
Sebenarnya tadi Aaron pergi ke rumah sakit lagi. Dia memang sangat kecewa dengan Dandy, tapi bagaiamanapun dia ingin mendengar cerita versi Dandy.
Aaron menemui Dandy, mereka sedang berada di kafe dekat rumah sakit. Mereka duduk berhadapan. Dilihat dari jauh mereka berdua sangat mirip. Dari cara duduk dan postur tubuh mereka.
Dandy lalu mengutarakan semua kepada Aaron. Menceritakan dari awal pertemuanya dengan Seira hingga kesalahan yang mereka alami juga kepergianya menuju Kanada. Tanpa ditutup-tutupi apapun oleh Dandy.
Aaron ingin marah dan menghajar orang yang bersetatus ayah didepanya ini, tapi dia juga merasa sedikit kasihan kepadanya. Mereka masih sangat muda, dan ayahnya juga tidak memiliki keberanian untuk menentang kakeknya.
"Maafkan papa yang tidak berdaya untuk mencari kalian lagi." Bahkan untuk menatap netra Aaron pun Dandy tak bisa.
Dandy melanjutkan, "Selama ini papa sudah mendapat ganjaran yang setimpal dengan apa yang papa lakukan ke kalian. Dengan membuat Keira yang menaggung semua dosa papa."
Aaron mengerutkan keningnya, "Maksudnya?"
"Keira, sejak kecil sudah kehilangan ibu dan saudara kembarnya." Kalau masalah itu Aaron sudah tahu, Keira yang bercerita sendiri dengannya di rumah sakit.
"Dari kecil ginjal Keira bermasalah, papa sudah dari dulu mencari pendonor ginjal yang pas untuk Kei tapi sangat susah." Dandy sedikit terisak.
Aaron menatap tak percaya, Keira anak yang sangat ceria tidak menyangka dia bisa bersikap seolah penyakitnya adalah penyakit biasa. Dan Keira selalu menyembunyikan tentang penyakitnya kepada mereka.
"Ketika kita pulang, Keira bertemu dengan kalian dan kembali merasakan semangat hidup. Dan dia juga beruntung karena kami telah menemukan ginjal yang pas, tapi sekarang setelah mengetahui semuanya, papa tak yakin kalau Keira akan mau melakukanya…"
Dandy terlihat sangat rapuh saat ini, diluar dia bisa terlihat sangat gagah dan kuat, tapi didalam dia sangat kesakitan. Dia menanggung semuanya sendiri dan menyembunyikannya dibalik wajahnya.
Tidak bisa dipungkiri Aaron merasa kasihan terhadap Keira. Dia juga adiknya walau dari ibu yang berbeda. Aaron tidak bisa membenci Keira karena anak itu tidak salah apa-apa. Perlahan dia juga tidak bisa membenci Dandy.
“Aku tidak membencimu.” Aaron berdiri meninggalkan kado yang belum sempat dia berikan untuk Keira. Dandy menatap punggung Aaron yang menjauh dengan senyuman.
Aaron sudah bisa menerima alasan Seira merahasiakan semuanya dan menjauhkanya dari Dandy.
Sekarang Seira dirumah sedang kelabakan mencari Aaron yang tidak bisa dihubungi. Dia juga menyalahkan dirinya sendiri. Daewi meminta tolong kepada teman-teman Aaron. Karena Aaron tidak membawa ponsel dan membuat semua orang panik.
Jerendra lalu menghubungi Seira, dia mengatakan bahwa tadi sempat melihat Aaron. Jerendra mengatakan bahwa Aaron tidak ingin diganggu karena begitu melihatnya dia langsung pergi.
Aaron memang seperti itu dari dulu, jika sedang sedih atau kesal dia akan bersembunyi. Jika kesedihan atau kekesalannya sudah reda, tidak lama dia akan muncul lagi.
Setidaknya sekarang Seira agak merasa lega karena Aaron baik-baik saja.
__ADS_1
Daewi memandang Seira dengan prihatin, “Nanti kalau Aa udah tenang, dia pasti akan pulang sendiri kok ma.” Daewi juga sudah hafal dengan sikap Aaron, dia tidak bisa marah dengan orang lebih dari satu hari.
Seira menganggukan kepalanya, “Ya semoga saja.”
Ponsel Daewi bergetar, dia melihat Felix mengirimi sebuah pesan. Daewi bisa bernafas dengan lega untuk saat ini. Tapi dia sekarang sedang menyiapkan sesuatu untuk mengomeli kakak kesayangannya itu ketika pulang nanti.
