
Kirana sedang mematut dirinya didepan cermin dikamarnya. Penampilanya sudah sempurna menurutnya, dengan rambut yang digerai sebahu, atasan putih dan celana hitam yang tidak ketat. Dia lebih suka menggunakan celana,
Boleh dikatakan Kirana itu tomboy ya memang sih, bahkan ia tak pernah memanjangkan rambutnya paling mentok atas bahu dan ia malah merasa sudah kepanjangan sekarang.
Tadi ia sempat menolak mentah-mentah pakaian yang sudah disiapkan ibunya gaun berwarna merah muda yang mencolok. Kirana sangat ilfeel dengan warnanya apalagi ada rendra-rendranya, ia mencocokan dengan memakai sepatu berhak yang tidak terlalu tinggi.
Ia akan dijak ke pertemuan penting bisnis oleh dadhnya. Anak-anak dari orang kaya mah sudah biasa diajak ke tempat pertemuan seperti itu.
Tok tok!
“Sayang, mom sama dad tunggu dibawah ya.” panggil Irina dibalik pintu sambil menunggu anak perawanya itu dandan. Kirana memang memanggil orangtuanya dengan sebutan mom dad, karena waktu kecil Kirana tinggal diluar negeri.
“Iya mom, bentar lagi selesai kok.” setelah menyemprotkan parfum mahal ke baju juga lenganya, ia melelang pergi turun ke bawah dan mendapati orang tuanya sedang menunggunya.
Mereka mengenakan pakaian yang serasi, ayahnya mengenakan setelan putih atas sampai bawah, bahkan Irina sangat cantik dengan mengenakan gaun putih tanpa lengan dibawah lutut.
Tampak elegan dengan membiarkan jas yang menggantung dipundaknya. Nampak masih seerti seorang gadis, kadang Kirana merasa sedikit kesal jika sudah bersama ibunya, karena orang-orang akan mengiranya mereka itu kakak beradik.
Kali ini tujuan mereka ke rumah megah Arnold Hirawan rekan bisnis ayahnya sekaligus sahabat ayahnya, ia mengadakan pesta untuk anak sulungnya yang akan bertunangan. Tapi percayalah pesta itu sebenarnya lebih cocok untuk acara tema bertemu kolega rekan bisnis. Karena yang datang kebanyakan orang-orang penting yang membawa anak-anak mereka.
Kirana sebenarnya sangat malas untuk kepesta begini, apalagi mayoritas yang datang adalah anak-anak orang kaya yang menurut Kirana sombong. Karena yang mereka bicarakan adalah hanya pamer kekayaan yang dimiliki keluarga mereka. Sangat muak jika mereka sudah mulai menyombongkan diri.
Mereka sampai dirumah megah Hirawan yang sudah dihias se-elegan mungkin, Hadi Suherman menurunkan kaca mobilnya dan memberikan undangan kepada satpam yang bertugas membukakan gerbang itu.
Dihalaman sudah berjejer mobil-mobil mewah dari para tamu undangan tak terkecuali mobil ayahnya. Pintu rumah megah itu terbuka lebar untuk mempersilahkan para tamu undangan masuk.
Kirana langsung melesat pergi ke stan makanan malas untuk bertemu dengan yang punya hajatan. Ayah ibunya hanya memaklumi karena sudah biasa. Hadi Suherman dan Irina disambut hangat oleh Hirawan dan Cintiya—istrinya juga anak-anak mereka. Sisulung yang akan bertunangan Jesslyn dan si bungsu Theo.
“Hei selamat datang tuan Hadi Suherman yang terhormat dengan sang nyonya.” sambutan lawakan dari Hirawan ke Hadi Suherman juga Irina.
Hadi Suherman merangkul Hirawan akrab lalu melanjutkan menceritakan tentang bisnis, sedangkan Irina sedang bersalaman dengan Cintiya, juga Jesslyn dan Theo.
“Eh anak muridku.” ucap Irina setelah memberikan selamat ke Jesslyn, dia baru sadar itu Theo ketika ia menyalaminya.
Irina malah sempat pangling karena Theo sangat berbeda ketika berada disekolah dengan sekarang ini. Kali ini Theo berpenampilan dan berperilaku normal. Sedangkan Theo hanya cengar-cengir sendiri.
