LVR (Long Virtual Relationship)

LVR (Long Virtual Relationship)
Aurel


__ADS_3

Setelah menurunkan Seina di depan rumahnya, Aurel melanjutkan perjalanan pulang. Rumah Aurel hanya berjarak empat blok dari rumah Seina. Mami Seina dan Bunda Aurel sudah berteman sejak keduanya duduk di bangku SMA. Itulah sebabnya hubungan keluarga Seina dan Aurel sangat dekat. Aurel sampai di rumahnya. Rumah yang cukup besar, dihuni oleh lima orang yang sebentar lagi akan bertambah satu anggota keluarga baru.


“Aurel pulang,” ucap Aurel memasuki rumahnya yang terlihat sepi. “Bunda!” panggil Aurel, kakinya berjalan mencari sang Bunda.


“Ckck, ini bukan hutan. Nggak perlu teriak- teriak,” interupsi seorang anak perempuan yang baru duduk di kelas dua SMP.


“Bunda mana?”


“Di belakang, lagi gambar. Lo bawa apa, Mbak?”


“Nggak boleh minta! Ini punya gue,” ucap Aurel memeluk kresek berisi berbagai jajanan.


“Dih gue cuma tanya.”


Aurel tidak mempedulikan sang adik. Dia melangkahkan tungkainya untuk menghampiri sang Bunda yang memang benar sedang menggambar di sana. Perut Bunda Aurel makin hari makin membuncit dan sekarang sudah memasuki bulan ke sembilan.


“Bunda,” panggil Aurel.


Bu Candra menoleh melihat putri sulungnya sudah pulang. Wanita itu menghentikan aktivitasnya sejenak untuk menyambut kedatangan Aurel. Susah payah Bu Candra berdiri dari duduknya.


“Duduk aja, Bund.”


“Udah terlanjur berdiri ini. Kok belum ganti baju?” tanya Bu Candra berkacak pinggang.


“Ehehehe, iya Bunda. Habis ini Aurel ganti baju. Ini nitip dulu,” jawab Aurel, dia memberikan jajanannya pada Bu Candra.


“Dasar kamu, pinter banget jahilin emaknya. Udah tau kalo Bunda nggak boleh makan ginian, malah di suruh jagain,” gerutu Bu Candra.


Sementara Aurel hanya menampilkan senyum tengilnya. Lalu dia segera masuk ke rumah untuk mengganti bajunya. Namun, Aurel memutuskan untuk sekalian mandi sore. Setelah selesai, Aurel kembali pada sang Bunda, mengambil jajannya tadi. Duduk di ruang keluarga bersama dua adiknya yang hanya bisa ngiler melihat Aurel makan.


Aurel memiliki dua orang adik, otw tiga setelah bayi di perut sang Bunda lahir. Adik pertama Aurel bernama Andin dan yang kedua bernama Elsa. Penamaan kedua adiknya itu terinspirasi dari tokoh sinetron yang sempat hits beberapa tahun belakangan. Sebenarnya yang menyelipkan nama itu adalah Nenek mereka yang memang sangat nge- fans dengan pemain sinetron itu. Andin duduk di kelas dua SMP, sedangkan Elsa baru kelas tiga SD.


“Kak, minta,” ucap Elsa dengan wajah paling melas yang dia bisa.


“Tadi nggak nitip.”


“Mana tau Elsa, kalo Kak Rel mau beli jajan.”


“Ya udah nih, dikit aja tapi.”


“Si Elsa boleh minta. Kok gue nggak boleh?” tanya Andin melotot pada Aurel, dia tidak terima telah diperlakukan tidak adil oleh sang Kakak.

__ADS_1


“Hish, nih. Lain kali beli sendiri. Ini terakhir kalinya gue bagi jajan ke lo berdua.”


“Gue sumpahin badan lo gendut kek Bang Bonar!” tunjuk Andin.


“Muntahin cilok di mulut lo sekarang juga!” pekik Aurel.


Namun Andin tidak menurut, dia malah dengan cepat menelan cilok itu. “Udah ketelen.”


Elsa tidak ikut bergabung dengan pertengkaran dua Kakaknya, dia hanya sebagai penonton saja sambil menikmati jamur krispi dengan bumbu kacang.


Pertengkaran keduanya tidak akan selesai jika Bu Candra tidak datang melerai. Hampir saja lidi untuk menusuk cilok menancap di mata Andin, jika Bu Candra terlambat datang. Beliau menabok keduanya, sementara Elsa masih anteng dengan cimolnya setelah jamur krispi tadi habis.


