


Lagi-lagi Dandy menggeleng, yang disana mau muntah saja rasanya melihat kelakuan Dandy yang berubah manja. Tidak singkron sama badanya yang kayak beruang.


Memang ber-uang si, apalagi Haikal sudah mau menggeplak kepala Dandy saja rasanya biar sadar. Tapi mereka masih sabar.


"Suapin."


Oke fix ini mereka auto muntah. Dandy itu ya nggak tahu tempat banget si. Seira terkekeh dan langsung menyuapi Dandy si bayi besarnya.


Haikal sudah misuh saja dalam hati, soalnya Melisa tidak selembut Seira. Mereka sudah pacaran, dengan perjuangan mati-matian dari Haikal untuk meluluhkan hati Melisa.


Untuk pasangan Milka dan Arbie mereka sih biasa saja, soalnya mereka sering seperti itu. Ayunda, dia cuma tersenyum soalnya dia sudah pacaran sama seseorang yang dirahasiakan. Sangat rahasia kaya dokumen negara buat ujian, makanya nggak merasa iri.


Yura tidak merasa iri karena dia tidak suka pacaran. Tapi dia sedang diincar oleh seseorang walau Yura yang tidak peka-peka. Yang satu ini sudah misah mojok meratapi nasib, siapa lagi kalo bukan Jaerendra. Dia yang ngerasa jones banget. Tapi tenang sekarang lagi memperjuangkan seseorang yang sangat polos dan imut.


Makanan Seira baru datang sesudah Dandy menghabiskan semua makananya. Tapi bel sudah bunyi. Jadi Dandy merasa bersalah, karena pacarnya tidak sempat makan.


Tapi Seira berkata dia dapat tambahan jam istirahat yang membuat mereka semua lega. Teman-temannya sudah balik ke kelas masing-masing tapi Dandy masih setia menemani Seira makan.


"Sana balik kekelas. Aku bisa makan sendiri kok." Usir Seira disela makanya.


"Enggak mau, aku mau disini aja. Mau nemenin Princes aku makan." Dandy menopang dagunya memperhatikan Seira yang sedang makan.


"Nanti diomelin guru lho!"


"Enggak bakal sayang, aku kan murid kesayangan."

__ADS_1


"Hmmmm..."


Dandy yang melihat Seira makan jadi gemas sendiri. "Sayangnya siapa si ini gemes banget." Dandy malah mengunyel-ngunyel pipinya Seira.


"Ish Dandy, nanti aku keselek gimana!"


"Maaf abisnya kamu gemes banget si sam—"


"Ekhhhmmm!"


Omongan Dandy kepotong sama deheman seseorang yang Dandy hafal banget sama suara itu. Dandy menoleh dan benar itu adalah nenek sihir yang menyamar jadi perempuan yang cantik. Siapa lagi kalo bukan bu Irina. Dandy lupa sekarang jadwalnya dia. Aduh, pasti abis ini bu Irina bakal ngomong—


"Cari rumus matematika, dari bab kemarin yang ibu ajarin sampe terakhir. Sekarang diperpus!"


Seira cuma senyum sambil nyemangatin Dandy. Dandy langsung lari keperpus setelah melihat tatapan tajamnya bu Irina. Seira mau ngakak aja rasanya lihat kelakuan Dandy. Duh ada-ada saja!


...*****...


Akhirnya Seira berhasil memenangkan lomba itu. Seira menang dengan peringkat pertama tingkat SMA. Tapi itu nggak buat Dandy senang. Malah sekarang banyak banget yang modus minta diajarin sama Seira.


Gara-gara itu, malah Seira sekarang kayak nggak punya waktu buat Dandy. Setiap diajak kekantin, atau jalan bareng pasti Seira selalu ada alasan sibuk.


Karena sekarang Seira itu menjadi tutor untuk teman-temanya, kadang menjadi guru les mereka soalnya hampir UTS. Lumayan si dibayar tapi ini yang membuat Seira menyita semua waktunya.


Awalnya Dandy senang karena itu bisa buat bahagia pacarnya, tapi kalau seperti inikan sudah keterlaluan. Bahkan hari minggupun Seira nggak bisa libur. Dandy cuma tidak mau Seira kelelahan.


Dandy tidak papa dinomor sekiankan, tapi kalau sampai Seira tidak mengurus diri sendiri kan Dandy jadi khawatir. Sekarang Seira itu kurus banget, dari kantung matanya juga sudah kelihatan dia itu jarang tidur.


Pernah Dandy minta buat Seira libur saja sehari, tapi selalu ditolak halus sama Seira dia bilang tidak mau mengecewakan teman-temanya. Lagipula cuma sebentar lagi.


"Seira, ada titipan."