...*****...
Setelah melihat pamannya, Aaron membawa kabur seorang gadis. Gadis yang tidak tahu mau dibawa kemana itu meneror Aaron sepanjang jalan sambil mencengkram kuat jaket Aaron.
“KAU MAU MEMBUAT AKU MATI HAH?” Teriaknya tepat ditelinga Aaron.
Sekarang mereka sedang menepi, “Tenanglah.” Aaron memberikan gadis itu minuman.
Dia masih terlihat sewot, “Tenang-tenang kakekmu!” Gadis itu menenggak habis minumannya karena tenggororkannya serak.
“Maaf karena telah membuatmu kaget tadi,” Aaron menatap gadis itu merasa bersalah, “Tadi itu, uhm—” Aaron bingung mau mengatakan apa.
Gadis itu menaikkan alisnya “Kau sedang kabur dari rumah?”
Aaron mendelik, “Bagaimana kau tahu?”
Aaron memandang langit yang begitu terang, “Aku hanya belum siap untuk pulang sekarang.”
Mereka terdiam menikmati malam dan semilir angin.
Gadis itu berdehem, “Lionara Mahesa. Namaku!”
Mahesa? Seperti tidak asing ditelinganya, dia seperti pernah mendengar nama Mahesa tapi dimana ya, ah entahlah.
Aaron mengangguk, “Hm, Aaron Christian. Aaron tiba-tiba terkejut, “Eh kau harus pulang kan, dimana rumahmu biar kuantar.”
Dia baru sadar bahwa sudah membawa kabur anak orang sembarangan.
Liona mengangkat ponselnya, “Aku sudah memberitahu keluargaku bahwa aku sedang diculik.”
“Heh—”
__ADS_1
Liona tersenyum mengejek, “Aku bercanda!”
Aaron kembali duduk dengan gadis itu. Dia terdiam, dan Liona juga tidak mau sekedar basa basi. Liona jadi teringat, kakaknya dulu juga pernah kabur dari rumah.
Bukan sekali dua kali, sangat sering malah sampai membuat ibu mereka sangat kesal. Walau begitu dia tetap sangat khawatir dan mencari kakaknya sampai kemanapun.
“Jangan terlalu lama minggat, nanti kau bisa jadi gelandangan.” Cletuk Liona tanpa beban.
Aaron melirik Liona datar, “Aku tahu.”
Aaron mengantar Liona pada pukul sepuluh malam. Malam sangat cepat berlalu, dia bahkan tidak sadar sudah agak larut. Jika Liona tidak mengomel-ngomel karena digigit nyamuk mungkin Aaron akan lebih lama.
Mereka sampai, tapi Aaron malah mematung melihat rumah Liona. Bukankah ini rumah Felix?
Kesimpulannya adalah Felix itu kakak sepupu dari Liona. Takdir yang buruk, makannya Aaron merasa tidak asing dengan nama Mahesa.
Mereka sedang duduk ditepi kolam ikan, Felix menatap datar Aaron. “Ada hubungan apa kau dengan adiku?”
“Maksudmu sepupu?” Aaron menatap jengah Felix.
“Dia sudah kuanggap adik sendiri!” Felix masih menatap datar Aaron.
Aaron menghembuskan nafasnya, “Kau sudah mendengar sendiri darinya. Aku menolongnya tadi.”
Felix mengejek, “Dan membawanya kabur?”
Aaron mengeram, “Kau—”
Felix menunjukkan isi chat Daewi yang meminta tolong kepada teman-temannya jika ada yang melihat Aaron harus cepat memberi tahunya.
Aaron tidak jadi marah, dia terdiam agak lama. Sekarang mamanya pasti sangat khawatir. Mengerti isi kepala Aaron, tanpa sepengetahuannya, Felix memberitahu Daewi bahwa Aaron ada dirumahnya.
“Menginaplah disini.” Ujar Felix acuh.
Aaron menatap aneh Felix, dia tidak salah dengar kan? Bukannya mereka itu rival ya. Felix bahkan selalu menantangnya dan tidak pernah bersikap sopan walau dia lebih muda.
“Benar kata Fel nginep aja disini. Kita anak broken home party aja kuy…” tak ada angin tak ada hujan Liona menyambar omongan mereka.
__ADS_1
Aaron, “Gila!”