“Heran sama kalian. Kerjaannya tengkar mulu! Mana bahan bertengkarnya nggak ada faedahnya sama sekali,” ucap Bu Candra menggelengkan kepalanya.


Sementara Aurel dan Andin hanya menundukkan kepala. Merasa bersalah, mereka takut jika tensi sang Bunda naik.


“Kak, kamu di suruh jemput Ayah. Ban mobilnya bocor.”


“Kok nggak naik B-car aja?”


“Sana jemput aja. Irit, lumayan bisa nabung buat lahiran dedek nanti.”


Aurel mendengus mendengar penuturan Bu Candra. Heran dengan kedua orang tuanya yang super aneh. Sepertinya hanya keluarganya yang memiliki tingkah absurd seperti ini.


“Anaknya Mas Anang mau kemana?” tanya Tian yang baru pulang dari latihan basket.


“Mau jemput bokap gue. Lo mau bagi gue ongkos? Buat isi bensin.”


“Maaf, anaknya Mas Anang. Gue nggak ada duit.”


Aurel menatap datar Tian, dia pun segera pergi dari sana. Sementara Tian melambaikan tangan pada Aurel. Nama Aurel juga diambil dari nama seorang artis ternama di Indonesia. Dulu Bu Candra terinspirasi nama dari Aurel Hermansyah, jadi beliau menyelipkan nama Aurel. Beberapa menit kemudian Aurel sampai di perusahaan sang Ayah.


“Apa perusahaan Bapak bangkrut, ya? Jadi kita harus hidup irit,” gumam Aurel setelah memparkirkan motornya.


Bapack Negara Calling…


“Halo, Pak?” sapa Aurel pada Ayahnya.


Terdengar di seberang sana sang Ayah ngambek dipanggil ‘Bapak’. “Aurel tunggu di kantin aja, Pak.”


Aurel tertawa puas setelah berhasil mengerjai sang Ayah. Memang terkadang Aurel memanggil Ayahnya dengan sebutan ‘Bapak’.

__ADS_1


“Bapak tampangnya kurang pantes dipanggil Ayah. Aurel panggil Bapak aja, ya?” tanya Aurel kala itu dan langsung dihadiahi tabokan di bokongnya.


Aurel sudah sampai di kantin perusahaan sang Ayah. Ah ya, nama Ayah Aurel adalah Pak Juno. Pemilik perusahaan peralatan olahraga ini, juga seorang pria yang hobi olahraga tinju. Sembari menunggu Pak Juno, Aurel memesan makanan di kantin itu. Dia memutuskan memesan jasuke – jagung susu keju – dan segelas jus jeruk.


“Makasih, Mbak,” ucap Aurel pada penjual dan berbalik untuk menuju ke mejanya.


Namun naas, baru saja Aurel berbalik. Nampan di tangannya menubruk seseorang yang berdiri di belakang Aurel. Alhasil isi dari nampan itu mengenai baju orang itu. Aurel melotot melihat nasib makanannya yang terbuang percuma. Tidak hanya makanannya, minumannya juga ikut tumpah.


“Jasuke gue,” ucap Aurel memandang nanar pada makanannya. Dia hendak jongkok mengambil piring dan gelas yang jatuh tadi, tapi lengannya di tahan seseorang.


“Tanggung jawab udah buat baju gue kotor,” ucap seorang cowok menatap tajam Aurel.


“Kok gue? Salah lo yang jalan nggak lihat- lihat.”


Cowok itu membulatkan matanya mendengar ucapan Aurel. Lalu tidak lama kemudian perkelahian pun tak terelakkan. Kantin perusahaan menjadi ramai seketika, banyak karyawan yang hendak melerai keduanya. Namun beberapa dari mereka ragu untuk melerai.


“Aurel!”


“Langit!”


Panggilan dari dua orang itu menghentikan perkelahian mereka. Aurel yang sedang mengunci tangan anak bernama Langit itu menoleh pada sumber suara.


“Bapak?” gumam Aurel meringis.


“Aurel! Lepaskan dia!” perintah Pak Juno menatap tajam sang putri. Dengan berat hati Aurel menuruti perintah sang Ayah.


...📱📱📱...


Kenalan sama Aurel, yuk 🤗🤗🤗



Tinggalkan komentar kalian setelah selesai membaca dan koreksi bila ada typo...


Dukung juga novel Emak Bapak mereka:



Mantan Rasa Pacar


Mantan Bad Guy

__ADS_1



__ADS_2