
Seira sedang membeli sesuatu diminimarket didekat rumah sakit, dia buru-buru soalnya sudah meninggalkan Aaron lama, walaupun disana sudah ada Daewi dengan Serumi yang menjaganya. Karena Seira jalanya terburu-buru dia tidak sengaja menabrak seseorang.
Bruk!
Bawaan orang itu juga jatuh berserakan. Seira menunduk untuk meminta maaf dan ikut membantunya mengambil barangnya.
"Maaf saya tidak sengaja," ucap Seira tak enak hati sambil masih sibuk memunguti belanjaan.
"Iya tidak papa—eh SEIRA?!" orang itu terkejut ketika melihat orang yang ditabraknya ternyata adalah sahabat lamanya.
"Aih, Yura!" Seira sama terkejutnya dengan Yura. Mereka lalu berpelukan tidak menyangka sudah lama sekali tidak bertemu.
"Kamu kemana aja Ra? Jahat banget nggak ngasih kabar ke kita," mereka sedang duduk di taman rumah sakit.
Seira tersenyum. "Aku selama ini di Amerika Yu, ngurusin bisnis papa aku."
"Tapi tetep aja, kamu hilang kaya ditelan bumi tahu nggak!" Yura masih protes tidak terima.
Seira lalu tertawa dia memang jahat sih. Tega banget pergi ninggalin sahabat-sahabatnya yang udah baik banget sama dia.
"Aku juga ada alasan buat nggak ngasih tahu kalian Yu, aku malu," Seira menundukan kepalanya.
"Kenapa? Kita kan sahabat kenapa harus ada rasa malu? Memangnya ada apa kamu tiba-tiba mutusin pergi gitu aja?" Pancing Yura, dia sangat penasaran.
Yura menebak alasan Seira pindah pasti bukan cuma mau meneruskan bisnis ayahnya saja di Amerika pasti ada alasan lain. Seira menghela nafas panjang dan mulai cerita semuanya ke Yura.
"Jadi gini ……."
Yura menganga mendengar cerita Seira, nggak menyangka selama ini beban yang ditanggung Seira berat banget dan dia juga ngelewatin semuanya sendiri. Yura juga nggak bisa berkomentar dia nggak mau mengambil kesimpulan dimana letak salah dan benarnya mereka.
"Jadi Dandy pindah ke Kanada karena itu ya," Kesimpulan yang Yura dapat.
__ADS_1
Seira mengangguk membenarkan, Yura semakin tidak menyangka. Pantas saja waktu itu Jerendra memukuli Dandy di bandara. Yura memang sudah mengira dari awal Jerendra itu tahu sesuatu. Awas nanti Jerendra!
"Yaampun Ra, masalah berat kaya gini kamu hadepin sendiri?" Yura salut dengan perjuangan Seira selama ini.
"Hehe, seenggaknya Jerendra sama Serumi juga bantu aku nglewatin semuanya, dan aku juga punya alasan buat bertahan Yu," jawab Seira.
Yura, "Anak kamu?"
Seira mengangguk dengan sedih. "Yang sekarang lagi berjuang karena aku juga."
Yura mengerutkan keningnya, "Dia disini?"
Seira terisak menahan tangis, "Gara-gara aku dia kecelakaan Yu, dan dia sekarang lagi koma …”
"Kamu nggak boleh ngomong gitu Ra, udah jadiin ini semua pelajaran buat kita. Kamu juga harus kuat." Yura memeluk Seira sambil ngasih kata penenang. Yura masih sama seperti dulu.
"Mamaaaa!" teriak anak kecil dari jauh yang berumur 6 tahun ke arah mereka.
"Iya Ra,” Yura mengajak anaknya untuk mendekat, “Kenalan sama temen mama sini,"
Anak itu mendekat dan memperkenalkan dirinya ke Seira. "Hallo, nama saya Ravan tante."
Seira merasa gemas sekali dan mencubit pipinya. "Hai Ravan, nama tante Seira,"
"Papa cariin ternyata disini ya.." ucap seseorang kearah mereka. Ravan langsung berlari memeluk ayahnya.
"Eh Dokter-" ucap Seira memindai orang didepannya ini. Dialah dokter Dava, dokter yang menangani Seira dulu.
Yura kelihatan bingung, "Kalian saling kenal?"
Mereka berdua mengangguk. Oh jadi ini yang dibicarakan dokter Dava waktu itu, wah nggak nyangka. Setelah bercerita mereka juga nggak menyangka ternyata dunia sesempit ini.
__ADS_1
...******...
Ditemat lain ada seorang gadis manis yang sedang menunggu seseorang dibandara. Sambil memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang.
"Neiraaaa" panggil seseorang yang sedang berlarian kearahnya.
Neira mengedarkan pandanganya mendapati keponakanya yang sedang berlari kearahnya dan langsung memeluknya.
"Bela\~" sambut Neira menerima pelukan Bela keponakannya.
Dibelakang ada dua orang yang sedang menyaksikan mereka dengan sangat gemas.
"Panggil kakak Bela, yang sopan!" tegur seseorang yang lebih tua, dialah mama Bela.
"Hehe, iya lupa maa." cengir Bela.
"Nggak papa kok kak Mel,” Neira tidak pernah keberatan tak dipanggil kakak oleh keponakannya itu. “Neira kangen.”
Melisa tersenyum menanggapi, ganti Neira memeluknya untuk melepas rindu.
"Lah sama kakak sendiri enggak nih?" Ucap seseorang yang memperhatikan mereka dari tadi.
"Enggak tuh!" bales Neira mengabaikannya, mereka tertawa lalu Neira gantian memeluknya. "Kangen kak Ikal!"
Mereka pasangan Melisa dan Haikal yang baru saja pulang dari luar negri.
Neira itu sedari kecil sudah dianggap adik oleh Haikal, soalnya orangtua Neira meninggal waktu Neira masih kecil karena rumahnya kebakaran. Dan beruntung waktu itu Neira sedang ikut acara kemah jadi dia tidak ada di rumah.
Tentu Neira sangat syok ketika pulang mendapati kedua orang tuanya yang sudah tiada. Tapi beruntunglah Neira dirawat dan dibesarkan oleh keluarganya Haikal yang merupakan adik dari ayahnya, dan diangkat anak oleh mereka.
Tapi walaupun begitu Neira tetap hidup mandiri dan tidak merepotkan mereka. Neira suka menanbah uang jajan sendiri dengan bekerja di toserba ketika pulang sekolah.
__ADS_1
Paman dan bibinya sudah melarangnya, tapi Neira beralasan bahwa dia ingin mandiri. Mereka akhirnya menyerah dan membiarkan Neira melakukan apa kemauanya selagi itu hal yang positif.