
Seira sudah memberitahukan semuanya kepada Dandy tapi responya diluar dugaannya. Seira terisak, sakit hati, hancur dan menderita jadi satu. Ketika orang yang paling kau percayai malah menghianatimu didepan matamu sendiri.
Dandy Atmajaya orang yang dipercaya seluruh hidupnya, ketika Seira meminta pertanggungjawaban hasil perbuatan mereka, malah Dandy meminta Seira untuk menggugurkan buah cinta mereka.
Dandy Atmajaya dengan gampangnya malah memutuskan hubungan mereka dan pergi begitu saja. Tidak beradab memang. Dandy malah memilih kabur ke Kanada.
Apakah takdir sedang mempermainkan Seira?
Ketika Seira sedang berada dipuncak kebahagiaan malah dihempaskan begitu saja. Apakah Seira tidak berhak bahagia? Bahkan Seira sekarang masih kelas 1 SMA apa yang harus dibuatnya?
Ini lebih sakit daripada yang Seira lalui dengan siksaan dari bibinya yang sudah jadi makanan Seira sehari-hari. Sekarang ditambah dengan seorang Dandy yang begitu dicintainya malah tega menghianatinya.
Seira putus asa, ingin rasanya dia pergi saja dari kehidupan ini menyusul kedua orang tuanya. Tapi Seira masih memikirkan nasib bayi yang ada dalam kandungannya. Iya dia tak salah apa-apa jangan sampai jadi korban kedua orangtuanya.
Seira memilih bertahan demi calon anaknya. Ya walau sakit dan tersiksa. Kepahitan kedua ketika dia malah diusir dari rumah bibinya dikarenakan bibinya tahu dia hamil.
"Dasar jalangp! Pergi saja sana! Jangan pernah kembali lagi! Buat malu keluarga saja!"
Karena harta perusahaan sudah jatuh ditangan bibinya, maka dengan gampang dia mengusir Seira dengan alasan itu. Seira sudah tidak ada tujuan lagi, dia sengaja tidak memberitahu sahabat-sahabatnya, dia sangat malu.
Ditengah perjalanan Seira hampir saja ditabrak oleh seseorang untung orang itu sempat menghentikan mobilnya.
Ckitttt!
Seira terjatuh barang-barang yang dia bawa berserakan dijalan. Bahkan untuk memungutnya kembali Seira tak sanggup. Tak lama pemilik mobil itu keluar sambil meminta maaf karena kecerobohanya.
"Maaf...anda tidak kenapa—eh, Seira!” Orang itu adalah Jerendra. Dia sangat terkejut melihat keadaan Seira.
"Jerendra\~" Seira tak tahu harus merasa sedih atau malu.
Namun tak lama ada satu orang lagi keluar dari mobil. "Seira yaampun kamu kenapa?”
Dia adalah Serumi dengan hebohnya langsung menghampiri Seira sahabat dari kecilnya itu. Seira yang belum sempat menjawab malah pingsan.
Jerendra sigap langsung membawa dia kemobilnya dan Serumi memunguti barang-barang Seira yang berserakan itu. Mereka langsung membawa Seira ke Panti.
Seira yang sudah sadar dari pingsanya, dia mengerjapkan matanya pemandangan pertama yang dilihatnya Serumi yang sedang menatapnya khawatir.
"Seira!" Serumi menghambur memeluk Seira.
__ADS_1
"Iyaa Rumi, aku baik-baik aja kok." Ucap Seira dengan Suara yang serak karena terlalu banyak menangis.
"Kamu kenapa bisa dijalan kayagitu?" Serumi menatap Seira perlu penjelasan.
Seira lalu menghela nafas panjang mungkin sudah saatnya dia memberitahu Serumi. Dia juga tidak mungkin bisa berbohong kepadanya tentang masalah ini.
"Biarin Seira istirahat dulu Rumi, ceritanya nanti saja." Ucap Jerendra yang melihat kegelisahan Seira.
Serumi mengangguk mengerti dan menyuruh Seira agar istirahat saja dulu, tapi Seira menyela.
"Nggak papa, aku mau cerita sekarang, kalau nanti takutnya aku nggak sanggup."
Seira mengumpulkan keberanian dan bercerita semuanya kepada Serumi dan Jerendra yang mendengarkannya dengan sabar.
Reaksi mereka berdua setelah itu tentu saja langsung kaget dan tidak tidak habis pikir dengan jalan otak Dandy. Apalagi Jerendra dia sudah sangat emosi mendengar Dandy berbuat setega itu dengan Seira.
Jadi itu alasan Dandy tiba-tiba pindah ke Kanada. Dasar brengsek tidak bertanggung jawab. Dia sudah mau menghajar Dandy sekarang, tapi Seira mencegahnya dan memohon agar mereka merahasiakan semuanya termasuk ke para sahabat mereka.
"Tapi sekolah kamu gimana Ra?" Tanya Serumi prihatin dia mengelap air matanya yang mengalir.
Cerita kehidupan sahabatnya sangat menyedihkan. Dia sangat kagum dengan ketabahan hati Seira yang bisa melalui ini seorang diri.