“Hehe hai bu Irina,” salam Theo dan Jesslyn sedang menyalami tamu yang lainya.
“Kau mengajar di SMA putraku?” tanya Cintiya penuh suka cita.
Soalnya ia selama ini sibuk berada diluar negri bersama suaminya, mereka juga baru pulang karena Jesslyn bertunangan. Jadi ia tak tau menau tentang kehidupan sekolah Theo, agak kejam memang kedengaranya tapi mereka selalu menyempatkan untuk menengok anak-anak kesayangan mereka itu.
“Iya, aku adalah gurunya. Hei Theo kau sangat berbeda sekarang.” puji Irina ke arah Theo yang berubah normal dimatanya.
__ADS_1
“Theo kau urus tamu yang lain, mama mau mengajak guru cantikmu mengobrol!” usir Cintiya ke arah Theo yang langsung menurutinya.
“Hei aku penasaran dengan sifat anaku disekolah. Ceritakan padaku ya?” pinta Cintiya ke arah Irina, terkesan memaksa sih sebenarnya tapi Irina dengan senang hati menurutinya.
Cintiya terlihat sangat ramah berbeda dengan istri rekan-rekan suaminya yang lain, jika bertemu akan selalu pamer perhiasan atau barang mewah hasil kerja keras suaminya, namun Cintiya berbeda ia malah mengajak Irina untuk bercerita tentang anaknya, sungguh langka dan Irina menyukainya.
Memang buah jatuh tak jauh dari pohonya, anaknya sebal dengan para anak-anaknya ibunya sebal dengan para ibu-ibunya.
...*****...
Kirana sedang memakan jelly didepan stan makanan. Dari pertama masuk memang jelly sudah menjadi incaranya. Karena ibunya sangat melarang Kirana untuk memakan jelly dirumah, jadi disini kesempatannya untuk memakan jelly sebanyak-banyaknya tanpa kena semprot nenek sihir cantik.
Plukk\~
Kirana menoleh karena mendapati seseorang sedang memegang bahunya. Kirana langsung berbianar karena didepanya sekarang adalah panutanya juga mantan kakak kelasnya waktu dia masih sekolah di Amerika dulu. Rio Alkin masih sama dengan senyuman dihiasi dimpelnya yang membuatnya makin menawan.
“Kawk Rio, wah suwdah lawma ya kawkak kenawpa biwsa adwa diwsini?” tanya Kirana kelewat senang.
Rio terkekeh mendapati respon lucu mantan adik kelasnya dengan makanan yang masih ia kunyah penuh dalam mulutnya.
“Telan dulu Ana, kebiasaan ya dari dulu kamu.” Rio memberikan sapu tangan kearah Kirana untuk membersihkan sisa makanannya.
“Heheh maaf kak, ah iya kakak kenapa ada disini? Kapan pulang dari Amerika? Kok nggak ngabarin Ana. Pasti udah lupa ya sama Ana?”
“Kakak baru aja kemarin pulang dari Amerika, niatnya mau ngehubungin kamu tapi kakak sibuk dan nggak sempat karena harus mengurus pesta pertunangan.” jelas Rio.
“Memang siapanya kakak yang tunangan?”Kirana menatapnya penasaran.
“Kakak, lah ini kamu dateng ke pertunangan kakak.”
“Uhukkk!” Kirana tersedak minumanya ketika Rio mengatakan ia yang akan bertunangan.
Ia tak menyangka, Kirana hanya taunya dia akan diajak ke pesta pertunanangan kak Jesslyn, anak dari kolega ayahnya namun tak menyangka jika pasanganya adalah mantan kakak kelasnya yang dulu sempat ditaksirnya ah mungkin sekarang masih. Pupus sudah harapan Kirana, padahal ia tadi sempat berharap.
“Pelan-pelan Ana, jadi tersedak tuh kan—” ucapan Rio terpotong karena seseorang menabrak Kirana.
Byurrr\~
Kirana tersiram minuman yang sedang dipeganya karena tertabrak seseorang dari belakang—tunggu seperti dejavu. Kirana pernah mengalami hal ini sebelumnya tapi karena ulah si alien gila yang ngelakuin itu ke Kirana. Kirana merasakan hawa-hawa aneh ketika akan menengok ke belakang.