Salah seorang teman sekelasnya menghampiri Seira yang sedang meneliti tugas yang ia berikan kepada teman-temanya, dia lalu menoleh dan mengambil titipan itu.


"Terimakasih." Ucap Seira dan menyernyit karena itu adalah kotak bekal makanan. Ada juga surat diatasnya.


"Makanlah jangan terlalu menyiksa dirimu! Kalau kau mengabaikanya aku akan menyulikmu!" —DA


Ada-ada saja, Seira tersenyum dan mulai memakanya. Kenapa tidak Dandy saja yang ngasih langsung? Soalnya kalau dia yang disana malah diusir Seira karena dia mengganggu kosentrasinya. Kalau Dandy memaksa Seira malah ngambek.


Kan jadiya serba salah.


...*****...


"Mel, keperpus yuk?"


Seira mengajak Melisa keperpus. Mereka sedang pelajaran kosong sekarang. Seira bisa menggunakanya untuk menambah bahan materinya nanti.


"Oke!" Melisa mengangguk menyetujui. Mereka berdua berjalan menuju perpus, tapi Melisa tiba-tiba ijin ketoilet, nanti menyusul katanya.


Setelah mengisi daftar hadir diperpus, Seira segera menyusuri rak untuk mencari buku untuh bahan belajarnya. Nah ketemu, tapi diatas banget tangan Seira nggak nyampai, dia jinjit tapi kehilangan keseimbanganya. Seira mau jatuh, dia udah nutup matanya tapi kok—


Grep!

__ADS_1


Tiba-tiba ada orang yang memegangi bahunya. Dia terpesona oleh kecantikan Seira dan menatap Seira lama, Seira hanya berkedip-kedip polos, malah itu menambah imut dimantanya.


Seira berdehem canggung. "Ehmmm."


"Ohh, kamu nggak papa?" Orang itu bertanya kearah Seira yang mengangguk.


"Iya, makasih ya kalo nggak ada kamu pasti aku sudah jatuh. Namaku Seira kelas 1-A." Seira memperkenalkan diri.


Orang itu tersenyum dan memperkenalkan dirinya juga. "David 1-C."


Seira mengangguk, David mengambilkan buku yang tadi mau Seira ambil tapi tak sampai itu. Seira mengucapkan terimakasih kepadanya.


"Lagi ngerjain tugas?" Tanya Seira yang melihat David sedang serius sedang menulis. Dia lalu ikut duduk disebelahnya.


"Hm iya ini, biasa nenek sihir."


"Bu Irina?"


David mengangguk, "Siapa lagi memangnya."


Lalu mereka tertawa, bu Irina memang sudah terkenal suka dipanggil nenek sihir oleh anak-anak. Seira sedikit memberi arahan ke David untuk mencatat intinya saja karena tadi Seira lihat David mencatat banyak tapi hal yang tidak penting.


"Rumus yang ini aja yang itu nggak ditulis nggak papa."


David menuruti arahan Seira dan akhirnya tugasnya cepat selesai. "Makasih ya Seira, kalau bukan karena kamu pasti selesainya besok hehe."


Seira mengangguk mengiyakan.


Kring!


"Kekelas yuk, sekalian bareng."


Seira bangkit dan mengikuti David. Kok dia seperti melupakan sesuatu tapi apa ya? Oh iya kan dia kesini bareng sama Melisa tadi, kok dia nggak menyusul ke perpus.


Seira akhirnya mengecek hpnya dan ternyata ada notif pesan dari Melisa, dari satu jam yang lalu malah. Soalnya tadi Seira mendiamkan hpnya makanya tidak terdengar.


Melisabestie


Ra, aku nggak bisa nyusul keperpus. Mules. Kamu nggak papa ya sendiri.


Seira mau mengetikan balasan, tapi dipikir sudah dari tadi juga, yaudah tanya nanti saja dikelas. Akhirnya mereka berjalan bersama menuju kelas jalan berdampingan.


Seira itu orangnya ramah jadi David nggak merasa canggung dekat dia. Kok, David jadi merasa nyaman. Aduh kenapa ini? Oke fix dia suka sama Seira. David berharap Seira tidak punya pacar.


"Dah Seira." Pamit David ketika dia sudah sampai didepan kelasnya.


"Oke daah!" Seira melambaikan tanganya.


David membalas melambaikan tanganya juga. Dia belum masuk kekelas masih memandang Seira hingga dia berbelok.


"Duh punggungnya aja cantik."


"David Pratama! Mau sampai kapan kamu berdiri disana!" Teriak seseorang yang membuat bulu kuduk David meremang, dia lalu berbalik.

__ADS_1


"Eh iya ini bu, udah selesai tugasnya." David menyerahkan catatanya ke bu Irina.


"Bagus, masuk kelas sekarang!" Perintah bu Irina tegas membuat David cepat masuk kekelasnya.


__ADS_2