"Kamu nggak boleh ngomong gitu Ra, kamu masih punya kita yang mendukung kamu. Kamu tinggal disini saja sama aku ya. Kamu udah nggak ada tujuan kan?" Ucap Serumi memaksa.
"Tapi Rumi aku—"
"Seira dengar, dengan keadaan kayagini, kamu mau ngebahayain janin kamu? Kamu kenal sama aku bukan baru sehari dua hari, kita udah sahabatan dari kecil. Kamu pernah bilang udah menganggap aku adik kamu, dan kamu dulu selalu ngelindungin aku sekarang gantian aku. Oke!"
Serumi bersungguh-sungguh, dia tidak mau melihat Seira sengsara lagi. Seira sangat terharu dengan ketulusan hati Serumi. Dia menangis dan mengucapkan banyak terimakasih.
Seira sangat bersyukur mempunyai sahabat sebaik dan seperhatian Serumi yang ada disaat dia susah. Jerendra yang melihat pacarnya sebaik itu jadi kagum, ternyata pacarnya bisa dewasa juga. Nggak salah buat jadiin calon, batin Jerendra tersenyum.
...*****...
Milka, Yura, Melisa, Ayunda, Arbie dan Haikal sudah berada dibandara mau mengantarkan Dandy. Tinggal Jerendra yang belum muncul juga Seira. Mereka tak berharap lebih kedatangan Sira.
Soal hubungan Dandy dan Seira mereka sudah tahu bahwa Dandy dan Seira sudah putus. Dandy berkata bahwa putusnya mereka itu baik-baik saja. Beralasan bahwa Seira tidak mau pacaran jarak jauh.
"Jerendra kemana si lama banget!" Ayunda mengomel daritadi sambil mengecek jam tanganya.
__ADS_1
"Lagi dijalan bentar lagi sampai." Melisa tadi dichat Jerendra katanya bakal telat.
"Seira bakal dateng nggak ya?" Milka melirik ke Dandy yang pura-pura sibuk sendiri.
"Enggak tahu, semoga saja datang." Melisa menanggapi sambil terus menanyai Jerendra sudah sampai mana.
"Nah itu dia, Je disini—eh!"
Buagh!
Dandy yang posisinya nggak siap langsung terjengkang kebelakang karena tonjokan Jerendra yang tiba-tiba. Mereka terkejut dengan aksi Jerendra dan mereka langsung mengamankan Dandy.
"BRENGSEK KAMU DAN, PENGECUT, AKU NYESEL JADI SAHABAT KAMU!" Teriak Jerendra emosi sambil terus mau menonjok Dandy yang sudah diamankan dibelakang Arbie.
"Ndra nyebut, kamu kenapa si?" Haikal kewalahan sambil memegangi Jerendra. Karena tenaga Jerendra tak main-main jika sedang marah. Memang marahnya seorang pelawak itu mengerikan.
"MINGGIR KAL, AKU MAU NONJOK ORANG BRENGSEK KAYA DIA!" Jerendra terus memberontak dan ingin menonjok Dandy.
Dandy masih diam mematung sambil menyeka bibirya yang berdarah karena ulah Jerendra. Tentu saja Jerendra sudah tahu semuanya, Dandy memang pantas menerima ini. Bahkan pukulan pun nggak cukup buat dia.
"JERENDRA STOP! NGGAK USAH PAKE KEKERASAN BISA KAN!" Yura berteriak yang membuat mereka langsung terdiam, soalnya baru pertama kali ini mendengar orang selembut Yura berteriak.
"Bener kata Yura, aku nggak tahu apa masalah kalian. Tapi kekerasan nggak akan menyelesaikan ini semua.” Ucap Arbie dia meminta tisu kearah Milka.
Milka dan Ayunda bersembunyi dibelakang Melisa karena takut. Milka mengeluarkan tisu dari tasnya dan menyerahkannya ke Dandy.
"Cih, orang kaya kamu nggak pantes hidup. Pergi aja yang jauh dan nggak usah kembali. Aku yakin suatu saat kamu bakal nyesel seumur hidup!"
Jerendra pergi meninggalkan mereka semua begitu saja yang masih nggak paham sama apa yang Jerendra omongin kecuali Dandy tentu saja.
"Dia kenapa si?" Milka menatap kepergian Jaerendra dengan bingung.
"Udah nanti juga baik sendiri." Melisa beralih melirik Dandy yang sedang memegang pipinya. Dia sudah hafal sifat Jerendra, mereka sahabat dari kecil.
Tapi baru kali ini memang Melisa melihat Jerendra sampai berteriak. Biasanya kalau marah, Jerendra hanya akan diam dan berkelahi dengan orang yang menyinggungnya.
"Perhatian…. Perhatian…. Pesawat akan siap landas dalam 15 menit lagi—"
"Udah Dan, jangan terlalu dipikirin ucapan Jerendra. Kamu hati-hati disana ya." Ayunda memeluk Dandy yang disusul teman-temanya satu persatu sambil ngucapin selamat tinggal.
__ADS_1