“Maaf saya nggak se—KIRANA!” Raut muka Theo sangat syok.
Aduh, kenapa malah dia nyiram Kirana lagi sih, masalah yang kemarin saja belum selesai ini dia nyari gara-gara lagi. Theo kali ini nggak kabur dia berusaha mau melihat apa yang akan dilakukan Kirana kepadanya.
__ADS_1
“WOI ALIEN! LO—ARGH!” Kirana menghentakan kakinya dan berlalu pergi menghiraukan panggilan Rio dibelakang. Sudah puas, Kirana tak mau berada dipesta sialan ini dan mungkin ini adalah kali terakhir Kirana akan pergi ke pesta.
...*****...
“Mom, Ana mau pulang! Sekarang!” Kirana menyela pembicaraan antara dua ibu-ibu yang masih asik menggibah tentang anaknya masing-masing.
Irina langsung berdiri ketika melihat pakaian anaknya yang sudah basah dan lecek itu. “Baju kamu kenapa ini?”
Kirana menghiraukanya dan langsung merengek meminta pulang. “Pokoknya Ana mau pulang sekarang!”
Irina menghela nafasnya dan memanggil suaminya yang masih asik berbicara bisnis dengan teman-temanya. Irina tak bisa membujuk Kirana jika sudah seperti tadi, apalagi pakaian anaknya sudah basah seperti itu pasti Kirana merasa tidak nyaman, ia takut nanti Kirana masuk angin.
Cintiya mendekat ke arah Kirana dan memakaikan jaketnya karena melihat Kirana mengusap-usap lenganya.
“Makasih ya tante—” ucapan Kirana tertahan karena teriakan dari Theo yang menyusulnya. Kirana melirik malas kearahnya.
“Kirana!”
“Mau apa lagi hah! Belum puas terus nyiram gue!” bentak Kirana ke arah Theo yang niatnya mau minta maaf—lagi.
“Gue mau ngasih ini sama minta maaf soal tadi juga yang kemarin.” Theo menyodorkan jaket Guccinya ke arah Kirana.
Kirana langsung menepisnya, “Gak! Gue nggak butuh, gue nggak mau pake barang dari lo. Dan untuk masalah yang kemarin gue masih dendam sama lo ditambah sama yang tadi!”
Cintiya menyimak pembicaraan anak muda didepanya yang terlihat lucu dimatanya, ah jadi kangen masa-masa muda.
“Tapi lo pa—”
“Tante saya pamit dulu, tolong bilangin ke mom sama dad Ana menunggu dimobil.” pamit Kirana ke Cintiya mengiraukan kata-kata Theo. Kirana langsung pergi meninggalkan mereka.
“Lah itu yang dia pake jaket gue.” Theo terkikik ketika Kirana melenggang pergi. Jaket yang diberikan ke Kirana oleh Cintiya itu adalah jaket Theo sebenarnya, tapi Kirana tidak tahu.
“Maaf kak, kami pamit dulu—ehh Ana kemana?” tanya Irina sambil menggandeng suaminya untuk berpamitan ke Cintiya.
“Anak kamu menunggu dimobil katanya.”
“Ah terimakasih ya kak, sekali lagi maaf ya kami mendadak pulang kapan-kapan kita lanjut lagi mengobrolnya.” pamit Irina sambil cipika-cipiki ala emak-emak jaman sekarang.
Cintiya melambai dengan ceria meninggalkan Theo yang terbengong didepan pintu.
“Jadi? Nenek sihir itu adalah ibu dari seorang maung Kirana?” Ah pantas saja sifat mereka itu mirip. Ingin rasanya Theo menenggelamkan dirinya dirawa-rawa saja sekarang. Apa Theo pindah sekolah saja ya? Atau ikut eomma dan appanya ke luar negri saja.
Yatuhan selamatkan nyawaku besok. Kata hati Theo. Ya memang kejadian dikantin kemarin itu adalah pura-pura, Theo itu sangat pandai mengubah raut wajah, padahal kemarin sebenarnya Theo sangat ketakutan hampir mengompol dicelana untung saja bel masuk menyelamatkanya dari bogeman si maung.
__ADS_1